TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Kuning


__ADS_3

Di hotel berbintang lima, seorang lelaki sedang bergumul di dalam selimut. Tak ingin bertemu siapa pun, bahkan untuk turun dari ranjang, rasanya enggan kakinya menapak. Lelaki itu adalah Noah. Dia sengaja menginap di hotel, dan mematikan handphone sebagai upaya untuk menghindari Lisa.


Tentunya, Noah menyembunyikan diri bukan tanpa alasan. Noah merasa lelah karena berkali-kali Lisa menghubunginya, bahkan tak segan mengirimkan bodyguard untuk datang ke rumah hanya untuk memata-matai.


"Aku tak menyangka kamu bakalan segila ini, Lisa. Apa istimewanya aku? Masalah tampan dan kaya, aku yakin banyak lelaki yang enggan menolak pesonamu. Sementara aku? Hanyalah lelaki biasa yang memiliki hutang miliaran di bank." Noah berbicara pada dirinya sendiri di dalam selimut.


"Tak ada yang kamu rugikan, kalau putus denganku."


Drtt ... drt ....


Tiba-tiba terdengar suara getar diiringi dering telepon yang sangat nyaring. Suara itu berasal dari handphone Noah satunya lagi.


"Aku hanya ingin istirahat di hari liburku! Kenapa kamu berisik sekali?" teriak Noah menutup telinganya dengan bantal.


Bukannya berhenti, dering teleponnya kembali terdengar dan membuat Noah menyerah.


Noah membaca isi pesan di grup chat pekerjaannya karena banyak sekali yang men-tag nomernya. Noah kira ada urusan pekerjaan yang belum dia selesaikan. Tetapi, nyatanya bukan. Semua teman-temannya mengirimkan pesan lantaran Lisa dari tadi mencarinya ke segala tempat, semua temannya tak luput dari pertanyaan Lisa yang menanyakan di mana Noah.


"Ternyata kamu masih keras kepala!"


Mengingat perlakuan keluarga Lisa yang sangat jahat. Noah tak mau memperdulikan gadis itu lagi. Justru dia malah teringat Ara.


Saat melihat handphone, Noah teringat kalau dia ada janji dengan Alvin sebentar lagi. Suami Luna itu mengajaknya bertemu malam ini. Banyak yang ingin mereka bicarakan, terutama mengenai Luna dan Ara. Tidak hanya Alvin, Noah sendiri pun sangat penasaran dengan Ara. Ingin mengorek informasi dari lelaki itu.


✉️ [Di mana kita bisa bertemu Presdir Alvin?] tanya Noah lewat pesan.


^^^[Di tempat biasa.] Jawab Alvin singkat.^^^


Noah: [Apa kita akan minum lagi?"]

__ADS_1


^^^[Sudah aku katakan berulang kali aku tidak ingin meminum minuman itu lagi. Kita bertemu di tempat biasa dan jangan telat.] Balas Alvin.^^^


Noah menaruh lagi benda berbentuk pipih itu ke sakunya. Dia ingat kejadian dulu saat minum alkohol terakhir dengan Alvin, kejadiannya sekitar enam tahun yang lalu. Kejadian yang tak pernah dilupakan Alvin, membuat lelaki itu tak ingin meminum alkohol lagi sampai sekarang.


"Padahal pikiranku sedang kacau. Tapi ya sudahlah! Bagaimana kalau aku mengajak Ara bertemu malam ini?" Noah tersenyum lebar.


Sementara di tempat lain. Dua orang perempuan yang duduk di kursi berbeda, tak sadar kalau mereka sampai tertidur. Kondisi tubuh yang sangat lelah karena menahan kantuk dari siang, Ara yang rambutnya sedang diwarnai, sampai memejamkan matanya. Tidak hanya dia, Aluna pun ikut tertidur di sebelahnya.


Satu jam berlalu, pegawai salon telah menyelesaikan tugasnya mengecat rambut Helen menjadi kuning. Hasilnya sangat memuaskan, rambut Helen yang semula hitam berkilau kini berwarna kuning keemasan.


"Nona, bangun, Nona. Kami telah selesai mengecat rambut Anda. Silahkan lihat di cermin hasilnya." Pegawai salon menepuk bahu Helen.


Masih tak bangun, satu pegawai lainnya ikut membangunkan Helen dikarenakan sebentar lagi salon mereka akan tutup.


"Maaf, Nona. Bangunlah!"


"Di mana aku? Kenapa aku berada di sini?" tanyanya pada pegawai salon.


Pegawai salon yang kebingungan saling berpandangan. "???"


"Kenapa kamu diam saja? Di mana aku sekarang?" bentak Helen memaki ke dua pegawai itu.


"Dari tadi Anda berada di salon, Nona. Lihatlah! Kami sudah mengecat rambut Anda dengan sangat indah," ucap seorang pegawai sambil memutar kursi Helen agar menghadap ke cermin.


"APA!?" Helen terperanjat saat melihat rambutnya berubah menjadi kuning. "KENAPA RAMBUTKU BERUBAH KUNING? Siapa yang berani mewarnai rambutku?" teriak Helen dengan nada tinggi.


Dua pegawai menatap heran. "Nona, bukankah Anda sendiri yang memintanya?"


Saat itu juga Helen membuka kain hitam yang menutupi dadanya. Matanya melotot lebar melihat ke dua pegawai itu dengan sangat marah. Jelas Helen sangat marah karena warna kuning adalah warna yang dibencinya. Jangankan untuk mewarnai rambutnya menjadi kuning, memilih baju warna kuning pun dia enggan memakainya.

__ADS_1


"Siapa yang menyuruh kamu mewarnai rambutku berwarna kuning, Hah?" Helen menarik kerah baju pegawai salon.


Pegawai salon itu langsung ketakutan melihat perubahan sikap Helen yang mendadak marah. Saat kerah bajunya ditarik, perempuan itu melirik ke arah Aluna yang menyandarkan bahunya di sofa sedang tertidur. "Anda sendiri, Nona. Kalau tidak percaya tanyakan saja kepada kakak Anda," tunjuknya kepada Aluna.


Helen melepaskan tangannya dari kerah baju pegawai salon, matanya beralih melirik Aluna. "Apa!? Kakak?"


"Yah, bukannya dia adalah kakak Anda? Tanyakan saja pada wanita itu kalau aku tidak bersalah."


Tangan Helen mengepal dengan keras. Dia pikir Aluna sudah membius dirinya dan membawanya ke salon dengan paksa agar penampilannya berubah jelek.


"Bangun! Bangun Luna!" Helen menepuk kasar bahu Aluna. "Apa yang kamu lakukan dengan rambutku? BANGUN!!" teriak Helen di telinga Aluna dengan keras.


Tentu saja teriakan Helen berhasil membangunkan Aluna. Masih belum sadar betul, dahi Aluna mengernyit saat melihat Helen sudah berdiri di depannya dengan rambut kuning menyala. "Wah, hasilnya sangat indah. Rambutmu sangat cantik." Aluna mengusap matanya agar bisa terbuka sempurna.


"Apa yang kamu lakukan dengan rambutku?" tanya Helen dengan pertanyaan yang sama, menarik Aluna agar bangun.


Jangankan pegawai, Aluna sendiri masih merasa kaget dengan perubahan Helen. Dia sangat yakin kalau yang ada di tubuh Helen kini bukan adiknya lagi.


Gawat! Tadi Ara pasti tak sengaja tertidur dan bertukar tubuh lagi dengan Helen, batin Aluna menatap lekat Helen.


"Aku? Bukankah kamu sendiri yang memintanya?" Tanpa rasa bersalah Aluna melemparkan pertanyaan balik kepada Helen.


"Dengar kakak Anda saja mengatakan hal yang sama, kalau Nona sendiri yang meminta merubah warna rambut. Bagaimana hasilnya, Nona? Apa Anda puas?" tanya pegawai salon mencoba mencairkan suasana.


Sekali lagi ucapan pegawai salon membuat Helen murka. Dia sama sekali tidak merasa memintanya. Helen menjambak rambutnya sendiri karena merasa pusing mengingat kejadian aneh yang berulang kali dialaminya. Berdiri di tengah Aluna dan dua pegawai salon membuat kepalanya bertambah pening.


Dugaan Aluna benar, akibat Ara yang tertidur tadi. Mereka kembali bertukar tubuh.


"Sejak kapan aku menyukai warna kuning? Itu tidak akan terjadi, aku tidak mau tahu! Kembalikan rambutku yang asli!"

__ADS_1


__ADS_2