
"Maksud Anda apa miss K? Berpura-pura kena jebakan lalu merubahnya dengan cerita yang sweet. Bisa lebih jelaskan padaku misi hari ini?" tanya Aluna kepada sistem.
Sensor sistem kembali menyala.
...[Misi hari ini lebih sulit dari misi sebelumya. Plot asli dari novel ini adalah, Anda keluar malam ini lewat jendela dan pergi ke bar. Kemudian Luna akan kena jebak oleh Yuze dan Lily sehingga hampir saja menghilangkan kesucian Luna.]...
Aluna menggaruk kepalanya yang tak gatal. Otaknya belum stabil betul, ia masih mencerna penjelasan dari sistem. "Berarti misi hari ini ditentukan oleh sistem akan berhasil atau tidaknya?"
...Sistem menjawab, [Tentu saja, Nona!]...
Aluna langsung bergegas ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setelah dirasa cukup menyegarkan wajahnya dan berhasil meninggalkan rasa kantuknya, Aluna lalu mengganti pakaian tidurnya dengan baju dan celana panjang. Ia membiarkan rambut panjangnya tergerai.
"Baiklah, kalau hanya berpura-pura aku masih bisa mengatasinya. Tetapi, aku harus membawa alat pelindung untuk melawan mereka." Aluna mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari benda untuk ia bawa sebagai alat pengamannya.
Tidak butuh waktu lama, mata Aluna mengarah pada sebuah pisau cukur milik Alvin yang tergeletak di meja rias. Timbul dibenaknya untuk membawa benda itu.
Aku harus membawa pisau cukur ini sebagai pertahanan diri, gumam Aluna.
Dikantonginya benda tajam yang ia bungkus dengan kertas itu ke saku bajunya. Sekarang semuanya sudah siap. Malam ini juga Aluna akan menghadiri undangan Lily dan Yuze, mengikuti alur novel aslinya.
Tidak begitu sulit bagiku kalau hanya sekedar melompat dari bangunan ini.
Aluna membuka jendela, bersiap melompat dari lantai dua kamarnya. Sekarang dia telah berdiri di ujung jendela, hendak mengambil kuda-kuda agar bisa melompat tampa mengalami cedera di ketinggian hampir tujuh meter itu. Aluna mengatur napasnya lalu mulai menggerakkan tubuhnya yang sudah siap turun.
Brukkk!!
Lewat hitungan detik, Aluna berhasil mendaratkan kakinya dari lantai dua ke lantai satu. Ia berhasil mendarat dengan mulus di rerumputan yang ada di halaman samping. Baru saja turun, Aluna dibuat kaget oleh gonggongan anjing peliharaan di rumah itu.
Guk ... guk ... guk ....
Anjing yang melihat ada perilaku mencurigakan langsung menggonggong keras menimbulkan kegaduhan di rumah itu.
"Hus ... diamlah anjing pintar! Jangan menggonggong nanti aku bisa ketahuan." Aluna menempelkan jari telunjuk di mulutnya mengisyaratkan agar anjing itu kembali diam.
Guk ... guk... guk ....
__ADS_1
Ah! Kenapa dia masih menggonggong? Kalau begini caranya Alvin bisa bangun dan akan melarangku pergi dari sini. Kemudian Aluna mencari cara agar mendiamkan anjing itu.
"Siapa di situ?" teriak penjaga mansion berjalan cepat mendekati anjing. Dia mengarahkan senter miliknya berlalu lalang mengarah ke arah kandang anjing. Saat itu juga, dengan gerakan cepat Aluna langsung menghindar bersembunyi di balik tanaman yang tinggi menutupi badannya.
"Anjing manis aku punya sesuatu untukmu besok. Sekarang kembalilah tidur, bukankah aku adalah majikanmu. Diamlah kalau kamu masih maju dan menggonggong lagi, aku akan memotongmu dengan pisau cukur ini." Aluna berkata sangat pelan mengarahkan pisau cukur ke arah anjing itu.
Sontak, melihat Aluna mengacungkan pisau ke arahnya, anjing itu lalu mundur ketakutan masuk lagi ke kandangnya. Lidahnya yang dari tadi menjulur, ditutupnya rapat.
"Sepertinya kamu sedang mimpi buruk, Dogi!" penjaga keamanan sudah datang menenangkan anjing lalu mengelus kepalanya. "Tidurlah, tidak ada apa pun di sini," tambahnya.
Penjaga keamanan berjalan mendekati kandang anjing, setelah dirasa tidak ada hal yang mencurigakan petugas keamanan itu kembali ke ruang jaganya di depan.
"Anjing pintar, aku janji tidak akan memotongmu. Sekarang kembalilah tidur. Jangan berisik, ok!" ucap Aluna tersenyum.
Setelah penjaga keamanan pergi, sekarang Aluna harus bersiap melewati pagar rumah yang cukup tinggi untuk keluar dari mansion. Ia tidak mungkin keluar dari pintu depan.
Dengan gerakan cepat Aluna memanjat dinding tembok yang tingginya hampir tiga meter itu. Tangannya dengan kuat memegang sisi tembok yang tak halus itu untuk menyangga tubuhnya. Setahap demi setahap Aluna menaiki tembok dengan sangat mudah. Kini dia sudah ada di ujung pagar, dengan bantuan pisau cukur itu, Aluna melengkungkan kawat anti maling yanga ada di atas pagar tembok, membentuk celah agar ia bisa melewatinya. Sedikit susah memang, namun, Aluna kembali berhasil melewati tantangan itu.
Brugh!!
Aluna kembali melompat melewati pagar. Setelah selesai, dimasukkannya lagi pisau cukur ke sakunya. Selanjutnya ia harus mencari taksi menuju bar.
Kemudian Aluna berjalan menuju jalan utama hendak mencari taksi. Susana jalan begitu sangat sepi di tengah malam itu, tidak ada satu pun yang lewat selain dirinya.
"Bagaimana aku mendapatkan taksi kalau sepi seperti ini? Kalau begitu aku harus menghubungi Lily untuk menjemputku." gumam Aluna.
Aluna mencari kontak Lily, segera menghubunginya.
***
Di Bar.
"Bagaimana caranya agar Luna mau datang malam ini. Lihatlah kita sudah menunggu hampir tiga jam lamanya. Kenapa wanita itu tak segera datang?" terlihat kecemasan Helen. Ia tidak mau rencananya gagal kali ini.
"Aku sendiri tidak yakin Aluna akan datang!" Yuze merasa putus asa.
__ADS_1
"Kalau Luna malam ini tidak datang, sebaiknya kita atur ulang rencana kita. Aku juga tidak yakin malam ini wanita itu akan datang ke bar." Lily semakin menambah keraguan Helen.
Tring ... tring ...
Tiba-tiba terdengar bunyi telepon berbunyi.
Helen merasa teleponnya yang berbunyi, tetapi nyatanya bukan. Setelah melihat dengan cermat, ternyata itu adalah bunyi telepon milik Lily. Dilihat dari nama kontak yang terpampang di layar handphone.
"Helen, Aluna meneleponku!" seru Lily kegirangan. Akhirnya yang ditunggu-tunggu segera menghubunginya.
"Matikan musiknya!" seru Helen kepada disc jockey.
"Diamlah sebentar aku akan berbicara dengan Luna dulu," Lily memberi isyarat agar semuanya diam. Lily segera menjawab telepon dari Aluna.
"Halo, Luna. Kamu sekarang ada di mana? Aku sudah menunggumu dari tadi di bar," ucap Lily di telepon.
^^^"Halo, Lily. Aku sedang ada di jalan utama mansion. aku akan menemuimu di bar. Di sini tidak ada taksi, bisakah pesanan aku taksi sekarang," balas Aluna di telepon. ^^^
"Baiklah tunggu di situ sebentar. Aku akan memesankan taksi agar membawamu ke mari. Jangan ke mana-mana dulu," ucap Lily lagi.
^^^"Kalau begitu, kasih tahu alamat barnya di mana? Aku akan memberikannya kepada sopir taksi," kata Aluna di telepon. ^^^
"Alamatnya, Jalan Lentera putih nomer tiga puluh. Aku akan menunggumu di bar casablanka. Kamu tak usah khawatir, Luna. Karena aku yang akan memesannya dari sini," jawab Lily di telepon.
^^^"Baik, tunggu sebentar lagi. Aku akan datang ke pestamu sekarang!" seru Aluna di telepon.^^^
^^^ ^^^
###
Halo semuanya,
Besok sudah hari senin nih, kalau suka dengan novelnya, jangan lupa berikan vote untuk novel ini ya ...
Segala bentuk dukungan apa pun, author ucapkan Terima kasih yang sebanyak-banyaknya, semoga reader semua diberikan selalu kesehatan. Amin.
__ADS_1
Salam hangat.
Afsheen.