
Di kamar hotel pagi harinya. Noah membuka pelan matanya, melihat samar-samar ruangan. Dia tak memakai kacamata. Jadi penglihatannya tak cukup jelas.
"Ini kacamatamu, Sayang."
Lisa menyodorkan kacamata milik Noah yang tertinggal tadi di meja bar. Memeluknya sangat erat sampai membuat Noah kesulitan bernapas.
"Lisa?!"
Meskipun belum memakai kacamata, Noah bisa memastikan kalau di belakangnya adalah Noah. Berbeda dengan yang tadi malam, karena dia mabuk ditambah tak memakai kacamata, Noah malah mengira Lisa adalah Helen. Noah masih belum menyadari, dan sekarang wanita itu sedang memeluknya menggunakan pakaian minim.
"Lisa! Lepaskan aku!" pekik Noah tidak suka Lisa memeluknya.
Bukannya melepas, Lisa malah tambah mempererat pelukannya. Dia tak mau lepas malah bersandar di punggung Noah sangat manja.
"Sayang, setidaknya aku ingin bermanja-manja pagi ini setelah semalam memuaskanmu," kata Lisa tersenyum licik.
Noah tidak suka, kemudian melepas pelukan Lisa dengan paksa. Tadinya Noah hendak berdiri dan pergi. Namun, ketika melihat dirinya tak menggunakan sehelai benang pun langsung dia urungkan. Noah kembali menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Apa yang kamu lakukan, Lisa?"
Lisa tersenyum sembari meliuk-liukkan tubuh seksinya di punggung Noah, seakan sedang menggoda agar kejantanannya bereaksi.
"Kata-katamu tidak tepat, Sayang. Bukan kamu, harusnya kamu tanya apa yang terjadi dengan kita tadi malam."
Noah merasa kepalannya langsung pusing dan berasa berat akibat perkataan Lisa barusan. Noah berusaha mengingat lagi kejadian semalam.
"Memangnya apa yang terjadi?"
Semakin dipikirkan, semakin kepala Noah pusing. Yang dia ingat adalah saat dirinya memesan dan meminum alkohol. Setelah menghabiskan dua botol, dia melihat wanita berambut kuning yang dia pikir adalah Ara, dan sekarang Noah melihat Lisa sudah mengecat kuning rambutnya. Persis dengan rambut Helen.
"Jangan katakan kalau kita .... Lisa! Apa kamu gila? Kita sudah putus dan tak ada hubungan apa pun lagi. Kenapa kamu ... aaarhh!"
Nada bicara Noah semakin meninggi dan berteriak di ujung kalimatnya. Noah yakin dia telah dijebak oleh Lisa. Kalau sadar mana mungkin dia melakukannya.
__ADS_1
"Kamu sedang birahi tadi malam dan terus memaksaku. Aku hanya tidak tega, Sayang."
"Tidak tega kamu bilang?"
Noah berbalik badan dan mendorong kasar tubuh Lisa dari punggungnya. Membuat Lisa terhempas di atas kasur.
"Tak bisakah Paman baik kepadaku sedikit saja pagi ini setelah mengambil mahkotaku?" teriak Lisa. Dia kaget karena Noah sangat kasar dengannya. "Hiks, hiks."
Lisa mulai bersandiwara menangis agar Noah iba. Kemudian Lisa menyingkap selimut dan memperlihatkan noda merah di sprei. Lisa ingin menunjukkan kalau tadi malam Noah telah merenggut keperawanannya.
"Aku tidak mau menyerahkan keperawananku begitu saja! Tadi malam kamu terus memaksaku. Kamu harus bertanggung jawab, Paman Noah!"
Noah mendadak lemas. Dia tak percaya telah melakukannya dengan Lisa. Noah berpikir lagi pasti tadi malam dilakukan di luar kendalinya.
"Kamu ...." Noah tak bisa meneruskan kata-katanya hanya bisa menghembuskan napas kasar.
"Apa paman ingin bukti dan melihat hasil rekaman kita semalam? Aku sengaja simpan agar bisa dikenang l saat kita sudah menikah nanti." Lisa terus memanasi.
Noah merasa semakin pusing. Tak siap sama sekali kalau dirinya melihat video panas besama Lisa. Membayangkan saja rasanya mual.
"Dasar wanita gila!"
"Ayo, Paman!"
"Lepaskan aku! Kalau benar kita berhubungan semalam, aku akan menginginkanmu obat kontrasepsi agar kamu minum setelah ini!" Lupakan semuanya anggap tak pernah terjadi di antara kita!" Noah mencengkeram rahang Lisa kemudian menghempaskannya begitu saja ke kasur.
Noah langsung turun dari kasur. Memakai baju kemudian meninggalkan Lisa begitu saja. Entah bagaimana selanjutnya nanti. Sementara ini, dia tak mau berdekatan dengan Lisa dulu.
"Paman! Paman!" teriak Lisa, "hiks, kamu benar-benar tega mencampakanku!"
Lisa menangis histeris. Namun, Noah tetap pergi.
"Bajingan kamu Noah! Lihat saja aku akan kirimkan video ini kepada Helen kalau kamu tak mau bertanggung jawab! Lihat saja nanti!" teriak Lisa. Kemudian membanting vas bunga dari atas meja ke arah pintu, hingga keras dan menimbulkan suara yang nyaring terdengar sampai luar, "aaarghhht!"
__ADS_1
"Aku akan menemui Helen dan mengajaknya menjadi sekutu. Kamu akan menyesal, Noah!"
***
Sindi dan keluarganya baru saja turun dari pesawat. Sekarang asisten Jo sudah ada di bandara menjemput mereka. Sindi sangat senang. Sinta juga memaklumi kalau Aluna tidak bisa menjemputnya karena ada urusan pekerjaan di kantor.
"Wah ternyata benar kota lebih ramai dari pedesaan," kata Sindi dengan polosnya, "Mama, Zero sudah berjanji akan mengajakku berkeliling taman. Apa taman itu yang dia maksud?"
"Mungkin, tapi ada banyak taman di sini. Lihatlah, di sebelah sana juga ada," kata Sinta sambil menunjuk luar.
"Papa juga sangat ingin tahu seperti apa Zero yang selalu kamu ceritakan. Apa dia lebih tampan dari papa?"
Sindi langsung menunduk malu. Dia menjawab iya. Tapi bukan itu utamanya dia menyukai Zero. Sindi sangat menyukai karena Zero sangat pemberani.
Di dalam mobil Asisten Jo menjelaskan kalau untuk sementara ini mereka akan menginap di hotel. Seluruh biaya akan Aluna tanggung, baik makan sampai kartu unlimited untuk mereka belanja nanti.
"Terima kasih Nyonya Luna untuk semuanya. Kami sedang dalam perjalanan," kata Sinta di telepon. Sedang menelepon Aluna yang bersiap pergi rapat.
"Terim kasih kembali. Maaf kami tidak bisa menjemput Anda sekeluarga. Bolehkah aku berbicara sebentar dengan calon menantu kami," balas Aluna di kantor.
Sinta menahan senyum ketika mengatakan anaknya adalah calon menantunya. Ucapan Aluna pun tak sengaja didengar oleh Sindi. "Bibi Luna ingin bicara denganmu, Sindi."
"Halo Bibi Luna, aku dan mamaku sedang menuju hotel. Apa Bibi dan Zero sudah sampai sana?" tanya Sindi.
"Zero masih berada di sekolah. Setelah rapat selesai Bibi akan segera menjemput Zero. Bibi juga sudah siapkan beberapa hadiah di hotel. Semoga kamu menyukainya ya, Sindi," kata Aluna lagi lewat telepon.
Kemudian mereka saling berbincang beberapa menit, sebelum akhirnya memutuskan sambungan telepon karena Aluna harus bekerja.
Sinta dan suaminya menganggap serius kata-kata Aluna barusan, yang ingin menjadikan menantunya nanti setelah mereka dewasa. Begitu pula dengan Sindi. Sampai-sampai dia mempertanyakan apa itu menantu kepada ibunya.
Sinta menjawab sambil menahan tawa, dia mengatakan kalau Sindi akan tahu nanti setelah dewasa.
"Mama, aku senang karena hari ini aku akan bertemu dengan Zero dan Bibi Luna. Tapi ... kenapa perasaanku mendadak tidak enak ya?"
__ADS_1