TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
233


__ADS_3

"Terima kasih, Nona," kata sopir, kembali melajukan mobil setelah Ara membayar tarif taksinya.


Aku harus cepat pergi, sebentar lagi pasti mobil Noah sampai, batin Ara sambil menengok ke arah kiri.


Ara sudah sampai di rumah Hideon. Semenjak di perjalanan tadi, Ara melihat mobil Noah dari jauh mengikutinya. Wanita berambut kuning tersebut mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya, kemudian berjalan cepat memasuki rumah.


Ponsel Ara dari tadi berdering. Namun, karena dia terlalu fokus memperhatikan Noah saat berkelahi tadi, dia tak sampai mengangkat panggilan telepon dari Aluna.


"Banyak sekali panggilan telepon dari Kak Aluna. Maafkan aku, Kak. Gara-gara Noah, aku sampai tak mengangkat teleponmu," kata Ara sambil berjalan, membuka-buka isi pesan dari kakaknya.


Sekarang Ara sudah sampai di depan pintu, Ara sangat girang begitu membaca isi pesan Aluna yang mengatakan ponakannya telah ditemukan. Saking girangnya dia berkata sangat keras.


"Yeah, akhirnya ponakanku ditemukan," teriak Ara keras, "aku tak sabar ingin melihat ponakanku. Dia benar-benar sangat lucu," tambahnya dengan ekspresi gemas saat melihat foto Zero.


Ucapan Ara tak sengaja didengar Mona di dalam. Rupanya berita ditemukannya Zero sudah sampai di telinga Hideon dan Mona. Hideon sangat senang, tetapi tidak dengan Mona. Ketika wanita itu mendengar Helen anaknya ingin bertemu dengan Zero, hatinya makin bertambah kesal.


Mona yang sedang duduk di ruang tamu berjalan cepat menghampiri Ara yang baru saja memasuki ambang pintu. Menemuinya dan berkata ketus. "Helen! Dari mana saja kamu? Apa yang kamu katakan tadi?"


Ara baru sadar kalau dia telah kelepasan bicara, baru beberapa langkah masuk dia sudah dihadang Mona. Wanita itu kemudian menarik dirinya dan menarik tangannya, mengajak berbicara empat mata.


"Benarkan kalau anak Luna telah ditemukan?" kata Ara pelan.


Wajah Mona mendadak merah, dia tak suka melihat raut wajah senang anaknya ketika mendengar anak tersebut ditemukan. Baru kali ini dia melihat anaknya itu memiliki rasa empati tinggi terhadap Luna.


"Iya, benar. Apa kamu tahu dari Yuze? Apa yang dia katakan? Apa dia tahu siapa ayah kandung dari anak itu?" Baru duduk di sofa, Mona sudah memberondong banyak pertanyaan kepada Ara.


Terlihat kening Ara mengernyit, Ara mengalihkan pandangan matanya terhadap Mona sambil terus berpikir. "Heum, tentu saja. Tapi ... bukankah anak itu adalah anak kandung Alvin sendiri?"


Mona mengembuskan kasar napasnya. Tidak terima sama sekali ketika Ara mengatakan anak tersebut adalah anak Alvin. Sebaliknya, dia malah menyuruh Ara untuk terus mendekati Alvin karena sebentar lagi kabarnya mereka tetap akan bercerai.


"Selama mereka belum melakukan tes DNA, anak itu belum bisa dipastikan sebagai anak Alvin. Kamu harus terus mendekatinya lagi. Dengan adanya masalah ini, kesempatan emas agar bisa mendekati Clara. Tunjukkan kelebihanmu terhadap mereka. Lihat kau lebih cantik daripada Luna," ucap Mona.


Mendengar kata-kata Mona barusan, Ara langsung berdiri dan menolak mentah-mentah seruan Mona. "Mommy, aku sudah tak mencintai Alvin. Jangan suruh aku untuk mendekatinya lagi," ucap Ara.


Kata-kata Ara bagaikan petir di siang bolong bagi Mona. Matanya melotot sempurna dan menahan lengan Ara agar tidak pergi. "Apa maksudmu? Helen, lihatlah dirimu. Memiliki Alvin adalah impianmu dari kecil. Harta yang akan diwariskan kepada Alvin tidak akan habis tujuh turunan. Tidak ada bangsawan kaya, setampan dan berusia muda selain dia. Kamu mau cari siapa lagi?" tanya Mona sambil menoyor kening Ara dengan telunjuk.


Ara memegangi keningnya, dia terlalu malas membahas masalah ini dengan Mona. "Alvin adalah masa lalu. Aku sudah tak menginginkannya lagi. Apa Mommy masih kurang uang? Lihat Ayah pun sudah cukup kaya. Percuma kaya kalau kita tak punya akal yang sehat! Hanya mencari uang, uang dan uang sampai tak sempat menikmati hidup!"


Mona mendongakkan wajahnya marah sambil berteriak keras. "Siapa kamu? Sepertinya kamu bukan anakku? Keluar kamu dari tubuh putriku?"


Mona menggoyang-goyangkan tubuh Ara sambil menepuk pipinya berulang kali. Mona yakin ucapan itu bukan keluar dari mulut putrinya Helen. Menurut Mona, tak ada yang lebih penting dari uang dan ambisi memiliki Alvin di otak Helen. Dua hal itu tak akan berubah dan akan selamanya melekat pada diri Helen.


"Mommy, berhenti! Sakit! Jangan tampari aku!" bentak Ara. Dia tak berani membalas perlakuan Mona.

__ADS_1


Di saat bersamaan seorang pelayan berjalan sedikit membungkuk mendekati Mona. Dia tampak ragu mengatakan sesuatu hal kepada Mona karena melihat wanita itu memukuli wajah anaknya. "Nyo-nyonya, ma–"


"Kenapa kamu ada di sini?" bentak Mona dengan ketus.


Pelayan tersebut berkata pelan, mengatakan kalau di depan halaman sudah ada Noah. Pelayan mengatakan lagi, kalau Noah sampai nekat ingin masuk ke rumah demi meminta maaf kepada Ara.


"Jadi kamu masih berhubungan dengan lelaki miskin itu?" Mona kembali memarahi Ara, "percuma tampan kalau dia tak kaya! Apa kau hanya ingin makan cinta dari lelaki itu!"


"Argh!" Ara terus menghindari pukulan tangan Mona di tubuhnya. "Mommy, jangan pukuli aku lagi."


"Katakan pada lelaki miskin itu agar cepat pergi sebelum aku sendiri yang mengusirnya!" seru Mona lagi sambil menunjuk-nunjuk muka pelayan.


Suara keras Mona rupanya terdengar sampai ke atas dan didengar Hideon. Lelaki berusia hampir 50 tahun tersebut langsung turun. Menghampiri Mona dengan wajah merah karena marah.


"Ada masalah apa ini sampai kamu memukuli anakmu sendiri? Teriakanmu sangat keras sampai mengganggu istirahatku!"


Mona menghentikan pukulan sambil merapihkan penampilannya yang berantakan. "Maaf, suamiku. Aku hanya memerintahkan pelayan untuk mengusir lelaki yang berpengaruh buruk terhadap anak kita. Dia sedang ada di depan," jawab Mona, "dalam jiwa anak ini bukanlah Helen. Aku harus mengusirnya sekarang."


Hideon mengatur napasnya, dia sudah mendengar semua ucapan Mona kepada Ara tadi. Dia tak suka ketika mendengar Mona masih berambisi menjodohkan Helen dengan Alvin.


"Berhenti! Kalau tidak aku akan mengusirmu dari rumahku. Dari dulu kau masih saja gila! Sudah jelas Alvin masih menjadi suami Luna. Bisa-bisanya meminta anakmu untuk merebutnya. Mereka sudah memiliki anak, tidak akan bercerai sampai kapan pun! Biarkan Helen memilih lelaki mana pun untuk jadi suaminya. Kau ingin harta, aku sudah memberinya! Apa kamu masih merasa kurang?" Hideon menatap tajam ke arah Mona, membuat wanita itu menunduk seketika.


Kalau sudah Hideon berbicara, dia tak bisa berkutip. Apalagi saat lelaki itu mengancam akan mengusirnya. Mona menarik diri, meninggalkan mereka berdua sambil terus menggerutu dalam hati. Mona yakin bukan Helen lah yang berbicara. Mona merasa dia ingin mencari tahu lebih siapa wanita yang ada pada diri anaknya.


Ara menggeleng. Bukannya menjawab dia malah membahas Zero. Dia ingin tahu kabar anak itu. "Bagaimana dengan anak Kak Luna? Apa dia sudah dibawa pulang?"


Hideon tersenyum senang, dia merasa Helen telah berubah dan menyadari posisinya sekarang. "Kita akan ke sana besok. Kalau mau ayah akan mengajakmu mengunjungi Zero. Sekarang temuilah lelaki di depan kasian dia sudah menunggu. Kecuali, kalau kamu sendiri tak mau menemuinya, suruh pelayan menyuruhnya pulang dengan halus."


Ara mengangguk, dia ingin ikut bersama Hideon menemui ponakannya. Tetapi, dia memutuskan tidak ingin menemui Noah dulu. Dia ingin menjernihkan pikirannya dulu.


"Pelayan, bilang saja kepada lelaki itu. Aku tak ingin menemuinya sekarang. Katakan maaf, sebaiknya suruh dia pulang saja," kata Ara pelan kepada pelayan.


Pelayan mengangguk. Dengan sangat terpaksa dia mengusir halus Noah yang menunggu di halaman. Noah tak mau menyerah, sebaliknya dia akan menemui Helen kembali besok.


"Aku tidak akan menyerah, Ara!" teriak Noah sebelum pergi sambil melihat ke arah kamar Helen. Dia yakin Ara belum tidur.


***


Di tempat lain, di halaman depan mansion Nenek Alma. Alvin masih tak mendapatkan pintu. Merasa sangat marah, Alvin menarik diri dan membawa anak istrinya masuk kembali ke dalam mobil.


"Kalau kamu mau, kita pulang saja ke rumah ayah Luna. Ayah Hideon pasti tak akan menolak, sebaliknya dia sangat senang karena cucunya telah kembali," ucap Aluna masih memeluk Zero.


Alvin mengusap lembut rambut Aluna. Bukan dia menolak saran Aluna, hanya saja dia merasa tak bertanggung jawab kalau membawa anak dan istrinya tinggal di rumah Hideon. Susah senang dia tak mau merepotkan mertuanya.

__ADS_1


"Atau kalau kamu mau, aku punya uang untuk menyewa apartemen," kata Aluna lagi.


Lagi-lagi Alvin menolak saran dari Aluna. Menurutnya dia punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalah ini.


"Aku punya vila sederhana tidak jauh dari sini. Walaupun kecil, vila itu memiliki dua kamar. Cukup untuk kita tinggal sementara," kata Alvin.


Aluna tersenyum mengangguk. Apa pun yang dikatakan lelaki itu dia akan menurut selama itu baik untuk dengan dirinya dan Zero.


Mobil kembali melaju, mengantarkan mereka berempat menuju vila tempat Alvin kecil dulu. Vila itu sudah lama tak ditempati, tetapi sangat layak untuk tempat tinggal sementara mereka.


Dua puluh menit kemudian. Mereka telah sampai vila. Alvin membawa Aluna dan Zero masuk bersama-sama. Sementara Asisten Jo yang sudah mengantarkan mereka, memilih tetap mengikuti Alvin dan tidur di ruang tamu.


"Aku di sini saja, Tuan. Lagipula sofa ini sangat layak untuk tempat tidurku malam ini," kata Asisten Jo.


"Baiklah kalau kamu mau. Terima kasih sudah menolong kami, Asisten Jo," kata Alvin. Asisten Jo adalah sopir sekaligus asisten pribadi Alvin semenjak dia kembali dari luar negeri.


Seorang pelayan yang menjaga Vila sempat kaget dengan kedatangan Alvin. Untungnya walaupun vila itu sudah tak dihuni Alvin semenjak ke luar negeri, vila itu cukup bersih karena rajin dibersihkan.


"Maaf, Tuan. Apa aku harus membersihkannya lagi?" tanya pelayan Vila menunduk. Dia tahu kalau Alvin sangat gila kebersihan, menurut dia bersih menurutnya, belum tentu menurut Alvin.


"Tidak, ini sudah cukup untuk kami beristirahat. Terima kasih sudah merawat vila ini. Hem, apa masih ada baju kecilku yang kupakai dulu di sini?" tanya Alvin.


Aluna masih menggendong Zero. Alvin tak tega melihat baju Zero yang bolong-bolong membuat dia teringat baju kecilnya dulu yang dia tinggal di vila.


Pelayan langsung menjawab ada. Dia sangat merawat barang-barang yang ditinggalkan Alvin dulu sebelum pergi ke luar negeri. Alvin meninggalkan baju dan beberapa mainannya di vila tersebut. Mungkin sedikit kebesaran bagi Zero, tapi setidaknya baju-baju kecil milik Alvin masih sangat layak dipakai Zero sekarang.


"Tunggu, Tuan. Aku akan mengambilkan nya untuk tuan muda," kata pelayan pamit dan berlalu pergi hendak mencari baju Alvin kecil.


"Apa ini rumah Papa?" tanya Zero saat dia diturunkan.


Alvin mengangguk pelan seraya menuntun mereka masuk ke dalam kamar. Alvin membuka pintu, memperlihatkan kamar saat dirinya kecil dulu kepada Aluna. Alvin sangat puas karena kasur dan beberapa properti lainnya masih sama seperti dulu belum diganti.


"Kita akan tinggal di sini sementara. Vila ini adalah tempat tinggal saat aku kecil dulu," kata Alvin.


Aluna melihat ke ranjang di depannya. Tentu saja dia sedang berpikir bagaimana mungkin mereka bertiga akan tidur di kasur yang hanya muat untuk dua orang.


"Alvin," panggil Aluna.


"Yah."


"Heum, aku pikir sepetinya kasur ini tak muat untuk ...."


Pikiran Aluna seakan bisa ditebak Alvin. Lelaki itu langsung menggenggam tangannya mengajak wanita itu beristirahat.

__ADS_1


"Kita akan tidur bertiga di sini."


__ADS_2