
"Siapa Monster Godzila yang kau maksud?" bentak Alvin di belakangnya.
Aluna terdiam sejenak, mengingat siapa pemilik suara yang barusan. Ya, walaupun suaranya tak terdengar keras, Alvin yang tiba-tiba ada di belakangnya mendengarnya langsung.
Dengan perasaan ingin mengintimidasi, Aluna membalikkan badan, melihat langsung Alvin yang sudah ada dihadapannya. Mereka saling menatap sesaat, Aluna geram karena kecewa, sementara Alvin marah karena disebut Monster oleh istrinya.
"Tentu saja Anda!" ketus Aluna, "kenapa Anda menggugat cerai aku lagi, Tuan? bukankah tadi siang Anda sudah mencabutnya?" Aluna menempelkan kasar kertas cerai itu di dada Alvin.
Alvin melihat itu terkejut, jelas memang ia sudah mencabutnya. Kenapa surat itu jatuh ke tangan Aluna lagi? Alvin menatap tajam ke arah Helen.
"Apa kau yang memberikannya?"
"Bukankah, tadi pagi Tuan menyuruhku memberikan nya kepada Kak Luna?" Helen balik bertanya.
Tentu saja Helen lakukan agar terjadi keributan kecil antara Alvin dan Luna. Helen berdalih tidak tahu kalau Alvin sudah mencabut gugatannya.
Ah! Kenapa aku lupa tidak memberitahukan kepada Helen, batin Alvin.
Alvin menarik pinggang Aluna, menjauhi Helen, membawanya ke lorong kafe. Ia masih geram terhadap Luna karena sudah mengundang Devan ke acara makan malamnya.
"Kamu sudah dengar, kan? Helen tidak tahu kalau aku mencabut gugatannya. Kenapa kamu malah tidak langsung bertanya kepadaku malah memakiku dengan kata-kata tadi?" Alvin menatap tajam Aluna, "Apa tadi yang barusan kamu ucapkan?"
Aluna baru tahu kalau itu semua hanya salah paham, ia terdiam sejenak tak bisa berkutik membalas ucapan Alvin. Padahal menurut Aluna, tadi ia berbicara tak terlalu keras, tapi sialnya Alvin yang sudah ada di belakang, telah mendengar semuanya.
"Ah' sepertinya Anda salah mendengarnya, suamiku." Aluna berusaha berkelit.
Tentu saja aku refleks memakimu! Aku kira kamu pria yang tidak berpendirian? Batin Aluna.
Alvin menghembuskan kasar napasnya, ada pertanyaan satu lagi yang membuatnya marah malam ini.
"Baiklah aku akan memaafkanmu kali ini. Tapi, sekali lagi kamu memanggilku dengan sebutan monster. Aku akan memakanmu hidup-hidup." Alvin memajukan wajahnya tepat di depan muka Aluna.
Ya, Alvin begitu terkesima dengan penampilan Aluna malam ini. Pria itu menatap lekat wajah Aluna yang hanya berjarak beberapa senti. Istrinya malam ini begitu cantik mengenakan gaun panjang berwarna coklat muda senada dengan kulit putihnya, membuat Alvin berpikiran terlalu jauh setiap melihat tubuhnya.
__ADS_1
Hampir saja Alvin hendak mendekatkan lagi wajahnya, Aluna dengan sigap langsung menghindar.
"Kalau begitu, maafkan aku! Kita sebaiknya kembali menyambut tamu lainnya," ucap Aluna mengalihkan dari pandangan Alvin. Ya, Aluna begitu takut ketika Alvin menatap intens wajahnya.
Sebelum berlalu pergi, Alvin mencekal tangan kanan Aluna. "Tunggu, apa tamu yang kau maksud adalah Devan? Kenapa kau malah mengundangnya?"
Sekarang raut wajah Alvin berubah geram, apalagi di dalam pikirannya, istrinya akan menyambut Devan. Pria yang sudah menjadi musuhnya dari kecil.
"Tentu saja karena Devan adalah penyebab masalahnya! Kalau aku tidak mengundangnya, lalu bagaimana mungkin aku bisa membuktikannya!" Aluna sedikit cemberut karena intimidasi dari Alvin.
"Tetapi aku tidak suka! Apalagi kalau kamu sampai menyambutnya!" ketus Alvin keras.
Alvin benar-benar menunjukkan kecemburuannya di depan Aluna sekarang. Ia benar-benar tidak rela Aluna menyambut lelaki mana pun selain dirinya.
"Lagi pula aku hanya ingin memastikan kalau dia datang malam ini. Lalu apa yang membuat Anda harus keberatan!"
Alvin kembali mencekal Aluna sekali lagi, "Aku bilang jangan! Ya jangan!"
Melihat raut wajah Aluna yang berubah, membuat Alvin melepas tangan Aluna, membiarkan wanita itu pergi sambil terus menggerutu.
Dasar pria aneh! Tadi siang ia hendak menceraikan Luna, sekarang malah melarang Luna menemui Devan. Kalau aku tidak mengundangnya, bagaimana aku bisa membuktikannya! Batin Aluna kesal sambil berjalan kembali ke kafe.
Kenapa aku selalu menyukai saat dia sedang merajuk kepadaku? Setiap kali ia marah, benar-benar menggemaskan! Batin Alvin, tersenyum melihat Aluna yang berjalan menjauhinya.
***
Di Kafe Miracle.
Aluna melangkah kaki melewati ambang pintu privat room langsung mengulas senyum begitu tahu Ayahnya Luna telah datang bersama Mona ibu tirinya. Walaupun Hideon bukan ayahnya, tapi ia turut senang dengan kehadirannya, itu berarti Hideon ikut mendukung Luna.
Aluna tahu bahwa dia harus mengambil kesempatan ini agar membuktikan ke seluruh keluarganya dan Alvin kalau Luna tak bersalah. Aluna menyambut hangat Hideon dan Mona yang tengah duduk, di meja yang telah disediakan untuknya.
"Terima kasih sudah mau datang, Ayah." Setiap kali menyebut kata ayah selalu membuatnya bergetar, terlebih lagi dari kecil Aluna selalu hidup berdua hanya dengan adiknya di dunia nyata.
__ADS_1
"Sama-sama, Nak. Jangan pernah beranggapan ayah tak mendukungmu, Luna. Benarkan, Mona?" Hideon menyenggol Mona yang dari tadi tak membalas ucapan Aluna.
Mona yang merasa disenggol, hanya tersenyum tipis ke arah Aluna, entah kenapa perasaannya tidak enak kali ini. Sepertinya Aluna akan mempermalukan Helen malam ini, terlebih Mona pun sudah tahu kalau Yuka telah menceritakan semuanya kepada Luna.
Baru beberapa menit berbincang dengan ayahnya, Devan dari ambang pintu terlihat memasuki kafe. Aluna yang diberitahu sistem seperti apa sosok Devan, hanya bisa menerka kalau pria yang sedang tersenyum kepadanya dari jauh adalah Devan, pria yang selama ini menjadi duri dalam rumah tangga Luna.
Sepertinya dia adalah Devan, gumam Aluna.
Sembari membuka tiga kancing depan bajunya, Aluna berjalan ke arah Devan yang sedang berdiri di di pinggir kolam air mancur di tengah Kafe. Ya, Aluna sengaja membukanya agar dapat menunjukan tahi lalat di tulang selangkanya. Dengan percaya diri Aluna tersenyum menghampiri Devan.
"Selamat malam, Dev. Terima kasih sudah menghadiri undanganku." Aluna menyambut Devan dengan ramah.
"Selamat malam, Luna. Tentu saja, aku tidak akan mengingkari janjiku." Devan membalas senyum Aluna.
Dari jauh, Helen yang melihat kedatangan Devan langsung menghampiri mereka berdua. Wanita itu bergerak cepat, ingin melancarkan aksi yang dirancangnya secepatnya.
"Kakak," ucap Helen berjalan mendekat.
Aluna merasa aneh ketika seorang Helen memanggilnya kakak. Jelas itu mengingatkannya kepada Ara, adiknya.
"Ya," sahut Aluna pelan.
"Ada yang ingin aku katakan." Helen lebih mendekatkan lagi ke depan Aluna.
Mata Helen mendadak lebar ketika melihat tahi lalat di tulang selangka Aluna. Ia baru mengetahui kalau Luna memilikinya, benar-benar keuntungan ada di pihaknya.
"Cepat katakan apa yang ingin kamu katakan?" tegas Aluna.
Helen terus memperhatikan bagian depan Aluna, lalu melirik sebentar ke arah Devan yang tentunya dari tadi tak berkedip melihat ke arah Luna.
Dari tatapan mereka sepertinya pikiran Helen dan Devan sejalan. Mereka sama-sama diam dalam pikiran masing-masing mengenai Luna.
Baiklah, aku akan memulainya sekarang, batin Helen.
__ADS_1