TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Meniru


__ADS_3

Mengurungku di rumah selama sebulan? Tidak-tidak, itu tidak boleh terjadi! Yang ada itu akan mempersulit dalam menyelesaikan misiku selanjutnya. Batin Aluna.


Ya, ia tahu sudah terbawa perasaan, sehingga dia tidak sadar kalau sedang menuduh Alvin berselingkuh dan membuatnya marah.


Sistem berkedip memperingati Aluna.


[Ingat jangan terbawa perasaan cemburu Aluna! Yang kamu hadapi sekarang adalah lelaki paranoid. Jangan membuatnya marah, karena itu akan mempersulit misimu!]


Aluna mengembuskan napasnya pelan, ia sudah mulai sadar kalau sekarang dia sedang di dunia novel dan menjalankan misi.


Sadar Aluna! Sadar, batin Aluna.


"Maafkan aku suamiku, aku tidak bermaksud menuduhmu berselingkuh. Aku hanya tidak suka Anda memuji wanita lain di depanku! Karena ... ya, aku cemburu." Mau tak mau Aluna harus menurunkan harga dirinya dengan mengatakan dia cemburu agar Alvin menarik kembali kata-katanya.


Alvin melengkungkan bibirnya ke atas, dia tampak senang mendengar istrinya terang-terang mengatakan kalau dirinya sedang cemburu. "Kenapa tak mengatakannya dari awal. Maafkan aku sudah membuatmu cemburu. Lain kali aku tidak akan memuji wanita lain lagi," ucap Alvin.


Pundak Aluna melemas ia terus menundukkan kepalanya, mengubur wajahnya dengan telapak tangan. Entahlah, Aluna sangat malu, pasalnya baru kali ini ia mengatakan kalau dia memang cemburu, kepada seorang lelaki yang berstatus suami sementaranya itu.


"Sekarang dengarkan aku sebagai suamimu." Alvin memegang pundak Aluna, tangannya meraih lembut dagu Aluna.


"Jangan banyak bicara kalau Helen kembali memancing emosi. Wanita licik itu sedang mencari cela kesalahanmu. Ingat! Kamu hanya perlu diam. Aku berjanji, Luna. Aku akan membantumu menyelesaikan masalah ini, percayalah padaku!" seru Alvin lagi, kini mereka saling menatap dengan intens.


Aluna menutup matanya sejenak lalu membukanya lagi, pertanda ia setuju dengan saran Alvin.


Baiklah, aku akan mengikuti caramu, suamiku. Batin Aluna.


"Apa kamu mengantuk?" tanya Alvin.


Aluna mengangguk. Memang benar matanya sudah sangat berat, bahkan ia mendengar ucapan Alvin sudah seperti sedang mendongeng.


Benar kataku kamu lebih manis kalau menurut seperti ini. Batin Alvin.

__ADS_1


"Hari sudah hampir pagi, sebaiknya kita pulang. Matamu sudah terlihat semakin berat." Alvin memegang tangan Aluna, dia tahu kalau istrinya sudah sangat lelah.


Sementara, Aluna hanya diam saja membiarkan Alvin menuntun tangannya. Tentu saja dia diam bukan berarti tidak berpikir. Walaupun sedang mengantuk, Aluna sedang memikirkan cara untuk menemukan cerita yang sweet di kepalanya.


Apa yang harus aku lakukan agar mendapatkan adegan yang sweet? Misi ini terlalu berat bagi seorang yang belum pernah pacaran sama sekali sepertiku! Gerutu Aluna dalam hati.


Mereka terus berjalan ke arah pintu keluar. Namun, sebelum mereka sampai, dari ambang pintu terlihat Lily, Yuze dan Helen hendak memasuki ruangan itu lagi. Senyum tipis terlukis di wajah ketiganya.


"Kakak, apa kalian ingin pulang?" tanya Lily kepada Alvin.


Alvin hanya menganggu tak ingin berbasa-basi.


Helen yang berdiri di tengah keduanya malah berjalan mendekati Aluna, dia kembali berpura-pura simpati. "Apa Kakak sudah membersihkan lukanya? Aku sangat khawatir dengan keadaan kakak." ucapnya.


Brengsek! gumam Aluna.


"Tuan, sebaiknya cepat bawa kak Luna pulang. Aku takut jiwa labilnya kembali melukai dirinya dan orang lain lagi." Helen benar-benar tidak tahu malu dan mulai mencari muka lagi.


Plak.


Cuih, serigala berbulu domba! Ketus Aluna dalam hati.


"Cukup! Jangan berkata sembarangan kalau kalian tidak punya bukti!" Alvin memeluk dari samping sambil manahan tangan Aluna agar tak terbawa emosi.


"Aku bisa menjelaskan secara detail bagaimana kelakuan kak Luna ketika kami hanya berdua di ruangan ini," ucap Helen.


Alvin menggenggam tangan Aluna, memberi isyarat agar istrinya tidak membalas ucapan Helen, apalagi berbuat kasar karena emosi. Benar kata Alvin, Helen sedang mencari kesalahan dari seorang Aluna.


Kalau Alvin tidak menyuruhku diam. Sudah pasti mulutmu sudah ku tendang. Batin Aluna.


"Kalau begitu, katakan secara detail sekarang," kata Alvin.

__ADS_1


Helen memegang tangannya yang terluka, mencari simpati dari Alvin dan mulai membuat cerita yang dramatis. "Semenjak kecil, kak Luna memiliki kepribadian ganda. Ya, tentu saja hanya aku yang tahu. Dia terkadang sangat baik. Tetapi, kadang dia bisa menjadi orang lain. Satu kepribadian lainnya adalah wanita yang kasar dan kejam. Padahal aku sudah peringatkan agar kak Luna tak usah minum alkohol. Sayangnya, kak Luna tidak Terima malah hendak memukulku, untung aku segera menangkisnya. Ternyata tidak sengaja botol itu malah mengenai kepalanya sendiri. Tidak hanya itu, karena saking tidak terimanya, kak Luna juga melukai tanganku dengan pecahan botol sampai terluka parah. Aku takut semua orang tahu. Kepribadian jahat kak Luna sudah kembali lagi, setelah bertahun-tahun menghilang." Helen mulai membuat cerita palsu yang begitu realistis.


Wanita gila! Justru kamu yang memiliki kepribadian ganda! Batin Aluna.


Mendengar penjelasan Helen, Aluna hanya diam. Dalam hatinya ia ingin tertawa sangat kencang. Dia masih diam menunggu balasan dari Alvin.


Setelah Helen selesai mengarang ceritanya, Yuze mengembuskan napasnya pelan. Dia pun mulai mendramatisir karangan Helen, "Aku baru tahu kalau kak luna memiliki kepribadian ganda, apalagi salah satu kepribadiannya adalah manusia yang jahat. Aku takut kak Luna akan kembali melukai dirinya sendiri, bahkan keluarga kita lainnya," ucap Yuze.


Alvin masih terlihat santai, dia malah mengeratkan lagi pelukannya di pinggang Aluna. "Kalian jangan khawatir, aku akan menjaga istriku dengan baik!" serunya.


Ya, Aluna sendiri hanya diam. Alvin mengatakan kepada Aluna kalau dia tak usah banyak bicara. Alvin berjanji akan membantunya menyelesaikan masalah ini dengan caranya.


"Hati-hati kak, aku takut kak Luna menjadi gila karena perilakunya sendiri." Lily kembali memanasi.


"Sudah aku bilang kalian tidak perlu khawatir. Aku yang akan menghukumnya kalau dia salah!" Alvin mulai meninggikan nada bicaranya. "Sekarang biarkan kami pulang dan beristirahat!" tambahnya.


Lily dan Yuze tersenyum puas, mereka pikir dengan Alvin membawa Aluna pulang, lelaki itu akan menghukum Aluna dan memarahinya habis-habisan. Mereka tidak tahu kalau Alvin sedang berpura-pura marah mengikuti contoh dari akal Helen.


"Helen," ucap Alvin, dia baru ingat ingin bertanya sesuatu kepada Helen.


Mendengar namanya dipanggil Helen sangat senang lalu mendekati Alvin. "Ya, Tuan!"


"Kamu bilang istriku yang memukul kepalanya sendiri, bukan?" tanya Alvin.


Helen mengangguk. "Benar, Tuan. Bahkan dia juga yang menggores tanganku!"


Alvin tersenyum datar. "Kalau begitu, berarti kamu tak menyentuh botol itu sama sekali?" tanya Alvin mengintimidasi.


"Tentu, saja. Hanya kak Luna yang menyentuh botol itu." Helen tak menyadari kalau itu adalah pertanyaan jebakan dari Alvin.


Bagus! Alvin tersenyum puas.

__ADS_1


__ADS_2