
Dengan tangan yang terus mengepal, Aluna ditarik paksa Alvin keluar dari ruangan itu. Kalau tidak segera pergi, Alvin takut istrinya yang terlihat menyeringai seakan mempersiapkan ancang-ancang untuk melawan Helen kembali.
"Ayo kita pulang!" seru Alvin.
Beberapa menit berlalu, sekarang mereka sudah sampai di depan mobil. Semenjak dari dalam bar, Aluna hanya diam tak mengeluarkan satu kata pun.
"Masuklah, tunggu di dalam mobil," kata Alvin seraya membukakan pintu mobil untuk Aluna.
Tanpa banyak bertanya, Aluna memasuki mobil, duduk diam di belakang asisten Jo yang sudah siap di kursi kemudi. "Asisten Jo, ikut aku ke dalam. Ada sesuatu yang harus aku ambil," ajak Alvin kepada asistennya.
"Baik, Tuan!" Asisten Jo lalu membuka pintu mobil, berniat menemani Alvin ke dalam.
Kemudian Alvin melihat Aluna, "Luna tetaplah di dalam! Jangan keluar dari dalam mobil sebelum aku kembali," perintah Alvin.
Aluna hanya menoleh, matanya yang mengantuk semakin terlihat semakin sipit. Wanita itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri, masih memikirkan cara agar dapat menyelesaikan misi malam ini juga. "Pergilah, aku akan menunggumu di sini," sahutnya pelan.
Semenit kemudian, Alvin sudah tak terlihat lagi dari jangkauan matanya. Aluna langsung memanfaatkan kesempatan ini untuk bertanya kepada sistem. Otaknya benar-benar sedang buntu tak bisa berpikir.
"Miss K." Aluna mengetuk kalung sistem.
Sistem belum menyala, Aluna kembali mengetuk sekali lagi cukup keras.
"Bangunlah! Kamu harus bekerja sekarang!" seru Aluna merasa jengkel.
Sensor kalung menyala.
...[Selamat pagi, Nona.]...
Pagi? Jam berapa ini?
Aluna melihat jam di handphone menunjukan pukul tiga pagi.
"Miss K, redupkan sensor di kalung, mataku sakit melihatnya," ucap Aluna. Rupanya, akibat dari perbaikan tadi, cahaya sensor berubah menjadi warna merah dan semakin terang.
...[Tidak bisa, Nona. Tetapi, tenanglah karena ini hanya berlaku seminggu.]...
"Payah! Sekarang dengarkan aku miss K, aku ingin mengeluh mengenai misi kali ini," gerutu Aluna.
...[Apa yang ingin Anda keluhkan, Nona?]...
"Misi hari ini begitu sulit, kalau seperti ini terus bagaimana aku akan menyelesaikannya? Apalagi bonus yang aku dapatkan hanya sedikit, bisa kau tambahkan lagi bonus untukku? Dan satu lagi aku juga tidak mengerti apa saja kegunaan tas saran, bisa kau jelaskan secara detail?" tanya Aluna.
Wanita itu berkali-kali menutup mulutnya karena terus menguap. Aluna sedang menahan rasa kantuknya yang semakin berat. "Hoaemm."
__ADS_1
...[Baiklah aku akan jelaskan, bonus yang akan diberikan sistem tergantung banyaknya Anda berinteraksi dengan Alvin, terutama di depan umum. Bonus yang akan didapatkan berbentuk tas saran. Anda bisa kumpulkan dan dapat menukarnya dengan sebuah informasi, mendapatkan keahlian permanen dan juga liburan.]...
Aluna duduk terdiam sembari terus mencerna kata-kata sistem. "Kalau begitu harusnya aku mendapatkan bonus tas saran karena Alvin sudah mendukungku di depan banyak orang tadi," ucapnya mulai mencecar Miss K.
...[Adegan tadi tidak sesuai dengan kriteria sistem untuk mendapatkan bonus. Kalau Anda ingin bonus yang sangat besar, Anda harus berhubungan intim dengan Alvin.]...
Aluna terkaget. "Apa? Ini tidak benar, kepalaku sampai berdarah, harusnya aku mendapatkannya! Dan satu lagi, tidak bisakah kamu memberi saran yang lain selain itu Miss K?" Aluna menutup matanya sambil terus mengoceh.
...[Keputusan sistem tidak bisa diganggu gugat. Segala bentuk penyelesaian misi dan bonus adalah 100% penilaian sistem.]...
Aluna masih terus menggerutu dengan penjelasan sistem yang menurutnya tidak terlalu menguntungkan. "Sistem yang egois dan pelit!" ketusnya.
Brak!
Ketika sedang berbicara dengan sistem, Aluna mendengar pintu bagasi di tutup. Rupanya Alvin dan asistennya barusan menaruh barang di dalamnya. Aluna langsung menghentikan interaksi dengan sistem.
Setelah selesai menutup pintu bagasi, Alvin dan asisten Jo berjalan kemudian masuk kembali ke dalam mobil.
"Asisten Jo, antar kami pulang ke mansion," perintah Alvin. Lelaki itu sudah duduk bersebelahan dengan Aluna.
"Baik, Tuan!" Asisten Jo mulai menyalakan mesin dan melajukan mobilnya.
Sementara, wanita yang dari tadi tak berhenti menguap itu bertanya kepada Alvin, "Suamiku, apa yang sudah Anda taruh di bagasi?"
"Aku ...."
"Tak usah malu! Anggaplah tidak ada orang lain di depan kita!" Alvin menarik pelan tubuh Aluna agar kepala wanita itu bersandar di bahunya.
Karena saking mengantuknya, Aluna menyandarkan kepalanya di bahu Alvin. Ya, ia masih memikirkan ucapan sistem dan mencari cerita yang sweet di kepalanya.
"Luna," ucap Alvin pelan.
"Heum." Aluna hanya berdehem.
"Apa kamu mengingat kapan pertama kalinya kita bertemu?" tanya Alvin, dia mencoba bernostalgia saat mereka masih sama-sama kecil dulu.
"Aku sangat mengantuk. Aku tidak bisa mengingatnya ... hoaem." Sekali lagi Aluna menguap.
"Kamu tahu, aku bahkan masih mengingatnya. Waktu itu kamu masih sangat kecil, aku melihatmu menangis saat ada lebah yang hinggap di tanganmu. Lalu, apa kamu mengingat lelaki yang dengan berani mengusir lebah itu? Ya, itu adalah aku saat berumur sepuluh tahun. Aku baru tahu kalau sebelumnya kita pernah bertemu. Sayangnya, setelah itu kita sudah tidak bertemu lagi." Alvin tersenyum terus mengingat kenangannya saat kecil.
Aluna yang dari tadi lelah memikirkan misi yang tak kunjung usai, tak bisa lagi menahan kantuknya. Ditambah perkataan Alvin barusan, membuatnya semakin menutup rapat matanya. Kini wanita itu sudah mulai tertidur di bahu Alvin.
Sementara Alvin tidak sadar kalau Aluna sudah lelap di bahunya. "Kenapa kamu hanya diam?"
__ADS_1
Haish.. ternyata dia sudah tidur, batin Alvin.
Kemudian, Alvin melihat wajah Aluna. Memastikan kalau istrinya benar-benar sudah terlelap.
"Ahhh ... air liurnya menetes di bahuku," ucap Alvin refleks. Dia melihat sendiri air liur Aluna yang sudah menetes di jas yang dipakainya.
Terlihat jorok menurut Alvin, dia sendiri bingung akan mengusap liur istrinya atau membiarkan cairan itu membasahi jasnya. Asisten Jo yang ada di depannya pun tampak bingung ketika melihat dari kaca spion dalam.
"Apa Anda memerlukan tisu, Tuan?" tanya asisten Jo, seakan mengerti apa kebutuhan tuannya.
Setelah Alvin mengangguk, asisten Jo memberikan sekotak tisu yang tersedia di mobil untuk majikannya itu.
Kalau bukan istrinya, sudah pasti Alvin akan merasa jijik dan marah. Tadinya Alvin akan membenahi posisi tidur Aluna, mendorongnya pelan. Namun, dia mengurungkannya takut Aluna terbangun. Akhirnya, mau tak mau Alvin harus menyeka air liur istrinya agar tak membasahi bajunya.
Alvin meraih tisu yang diberikan asisten Jo. Kemudian dia mulai menyeka air liur di ujung mulut Aluna.
Padahal gerakan tangan Alvin sudah sangat pelan menyekanya, sayangnya Aluna yang belum terlelap betul, sangat kaget ketika merasakan ada sebuah tangan menyentuh mulutnya.
Tangan siapa ini? Kenapa menyentuh mulutku?
Aluna bertambah kaget, begitu mengetahui itu adalah tangan Alvin yang sedang menyeka air liurnya. Wanita itu buru-buru terbangun, sembari mengusap sisa liur dengan punggung tangannya.
"Maaf aku tidak sengaja membangunkan tidurmu?" Alvin menyesal akibat tindakannya itu membuat Aluna kembali bangun.
Begitu Aluna terbangun, Alvin langsung membuang tisu di tangannya. Kini, mereka berdua kembali duduk tegak.
"Apa ... aku ..." Aluna melirik jas Alvin yang tampak basah, ia menghindari kontak mata dengan Alvin karena malu.
Mereka berdua kini sama-sama diam.
"Tuan, apa kita perlu berhenti sebentar untuk mengganti jas Anda dengan yang baru?" tanya asisten Jo dari depan. Lelaki itu melihat sendiri kalau Alvin merasa risih.
Alvin tersenyum simpul. "Tidak usah, lanjutkan saja perjalanannya," sahutnya. Alvin melirik istrinya di sebelah.
Beberapa detik ketika Alvin berkata, sensor sistem di kalung Aluna menyala.
...[Selamat, tugas hari ini sudah tercapai 50%, semangat untuk membuat cerita yang sweet untuk menyelesaikan misi hari ini.]...
Aluna yang terkejut mendengarnya, buru-buru menutupi sensor kalung sistem kemudian menyembunyikannya di balik baju.
Jelas Aluna tidak mengerti kenapa tiba-tiba misinya sudah mencapai 50%. Seakan mengerti dengan pikiran Aluna, sistem kembali menjelaskan.
...[Anda sangat beruntung karena Alvin yang seorang mysophobia menerima air liur Anda dan tidak mengganti bajunya. Membuat cerita yang seharusnya Alvin marah, malah berubah bersikap manis dengan menyeka air liur Anda.]...
__ADS_1