
Kini Ara sudah berada di perusahaan Alvin. Langkah kakinya terlihat ragu saat memasuki ruang kerja Helen. Ara mendudukkan diri di kursi, terlihat bingung apa yang akan dia lakukan di situ.
"Aku harus mengerjakan apa? Sementara aku sendiri tak tahu tugasku apa saja sebagai sekretaris," gumam Ara.
Ara masih sibuk melihat satu persatu pegawai di sana, mereka sedang sibuk mempersiapkan dirinya dengan merapihkan beberapa berkas yang akan mereka kerjakan. Sementara dia, hanya duduk diam termangu sambil melamun.
Melihat Ara bengong, seseorang meneriakinya. "Nona Helen, kenapa terbengong? Apa Anda sudah membereskan berkas-berkas yang tak terpakai di ruangan Presdir?"
Ara mengembuskan kasar napasnya. Pegawai tadi mengatakan kalau dia harus merapihkan ruangan Alvin. Mungkin itu tugasnya, pikir Ara.
Walaupun sudah berada di ruangan Alvin, Ara masih juga bingung dengan tugasnya. Hanya tangannya yang sibuk membersihan sela-sela meja Alvin yang tak berdebu sama sekali. Menurut Ara, dia lebih cocok menjadi petugas kebersihan di banding sebagai sekretaris.
Ponsel Helen tiba-tiba berdering, Ara mengambilnya di saku. Ara pikir kakaknya yang menelepon, setelah dibaca ternyata Lily lah yang menghubunginya.
"Helen sudah lama aku tak menghubungimu, Bagaimana kabarmu? Apa kamu sudah mendengar berita tentang Luna? Aku ingin menginformasikan sesuatu yang penting."
Baru saja dijawab, Lily sudah memberondong banyak pertanyaan.
"Ah ... kabarku baik, bagaimana denganmu? Informasi apa?" tanya Ara penasaran.
Ara berusaha bersandiwara dengan menjadi Helen yang asli. Dia tak mau Lily mencurigainya.
"Tadi malam Nenek menyuruh Luna dan Alvin bercerai. Ini adalah kesempatan yang bagus untukmu, Helen."
"Maksudmu kesempatan bagus apa? Apa karena anak itu?"
"Yah kesempatan bagus agar kamu bisa leluasa mendekati Alvin. Nenek dan bibi sudah tak menyukai Luna. Mereka menyuruh Alvin bercerai. Kalau tidak, dia tak akan menjadi ahli waris utama. Kamu harus bersiap diri mendekati Alvin lagi jangan sampai lengah. Aku yakin, Alvin tak mau melepaskan jabatannya dan akhirnya menceraikan Luna. Ini adalah kesempatan yang bagus untukmu."
__ADS_1
Ara diam beberapa detik, dia tahu kalau Helen sangat berambisi memiliki Alvin. Dia juga tahu Helen sangat menginginkan perceraian Alvin. Tetapi tidak dengannya, Ara tak mau Alvin bercerai dari Luna. Apalagi menurut Ara sekarang, kakaknya sudah mencintai Alvin.
"Lily, bisakah kita bertemu. Ada yang ingin aku bicarakan," kata Ara di telepon.
Di seberang telepon, Lily sedang menimbang waktu untuk menemui Helen. Setelah dipikirkan matang, ternyata dia ada waktu beberapa jam untuk menemui Helen sebelum dia dan Yuze berangkat menjemput Zero di desa.
"Baiklah tunggu aku di sana sebentar. Aku akan datang lima belas menit lagi," jawab Lily.
Keduanya memutuskan telepon. Sebelum Lily datang, Ara harus menghubungi kakaknya dulu. Ara mengambil ponselnya, lalu mengirimkan pesan mengatakan kalau dia akan bertemu dengan Lily sebentar lagi. Dengan begitu dia akan mencari informasi lebih dalam keberadaan Zero lewatnya.
Setelah menunggu hampir dua puluh menit, Lily akhirnya datang dan mengajak Ara berbicara empat mata, di kafe kecil yang tersedia di dalam gedung perusahaan Alvin. Meskipun beberapa pegawai lain sempat melarang, mereka akhirnya memperbolehkan karena Lily sendiri yang menyuruh.
"Hai Helen, maaf sudah membuatmu menunggu," kata Lily ketika dia baru sampai kafe.
Lily menyambutnya, berusaha memainkan sandiwara menjadi Helen yang asli. Keduanya memesan sarapan pagi sambil membicarakan masalah Luna dan anaknya.
"Jadi kamu tahu di mana anak itu?" tanya Ara setelah keduanya selesai sarapan.
Lily mengelap mulutnya dengan tisu. "Yah, hari ini aku akan menjemput anak itu. Satu jam lagi, Yuze akan menjemputku," jawabnya.
"Oh iya, di mana anak itu berada? Kalian sangat hebat bisa mendapatkan informasi secepat ini," kata Ara merayu.
Lily tertawa ringan. Tidak sulit bagi dia menemukan informasi tentang Zero. Lily membuka ponsel melihat isi pesan Yuze yang sedang menunggunya di luar. Helikopter mereka sebentar lagi akan terbang membawa mereka ke desa.
"Anak itu sedang bersama keluarga Han, rumahnya terletak sepuluh kilometer dari perkebunan strawberry. Maaf Helen, Yuze sudah menungguku di luar. Aku harus cepat ke sana agar menjemput anak itu," kata Lily.
"Bolehkah aku ikut?" tanya Ara mencoba berbasa basi.
__ADS_1
Lily berpikir sejenak, kemudian menggeleng dengan pasti. "Tidak, tidak perlu. Tunggu di sini saja, sapa tahu kamu bisa lebih dekat dengan Alvin. Maaf Helen, aku tidak bisa berlama-lama lagi."
Ara tersenyum, dia hanya bisa mengangguk berpura-pura mengiyakan. "Baiklah, semoga kamu cepat menemukan anak itu. Jangan lupa hubungi aku nanti."
"Tenang saja, kamu adalah orang pertama yang akan aku hubungi. Daah! Sampai jumpa lagi Helen," kata Lily melambaikan tangan.
Ara memandangi punggung Lily yang semakin menjauh. Sebelum keluar, Ara sempat melihat Lily berbelok arah ke toilet wanita.
'Sepertinya aku punya ide bagus," batin Ara menjentikkan jarinya.
Sebelum Lily keluar dari toilet wanita. Ara bergegas mengikutinya. Ara tahu Yuze pasti sedang menunggunya di bawah. Tiba-tiba muncullah ide jail dari otak Ara.
Ara mengambil satu tong besar sampah. Tanpa rasa jijik, dia mendorong benda berbentuk tabung itu ke dalam toilet wanita. Ara harus cepat membuat jebakan kecil untuk Lily agar menunda waktu keberangkatannya.
"Ha,ha, kau harus melewati gundukan sampah ini Lily," gumam Ara. Dia menuangkan tong berisi sampah basah itu ke lantai kamar mandi. Di dalam tong itu berisi, bekas makanan basi, isi sayur bekas kemarin dan beberapa sisa makanan bau lainnya. Baunya sangat menyengat, bahkan membuat toilet menjadi sangat licin. Sapa saja yang melewati itu, otomatis dia akan jatuh terpeleset apalagi kalau memakai sepatu hak tinggi yang digunakan Lily.
"Dengan cara ini, aku yakin kamu akan menunda kepergian kalian. Ha, ha, aku tak sabar melihat kamu memegangi punggung sambil berjalan mengangkang." Ara sudah membayangkan bagaimana nanti saat Lily terpeleset.
Tidak hanya menuangkan tumpukan sampah, Ara juga memasang tali jebakan beserta kaleng berisi cat di atas kamar toilet yang digunakan Lily. Secara otomatis isi dalam kaleng tersebut akan tumpah mengenai kepala Lily ketika ia membuka pintu toiletnya.
"Sempurna," kata Ara sangat puas. Tak mau ada orang lain masuk ke dalam toilet itu. Ara memasang papan kuning yang bertuliskan 'Dilarang masuk' di depan pintu toilet depan.
"Selamat menikmati Lily."
Sebelum menghitung mundur, Ara mengirimkan sebuah pesan terhadap kakaknya mengenai keberadaan Zero.
[Kakak, Zero sedang besama keluarga Han. Letak rumah mereka sepuluh kilometer dari pegunungan strawberry. Cepat temukan anak itu, sebelum Lily menjemputnya.]
__ADS_1
"10, 9, 8, ...... "