
Alvin buru-buru keluar. Sementara Aluna tak kalah kaget, langsung mengambil baju dan membersihan diri ke kamar mandi. Aluna tak memperdulikan notifikasi dari sistem yang memberitahukan kalau dia mendapatkan sepuluh tas saran yang bisa dia tukar dengan keahlian atau pun uang.
"Terima kasih, Miss K. Aku harus buru-buru ganti baju dan cuci muka sebelum ibu mertua melihatku dalam kondisi begini."
***
Di depan di ruang tamu.
"Di mana Alvin? Kenapa dia tak cepat keluar?" ucap Clara dengan nada ketus berjalan melewati pintu utama. Dia sangat marah kepada pelayan karena berani-beraninya melarang masuk, "kamu ingin aku pecat? Beraninya melarangku masuk!"
Nada ketus Clara membuat pelayan ketakutan. Sebelum dia berbicara kepada Clara, terlebih dulu dia mengamankan Zero masuk ke dalam kamar.
"Maaf, Nyonya."
"Di mana cucuku? Di mana Alvin? Cepat suruh mereka keluar?" tanya Clara lagi, matanya melirik sinis ke sekeliling.
Pelayan akhirnya membiarkan Clara masuk daripada wanita tersebut mengoceh dan merutuki Alvin.
"Nyonya, tuan muda masih ada di kamar. Baiklah saya akan memanggilnya segera," kata pelayan berjalan terburu-buru menuju kamar Alvin.
Akan tetapi, sebelum dia sampai, Alvin sudah lebih dulu sampai ke ruang tamu.
"Ibu, kenapa ibu ke sini? Bukankah ibu tak menginginkan kami." Alvin mendekati ibunya. Ekspresinya langsung berubah tidak senang begitu ibunya datang. Bukan tanpa alasan, Alvin tak ingin ribut di pagi hari. Alvin tak mau Clara mengungkit lagi maslah perceraian.
"Alvin! Beraninya kamu berkata seperti itu kepada ibumu? Apa Luna yang mempengaruhimu. Wanita itu benar-benar berpengaruh buruk terhadap keluarga kita. Apa kau tak menyayangi ibumu, sampai tak memperbolehkan masuk melihat cucuku?"
Alvin tak berani membantah ibunya. Tetapi dia juga tak mau Luna dijelek-jelekkan. Apalagi sampai ibunya menyuruh mereka bercerai di depan anaknya nanti.
"Nenek," kata Clara sambil melihat ke pintu masuk. Nenek Alma baru saja datang, langsung menghampiri mereka berdua.
"Di mana anakmu, Alvin. Kalau memang benar dia adalah anak kandungmu cepat keluarkan dia sekarang," kata Nenek Alma terus mendesak Alvin.
__ADS_1
Alvin diam sejenak, dia takut setelah mempertemukan Zero, mereka akan mengambil paksa dan tetap menyuruh dia bercerai.
"Zero sedan ada di dalam kamar, Nek. Sedang bersama Luna di dalam," jawab Alvin dengan enteng.
"Tadi malam benarkah kalau kamu melarang kami datang?" Nenek Alma kembali melontarkan pertanyaan.
Alvin mengangguk pelan tak berani banyak berbicara. Jangankan dia berbicara, dia diam pun masih saja disalahkan.
"Jawab, Alvin. Jawab saja kalau Luna yang menyuruhmu melarang kami," kata Clara lagi terus menyindir Luna. Entah mengapa, dia kembali membenci Luna setelah mengetahui cucunya telah ditelantarkan.
Benar yang ada dipikirannya kali ini, dia diam pun masih tetap disalahkan. Alvin menggeser posisi tubuhnya sedikit, mengembuskan napas pelan lalu berbicara. "Aku akan memperbolehkan Ibu dan Nenek melihat anakku. Asalkan dengan satu syarat ...." Alvin melihat kedua orang tua itu bergantian.
"Asalkan apa?" tanya Nenek Alma dan Clara berbarengan. Mereka tak sabar melihat Zero.
Alvin menegakkan punggungnya dengan tegas berbicara, "Asalkan Nenek dan ibu tidak akan menyuruh kami bercerai. Kalau Ibu dan Nenek sanggup, aku akan mempertemukan Zero dengan Ibu dan Nenek sekarang."
Mata Clara membulat sempurna mendengar perkataan anaknya. Justru dia datang ke mari untuk mengambil Zero dan tetap menyuruh mereka bercerai.
"Kalau begitu aku tetap tidak akan memperlihatkan anakku," kata Alvin pelan. Dia tak mau kurang ajar terhadap orang tua, tetapi dia tetap ingin mempertahankan keutuhan rumah tangganya.
Clara sudah sangat emosi. Rasa-rasanya dia ingin menerobos masuk ke dalam kamar dan menarik Zero keluar. Dia dan Nenek Alma akan tetap menyuruh mereka bercerai karena kesalahan Luna sudah dinilai sangat fatal.
Adu mulut antara Alvin dan ibunya didengar Aluna dari dalam. Walaupun belum mandi, Aluna sudah berganti baju dan mencuci mukanya. Aluna segera mengambil Zero dan membawanya ke depan. Dia tak mau kedua orang tau itu terus menilainya buruk karena menyembunyikan Zero.
"Biarkan Ibu dan Nenek melihat anak kita," ucap Aluna dari belakang sambil menggendong Zero keluar.
Mendengar suara Luna, Nenek Alma dan Clara langsung menoleh. Wajah mereka berbinar, tak berkedip melihat anak yang sedang digendong Aluna. Benar yang dikatakan pelayan kalau wajah anak itu sangat mirip dengan Alvin saat kecil. Apalagi saat mereka melihat Zero mengenakan baju Alvin saat kecil dulu, benar-benar mirip, bak pinang dibelah dua. Batin keduanya.
"Apa anak ini cucuku?" Clara langsung memberondong, mengambil Zero dari pelukan Aluna. Dia hanya melirik sekilas ke arah Aluna lalu mengabaikannya begitu saja.
"Jadi anak ini adalah cucuku? Ya, Tuhan. Ini benar-benar Alvin saat kecil," kata Nenek Alma menciumi Zero.
__ADS_1
Zero tampak bingung, dia membiarkan dirinya digendong ke sana ke mari bergantian. Zero hanya bisa mengamati wajah mereka satu persatu sambil tersenyum sangat manis.
"Anak ini sangat tampan dan senyumnya sangat manis sekali," kata Nenek Alma lagi, "siapa namamu, Nak?"
Aluna berbisik di telinga Zero, mengatakan kalau mereka berdua adalah neneknya. "Zero, cepat beri salam hormat kepada Oma dan Nenek."
Zero mengangguk, dia membungkukkan setengah punggungnya sambil memberikan salam kepada keduanya. "Selamat pagi, Oma dan Nenek. Perkenalkan namaku, Zero. Selamat datang di vila ayahku."
Aluna sangat puas, sebelum keluar dia sempat mengajarkan salam kepada Zero dahulu. Setelah mengucapkan salam, Zero lalu mencium satu persatu pipi ke dua neneknya.
"Kamu sangat sopan sekali, Nak. Siapa yang mengajarimu?" tanya Nenek Alma.
Zero melirik tangan Aluna. "Mama yang mengajariku," ucapnya pelan.
Akan tetapi, bukannya memuji mereka malah terus mendesak Aluna, seakan hanya melihat keburukannya saja.
"Zero? Kenapa jelek sekali namanya? Beraninya memberi nama cucuku dengan arti nol, yang berarti tak punya nilai. Apa kamu juga yang menamainya, Luna?" Clara malah memarahi Luna, "lihat kaki cucuku juga terluka. Ini sepertinya luka belum lama. Baru menjaga cucuku sebentar saja tak becus dan sudah membuatnya terluka." Clara menunjuk luka terkena ranting kemarin di kaki Zero.
Yang ditakutkan Alvin akhirnya terjadi. Alvin tak mau memperpanjang masalah dan menyuruh ibunya agar tak memarahi Aluna di depan Zero.
"Ibu, Zero masih terlalu kecil untuk mendengarkan orang dewasa bertengkar. Apa ibu tidak kasihan dengan mental Zero?" Alvin berusaha menenangkan suasana.
Nenek Alma masih belum puas degan Zero memeluknya dengan erat. "Nenek akan mencari nama yang pas untukmu. Sekarang, ikut Nenek pulang ya," ajak Nenek Alma, "rumah ini terlalu kecil. Nenek akan memberikan mainan apa pun kalau Zero mau ikut bersama nenek pulang sekarang."
"Aku mau ikut pulang, asalkan Nenek juga mengajak papa dan mama ikut," ucap Zero.
"Kalau misal Nenek tidak mau?" tanya Clara.
"Aku tetap tak mau pulang!"
Jawaban Zero menguat Clara dan Nenek Alma tertegun. Tidak ada pilihan lain, kalau dia ingin membawa Zero, dia pun harus membawa Aluna ikut pulang.
__ADS_1