TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Kembali ke Rumah Hideon


__ADS_3

Aluna merasa senang. Walaupun Alvin terlihat enggan memberi izin, dia tetap membolehkan Aluna pergi. Di dalam mobil, Aluna tersenyum-senyum sendiri membayangkan wajah kesal Alvin saat dia hendak pergi. Menurut Aluna itu sangat lucu, karena Alvin terlihat sangat kekanakan saat dia merajuk.


Haruskah aku menyukai lelaki yang tak nyata? Bukankah dia hanyalah lelaki yang diciptakan dari sebuah imajinasi? Andai ini adalah dunia nyata, mungkin aku sangat beruntung sebagai seorang wanita. Aluna terus membatin di dalam hati.


Aluna kembali mengingat peristiwa tadi siang, ketika dia menci um paksa Alvin. Kalau mengingat hal itu rasanya dia malu sendiri membayangkannya. Bagaimana mungkin seorang Aluna yang di dunia nyata adalah wanita yang belum pernah berpacaran, berhasil menci um paksa seorang Alvin dan itu dilakukan berulang-ulang.


Konyol sekali hidupku! Bisa-bisanya aku menci um seorang lelaki dengan sikap dingin dan paranoid seperti Alvin. Kalau ini dunia imajinasi, harusnya aku tak merasakan sentuhan lembut itu. Tetapi kenapa rasa dari bibirnya bahkan masih terasa sampai sekarang.


Aluna memegang bibirnya sembari melihat foto Alvin di handphonenya. "Kalau dia tahu siapa aku sebenarnya? Apa mungkin dia akan tetap menerimaku?"


Aluna mengembuskan napasnya pelan. 'Semoga Tuhan memberikan satu lelaki seperti Alvin di dunia nyata untukku'. Batin Aluna.


...***...


Di Kediaman Hideon.


"Mommy." Helen menghampiri ibunya sebelum ibunya masuk ke kamar.


"Helen! Mommy pikir kamu sudah tidur."


"Ada yang ingin aku tanyakan. Sebaiknya kita bicarakan di ruang tengah, Mommy," ucap Helen.


Melihat wajah serius Helen, Mona mengurungkan niatnya untuk tidur. Mereka berdua lalu berjalan ke ruang tengah untuk berbincang berdua.


"Ada apa, Nak?" Kening Mona mengernyit.


"Mom, aku merasa ada yang aneh pada tubuhku." Helen memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Mona.


"Mommy, sebelum bangun aku bermimpi aneh. Aku merasa ada di tempat asing, seperti rumah sakit. Aku juga merasakan tubuhku yang sangat sakit sekali, bahkan saat bermimpi, aku merasa tak memiliki rambut. Apa maksud dari mimpiku itu Mommy?" tanya Helen ketika mereka berdua sudah duduk di kursi yang tersedia di balkon.


Mona terdiam dan terus berpikir, "Mungkin akibat pingsan kemarin pikiran kamu masih berada di rumah sakit, Nak."


Sebenarnya Mona merasakan sesuatu yang aneh pada diri anaknya. Seharian ini menurut Mona sikap Helen sangat berbeda, dan yang paling utama, Mona sangat tercengang ketika Helen ingin menyerahkan saham bagiannya kepada Luna.


"Aku juga sebenarnya merasa keanehan pada dirimu, Nak. Cara makanmu sangat aneh tadi. Ditambah lagi kamu mengatakan ingin menyerahkan saham bagianmu kepada Luna sepenuhnya."


"Apa menyerahkannya kepada Luna? Itu tidak mungkin, Mom!" seru Helen.


"Tidak mungkin bagaimana? Kamu sendiri yang mengatakannya! Apa kamu tak mengingatnya?" tanya Mona.


Helen menggeleng. Dia mengingat-ingat lagi kalau dia pernah mengatakannya. Namun, semakin mengingatnya, pikiran Helen semakin bertambah buntu. Dia merasa telah lupa ingatan.


"Aneh!" kata Mona lagi.


Di saat mereka sedang berbincang, seorang pelayan melaporkan kalau Aluna telah kembali dengan membawa koper dari rumahnya.


Sontak, mereka berdua langsung bergegas melihat ke bawah. Helen dan Mona saling bersitatap, mereka sama-sama tersenyum menyaksikan kehadiran Aluna yang sedang menyeret koper. Mereka beranggapan, pasti sesuatu terjadi antara Aluna dan Alvin. Helen bahkan berpikir kalau Alvin telah mengusirnya dari Mansion.


Di menit itu juga Helen dan Mona turun ke bawah dan menyambut kedatangan Aluna dengan wajah bahagia.


"Luna sayang, kenapa kamu kembali lagi ke rumah ini?" tanya Mona sok perhatian.


"Aku sangat rindu tinggal di sini," jawab Aluna. Saat itu juga dia melihat intens ke arah Helen. Dia terus mengamati ekspresi wajah Helen.

__ADS_1


"Aku kira karena kalian bertengkar dan Alvin sengaja mengusirmu." Helen terkekeh.


Sepertinya benar dia bukan Ara. Adikku tak mungkin bersikap angkuh seperti itu, batin Aluna.


"Itu tidak akan terjadi, Helen. Aku ke sini karena ... karena sangat rindu dengan ayahku. Sudah lama aku tidak menginap di sini," ucap Aluna.


Kalau tidak memikirkan adiknya akan menempati tubuh Helen lagi, Aluna pasti akan melawan wanita itu. Dia mencoba menahan sikapnya dan berpura-pura manis di hadapan Helen dan Mona.


"Eum ... Helen, bukankah kamu sedang sakit? Kenapa kamu tak beristirahat. Sekarang sudah hampir jam sebelas, tidak baik untuk kesehatanmu," kata Aluna.


Perhatian yang ditunjukkan Helen membuatnya terkekeh. Tak ada angin tak ada hujan, tak biasanya Luna yang dia kenal tiba-tiba perhatian. Helen menduga, sepertinya ada maksud lain di hati Aluna.


"Tak biasanya kamu seperti itu!" seru Helen.


"Benarkah? Sudahlah kita tak usah beradu argumen di sini. Lagipula, aku sedang tidak ingin berdebat."


Aluna menarik kopernya hendak masuk ke kamar. Dia tak memperdulikan ocehan Helen. Yang dipikirannya kali ini adalah cepat bertemu dengan Ara, menunggu Helen agar cepat tidur dan mereka berganti jiwa.


"Luna," panggil Mona.


Aluna pun menoleh. "Yah."


"Kalau kamu peduli dengan Helen, bolehkah Helen kembali bekerja di perusahaan Alvin lagi?" tanya Mona.


Mendengar pertanyaan Mona, Aluna tersenyum. "Helen itu sedang sakit jiwa. Lebih baik tinggal di rumah dulu daripada mengacaukan Alvin nantinya."


.

__ADS_1


__ADS_2