
Entah sudah beberapa jam Aluna tertidur di kamar Alvin. Ya, yang dia tahu dia tertidur ketika Alvin berhenti meracau karena demam. Aluna yang sudah sadar penuh, terlihat terkejut ketika dirinya sudah tidak ada di sofa melainkan ada di atas tempat tidur.
Aluna mulai bangun, menengok ke kanan dan ke kiri dan ke seluruh penjuru ruangan. Karena tak menemukan Alvin, Aluna yang masih mengenakan pakaian tidurnya, langsung beranjak dari kasur berjalan ke luar kamar.
Kriet.
Pintu dia buka.
"Selamat siang, Nona Luna." Sapa beberapa pelayan yang ada di depan pintu kamar Alvin. Mereka berdua masih berjaga.
"Siang? Memangnya sudah jam berapa sekarang?" Aluna terbengong bertanya kepada dua pelayan itu.
"Sekarang sudah jam sebelas Nona." Salah satu pelayan membalas pertanyaan Aluna.
"Apa? Jam sebelas?" Aluna terkaget, dia lalu merapihkan rambut dan bajunya yang terlihat berantakan. 'Sampai jam segini aku baru bangun! di mana Alvin? Aku harus ikut dengannya bekerja!' Aluna membatin di dalam hati.
Dua pelayan tadi menahan senyum sembari saling memandang satu sama lain. Dalam pikiran mereka, wajar saja kalau Nona mudanya bangun kesiangan karena mereka pikir Aluna telah menghabiskan malam berdua.
"Selamat ya Nona, kalian sudah kembali harmonis dan tidur bersama lagi. Nona sudah berhasil menghangatkan hati tuan muda." Seorang pelayan yang biasa akrab dengan Luna memberi selamat. Dulunya mereka berdua adalah pelayan yang sering mendengarkan curhatan Luna.
Aluna yang mendengarnya hanya menanggapi dengan senyuman tipis. "Itu tidak seperti yang kalian bayangkan," ucapnya.
"Semoga nona akan terus harmonis bersama tuan muda Alvin dan cepat diberi momongan. Kami juga mau kalau nanti diberikan tugas untuk merawat anak Anda nanti, Nona." Seorang pelayan satu lagi menanggapi.
Pikiran kalian terlalu jauh, tentu saja aku tidak ingin memiliki momongan dulu! Batin Aluna.
__ADS_1
"Maafkan kami karena sudah lancang, Nona. Tetapi percayalah, kami begitu bahagia melihat kalian berdua harmonis lagi. Nona, tadi kepala pelayan An ke sini, meminta agar nona segera menemui nenek. Kata kepala pelayan An, ada hal penting yang akan nenek bicarakan," ucap pelayan itu lagi.
Tidak hanya Luna tetapi Aluna juga sangat dekat dengan kedua pelayan yang bernama Nuri dan Rara itu, mereka berdua ditugaskan Alvin untuk memenuhi semua kebutuhan Aluna di mansion. "Terima kasih, aku juga sangat senang kalian sudah mendukungku. Sepertinya aku harus mandi sekarang dan segera menghubungi nenek secepatnya. Tolong ambilkan baju di kamarku, aku akan mandi di sini. Eum ... ambilkan baju yang sudah aku gantung terpisah karena hari ini aku akan pergi bekerja bersama suamiku," perintah Aluna.
Kedua pelayan itu mengangguk dan cepat melaksanakan perintah Aluna dengan mengambil semua keperluan di kamarnya. Sementara Aluna tengah membersihkan diri di kamar mandi.
***
Sepuluh menit berlalu Aluna sudah mengganti baju dan merubah sedikit penampilannya. Aluna yang biasanya mengenakan pakaian casual hari ini sudah siap dengan mengenakan pakaian formal lengkap dengan dandanannya yang tidak terlalu menor namun tidak natural.
"Pesanan Anda sudah siap. Silahkan dinikmati, Nona." Seorang koki menaruh beberapa makanan di atas meja makan.
"Terima kasih," ucap Aluna.
Walaupun bukan dunia nyata aku merasakan bagaimana mudahnya menemukan makanan enak di sini, batin Aluna sambil menyantap beberapa sajian makanan.
"Wah, masakanmu sangat enak. Bolehkah aku ingin menambah lagi?" tanya Aluna.
Tentu saja itu adalah akal Aluna agar koki itu segera meninggalkannya ketika makan. Aluna ingin bertanya kepada sistem.
"Terima kasih, Nona. Aku akan membuatnya lagi secepatnya," balas pelayan.
Setelah tidak ada lagi orang di meja makan selainnya, Aluna menepuk kalung sistem. Dia ingin menanyakan bagaimana caranya agar Alvin menerimanya sebagai sekretaris.
"Miss K," ucap Aluna ketika sensor di kalung sistem menyala.
__ADS_1
...[Apa yang Anda tanyakan Nona Aluna?]...
Aluna meletakkan sumpit di sebelah piring. Setelah meminum air putih dia kembali berbicara kepada sistem, "Tadi malam aku sempat memikirkan semuanya. Misimu kali ini bisa aku terima miss K. Tetapi, aku bingung bagaimana cara mengimplementasikannya. Aku putuskan aku ingin berkarir selama di sini. Aku ingin ketika aku pergi nanti, Luna dan aku memiliki keahlian dan tentunya banyak uang."
...[Itu mudah, Nona. Dengan sering berinteraksi dengan Alvin, Anda akan mendapatkan banyak tas saran. Selama di sini Anda juga harus pintar mencari uang contohnya dengan berinvestasi dan menjalankan bisnis agar memilki produk dengan merek sendiri. Selain akan dimiliki Luna, Anda juga bisa membawanya ke dunia nyata.]...
"Aku sudah memikirkan itu, Miss K. Aku juga memiliki cita-cita agar dapat menerbangkan pesawat sendiri. Berkeliling mengajak adikku jalan-jalan melihat pemandangan dari atas. Aku ingin memberikan kebahagian untuk adikku." Aluna tersenyum membayangkan bagaimana Ara begitu bahagia ketika dia ajak berkeliling dunia.
Aluna tidak peduli bagaimana pun sulitnya dia mencari uang hanya untuk melihat adiknya tersenyum. Dari kecil Ara sudah sangat menderita karena lahir tanpa orang tua, ditambah lagi ketika beranjak remaja dia sudah mengidap penyakit leukimia. Aluna yang tak memiliki banyak uang, tidak bisa memiliki waktu yang banyak untuk adiknya karena sibuk bekerja.
"Aku ingin memiliki banyak uang agar bisa menghabiskan waktu yang banyak dengan Ara agar bisa keliling dunia." Aluna masih membayangkan keadaan adiknya.
"Maaf, Nona. Mie yang Anda pesan sudah siap." Seorang koki mengagetkan Aluna yang sedang melamun.
"Terima kasih Pak Kepala Koki, aku akan cepat memakannya." Aluna meraih mie itu sembari menghapus air matanya.
"Apa ada yang diperlukan lagi, Nona?" tanya kepala koki kepada Aluna. Dia sempat curiga ketika melihat Aluna berbicara sendiri. Namun, kecurigaannya berusaha dia sembunyikan.
"Tidak ada, terima kasih. Aku harus cepat mendatangi nenek Alma setelah ini." Dengan cepat Aluna melahap mie di depannya.
Setelah makan siang selesai, Aluna segera beranjak untuk menghampiri nenek Alma di ruangannya. Kamar Alvin dan ruangan Nenek Alma berjarak lumayan jauh walaupun satu mansion. Aluna harus keluar rumah dan berjalan dari ujung ke ujung.
Sebelumnya dia sudah menelepon dan menanyakan keberadaan Alvin. Dari Nenek Alma, Aluna tahu kalau Alvin sudah pergi bekerja.
Di perjalanan menuju tempat Nenek Alma. Aluna melihat beberapa panggilan masuk dari Hideon, ayahnya. Saat itu juga Aluna menghubunginya. Hideon meminta agar mereka berempat mengadakan pertemuan keluarga. Hideon ingin agar Aluna dan Helen dipertemukan.
__ADS_1