TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
237


__ADS_3

Pagi hari pukul lima pagi. Alvin sudah terjaga, sudah mandi dan bersiap diri untuk pergi bekerja. Tadi malam karena kelelahan, dia membiarkan Aluna tidur nyenyak di kamarnya. Sementara dia pindah tempat ke kamar Zero. Alvin tidur di kamar Zero sampai pagi.


"Tuan, makanannya sudah saya siapkan di ruang makan," kata pelayan.


Alvin mengangguk. Sebentar lagi dia akan sarapan pagi bersama Zero. Kebetulan saat dirinya bangun, Zero lebih dulu bangun dan sudah mandi. Zero tak biasa bangun siang.


"Mau ke mana, Ze?" tanya Alvin ketika anak kecil itu menuju dapur mengikuti pelayan tadi.


Pelayan tadi kembali berbalik, tiba-tiba membungkuk meminta maaf, "Maaf, Tuan. Tuan muda tadi membantuku memasak di dapur. Tadi saya sudah melarangnya, tapi tuan muda tetap bersikeras tak mau."


Alvin melirik Zero, terlihat bajunya sedikit kotor karena terkena noda kecap. Alvin menggelengkan kepala, bisa-bisanya pelayan membiarkan anaknya memasak.


"Jadi kamu biarkan anakku memasak?" tanya Alvin sedikit emosi.


"Maafkan aku, Tuan. Tuan muda sendiri yang menginginkannya." Pelayan terus menunduk ketakutan.


Suasana hati Alvin sedang sangat baik, sehingga dia tak ingin memperpanjang. Hanya saja untuk selanjutnya dia melarang Zero memasak lagi dan menyuruh pelayan melarangnya nanti. Apa jadinya nanti kalau keluarganya melihat saat Zero memasak. Mereka pasti menganggap istrinya tak becus mengurus dan semakin menambah benci terhadap Luna.


"Tugasmu hanyalah belajar, Ze," kata Alvin memberi pengertian Zero.


Zero mengangguk patuh. Dia pikir dengan dia membantu memasak, ayahnya akan semakin sayang seperti orang tuanya terdahulu. "Maafkan aku, Pa."


Alvin tak bisa memarahi Zero. Apalagi saat melihat wajah Zero yang sedih. Dipeluknya bocah kecil itu sambil terus memberi pengertian. Alvin lebih suka Zero fokus dengan pendidikannya.

__ADS_1


"Ayo kita sarapan. Karena kamu sudah memasak, Papa ingin mencicipi masakanmu sekarang," kata Alvin menggendong bocah kecil itu.


Saat berjalan menuju ruang makan. Alvin sempat menengok ke kamar, dia melihat Aluna masih tidur dan sengaja tak membangunkannya.


"Masakanmu sangat enak. Dari mana kamu belajar memasak, Ze?"


"Aku belajar dari Paman Sembo, Papa."


Acara makan menjadi sangat berkesan. Sebelum berangkat, Alvin sempatkan diri menyuapi Zero. Sepuluh menit kemudian, keduanya mengakhiri acara makan setelah bubur di mangkok Zero habis.


"Papa tinggal dulu karena harus bekerja. Ingat pesan papa, jangan pergi ke luar kecuali bersama Mama Luna. Kamu paham 'kan, Ze?"


Zero mengangguk. Alvin tahu Yuze dan orang tuanya pasti akan datang untuk mengambilnya. Alvin juga berpesan kepada pelayan agar dia melaporkan siapa pun yang datang ke rumahnya hari ini.


"Pelayan Su," panggil Alvin.


"Tolong jaga Zero sebentar, dan satu lagi tolong buatkan bubur pereda pengar untuk Luna kalau dia bangun nanti," perintah Alvin sebelum masuk ke kamar Luna.


"Baik, Tuan. Aku akan menemani Tuan muda menonton televisi."


Setengah jam lagi berangkat bekerja, Alvin sengaja mendatangi kamar Aluna, memeluk tubuhnya dari belakang. Aroma parfum Alvin yang khas rupanya diendus Aluna. Dia sangat malu ketika mengetahui Alvin sudah ada di samping dan memeluk tubuhnya dari belakang.


Jam berapa sekarang? Kenapa dia sudah bangun dan ada di sampingku? Tanya Aluna dalam hati.

__ADS_1


Tadinya Aluna ingin terus berpura-pura tidur. Namun ketika Alvin terus memeluknya, dia merasa tak biasa dan tak bisa bernapas. "Alvin, kau sudah bangun? Bukankah kamu sudah memakai pakaian formal? Dengan tidur seperti ini akan membuat pakaianmu kusut," kata Aluna pelan, wajahnya menghadap posisi berlawanan dengan Alvin.


Bukannya melepas pelukan, Alvin malah mempererat pelukannya berbisik, "Aku tak peduli. Kalau boleh, aku ingin izin hari ini dan menemanimu tidur lagi."


Wajah Aluna kembali memerah, dia melihat tubuhnya tertutup selimut tanpa pakaian sehelai benang pun. Kalau dia membiarkan Alvin terus memeluknya, bisa-bisa dia akan mengulang lagi peristiwa semalam.


Aluna langsung berbalik badan, melihat ke wajah Alvin. "Jangan! Ibumu pasti marah dan akan semakin membenciku," balas Aluna.


Alvin tak menjawab, dia malah terus melakukan kontak mata dengan Aluna.


Kau, kenapa malah menatapku seperti ini?


Diperhatikan seintens itu membuat Aluna tertunduk, dia sangat malu mengingat peristiwa semalam yang menurutnya sangat konyol.


"Apa gatal-gatalmu sudah menghilang?" tanya Aluna.


Melihat Aluna yang malu, Alvin pun kembali mengingat peristiwa semalam. Dia ingin tertawa saat melihat wajah ero tis Aluna tadi malam. "Gatal-gatalku langsung menghilang ketika kamu memperko saku tadi malam."


"Apa?! Itu tak benar, kamu pasti mengada-ngada. Aku tak pernah mempetkosamu."


"Benar atau tidak, aku sangat menyukainya dan ingin memintanya lagi sekarang."


Wajah Aluna langsung merah padam. Dia terus menunduk malu, membenamkan wajahnya di dada Alvin.

__ADS_1


Tadinya Alvin ingin memulainya lagi. Namun, ketika ponselnya berdering, melihat ada panggilan telepon dari Asisten Jo, Alvin langsung melepaskan pelukannya.


^^^"Tuan, Nyonya Clara dan Nyonya besar sudah ada di depan vila. Nyonya ingin masuk ke dalam menemui tuan muda," ucap Asisten Jo di telepon.^^^


__ADS_2