
"Jadi kamu yang akan membantu Kak Luna memesan restoran korea?" tanya Helen, "sekretaris Fang bolehkah aku memberi saran?"
Sekretaris Fang yang terlihat sibuk, seketika menoleh. "Saran! Maksudmu saran restoran yang cocok di reservasi?"
Helen tersenyum mengangguk. Disaat bersamaan pintu lift kembali terbuka, mereka berdua lalu melangkahkan kakinya keluar. Helen yang semula jalan di belakangnya mengikuti sekretaris Fang di sebelahnya.
"Aku punya rekomendasi restoran Korea yang bagus di dekat sini. Selain karena original Korea, restoran itu menyajikan berbagai macam makanan khas Korea yang khas dan enak. Aku sudah pernah pergi ke tempat itu berulang kali. Sepertinya akan lebih cocok membawa Tuan Dae Jung ke sana, karena suasana di sana sangat tradisional," usul Helen memprovokasi.
Sekretaris Fang tampak berpikir sejenak. Menurutnya tidak ada salahnya mengikuti saran Helen, karena wanita itu sering melakukan reservasi ketika melakukan pertemuan dengan beberapa klien luar negeri.
"Kalau begitu beri tahu aku di mana tempatnya, nanti aku akan memberitahukannya kepada Nona Luna terlebih dahulu." Sekretaris Fang tidak tahu kalau Helen ingin menjatuhkan Aluna.
"Restoran Namelix yang ada di ujung kota adalah tempat yang pas untuk bertemu klien dari Korea. Menurutku ... sebaiknya kamu pesan sekarang juga, karena waktu reservasi sebentar lagi akan habis. Mereka hanya menawarkan beberapa tempat ekslusif yang terbatas," perintah Helen sedikit memaksa.
"Ta-tapi,"
"Pesan saja dulu, aku yakin Kak Luna tak akan memarahimu," rayu Helen lagi.
Karena Helen adalah adik dari Luna, sekretaris Fang merasa yakin. Mereka berdua kemudian masuk ke ruang kerja Alvin. Sekretaris Fang mengambil beberapa berkas yang tertinggal di sana, setelahnya dia juga memesan restoran yang di instruksikan Helen, dia tidak tahu kalau restoran yang dipesan bukanlah restoran yang autentik.
"Terima kasih Helen karena sudah membantuku," kata sekretaris Fang.
***
Di Ruang Konferensi.
Rapat akan segera dilanjutkan sebentar lagi. Namun, mereka bertiga masih asik bercengkrama sambil menikmati sajian teh hangat. Aluna tampak luwes berbicara dengan Tuan Dae Jung, dia bahkan banyak menceritakan tradisi di negaranya.
__ADS_1
"Sekretaris Fang, sepertinya waktu beristirahat sudah habis, sebaiknya kita mulai lagi rapatnya," perintah Alvin ketika lelaki berwajah oriental itu memasuki ruang konferensi.
Rapat kembali berlangsung. Tak menunggu sampai lima menit, ruang rapat bertipe Boardroom mulai dipenuhi beberapa CMO dan peserta rapat lainnya yang sudah duduk di tempat masing-masing. Sekretaris Fang yang ditunjuk sebagai Moderator mulai menyalakan proyektor LCD akan memulai persentasi.
"Terima kasih sudah memberikan waktu yang luang. Sebelum menjabarkan skema, denah lokasi dan profit yang akan didapatkan. Saya akan memberitahukan visi dan misi resort dan tempat rekreasi yang akan dibangun di pulau Jeju." Sekretaris Fang mulai berdiri di depan layar.
"Resort kami memiliki visi yaitu satisfaction is our commitment yang berarti kepuasan tamu yang berkunjung merupakan komitmen kami. Untuk mencapai misi tersebut, perseroan memiliki misi yaitu dengan berkomitmen untuk berusaha memberikan layanan yang paling efisien, cepat dan ramah terhadap para tamu."
"Kami akan membangun beberapa tempat rekreasi di beberapa titik dekat gunung Hallasan sampai menuju pantai. Alasan kami memilih pulau Jeju, karena memiliki pantai yang indah sehingga bisa dijadikan destinasi favorit, khususnya bagi mereka yang ingin merencanakan bulan madu atau honeymoon." Sekretaris Fang kembali menjabarkan.
Sementara, Aluna bertugas menerjemahkan langsung apa yang diucapkan sekretaris Fang kepada Tuan Dae Jung langsung.
^^^"대박!"^^^
"Daebak!" gumam Tuan Dae Jung.
( Mengagumkan!)
Aku baru sadar, ternyata aku adalah lelaki yang paling beruntung di dunia ini karena memilikimu. Semakin lama melihatmu, semakin itu pula aku tidak sabar ingin memiliki anak darimu, Luna. Batin Alvin sembari tersenyum memikirkan hal yang negatif di otaknya.
Konferensi bisnis berlangsung kurang lebih tiga jam. Para peserta rapat termasuk Tuan Dae Jung sudah sepakat mengambil keputusan agar berkerja sama dengan perusahaan Alvin. Sebelum konferensi berakhir, Tuan Dae Jung berkali-kali memuji Aluna membuat Alvin sebagai suami sekaligus presdir memiliki muka.
^^^"잘 했어! 당신은 옳은 일을했습니다"^^^
"Jar haess-eo! Dangsin-eun olh-eun il-eulhaessseubnida," ucap Tuan Dae Jung.
(Kerja bagus!Kamu telah melakukan hal yang benar.)
__ADS_1
^^^"최고예요"^^^
"Chwegoyeyo." Tuan Dae Jung menegakkan dua jempolnya ke arah Alvin dan Luna.
(Kamu yang terbaik)
Mendengar pujian itu Aluna menyuruh Alvin berdiri memberikan ucapan Terima kasih kepada Tuan Dae Jung karena mau bekerja sama dengan mereka.
^^^"감사 합니다"^^^
"Kamsahamnida," ucap Alvin dan Aluna bebarengan.
(Terima kasih)
Pukul 17.30 konferensi rapat telah berakhir dengan hasil yang memuaskan. Tuan Dae Jung dan beberapa asistennya sudah meninggalkan ruangan. Mereka akan bertemu lagi ketika makan malam nanti. Berulang kali Alvin menyunggingkan senyum bahagianya, dia sangat senang dan puas karena berkat Aluna juga Tuan Dae Jung akhirnya mau bekerja sama dengan perusahaannya.
"Terima kasih, Luna. Berkat kamu Tuan Dae Jung mau bekerja sama denganku." Alvin berkata menghadap Aluna. "Aku baru sadar ternyata aku memiliki istri yang sangat cantik dan pintar," rayunya.
Aluna tersipu malu, pipinya merona ketika Alvin terus memuji seraya menatap intens matanya. Kalau bukan di dalam ruangan terbuka sudah pasti sesuatu yang indah akan terjadi di antara mereka.
"Aku pernah mendengar sebuah idiom There always the tough woman behind a great man, selalu ada wanita yang tangguh dibelakang pria hebat. Dibalik lelaki yang sukses ada seorang istri yang hebat di belakangnya. Dibalik kehebatan lelaki ada tangan istrinya yang membantunya." Aluna berkata dengan lembut namun tidak mengurangi ketegasannya.
Alvin terus menatap Aluna sembari meresapi kata-kata istrinya.
"Maafkan aku Luna karena sudah meragukanmu. Maaf, aku baru percaya kalau kamu adalah istri yang hebat dan bisa diandalkan. Aku merasa menjadi suami yang beruntung karena memilikimu, Luna." Alvin berkata dengan sungguh-sungguh meminta maaf.
"Tuan, jangan melihat wanita dari sampul luarnya saja. Diam di rumah saja bukan berarti dia lemah dan tidak memiliki bakat apa pun. Tetapi, adakalanya wanita akan bergerak ketika ada hal yang terdesak. Bukankah aku dari dulu adalah wanita hebat? Istri yang tangguh bukan berarti berhasil dalam karir atau pekerjaannya saja. Fungsi ganda seorang istri selain mendukung kinerja suaminya. Namun, juga harus mampu mengurus rumah tangga dengan baik." Aluna kembali berkata bijak.
__ADS_1
Alvin kembali terkesima, dia benar-benar dibuat terenyuh oleh kata-kata Aluna. Ya, selama ini dia menganggap wanita yang hanya berdiam diri di rumah, hanya mengurus rumah adalah wanita yang payah. Nyatanya bukan! Mereka di rumah saja bukan berarti tidak berbakat dan lemah. Seorang istri punya cara sendiri dalam mengarungi bahtera rumah tangga dengan baik.
Semakin kamu berbicara seperti itu ... semakin aku mengagumimu Luna! Batin Alvin.