
"Halo Alvin." Ayah Noah menyapa Alvin.
Karena terlalu asik melamun, membuat Alvin tidak sadar kalau Tuan Rui sudah datang dan duduk di depannya.
"Oh, Paman. Maaf tadi aku tak sadar kalau Paman sudah ada di sini," balas Alvin.
Ayah Noah tersenyum melihat Alvin. "Sepertinya tidak hanya Noah yang punya masalah. Apa kamu juga sedang ada masalah, Alvin?"
"Ah tidak, Paman. Itu hanya pikiranmu saja." Dari dulu Alvin memang tak pernah terbuka dengan siapa pun.
"Tapi matamu tak bisa dibohongi."
Tuan Rui memang sangat dekat dengan Alvin. Beliau mengenal Alvin saat dia dan Noah masih sama-sama kecil. Berkat modal yang diberikan Alvin, orang tua Noah membangun kembali bisnis keluarganya. Tuan Rui membuka tiga toko roti di pinggiran kota. Dari usahanya, sedikit demi sedikit Tuan Rui mampu membayar hutangnya di bank dan hutang pada keluarga Lisa.
"Tebakan Paman selalu tepat. Sepertinya ada hal yang ingin kalian bicarakan. Aku permisi sebentar ingin menelepon istriku," kata Alvin.
Akibat lamunannya tadi, Alvin juga tak sadar sudah ada panggilan masuk di handphonenya dari Aluna. Setelah Noah dan Tuan Rui mengiyakan, Alvin memisahkan diri mencari tempat untuk mengangkat telepon dari Aluna.
Sementara di tempat lain di sebuah butik. Aluna dan Ara sempat kebingungan ketika ada seorang pelayan menghampirinya untuk segera mengganti baju. Aluna mengingat kalau pelayan itu adalah salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Alvin.
Atas desakan Ara, Aluna pun menyetujui berganti baju. Karena memang dia juga harus segera mengumpulkan sepuluh tas saran agar Ara bisa bersamanya selama sebulan. Aluna mau berkencan dengan Alvin, asalkan malam ini juga Ara ikut dengannya.
"Alvin, kamu sedang ada di mana?" tanya Aluna menelepon Alvin.
__ADS_1
Mendengar suara Aluna, mood buruk Alvin langsung menghilang. Entah mengapa dirinya ingin sekali bertemu dengan Aluna malam ini. Sampai-sampai dia menyuruh sopir dan pelayan menjemput gadis itu.
"Aku sedang berada di sebuah kafe bersama Noah. Apa sopirku sudah sampai di tempatmu?"
"Iya, dia ada di sini bersama seorang pelayan. Dari mana kamu tahu posisiku? Alvin, kenapa aku dibawa ke sebuah butik dan mereka menyuruhku berganti baju? Apa benar kamu ingin mengajakku berkencan?"
Alvin tersenyum. Tentu saja dia tahu posisi Aluna berada di mana pun. Aluna lupa kalau Alvin sudah lama memasang GPS di handphonenya.
"Sudahlah jangan banyak bertanya. Cepat datang ke mari karena aku sedang menunggumu."
"Baik. Tunggu aku, aku akan datang ke sana bersama adikku," kata Aluna lalu menutup teleponnya.
...***...
"Kami sudah putus. Aku tidak ingin Ayah dihina lagi oleh keluarga Lisa. Tetapi sejak kami putus, Lisa sering menerorku dan berani berbuat onar," ucap Noah.
"Bagus. Lebih baik kalian putus. Sebaiknya cepatlah cari pengganti Lisa, agar dia tak mengganggumu lagi. Cepat kenalkan pacarmu di depan keluarga Lisa, agar Nyonya Olive tak menghinamu lagi," kata Tuan Rui memberi saran.
Noah hanya bisa mengangguk. Tentu saja dia sedang berpikir. Mencari pacar sebagai pengganti Lisa memang mudah bagi seorang lelaki tampan seperti Noah. Hanya saja, dia takut perempuan itu akan diteror oleh Lisa nantinya.
Siapa yang harus aku kenalkan, bahkan aku sendiri belom menemukan pengganti Lisa. Batin Noah.
Saat mereka asik berbincang. Nyonya Olive bersama suaminya baru turun dari mobil. Mereka melihat dari kejauhan Noah dan Tuan Rui sedang asik duduk di sebuah kafe.
__ADS_1
Nyonya Olive dengan tampang marahnya mendatangi mereka bertiga. "Di mana anakku?" tanyanya ketus.
Ketiga lelaki yang sedang duduk itu menoleh. Terlihat Nyonya Olive berkacak pinggang di depan mereka.
"Anakmu ada di atas sedang membuat kerusuhan. Sebaiknya Anda cepat membawa Lisa pulang, kalau tidak dia akan menghancurkan seluruh alat laboratorium. Anak Anda sangat menyusahkan, kami tidak ingin ikut campur urusan keluarga Anda lagi, Nyonya Olive," ujar Tuan Rui.
"Anakku tidak akan seperti ini kalau bukan karena anakmu. Sudah kamu apakan Lisa sampai dia tergila-gila seperti itu? Bajingan! Jangan-jangan kamu sudah merusak masa depannya?"
"Jaga ucapan Anda! Hanya perempuan murahan yang mengejar lelaki sampai seperti itu. Aku yakin pasti karena asuhan orang tuanya yang tidak mendidik dengan benar." Tuan Rui benar-benar marah saat anaknya dihina. Sudah cukup mereka menghina dirinya, tetapi tidak dengan Noah.
Keributan pun terjadi, mereka saling sindir. Nyonya Olive mengungkit lagi hutang budi Tuan Rui pada keluarganya. Mereka telah lupa kalau dulu mereka pernah dekat layaknya seperti saudara.
Beberapa menit kemudian, Ayah Lisa berhasil membawa Lisa turun dari atas gedung. Ditariknya Lisa agar pulang dan masuk ke dalam mobil. Akan tetapi sebelum masuk, mereka menemui Noah dan ayahnya terlebih dahulu.
"Mom, sebaiknya kita pulang. Aku putuskan lebih baik kita sudahi kerjasama dengan Rui sekarang juga. Gara-gara menjalin hubungan dengan Noah. Lisa menjadi anak yang pembangkang." Ayah Lisa menarik Nyonya Olive agar tak meladeni Tuan Rui.
"Tidak bisa seenaknya seperti itu. Mereka harus menandatangani perjanjian putusnya pertunangan dengan anakku. Tidak hanya itu, Rui juga harus menandatangani kapan dia akan membayar hutangnya dengan lunas," kata Nyonya Olive menantang.
Tuan Rui tahu siapa orang tua Lisa. Ya, mereka sangat berpengaruh di wilayah tempat tinggalnya. Kalau tidak suka, bisa saja ayah Lisa mempengaruhi walikota untuk tidak memberi izin membuka salah satu toko rotinya.
"Berapa hutang Paman Rui? Biar aku yang membayarnya." Terdengar suara lelaki menyela pembicaraan mereka.
Sontak, semua orang yang ada di sana menengok ke arah sumber suara. Mereka melihat Alvin sedang berjalan mendekat, bersama Aluna dan Ara.
__ADS_1
Kemunculan Alvin membuat Orang tua Lisa kaget. "Presdir Alvin."