TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Bab 276. Rayuan Zero


__ADS_3

Lily sibuk merapihkan barang-barang Zero yang akan dibawa ke dalam kapal nanti. Lily melupakan smartwatch milik Zero yang terjatuh di karpet mobil. Rupanya karena terburu-buru tadi, smartwatch tersebut tak sampai terbuang ke luar jendela.


"Semuanya sudah siap. Aku sudah bawakan pakaian ganti untuk Zero beberapa hari nanti. Aku juga sudah mengirimkan sejumlah uang kepada Pak Bei untuk kebutuhan mereka berdua di pulau itu," kata Lily berbicara kepada Yuze yang masih fokus menyetir.


"Bagus! Semuanya hampir sesuai rencana."


Yuze tersenyum puas. Dia rasa usahanya kali ini tidak akan sia-sia. Setelah ini dia berencana memanipulasi keadaan kalau mobil mengalami kerampokan kepada Clara dan Nenek Alma.


"Lihat Helen menelepon kita," kata Lily menunjukkan nada panggilan dari Helen di layar ponselnya kepada Yuze.


"Angkat saja, siapa tahu akan ada informasi yang penting."


***


Di tempat lain di kediaman Hideon. Helen dan Mona sedang mengadakan pesta kecil karena sebentar lagi rencana mereka berhasil. Setelah Zero pergi, mereka akan menyusul rencana untuk menyingkirkan Luna.


"Halo Lily, bagaimana apa anak itu sudah berada di kapal?" tanya Helen, saat teleponnya tersambung dengan ponsel Lily.


"Beres, semua sesuai rencana. Sepuluh menit lagi mobil kita sampai pelabuhan. Apa kamu sudah siapkan tempat tinggal untuk mereka di pulau itu?" Lily yang sedang di mobil bertanya balik.


"Yah, aku sudah sediakan motel untuk mereka tinggal sementara. Selanjutnya aku tak peduli. Biarkan saja anak itu menjadi gelandangan di sana, ha ha."


Helen tertawa sangat puas. Begitupula dengan Mona. Helen sudah menyiapkan strategi kalau nanti dia bertukar tubuh lagi dengan Ara.


"Jadi kalian tidak akan memberi tunjangan uang selama beberapa bulan untuk mereka nanti?" tanya Lily.


"Tentu saja tidak, untuk apa aku melakukannya? Biarkan saja mereka menjadi gelandangan atau pengemis di sana."


"Baiklah, aku setuju," kata Lily.


Mendengar Zero sebentar lagi sampai pelabuhan. Helen dan Mona sangat senang. Mona langsung menuangkan wine di masing-masing gelas mereka kemudian bersulang.


"Ha ha, ternyata sangat mudah. Kenapa tidak dari dulu saja?" kata Mona sambil menyesap wine, "bagaimana tindakanmu selanjutnya untuk melenyapkan Luna sialan itu setelah ini?"

__ADS_1


Helen tersenyum licik, matanya melirik ke arah cermin. "Aku akan menghadirkan gadis bodoh itu ke tubuhku," kata Helen sedikit meracau.


"Apa maksudmu? Mommy tak paham. Bukankah katamu mereka adalah kakak beradik?" tanya Mona penasaran.


"Mommy lihat saja nanti akan ada sesuatu yang tak terduga, ha ha," kata Helen. Otaknya sudah terkontaminasi oleh rasa mabuk.


"Sepertinya kamu sudah terlalu mabuk, Nak. Tapi aku senang, karena sebentar lagi setelah keluarga Wiratama tahu anak itu menghilang mereka pasti akan membenci dan mengusir Luna. Kita tak perlu repot-repot menyingkirkannya lagi."


Mona tertawa terbahak sampai terdengar ke luar ruangan. Di luar sedang ada Hideon, langsung mengetuk pintu kamar dan menyuruh mereka membukanya.


"Oh, suamiku. Aku tak tahu kalau kamu sudah pulang," kata Mona sambil memegang dasi suaminya setelah keluar kamar.


"Kamu mabuk?"


Mona menggeleng. "Tidak, aku hanya minum wine sedikit saja. Ayo kita kembali ke kamar kita. Aku akan siapkan baju hangat untukmu."


Sepanjang perjalanan menuju kamar, Hideon bercerita banyak kalau cucunya dalam keadaan bahaya. Dia mengatakan kepada Mona kalau ingin ikut mencari Zero.


"Yah, aku juga mendengarnya barusan. Hal inilah yang membuatku frustrasi sampai meminum beberapa teguk Wine. Karena terlalu kepikiran dengan nasib cucu kita di luaran sana. Helen bahkan tak mau makan seharian begitu mendengar kabar ponakannya diculik."


"Luna dan Alvin sedang berusaha menyusulnya. Kalau malam nanti Zero tak ditemukan, aku juga akan ikut mencarinya," kata Hideon.


"Aku sangat setuju, Suamiku."


***


Di perjalanan menuju pelabuhan. Zero mendengar pembicaraan Lily di telepon. Dia sudah simpulkan kalau nanti mereka berniat menghabisinya nanti.


Di saat dia sedang mencari ide untuk kabur, Zero tak sengaja melihat smartwatch-nya yang jatuh di karpet mobil. Layarnya menyala membuat Zero yakin pasti ada panggilan masuk. Entah itu dari ibunya atau dari Sindi. Meskipun tak terdengar suara deringnya, karena sengaja dia sunyikan tadi.


"Paman, Bibi, aku akan patuh dengan perintah kalian," kata Zero tiba-tiba.


"Benarkah?" Lily dan Yuze kaget.

__ADS_1


"Yah, sepertinya sangat menyenangkan nanti hidup bersama kalian. Pemikiran paman dan bibi sangat modern. Aku sangat membutuhkan bimbingan dari orang seperti kalian. Aku ingin seperti Paman Yuze yang selalu menjadi rangking pertama di sekolahnya dulu. Aku dengar dari Nenek, Paman Yuze lebih pintar dari ayahku saat sekolah. Bibi Lily juga sangat pandai dalam bersosialisasi, kata Oma, Bibi pernah menjadi seorang duta lingkungan hidup. Itu sangat keren, aku ingin mengikuti jejak kalian."


Zero berpura-pura memuji Lily dan Yuze agar bisa melunakkan hati mereka. Zero berakting sangat patuh dan bersandiwara mendukung tindakan mereka selanjutnya.


"Jadi kamu sudah tahu kalau kita lebih hebat dari ayahmu?"


"Yah, tentu," jawab Zero, "harusnya paman atau bibi 'lah yang menjadi penerus selanjutnya."


Lily tersenyum cukup senang dengan pernyataan Zero. Memang betul yang dikatakan Zero barusan. Tapi semua itu tidak akan terjadi kalau uang dari orang tua mereka yang tidak bertindak. Yuze tidak akan menjadi juara kelas kalau orang tuanya tidak menyuap kepala sekolahnya dulu. Dan tentunya Lily pun sama, tak akan terpilih menjadi duta lingkungan hidup kalau dia tak melakukan pencitraan kepada masyarakat, bahkan berani menyuap beberapa oknum agar memilihnya.


Zero terus berbicara hingga beberapa menit, memberikan rayuan berlebihan kepada keduanya. Mengatakan apa saja yang bisa membuat paman dan bibinya senang.


"Kamu ternyata sangat pintar, Zero. Kalau kamu patuh, kita pun ikut senang. Bahkan akan menuruti permintaanmu. Asal jangan minta turun dari mobil ini saja," kata Yuze.


"Benarkah, Paman?" Wajah Zero terlihat berbinar.


"Lelaki sejati pantang mengingkari janjinya. Cepatlah kamu meminta apa sebelum kami berubah pikiran. Benarkah, Lily?" Kemudian terlihat Lily mengangguk.


Zero langsung menunjuk smartwatchnya yang terjatuh di karpet. Meminta kepada Yuze agar memberinya kesempatan untuk menelepon Sindi.


"Paman, aku sudah berjanji kepada Sindi ingin bertemu dengannya hari ini. Tapi karena aku patuh kepada kalian, kami tak jadi bertemu. Bolehkah aku menelepon Sindi sebentar saja? Aku ingin memberinya kabar kalau kita tak jadi bertemu sekarang."


Zero menunjukkan wajah memelasnya. Lily jelas menolak, dia takut Zero akan memberikan informasi keberadaannya sekarang.


"Boleh 'kan, Paman. Bukankah kata Paman lelaki sejati tidak akan mengingkari janjinya. Aku hanya ingin berbicara dengan Sindi sebentar saja."


Yuze merasa dia telah salah berucap. Jadinya mau tak mau dia menyetujui permintaan Zero.


"Biarkan saja sebentar, Lily," bujuk Yuze, "lagipula dia hanya berbicara dengan anak kecil."


Lily sebenarnya sangat tidak setuju. Namun karena Yuze memintanya, dia pun terpaksa memperbolehkannya.


"Baiklah, kamu boleh menelepon Sindi. Dengan catatan hanya meneleponnya selama satu menit, tidak lebih!" seru Lily tegas.

__ADS_1


Tak mau membuang waktu banyak, Zero mengambil smartwatch miliknya. Langsung menyalakan GPS di ponselnya dan cepat menghubungi nomor Sindi.


__ADS_2