
Ara berjalan seorang diri. Dia tidak tahu ke mana kakinya akan melangkah lagi. Dia menatap gamang ke arah sisi jalanan. Entah apa yang harus dia lakukan sekarang. Ara kembali mengingat lagi pertemuan dia dengan Luna. Ada keyakinan yang menyebut kalau dia adalah kakaknya walaupun itu hanya lima puluh persen.
'Bagaimana keadaan kamu sekarang kak Aluna? Apa operasinya sudah berhasil?' Ara terus membatin. Ya, sepanjang waktu Ara tak berhenti memikirkan Aluna, kakaknya.
Terakhir yang dia lihat sebelum berpindah dimensi. Ara melihat darah di sekujur tubuh Aluna. Aluna mengalami luka yang sangat parah, menurut dokter kakaknya mengalami pendarahan di otaknya dan mengalami patah tulang di kaki dan tangannya. Kondisi Aluna di dunia nyata sangat mengenaskan, bahkan menurut dokter kemungkinan Aluna akan sembuh sangat tipis.
Ara tak bisa membayangkan kalau sampai kakaknya tidak bisa diselamatkan, dia akan bersama siapa nantinya, walaupun Ara sendiri tak yakin akan berumur panjang. Ya, penyakit leukimia yang sudah dideritanya semenjak kecil sudah memasuki stadium akhir.
Sejujurnya Ara tak memperdulikan nyawanya. Dia terus berdoa, kelak kakaknya akan hidup dengan bahagia. Dia ingin kakaknya bisa hidup dengan normal dan menikah tanpa perlu memikirkan biaya pengobatan dirinya.
Mereka berdua adalah anak yatim piatu dari kecil. Ara sendiri tak tahu siapa ayah dan ibu mereka. Bahkan keluarga lainnya pun dia tak punya selain Aluna. Mereka berdua telah hidup bersama-sama dari kecil tanpa pendampingan orang dewasa. Siang Aluna gunakan untuk sekolah dan setelahnya untuk bekerja. Sementara Ara, karena penyakitnya dia hanya bisa berdiam diri di rumah setelah pulang sekolah.
Di saat Ara sedang melamun, handphonenya kembali berdering. Mona meneleponnya lagi, dia masih khawatir mengingat Helen anaknya baru sembuh dari sakitnya.
^^^"Helen, ada di mana sekarang kamu, Nak?"^^^
Mendapat perhatian seperti itu Ara merasa iri. Belum pernah sekali pun dia diperhatikan oleh seorang ibu. Meskipun Ara membenci karakter Mona, tapi dia masih begitu tersentuh tiap kali wanita itu menanyakan kabarnya.
"Aku baik-baik saja, Mommy. Aku sedang berjalan-jalan di taman," jawab Ara lembut.
^^^"Apa kamu sudah makan? Kalau belum pulanglah, aku akan memasakkan makanan kesukaanmu, Sayang." Bujuk Mona.^^^
__ADS_1
Membicarakan makanan, perut Ara kembali keroncongan. Dari jauh dia melihat anak kecil sedang memakan lahap ayam goreng dan mie goreng di sebuah kafe. Air liur miliknya hampir menetes ke bawah. Apalagi cara makan anak itu membuat cacing diperutnya semakin meronta ingin meminta jatah.
"Aku ingin makan ayam goreng, pizza, hamburger, dan mi goreng. Rasanya pasti sangat lezat dimakan di siang yang terik ini. Ditambah lagi aku ingin minum dengan minuman bersoda. Pasti sangat menyegarkan tenggorokan."
Mendengar anaknya mengutarakan keinginannya di telepon. Mona merasa senang, dia malah meminta Ara agar segera pulang. Dia akan menyuruh chef rumah mereka untuk segera membuatnya.
^^^"Kalau begitu pulanglah sekarang, Nak. Aku akan menyuruh Chef Juna untuk memasaknya sekarang. Kita akan makan bersama siang ini," ucap Mona begitu antusias.^^^
"Eum ... tidak, Mommy! Aku tidak bisa pulang sekarang. Aku ingin makan langsung di sini, kebetulan aku sedang berdiri di depan sebuah kafe. Bisakah Mommy memberitahukan pasword untuk membuka akun e walletku. Eum ... sepertinya gara-gara koma itu aku lupa mengingat PINnya."
Mona yang mendengarnya merasa aneh. Meskipun sedikit curiga, dia tetap saja memberitahukan kepada Ara. Menurutnya ada benarnya mungkin setelah mengalami koma, sedikit memori Helen menghilang.
Dengan perasaan sedikitnya kecewa. Mona terpaksa membiarkan anaknya makan di luar. Mona juga sempat ragu, tak biasanya Helen memakan makanan cepat saji apalagi minuman bersoda. Yang Mona tahu, Helen adalah sangat menjaga pola makannya agar tubuhnya tetap ideal.
"Ya, Mommy jangan khawatir. Aku akan cepat pulang setelah urusanku selesai," jawab Ara. Dia lalu memutuskan telepon.
...***...
Pikiran Noah kali ini sedang bercabang-cabang. Di saat dia sedang melakukan penelitian pun dia tak fokus. Beruntung tugasnya hari ini masih bisa dia tunda untuk besok. Karena pikirannya merasa lelah, Noah meminta izin pulang lebih awal kepada atasannya.
Sambil menyetir mobil menuju arah pulang. Noah terus melamun. Beberapa Minggu ini dia mengalami tekanan yang hebat, karena ibunya Lisa selalu menyuruhnya putus. Ya, sebenarnya jauh di dalam tubuh hatinya yang dalam, Noah masih memiliki perasaan sayang untuk Lisa.
__ADS_1
"Delapan tahun bukan waktu yang singkat," gumam Noah.
Walaupun Lisa kekanakan, gadis itu selalu membuatnya terhibur. Sikap lucu dan manjanya selalu mengalihkan perhatian Noah yang selalu serius. Pekerjaan Noah yang selalu bergelut dengan analisis membuatnya selalu berpikir dan harus tetap fokus. Sementara kehadiran Lisa selalu berhasil membuat Noah mengalihkan pekerjaannya dan membuatnya rileks sejenak dengan tingkah konyolnya. Mereka berdua pun sudah tau jelek dan baiknya kepribadian masing-masing.
Di saat sedang fokus menyetir, handphonenya tiba-tiba bergetar, rupanya ada satu pesan masuk. Ternyata pesan masuk itu dari orang tua Lisa.
✉️ [Keputusanmu untuk putus dengan anakku sangat benar. Mulai sekarang jangan dekati anakku lagi, karena pertunangan kalian sudah kami batalkan. Ingat jangan sekali-kali mengajak anakku untuk kembali berhubungan. Atau kamu akan menerima akibatnya nanti.]
Noah membaca pesan itu berulang kali. Ya, dia tahu apa ancaman orang tua Lisa. Keluarganya masih memiliki utang yang banyak kepada keluarga mereka. Ditambah lagi tempat Noah bekerja sudah bekerja sama dengan perusahan orang tua Lisa. Bisa saja mereka menghubungi atasan dan memberhentikan Noah di hari itu juga.
"Kenapa selalu uang yang menjadi standar kalian! Bukankah dulu kalian pernah bilang kalau keluarga kami sudah seperti sahabat dan keluarga dekat. Hanya karena uang kalian lupa segalanya dan menghinaku." Noah memukul kasar kemudinya.
Noah ingat betul terakhir kali sebelum keluarganya bangkrut. Dia diperlakukan seperti calon menantu idaman. Dulu, setiap sekolah ibunya Lisa selalu membawakan bekal makanan untuknya. Bahkan mereka sering kali mengajak Noah makan bersama.
Sekarang, jangankan mengundangnya makan bersama. Melihat muka Noah pun, ibunya Lisa langsung membuangnya.
Di saat sedang sangat tertekan. Dari jauh Noah melihat Ara sedang makan di kafe pinggir jalan. Noah melihat Ara di balik kaca sedang makan dengan lahap. Tanpa berpikir panjang lagi, Noah menepikan mobilnya untuk di parkir.
Senyum di bibir Noah langsung mengembang. Entah kenapa setiap kali melihat Ara, ekspresinya langsung berubah bahagia.
"Nona manis, bolehkah aku menemanimu makan?" Seorang lelaki menutupi wajahnya dengan permen kapas berbentuk bunga berwarna-warni.
__ADS_1
Hanya berselang beberapa menit Noah sudah berdiri di hadapan Ara. Ya, lelaki yang menutupi wajahnya dengan permen kapas itu adalah Noah. Ara yang melihatnya langsung menghentikan aktivitas makannya. Pandangannya langsung teralihkan.
"Terimalah, hadiah pertama untukmu, Nona."