
"Apa dia bisa menerawang Luna, Mom?" tanya Helen.
"Ya tentu saja, dia bisa melakukannya. Dia seorang paranormal hebat yang bisa mengusir makhluk halus pada tubuh Luna. Aku yakin Luna sedang dirasuki roh yang sangat jahat," kata Mona berapi-api, "paranormal ini bersertifikat dan bukan kaleng-kaleng."
Keduanya terus merencanakan untuk mencari tahu keanehan pada diri Aluna. Mona terus beranggapan kalau Aluna memang sedang dirasuki roh jahat dari para leluhur. Meskipun tak percaya, Helen mendukung rencana ibunya.
"Apa maksud ucapan kalian?!" Tiba-tiba saja Hideon datang dan menyela pembicaraan keduanya. Hideon yang baru pulang kerja tidak suka begitu mendengar rencana Mona.
"Suamiku, aku akan jelaskan. Akhir-akhir ini banyak sekali hal-hal aneh di rumah ini. Bagaimana kalau kita datangkan seorang paranormal ke mari. Kita adakan ritual pengusiran makhluk halus di rumah ini. Kemarin paranormal itu juga berhasil mengeluarkan roh jahat di tubuh anak temanku yang sering kerasukan. Aku ingin melakukan pembersihan kepada kedua anak kita agar terhindar dari roh jahat," kata Mona membujuk Hideon.
Walaupun mendengarkan, jelas Hideon tak setuju dengan usulan Mona. Menurutnya, Mona terlalu berlebihan, perkataannya benar-benar di luar logika. "Kau ini, memangnya anak-anak kita pernah kerasukan? Kenapa percaya hal mistis seperti itu. Tidak ada hantu atau pun roh halus di dalam rumah ini apalagi pada tubuh ke dua anakku."
"Ta-tapi suamiku, lihatlah Helen sering merasa berhalusinasi berada di tempat lain. Ada roh leluhur yang membawa jiwa anakku ke dimensi lain. Sementara sikap Luna akhir-akhir ini sangat berubah. Apa kamu tak memperhatikannya? Luna mendadak kuat. Kau tahu kan, melawan perempuan saja anakmu dulu tak bisa, dan kemarin Luna malah berhasil membuat babak belur seorang lelaki. Aku yakin dia bukan anakmu." Mona terus mendesak Hideon agar percaya.
Akan tetapi, lelaki berumur hampir lima puluh tahun itu tetap pada pendiriannya. "Kalau bukan anakku, lalu siapa? Tak mungkin ada orang lain yang memiliki wajah yang sama dengan Luna. Itu hanya perasaanmu saja, tak ada apa pun yang aneh pada rumah ini dan kedua anak kita. Ini zaman modern, berpikirlah positif."
"Tapi tidak mungkin dia sekuat itu!"
"Mungkin saja karena dulu Luna pernah ikut pelatihan taekwondo." Hideon terus membantah.
__ADS_1
Sebenarnya dia merasakan perubahan pada diri anaknya. Hanya saja lelaki itu tak ambil pusing. Hideon merasa perubahan Luna kali ini, jauh lebih baik, dan karena perubahannya itulah membuat Hideon lebih perhatian dan lebih mendukung Luna daripada istrinya.
"Apa yang dikatakan ibuku benar, Ayah. Aku merasakannya. Aku merasa sering terbangun di tempat yang asing. Sepertinya ada makhluk gaib yang membawaku ke tempat itu. Aku merasakan jiwaku berada pada tubuh orang lain." Helen menambahi ucapan ibunya.
Hideon menggeleng berulang kali. Dia dibuat heran oleh kata-kata keduanya. "Konsultasikan saja ke psikiater, mungkin kamu mengalami tekanan batin yang berlebihan. Aku yakin itu hanyalah bunga tidur. Tidak usaha mengaitkannya dengan hal-hal mistis yang mustahil. Aku tak percaya dan sekali lagi jangan bicarakan hal ini lagi padaku. Aku sangat lelah."
Akhirnya, Mona merasa menyerah berbicara dengan Hideon. Karena dia tahu lelaki itu sangat keras kepala dan tak mau diatur. Mona memutuskan akan membawa paranormal itu secara sembunyi-sembunyi di saat Hideon pergi bekerja.
"Aku lelah, apa kamu bisa memijat pundakku." Hideon menyentuh pundak sebelah kanannya sambil memijat ringan.
Merasa tak ditanggapi, dengan perasaan sedikit kesal Helen meninggalkan ruang tamu utama. Menurut Helen tak ada gunanya berbicara dengan Hideon, karena menurutnya saat ini lelaki itu pasti mendukung Luna. "Baiklah, sebaiknya aku kembali saja ke kamar."
"Sebaiknya memang harus seperti itu. Mungkin kamu kurang istirahat. Jangan terlalu banyak melamun, dan cepatlah mencari calon suami," kata Hideon.
"Nanti kita bicarakan lagi di kamar," bisik Mona di telinga Helen, sebelum dia beranjak.
Setelah itu Mona kembali mendekati suaminya, "Di mana aku harus memijat?" tanya Mona dengan enggan. Wajah Mona terlihat masam sambil memijat kasar pundak Hideon dengan tangannya. "Apa kamu tak merasakan perubahan pada Luna?"
Hideon menggeleng. "Aku bilang jangan bicarakan itu lagi. Pijatlah agak lembut seperti biasanya. Kenapa tanganmu kasar sekali?"
__ADS_1
Mona menurut dia mulai pelankan gerakan tangannya. Kalau tidak karena uang, tak mungkin dia memuaskan lelaki di sebelahnya.
"Kalau begini kan, aku betah tinggal di rumah."
Lagi-lagi Hideon tak mau ambil pusing. Menurut Hideon kalau perubahan anaknya tak merugikan dan banyak hal positifnya, kenapa engga. Toh menurut Hideon itu sangat bagus, itu tandanya Luna tak akan diremehkan lagi oleh keluarga Alvin.
Luna sebenarnya anak yang pintar dan berprestasi. Hanya saja beberapa bulan sebelum kelulusan peristiwa itu terjadi, membuat pendidikannya terganggu dan membuatnya tidak lulus sekolah. Batin Hideon.
Hideon mengingat lagi peristiwa enam tahun yang lalu, di saat dia mengasingkan Luna ke sebuah desa. Peristiwa itu membuat Luna dicap anak yang bodoh karena tak lulus SMA. Luna terpaksa bolos berbulan-bulan karena suatu hal yang sangat memalukan.
"Aku lakukan ini demi kebaikan keluarga kita," kata Mona terus memijat pundak Hideon. Mona membuyarkan lamunan Hideon.
"Cepat pijat saja, jangan banyak berbicara. Nanti setelah ini aku akan ajak kamu berbelanja," kata Hideon merayu Mona agar perempuan itu berhenti mengoceh.
"Benarkah! Kalau gitu sebelah mana lagi yang ingin aku pijat?" tanya Mona kegirangan.
Hideon melonggarkan dasinya lalu merangkul Mona. "Ikut aku. Aku akan memberitahukannya di kamar," rayu Hideon.
"Baiklah, asal setelah ini kamu mengajakku ke toko berlian," kata Mona sambil tersenyum berjalan bersama Hideon menuju kamar mereka.
__ADS_1
Di atas tangga. Aluna diam-diam memperhatikan mereka. Aluna secara sembunyi menguping pembicaraan mereka bertiga. Dia merasa banyak perubahan pada diri Hideon. Lelaki tua itu dulunya meremehkan anaknya sendiri. Dan kini dia malah berpihak padanya.
Jadi kalian sudah curiga dan berniat menyelidikiku? Hah, coba saja kalau bisa. Kalian ingin meminta bantuan paranormal hebat untuk membuka identitas aku sebenarnya? Aku yakin itu tidak akan terjadi, karena kemampuan Miss K lebih hebat dari paranormal mana pun. Batin Aluna ingin tertawa.