TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Masa Lalu Luna


__ADS_3

Setelah berbicara banyak dengan sistem, Aluna baru paham apa yang terjadi sebenarnya. Setelah sepuluh menit di toilet, Aluna melangkah keluar dan berjalan mendekati Alvin yang sedang menunggunya.


"Maaf sudah membuatmu menunggu lama," ucap Aluna.


Alvin mengangguk pelan. "Ayo kita pulang."


Kemudian tanpa banyak kata, Alvin melangkah meninggalkan Aluna yang masih di belakang. Gerak Alvin terlihat sangat cepat tanpa menoleh sekali pun ke arah Aluna.


Aluna tahu pasti lelaki itu sedang tidak baik saja. Dari gerak tubuhnya saja sudah dipastikan kalau dia sedang memikirkan sesuatu. Meskipun tak banyak bertanya, dia tahu Alvin pasti sedang memikirkan rumor mengenai anak yang dilahirkan Luna.


"Al-vin." Aluna terdengar ragu-ragu memanggil Alvin.


Tak menjawab, sekali lagi dia memanggil nama lelaki itu dengan lebih formal. "Presdir Alvin."


Raut wajah lesu Alvin saat menoleh, membuat Aluna merasa simpati kepadanya. "Tunggu! Ada hal penting yang ingin aku sampaikan. Bisakah kita bicara?"


Alvin mengangguk pelan lalu tersenyum. Tentu saja senyum yang dipaksakan. Walaupun dia tidak percaya dengan ucapan Yuze, namun pikirannya tidak bisa dibohongi, kata-kata Lily dan Yuze terus terngiang di otaknya. Benarkah Luna mempunyai anak? Lalu dengan lelaki mana dia berhubungan? Surut sudah rasa rindunya kepada perempuan itu.


"Aku sangat lelah. Bisakah kita bicarakan di rumah?"


"Baiklah," jawab Aluna.


Di tengah perjalanan menuju mansion mereka berdua banyak diam. Aluna tak berani membicarakan hal yang diketahuinya di depan sopir. Dia ingin mereka hanya berbicara berdua tanpa ada satu pun orang lain yang mendengar.


Tiga puluh menit kemudian. Kini mereka sudah sampai di dalam ruangan Alvin. Duduk saling berhadapan sembari meminum secangkir kopi yang tersaji di atas meja.


"Sekarang katakan apa yang ingin kamu sampaikan," kata Alvin dengan nada tenang. Tak terlihat sedikit pun dia akan mencecar apalagi sampai memarahi Aluna.


Sebelum mulai bercerita Aluna bertanya dulu kepada Alvin. "Aku akan melanjutkan cerita ini asalkan kamu mempercayaiku."


Alvin terdiam sejenak lalu mengangguk.


***


Flashback on.


Di sebuah hotel enam tahun yang lalu. Seorang lelaki tampak berjalan terseok-seok, hampir ambruk berusaha menguatkan kakinya agar terus berjalan. Dia mengenakan kemeja berwarna biru dan celana panjang yang membalut kaki panjangnya.

__ADS_1


Dia adalah Alvin Wiratama yang masih berusia 21 tahun. Lelaki itu baru saja datang dari luar negeri sehari yang lalu. Niat hati malam ini dia ingin mengajak kekasihnya untuk datang di acara pengangkatannya. Berpesta bersama dan ingin memperkenalkan diri sebagai calon istrinya.


Akan tetapi, perempuan yang ditunggunya tidak jua datang dan tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Karena sangat kecewa, Alvin berusaha menenangkan diri dengan meminum minuman keras di acara pestanya. Beberapa botol yang diteguk akhirnya berhasil membuat Alvin mabuk berat.


"Tuan, biar aku bantu!" Seorang pegawai hotel berjenis kelamin perempuan berusaha memapah tubuhnya. Namun baru saja memegang tangan, Alvin langsung menepis tangan pegawai hotel tersebut.


"Lepaskan! Jangan sentuh aku!" Teriak Alvin dalam kondisi mabuk. Dia sangat sensitif kala itu.


Seketika pegawai pun melepaskannya. Kemudian Alvin menuju meja resepsionis, menggunakan sisa kesadarannya untuk memesan sebuah kamar untuk beristirahat.


"Kamar nomor 69 di lantai empat, Tuan. Selamat beristirahat."


Tak lama didapatkannya kunci bernomor 69. Alvin yang tak ingin dibantu siapa pun kembali berjalan seorang diri ke arah lift menuju lantai empat hotel mewah tersebut.


Di lantai yang sama, seorang lelaki bertubuh tambun berkepala botak sedang berbicara dengan perempuan bernama Helen. Sebelum menaiki lift, Helen memberikan sebuah kunci pada lelaki botak tersebut sambil berkata, "Tuan Gio, Luna sudah siap berada di kamarnya. Ini kunci untuk membuka kamar itu."


Tuan Gio tersenyum sambil berbisik. "Apa kamu sudah membiusnya agar tidak sadarkan diri?"


"Tentu saja, bahkan aku sudah melepas seluruh bajunya agar bisa Anda nikmati tanpa susah payah melepasnya," balas Helen.


"Kerja yang bagus. Apa dia masih perawan?" tanya Tuan Gio lagi dengan nada pelan.


Lelaki bertubuh tambun itu kembali tertawa, senang membayangkan akan menikmati tubuh seorang gadis malam ini. Saat itu juga dia mengambil setumpuk uang memberikannya kepada Helen. "Aku beri dulu separuhnya. Setelah aku puas, aku akan mentransfer separuhnya lagi."


"Terima kasih Tuan Gio. Aku yakin kamu akan puas malam ini," kata Helen memberikan kunci bernomor 96.


Ternyata beberapa jam yang lalu, Helen sengaja menjebak Luna dengan memberikan obat tidur agar perempuan itu tak sadarkan diri. Helen sangat benci kepada Luna sampai dia menjual Luna kepada seorang konglomerat tua bertubuh tambun dan botak. Lelaki tersebut bahkan memberikan uang yang banyak kepada Helen.


Sampai di lantai empat, Alvin kembali berjalan. Langkahnya semakin tak seimbang. Bahkan karena matanya tak memakai kaca mata, membuatnya tak dapat melihat jelas, berkali-kali Alvin menabrak orang yang lewat di dekatnya.


"Minggir! Kamu mengganggu jalanku!" teriak Alvin.


Alvin tak sabar karena jalan lelaki botak itu sangat lamban, sementara dia sudah ingin merebahkan diri di kasur.


Tiba-tiba.


Bruk! Karena tak sabar, Alvin sampai menyenggol lelaki botak di depannya dan membuat mereka jatuh bersama.

__ADS_1


"Kau, beraninya menyenggolku!" Bentak lelaki botak marah, dia hendak menonjok wajah Alvin.


"Salah sendiri kenapa jalanmu lamban seperti siput," sahut Alvin berusaha berdiri.


Lelaki tambun masih tak terima dia bahkan hendak memukul Alvin lagi.


Akan tetapi, sebelum tangannya mendarat di wajah Alvin. Seorang petugas kebersihan melerai mereka. Dia lalu menyuruh lelaki botak itu agar pergi.


Akhirnya, karena tak sabar ingin menikmati perempuan yang dibelinya. Lelaki itu memilih pergi dan tak sengaja mengambil kunci kamar Alvin.


"Tuan ini kuncinya, kamarnya tidak jauh dari arah sini," kata pegawai itu.


Lima menit kemudian dibantu pegawai kebersihan, akhirnya sampailah Alvin ke sebuah kamar. Ternyata akibat tabrakan tadi kamar mereka tertukar. Alvin sudah sangat mabuk berat langsung merebahkan diri di atas kasur.


"Wanita sialan beraninya kamu menipuku! Lihat saja kamu akan menyesal tidak datang malam ini." Alvin terus meracau sampai dia tak sadar ada perempuan yang tidur di sebelahnya tanpa sehelai benang pun. Ya, dia adalah Luna yang sedang dijebak Helen.


"Siapa kau? Beraninya tidur di sebelahku. Apa kamu sengaja ingin menggodaku wanita murahan! Sepertinya aku akan mendapat bonus menginap di sini," kata Alvin tersenyum mengelus pipi Luna. Alvin masih dalam kondisi tak sadar, bahkan di otaknya semua wajah perempuan hampir sama terlihat seperti pegawai yang dibawah tadi.


Alvin lelaki yang sangat normal. Diberikan umpan wanita tanpa busana dalam keadaan mabuk seperti sekarang, membuat bira hinya tak dapat dikendalikan. Apalagi Luna saat itu dalam kondisi tak sadar dan terlihat pasrah.


Saat itu juga pergumulan terjadi. Tak peduli dengan siapa dia bermain, Alvin yang sudah tak tahan langsung menyerangnya sampai bi rahinya terpuaskan.


Sementara di kamar lain terlihat lelaki tambun tadi marah-marah. Saat itu juga dia langsung menelepon Helen dan menyuruhnya masuk ke kamar.


"Di mana wanita yang kamu janjikan? Kenapa tidak ada di sini?" bentak lelaki itu ketika Helen memasuki ruangannya.


"Aku, sudah menidurkannya di sini," kata Helen berusaha mengingat-ingat lagi, "tunggu, Tuan. Sepertinya kamu salah kamar."


Helen buru-buru mengecek nomor kamar, dan ternyata memang benar kalau si botak telah salah kamar. Ketika Helen kembali ke kamar Luna, ternyata kamar itu sudah tertutup rapat dari dalam.


"Jadi maksudmu, aku tidak akan menikmati tubuh gadis yang kamu janjikan, Hah!" Lelaki botak terus memarahi Helen.


"Tunggu, Tuan. Ini ada kesalahan Anda. Kenapa bisa ceroboh," kata Helen berusaha membela diri.


Akan tetapi Lelaki botak tak terima lalu menarik Helen ke kamarnya. "Tidak bisa! Aku sudah meminum obat kuat. Kamu harus menemaniku sebagai gantinya."


"Ja-jangan, Tuan. Baiklah aku akan mencari ganti perempuan lain."

__ADS_1


"Tidak bisa! Aku sudah tak tahan sekarang."


__ADS_2