
Awalnya Noah sempat bingung ingin membawa Ara ke mana. Apalagi Alvin tak mengangkat teleponnya. Noah tak bisa menghubungi Aluna karena dia sendiri tak mempunyai nomor perempuan itu.
"Sebaiknya aku bawa Nona Helen ke hotel terdekat. Biarkan dia beristirahat sampai menunggu dia sadar."
Saat itu juga Noah memesan satu kamar hotel yang bersebelahan dengan kafe Amor.
"Aku pesan satu kamar," kata Noah lalu menyerahkan kartu kredit dan kartu identitasnya.
"Terima kasih, selamat menikmati kamar nomor 30 di lantai dua." Petugas resepsionis memberikan satu kunci kepada Noah.
Beberapa menit kemudian, Noah sudah merebahkan gadis itu ke ranjang. Melihat dahi Helen terluka, Noah segera membersihkan dan mengobatinya.
Sementara di tempat lain, di mansion Alvin. Kedua pasangan suami istri itu sudah keluar dari dalam mobil hendak masuk ke dalam rumahnya.
"Aku ingin menelepon adikku dulu," kata Aluna sebelum mereka memasuki ambang pintu.
Aluna mulai menekan kontak Ara di handphonenya. Namun, beberapa panggilannya tak direspon sama sekali oleh Ara.
Ara, kenapa kamu tak mengangkat teleponku? Batin Aluna khawatir.
Melihat ekspresi Aluna yang berubah, Alvin mendekatinya. "Kenapa?"
"Ara tak mengangkat teleponku. Sudah hampir sepuluh kali meneleponnya, tetapi panggilanku tak dijawab sama sekali. Aku sangat khawatir, tidak bisanya Ara tak menjawab teleponku," jawab Aluna.
Wajahnya tampak gusar. Walaupun Ara berada pada tubuh Helen, tetap saja rasa khawatir masih Aluna rasakan.
"Kalau begitu aku akan menelepon Noah."
Alvin mengambil benda berbentuk pipih itu dari sakunya. Alangkah kagetnya dia begitu membuka layar, sudah banyak panggilan telepon masuk dari Noah. Ya, panggilan telepon darinya setengah jam yang lalu.
Tanpa pikir panjang Alvin langsung menelepon balik Noah.
"Apa Helen masih bersamamu?" tanyanya tanpa basa-basi.
^^^"Iya, dia bersamaku. Kami mabuk dan Helen sekarang dalam keadaan pingsan. Tadi dia tak sengaja menabrak pintu kaca. Tadinya aku ingin membawa Helen pulang ke rumah, tapi aku tak tahu alamatnya. Makanya aku bawa saja dia ke hotel," jawab Noah di telepon.^^^
"Di hotel mana kamu membawa Helen? Suruh perempuan itu mengangkat telepon istriku. Luna sangat cemas," kata Alvin.
Apa? Hotel?
__ADS_1
Aluna langsung kaget ketika mendengar pembicaraan Alvin di telepon yang menyebutkan adiknya sedang di hotel bersama Noah. Tiba-tiba dia mendadak emosi apalagi pas tahu adiknya mabuk bersama Noah di kafe tadi.
Aluna langsung merebut handphone dari tangan Alvin. "Kenapa kamu mengajak adikku mabuk? Di mana kamu membawa adikku?" tanyanya dengan nada tinggi.
^^^"Ma-maaf aku tak sengaja mengajaknya mabuk. Sudah aku larang, tapi dia tetap meminum wine yang aku minum. Kami sedang berada di hotel sebelah kafe Amor."^^^
Rasa penasaran Ara memang sangat tinggi. Karena dia menempati tubuh yang sehat, membuatnya selalu ingin menikmati apa pun. Termasuk wine, yang dia sendiri tak tahu kalau minuman itu mengandung alkohol dan bisa memabukkan.
"Mau kamu apakan adikku?"
^^^"Dia pingsan, aku tak tega membiarkannya di kafe menjadi tontonan banyak orang. Aku hanya merebahkan tubuhnya di kasur agar bisa beristirahat. Tidak lebih."^^^
Aluna mendengus kesal. "Awas saja kamu macam-macam dengan adikku. Jangan harap kamu bisa pulang dengan tubuh utuh! Tunggu aku, Aku akan datang sebentar lagi!"
...***...
Noah membasuh mukanya berulang kali, agar kesadarannya bisa lebih baik. Noah sudah menghabiskan tiga botol air mineral dan kembali lagi ke kamar mendekati Helen yang masih tak sadarkan diri.
"Bajunya sangat basah, apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin aku menggantinya sendiri," kata Noah.
Berulang kali Noah mengusap wajah dan menamparnya berulang kali agar tidak khilaf apalagi sampai berbuat me sum. Namun, kadang sesekali timbul niatan Noah untuk mencium gadis yang sedang tak sadarkan diri itu.
"Wajahmu benar-benar sangat cantik mulus tidak ada bekas luka apalagi jerawat. Bibirmu sangat seksi dan merah merekah." Noah terus mendekatkan wajahnya.
"Ah' Noah. Sadarkan dirimu." Noah langsung sadar, dan kembali menampar wajahnya agar tak gelap mata.
"Aku harus menutupi tubuhnya. Biar Luna saja yang mengganti bajunya." Diurungkan niatnya untuk mencium Helen.
Baru saja ingin menutupi perut Helen dengan selimut. Tiba-tiba saja, perempuan itu terbangun, saat tak sengaja tangan Noah menyenggol dua bukit kembar miliknya.
"Maaf, Nona. Aku tak sengaja!"
"Apa yang kamu lakukan?" bentak Helen refleks.
Dua bola mata Helen membulat sempurna menatap nanar Noah yang sedang memegang selimut. Baru saja bangun, dia dibuat kaget dengan kehadiran Noah, lelaki yang menurutnya bukan idaman sama sekali.
"Ka-kamu sudah bangun, No-nona?" Ekspresi Noah terkejut kemudian langsung melepaskan selimutnya begitu saja.
"Kamu! Sedang apa kamu di sini? APA YANG SEDANG KAMU LAKUKAN?" Bentak Helen, suaranya begitu keras bagaikan guntur menggelegar.
__ADS_1
Melihat perubahan drastis sikap perempuan di depannya. Noah langsung turun dari ranjang dan memundurkan langkahnya menjauhi Helen.
Dia sudah berubah lagi. Mungkinkah dia adalah Helen? batin Noah.
Noah teringat ucapan Ara, kalau mereka akan berganti jiwa ketika tertidur. Dan kini ucapan perempuan itu sepertinya terbukti, Noah melihat jelas perubahan mereka secara langsung. Noah yakin kalau wanita di depannya adalah Helen.
"Kurang ajar! Kenapa kamu diam saja? Apa kamu ingin memper kosaku, Hah?"
Helen langsung menyingkap selimut, berdiri dan mendekati Noah. "Berani-beraninya kamu ingin menyentuh tubuhku!"
Plak!
Tiba-tiba saja Helen menampar Noah. "Apa yang sudah kamu lakukan?"
Noah melihat ganas wajah Helen. Ekspresinya setengah kaget, diam saja membiarkan Helen menamparnya dengan sangat keras.
"Aku tidak melakukan apa pun, Nona. Barusan aku melihat Nona mabuk dan membawa ke mari agar bisa beristirahat," ucap Noah. Dia masih terus mengamati perubahan pada diri perempuan itu. Kini Noah mulai yakin, kalau Ara dan Helen merupakan jiwa yang berbeda dan berada pada satu tubuh.
"Bohong! Kau pasti ingin mengambil kesempatan ini untuk memper kosaku?" Helen mencekik leher Noah. Namun kemudian kembali dilepas karena kepalanya terasa sangat pusing.
Kepalaku kenapa pusing sekali? Rasanya sangat pengar, apa yang sedang terjadi? Kenapa aku berada di dalam kamar hotel bersama lelaki payah ini? Batin Helen. Matanya menelisik melihat setiap sudut kamar hotel.
Bau alkohol. Kenapa mulutku bau alkohol?
"Jelaskan padaku kenapa kamu membawaku ke hotel?" Tatapan Helen begitu mengintimidasi.
"Karena--"
Belum sempat Noah mengeluarkan kata-kata, pintu kamar hotel tiba-tiba terbuka. Bukan terbuka sendiri, melainkan Aluna dan Alvin yang membukanya dari luar.
"Ara!" Refleks Aluna memanggil nama adiknya, "kamu sudah sadar?"
...###...
Halo semuanya, sambil nunggu novel ini update. Yuk baca Novel temen aku sesama penulis. Menceritakan kehidupan rumah tangga. Dijamin seru.
Tentunya hanya ada di Noveltoon.
__ADS_1