TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
235


__ADS_3

"Ssst! Teriakanmu bisa membuat orang lain curiga."


Refleks Aluna menutup matanya, dia tak kuat melihat pemandangan di depan. Alvin tak sadar kalau dia belum menutup bagian bawah miliknya.


"Maaf, aku lupa menutupnya!"


Alvin buru-buru meraih handuk dan menutupi bagian bawahnya. Dia cuman bisa tersenyum menunjukkan sederet giginya saat melihat ekspresi Aluna dengan mata terpejam. Bahkan wanita itu sendiri tak sadar bajunya sudah terbuka separuh menunjukkan sedikit bagian dadanya yang menyembul.


"Apa kamu sengaja ingin menggodaku di sini?" bisik Alvin lagi.


Aluna membuka mata saat merasakan napas Alvin yang sangat dekat. Benar saja, lelaki itu terlihat sedang memperhatikan bagian tubuhnya yang terbuka. "Apa yang sedang kamu lakukan? Ah' tidak! Kenapa kancing bajuku juga terbuka?"


Buru-buru Aluna mengancing bajunya lagi. Dia lupa kalau dia sendiri lah yang membukanya tadi.


"Kau sendiri yang masuk dalam keadaan baju terbuka. Sepertinya kau ingin bermain denganku di sini," goda Alvin sambil memeluk Aluna.


"Alvin, jangan main-main. Kita sedang berada di kamar mandi," ucap Aluna berusaha mendorong tubuh Alvin agar tak semakin dekat.


"Kenapa ditutup? Kamu saja tadi sudah melihat seluruh bagian tubuhku," kata Alvin menahan gerakan tangan Aluna saat mengancing bajunya.


Wajah Aluna langsung bersemu merah. Sungguh dia tak sengaja melihatnya. Dia pun tak sengaja menabrak Alvin saat berada di depan pintu tadi.


"Alvin, jangan lakukan sekarang. Kita sedang ada di kamar mandi," kata Aluna saat lelaki itu mulai menempelkan bibirnya.


Alvin tak peduli, sudah tanggung rasanya kalau dia menyia-nyiakan kesempatan itu. "Aku tak peduli. Kamu sudah membuatku berdiri!"


"Apa maksudmu? Bukankah kamu sudah bisa berdiri dari kecil?"


"Bukan aku, tapi adik kecilku."


"Adik kecil?" Mata Aluna melotot sempurna melirik ke arah bawah.


"Kau membuatku gemas." Tak mau membuang waktu Alvin dengan cepat ******* bibir wanita di pelukannya itu.


Baru melakukan pemanasan, pintu kamar mandi sudah diketuk. Sudah pasti Zero lah yang mengetuknya. Zero pikir hanya Aluna yang ada di kamar mandi.


"Mama, ada orang yang mengetuk pintu di luar. Aku tak bisa membukanya, Mama," ucap Zero dari luar.


Alvin langsung ingat dengan Asisten Jo. Ya, barusan dia menyuruh lelaki itu agar membeli baju ganti mereka. Kalau dia tak segera keluar, takutnya Asisten Jo akan pergi lagi. Alvin juga baru sadar, sudah ada Zero yang menunggu diluar.


"Hah." Alvin mengembuskan kasar napasnya. Dia pun bergegas keluar akan membuka pintu, "sepertinya kita lakukan lain waktu saja. Sekarang bukanlah waktu yang tepat."


Aluna mengangguk merasa lega, buru-buru dia mengancing bajunya lagi saat Alvin sudah keluar.


"Papa, bukankah papa sudah keluar? Di mana Mama?" tanya Zero saat Alvin keluar dari kamar mandi.


Alvin kebingungan tak bisa menjawab pertanyaan Zero, dia malah menggendong Zero keluar kamar. "Ayo kita bermain di luar. Sepertinya uncle Jo yang mengetuk pintu," kata Alvin.


Benar saja, baru membuka pintu dia melihat Asisten Jo berdiri di luar kamar sambil membawakan baju yang baru dibelinya. "Tuan, maaf tadi aku tak mengangkat teleponnya. Baterai ponselku habis," ucap Asisten Jo sambil menyodorkan kantong baju, "aku sudah membelikan pesanan Anda. Aku tidak tahu apa ini cocok atau tidak untuk Tuan dan Nyonya."


Alvin meraih kantong tersebut dan menyerahkan Zero kepada Asisten Jo. Dia menyuruh asistennya itu membawa Zero di ruang tengah. Alvin mendapat kabar kalau pelayan telah selesai merapihkan kamar dan menemukan beberapa mainan bekas dia waktu kecil dulu.


"Luna, aku taruh bajumu di depan pintu. Kita lakukan lain kali saja saat Zero tidur nanti," kata Alvin di depan pintu kamar mandi. Alvin menaruh kantung berisi baju di depan pintu.


Aluna tak mau menjawab, dia masih gemetaran di dalam. Sementara Alvin yakin Aluna pasti mendengarnya. Dengan senyum mengembang lelaki itu memutuskan pergi ke kamar satunya untuk mengganti baju.


Alvin, aku belum siap melakukannya, teriak Aluna dalam hati. Berdekatan dengannya saja tadi membuatnya gemetaran.


***


Pelayan vila membawakan banyak mainan bekas Alvin saat kecil. Ada dua kardus, satu berisi mainan balok kayu, dan satu lainya berisi robot dan mobil-mobilan yang masih utuh. Mainan itu adalah kesayangan Alvin saat kecil.


"Lihat, Ze. Ini adalah mainan kesayangan papamu saat kecil," kata Alvin mengambil satu buah robot. Alvin memainkan robot itu dan mengubahnya menjadi mobil di depan Zero. "Ini semua untukmu. Apa kamu senang?"


Mata Zero berbinar. Dia mengangguk dan tak menyangka ternyata mainan itu untuknya semua. Zero sangat menyukai semua mainan yang dibawakan Alvin.

__ADS_1


"Terima kasih, Papa. Aku sangat menyukainya."


Zero meraih robot di tangan Alvin. Warna robot itu sudah memudar karena terlalu lama disimpan di gudang. Alvin membersihkannya sedikit, agar tidak berdebu.


"Besok papa akan belikan mainan yang baru. Ini sudah rusak dan tak layak untuk dimainkan," kata Alvin. Tangan robot itu patah, sangat sulit untuk terpasang lagi.


"Tidak usah, Papa. Ini masih bagus, walaupun satu tangan robot ini patah, dia masih punya tangan satunya," sahut Zero sambil meraih robot di tangan Alvin.


Alvin benar-benar tak menyangka, masih kecil saja Zero sudah bijaksana. Tidak seperti dirinya dulu, melihat mainannya lecet saja dia tak mau memainkannya lagi.


"Tapi papa akan tetap membelikan mainan baru untukmu besok. Kamu boleh meminta apa pun sekarang," kata Alvin.


Mata Zero berbinar, dia sangat senang mendengarnya. "Benarkah, Papa?"


"Yah, tentu saja. Kau bila minta apa pun sekarang."


Zero menelan ludahnya, perutnya tiba-tiba keroncongan. Tadinya Zero tak ingin mengatakannya, tetapi saat Alvin mengatakan dia boleh meminta apa pun, Zero pun akhirnya meminta. "Papa, aku ...."


Zero menunduk melihat ke arah perutnya. Alvin paham dengan isyarat Zero, dia baru sadar belum memberi anak itu makan. Karena saking senangnya tadi, dia dan Aluna sampai melupakan makan malam mereka.


"Kamu lapar, Ze? Makanan apa yang kamu minta sekarang, aku akan menyuruh pelayan membuatkannya," kata Alvin.


Zero tersenyum malu, "Aku ingin makan ...."


Zero kembali menghentikan ucapannya. Matanya masih fokus melihat layar di televisi yang memperlihatkan seseorang sedang memakan hamburger. Cara makan orang tersebut di televisi membuat Zero hampir meneteskan air liurnya.


"Kamu ingin memakan itu?" Tunjuk Alvin.


Zero mengangguk pelan. Baru kali ini dia meminta sesuatu kepada orang tuanya. Zero yakin, Alvin dan Aluna adalah orang baik yang tak akan membuangnya.


"Pelayan Su," teriak Alvin memanggil pelayannya.


Beberapa detik kemudian pelayan Su datang, Alvin menyuruh wanita itu mencari hamburger malam ini dengan diantar Asisten Jo. Alvin tahu, di vila belum ada bahan makanan dan menyuruh pelayannya itu membeli di restoran cepat saji yang terdekat.


"Sambil menunggu hamburger datang, bagaimana kalau kita bermain saja," kata Alvin.


"Balok kayu apa ini, Papa?" tanya Zero melihat kardus mainan satunya.


Alvin melirik, dia baru ingat memiliki mainan itu. Yah, mainan itu dulu adalah kado pemberian kakeknya. Karena dia tak suka, Alvin tak pernah memainkannya dan hanya menyimpannya di kardus.


Alvin meraih salah satu balok, melihat setiap sisinya mencocokkan dengan balok kecil lainnya. "Beberapa balok ini seperti puzle yang harus disusun agar menjadi sesuatu, bisa menjadi apa pun tergantung imajinasimu. Dulu papa, pernah membuat beberapa balok ini menjadi rumah berukuran kecil."


Alvin mencontohkan beberapa balok kecil itu, menumpuknya satu persatu agar menjadi sebuah bangunan. "Anggap ini sebagai pondasi, sisanya kau bisa buat sesukamu, Ze."


Zero mengamati setiap gerakan tangan dan penjelasan ayahnya. Alvin, tak terlalu mahir dia hanya bisa membuat bangunan yang sangat sederhana dari beberapa balok dan bangun ruang kecil lainnya.


"Anggap balok ini adalah kekuatanmu, kemudian salah satu kotak lainnya adalah kecerdasanmu, kamu perlu banyak balok untuk menyusunnya menjadi satu untuk membuat sebuah rumah yang kokoh. Anggap rumah ini adalah dirimu," kata Alvin menjelaskan lagi.


"Berarti aku harus kuat dan pintar agar bisa sekokoh rumah ini, Papa?" celetuk Zero.


"Tentu saja, itu salah satu contohnya. Tapi dalam menyusun rumah ini, kamu perlu banyak balok lainnya. Tidak hanya kekuatan dan otak yang cerdas Zero, tetapi banyak komponen lainnya agar bisa menjadi pribadi yang kokoh dan kuat," kata Alvin lagi.


"Lalu apa komponen lainnya, Papa?" tanya Zero polos.


Meskipun usia Zero belum genap enam tahun. Zero tergolong anak yang cerdas, dia cepat menangkap apa yang diberitahukan ayahnya. Setelah Alvin selesai membuat, Zero pun ingin mencobanya sendiri.


"Kau akan tahu nanti setelah dewasa, Ze. Kehidupan akan mengajarimu banyak hal nanti. Sekarang kau susun sesukamu, papa akan memberimu hadiah nanti," kata Alvin sambil mengusap rambut Zero lembut.


Obrolan keduanya tak sengaja didengar Aluna. Dia melihat dan mendengar dari ambang pintu. Wanita itu tersenyum senang, tiba-tiba dia teringat akan ayahnya dulu. Saat ayahnya mengajari banyak hal sebelum meninggal.


Meskipun sikapmu masih terlihat kaku, ternyata kau sudah sangat cocok menjadi seorang ayah, Alvin. Batin Aluna.


Beberapa menit berlalu hamburger akhirnya didapatkan. Dibantu pelayan, Aluna membawa makanan itu ke ruang tengah. Mereka akan makan sambil lesehan di ruang tengah sambil melihat Zero menyusun balok puzle.


"Wah kau sangat hebat, Ze. Ini sangat mirip seperti miniatur gedung perusahaanku. Lihat, Luna. Putraku sangat hebat!" kata Alvin dengan bangga menunjukkannya kepada Aluna.

__ADS_1


Meskipun tidak terlalu bagus dan sempurna. Menurut Alvin itu terlalu bagus dibuat oleh anak umur lima tahun. Alvin memuji apa yang sudah dibuat Zero. Alvin merasa Zero memiliki bakat di bidang arsitektur.


"Kamu sudah bersusah payah membuatnya. Kamu pasti lapar, Ze. Biar mama suapin," kata Aluna sambil menyodorkan makanan ke mulut Zero.


Zero sangat bahagia, baru kali ini usahanya dipuji. Baru semalam, Zero sangat bahagia seperti berada di dalam mimpinya saat tertidur dulu. Zero merasa sangat beruntung. Zero berharap kalau yang dialaminya sekarang adalah sebuah mimpi, dia ingin tidur selamanya.


"Aku juga sudah bersusah payah, aku pun sama ingin disuapin seperti Zero." Tiba-tiba saja Alvin bersikap seperti anak kecil.


Tadinya Aluna enggan melakukannya. Namun, agar terlihat bahagia di depan Zero. Aluna bergantian menyuapi Zero dan Alvin. Dia merasa seperti memiliki dua anak lelaki.


Aluna banyak menceritakan kehidupannya dulu saat berusia kecil seperti Zero. Mereka berbincang sambil makan malam, kadang tertawa, saling menggoda. Menghibur satu sama lain sampai kenyang dan mengantuk.


***


Beberapa jam kemudian, Zero akhirnya tertidur. Perut kenyang membuatnya mengantuk. Ditemani Aluna, anak kecil itu berbaring di ranjang sambil memeluk Aluna.


Aluna belum bisa mengantuk. Melihat wajah Zero yang tidur sambil tersenyum, membuat dia semakin menyayangi anak kecil itu. Aluna kembali mengingat siapa dirinya sebenernya. Yah, dia sadar kalau dia bukanlah Luna yang asli. Sewaktu-waktu mereka akan berpisah meninggalkan anak itu.


"Aku sangat menyayangimu, Ze. Luna pasti bangga pernah melahirkanmu," ucap Aluna sambil mencium kening Zero.


Rasa haus membuat Aluna turun dari ranjang dan berjalan keluar menuju dapur untuk mengambil minum. Untuk menuju dapur, Aluna harus melewati kamar Alvin.


Pasti Alvin sudah tidur, batin Aluna.


Akan tetapi dugaannya salah. Pintu kamar Alvin belum tertutup sempurna. Beberapa langkah lagi menuju dapur, dia melihat Alvin sedang menggaruk-garuk tubuhnya yang gatal. Serum obat gatal yang sudah dia suntikkan rupanya hanya meringankan, tidak mengobati keseluruhan. Terlihat tubuh Alvin yang memerah, gara-gara terkena debu di mainan tadi, gatal-gatalnya semakin parah.


"Alvin, apa gatal-gatalmu kambuh lagi?" tanya Aluna berjalan mendekati Alvin.


Saat Alvin menengok, wajahnya sudah kemerahan. Dia pun terlihat tersiksa dengan kondisi seperti itu. "Di mana obatnya? Aku akan mengambilkan untukmu," kata Aluna tidak tega.


Alvin terlihat frustrasi karena rasa gatal yang semakin tak tertahan. Baru kali ini dia sangat parah, biasanya gatal-gatal itu akan menghilang setelah dia menyuntikkan Serum obat anti alergi. Serum itu tak dijual di tempat umum, dipesan khusus dari dokter kulit luar negeri. Parahnya Alvin sudah tak memiliki cadangan. Dia harus pulang ke rumah untuk mendapatkan Serum anti alergi di kamarnya.


"Tidak ada di sini, Aluna. Serum itu ada di kamarku," kata Alvin.


"Kalau begitu kamu harus pulang sekarang," ucap Aluna membagi saran.


Alvin menggeleng. Dia lebih baik kesakitan akibat gatal-gatal daripada pulang. Alvin mendapatkan pesan dari Clara, kalau dia diperbolehkan pulang asalkan tidak membawa Aluna.


"Kamu harus pulang. Kulitmu bisa terluka kalau kamu sering menggaruknya," kata Aluna begitu khawatir. "Aku akan menunggu di sini bersama Zero."


Alvin kembali menggeleng. Apa pun alasannya dia tak mau pulang kalau Aluna tak ikut bersamanya. Alvin tak mau mengikuti pesan keluarganya untuk menceraikan Luna.


Mendengar tidak ada apotik terdekat yang menjual Serum itu. Aluna berjalan keluar mencari tempat untuk dirinya berbicara kepada sistem. Dia akan menukar beberapa sisa tas sarannya dengan Serum anti alergi.


"Miss K, bangun," ucap Aluna sambil mengetuk kalung sistem.


Sistem langsung bertanya kepada Aluna, kenapa dia tiba-tiba mengetuk kalung sistem.


"Miss K, tolong aku ingin menukar sisa tas saranku dengan sebuah Serum anti gatal," kata Aluna.


[Tas saran Anda sudah habis, Nona.]


"Kalau begitu aku ingin berhutang dahulu."


[Tidak bisa! Kecuali Anda memiliki sisa tas saran untuk menukarnya.]


"Kenapa kamu sangat pelit sekali? Aku sangat membutuhkannya untuk Alvin. Dia sedang tersiksa karena gatal. Tolong bantu aku, Miss K," ucap Aluna lagi sambil memohon.


[Ada obat lain untuk menyembuhkan penyakit Alvin selain serum itu. Kau bisa mendapatkannya dengan mudah.]


Ekspresi Aluna mendadak segar. "Apa obatnya, Miss K? Di mana aku bisa membelinya?"


[Obat itu ada pada tubuh Anda sendiri, Nona.]


Aluna tak mengerti apa maksud sistem. Dia pun mulai bertanya mengenai obat yang dimaksud. Sistem memberitahukan lebih spesifik tentang obat itu. Yah, rupanya obat itu hanya ada pada tubuh Luna yang akan dikeluarkan saat dia berhubungan ba dan dengan Alvin.

__ADS_1


"Apa?!" Aluna sangat kaget.


[Kalau Anda kasihan dengan Alvin. Anda harus melakukan untuk kesembuhannya, Nona.]


__ADS_2