TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
211


__ADS_3

Hideon terperanjat mendengar pernyataan Mona, kalau dia menginginkan menantu seperti Alvin. Tak ingin memperburuk suasana, dia menarik istrinya tersebut ke dalam rumah.


"Masuk! Aku sangat malu dengan kelakuanmu! Apa kau gila, Alvin itu adalah suami Luna. Bisa-bisanya kamu masih menginginkan Alvin. Sudah aku bilang lupakan masa lalu keduanya, biarkan Helen memilih calon suaminya sendiri," ucap Hideon penuh amarah.


Mona sadar dirinya telah kelepasan berbicara. Mona terlihat berpikir sejenak mencari alasan. "Ma-maksud aku, lelaki yang cocok untuk Helen itu seperti Alvin, kaya dan berasal dari keluarga bangsawan. Tapi wanita itu bukan anakku, apa kamu tak menyadarinya?"


Lagi-lagi Hideon hanya menggelengkan kepala. Dia berpikir tidak hanya Helen yang mengalami depresi tetapi juga dengan istrinya Mona. "Lama-lama aku ikut gila karena kelakuanmu!"


"Masuk ke dalam dan hentikan ocehanmu itu. Atau aku akan menceraikanmu hari ini juga!" sambung Hideon mengancam.


Hideon benar-benar sangat malu. Para tetangga dari jauh membicarakan keluarganya yang berantakan. Dalam keadaan terpaksa, Mona akhirnya diam.


Di luar halaman. Aluna sangat senang mengetahui adiknya telah kembali. Tak ingin bertambah ribut, akhirnya Alvin bersama Noah memutuskan untuk pulang.


"Aku akan kabari lagi lewat telepon. Sebaiknya aku pulang saja," kata Noah sebelum dirinya pulang.


"Daah ..., jangan diambil hati ya. Hati-hati di jalan, kabari aku kalau sudah sampai rumah," kata Ara melambaikan tangannya.


Senyum Ara mengembang, dia terlihat sangat bahagia. Setelah mobil Alvin melaju, Aluna segera menghampiri adiknya lagi. "Adik, ingat kamu sedang tinggal di tubuh Helen. Kamu harus menjaga sikap dan berpura-puralah menjadi Helen yang asli dihadapan orang lain," kata Aluna memberi nasihat.


Ara mengangguk. Dia berjanji tidak akan mengulanginya lagi.


"Apa kamu menyukai Noah?" tanya Aluna penuh selidik.


Ara tersipu malu. Ara akhirnya menjelaskan kalau dia dan Noah sudah resmi berpacaran. Aluna tak melarangnya, dia hanya berpesan agar Ara bisa menjaga diri.


"Sebaiknya kamu temui Mona dan meminta maaf kepadanya sekarang agar dia tak bertambah curiga."

__ADS_1


"Tapi, Kak. Aku tak ingin beristirahat. Aku takut akan kembali lagi ke dunia nyata," kata Ara menunduk.


Aluna memegang pundak adiknya. Dia tahu adiknya pasti tak ingin cepat-cepat kembali ke dunia nyata. Pasalnya, hanya di sini lah dia bisa menjadi wanita normal. Memiliki kekasih, tubuh yang sehat dan keluarga yang utuh. Aluna tahu seperti apa kebimbangan Ara.


"Ara, jangan khawatir. Aku sudah menukar sebagian tas saran dengan kehidupanmu di sini selama sebulan. Kali ini istirahatlah, kamu tak akan berganti jiwa lagi dengan Helen," kata Aluna, "kecuali ...."


"Kecuali apa, Kak?" Terlihat alis Ara yang mengkerut.


"Kecuali kalau terjadi kecelakaan lagi yang menyebabkan kepalamu terluka. Kamu terhubung dengan Helen karena otak dan imajinasimu. Jadi ingat pesan kakak agar kamu selalu berhati-hati di mana pun," sahut Aluna.


Ara sebenarnya ingin bercerita banyak tentang anak yang dicari kakaknya. Sayangnya, Aluna terus menyuruhnya agar menemui Mona dulu.


...***...


Di sebuah desa yang berjarak puluhan meter dari perkebunan strawberry. Terlihat seorang anak lelaki sedang kedinginan di atas kasur. Tubuhnya meringkuk, tangan dan kakinya dia tekuk agar bisa sedikit menghangatkan tubuhnya yang kecil.


"Tunggu sebentar lagi, mungkin Sembo akan menjemputnya besok," jawab suaminya.


"Sekarang sudah lebih dari dua hari. Ini gara-gara ponselmu rusak, sampai kita tak bisa menghubungi mereka. Aku sangat keberatan anak ini ada di sini. Menghidupi kita berdua saja kekurangan apalagi ditambah anak kecil kurus ini! Tidak ada gunanya juga dia di sini karena tak bisa melakukan apa pun." Perempuan yang duduk di tepi ranjang itu terus mengeluh di samping anak yang sedang meringkuk.


Sang suami menghela napas. Dia bingung harus menjawab apa, pasalnya sudah dua hari tak ada kabar dari Sembo kapan mereka akan membawa bocah kecil itu dari rumahnya. "Bersabarlah, karena Sembo akan memberi uang gantinya. Aku dengar, kata Nyonya Sembo anak ini cukup mandiri."


"Mandiri bagaimana? Lihatlah dia sangat kurus sudah berjam-jam dia hanya menghabiskan waktu di atas kasur. Aku tahu cuaca di luar sangat dingin, setidaknya dia bergerak agar tidak membeku di tempat," kata perempuan bernama Bu Han itu terus mengeluh.


Di bawah selimut, Zero mendengarkan obrolan keduanya. Dalam hatinya, dia tak seburuk yang mereka bicarakan. Dari pagi perutnya belum di isi makanan satu pun, hanya beberapa teguk air saja. Zero meringkuk di atas kasur, karena hanya dengan cara itulah dia bisa menahan lapar dengan mengikatkan kain di perutnya.


Zero menyibak selimutnya, berusaha bangkit dengan kaki yang gemetar. Dia tak mau menyusahkan dan dianggap tak berguna. "Aku bisa membuat kayu bakar dan memasak mi instan. Kalau bibi mau, aku akan membuatkannya sekarang," kata Zero dengan suara sangat pelan, "sekarang katakan di mana kayu bakarnya, Bibi?"

__ADS_1


Mata Bu Han langsung membulat. "Hah, benarkah? Kalau iya buktikan."


Zero menegakkan tubuhnya, mengangguk pasti.


"Suamiku, antar bocah kecil ini ke belakang."


Sang suami lalu mengantar Zero ke belakang dan mengajaknya mencari kayu bakar.


Setelah kayu bakar didapat. Pasangan suami istri itu hanya duduk terus memperhatikan Zero. Mereka ingin tahu seberapa mandiri kah anak itu dan membiarkan Zero bertindak sendirian.


Zero memilih beberapa ranting yang sudah kering. Tangan mungilnya mulai menata rapi menjadi beberapa tumpuk menjadi seperti tumpukan api unggun.


"Di mana panci untuk merebus airnya, Paman?" tanya Zero ketika api berhasil dia nyalakan.


Pak Han langsung mengambil panci lalu mengisinya dengan air. "Apa kamu benar bisa memasak?"


"Tentu saja, Paman. Aku terbiasa melakukannya sendiri." Zero merapihkan kayu bakar agar api bisa menyala dengan rata.


Aku pikir anak ini tak bisa diandalkan, ternyata benar dia sangat mandiri, batin Bu Han.


Pak Han dan ibu Han tercengang. Mereka melihat Zero tanpa berkedip. Mereka mulai menyadari kalau Zero sangat tampan. Walaupun berpenampilan kumal, Zero masih nampak rupawan. Saat ini meskipun dia masih kecil, ekspresi wajahnya sudah terlihat muram. Zero tampak terlihat wibawa, seakan ada sosok orang dewasa pada tubuh mungilnya.


"Benarkah kamu berusia lima tahun?" tanya Bu Han masih tidak percaya, karena anak sekecil Zero sudah bisa menghidupkan kayu bakar dengan terampil.


Zero mengangguk, dia terbiasa hidup susah dari kecil. Sejak umur dua tahun, Zero tahu kalau dia bukanlah anak kandung Nyonya Dori. Sudah beberapa keluarga yang berusaha mengadopsi dan kembali berakhir membuangnya lagi kepada Nyonya Dori.


Zero kali ini berpikir dewasa, dia harus bisa melakukan apa pun agar bisa bertahan hidup. Dengan begitu, keluarga yang mengadopsinya tak akan membuangnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2