TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Meminta Maaf


__ADS_3

Aluna dan Ara berpisah tepat ketika taksi datang dan mengantarkan mereka ke tempat tujuan masing-masing. Perasaan Aluna tak menentu ketika taksi yang ditumpanginya sudah melaju ke arah perusahaan Alvin. Dalam hati Aluna, pasti Alvin sedang sangat marah padanya.


"Tolong percepat lajunya, aku sedang terburu-buru," kata Aluna pada pengemudi taksi.


"Iya, Nona. Sudah aku percepat," jawab sopir taksi.


"Tambah lagi kecepatannya, ini masih terlalu lamban."


"Tidak bisa, Nona. Ini sudah paling cepat."


Merasa gemas dengan kecepatan taksi yang menurut Aluna lamban, dia menyuruh sopir taksi turun pindah ke belakang dan menggantikannya mengemudi. Meskipun awalnya sopir taksi itu tidak mau, tetapi akhirnya mau juga ketika Aluna menyuapnya dengan banyak uang.


"Hati-hati, Nona. Kecepatannya jangan terlalu tinggi di jalan ramai seperti ini. Polisi bisa menilangku kalau ketahuan," kata sopir taksi mangingatkan.


"Jangan khawatir, tenang saja." Aluna menambah kecepatan mobil lebih cepat dari sopir itu, menjadi 100 km/Jam.


Akhirnya tak sampai sepuluh menit, taksi yang dia kendarai sudah sampai di depan perusahan Alvin.


"Terima kasih, ini kuncinya."


Setelah menyerahkan kuncinya, Aluna berjalan cepat memasuki lobi sambil merapihkan rambut panjangnya yang berantakan, dan segera melepas switer yang dipakainya.


Di depan lobi, beberapa pegawai menyambut Aluna.


"Selamat pagi, Nyonya Presdir."


"Pagi, apa suamiku ada di ruangannya?" tanya Aluna tanpa basa-basi pada resepsionis.


"Presdir Alvin sedang berada di ruang rapat. Sebelumnya, Presdir Alvin juga berpesan kalau nyonya datang agar langsung ke ruangannya saja," jawab resepsionis.


"Terima kasih," jawab Aluna. Saat itu juga dia berjalan menuju lift hendak menuju ruang rapat di lantai tujuh.

__ADS_1


...***...


Di taksi satunya, terlihat Ara sedang membuka-buka handphone Helen. Di saat dia sedang asik memperhatikan foto Aluna, tiba-tiba ada panggilan masuk dari nomer yang tidak dia kenal. Ara pikir itu adalah nomer Aluna, tetapi nyatanya bukan.


^^^"Halo." Terdengar suara bariton lelaki di telepon.^^^


Suaranya seperti aku mengenalnya, batin Ara.


"Yah, halo," jawab Ara.


^^^"Aku Noah. Kamu Ara, bukan?"^^^


Mendengar dugaannya benar, bibirnya langsung tersenyum. Ara pikir, Noah tak akan menghubunginya lagi.


"Iya aku, Ara."


^^^"Heum ... kenapa kamu malah memblokir WhatsAppku, aku pikir aku telah salah orang."^^^


"Oh, maafkan aku. Sepertinya ... saat aku menghapus kontakmu, aku sedang tidak sadar karena sedang bermimpi. Bahkan aku pernah berjalan saat tidur. Mungkin aku tak sadar menghapus kontakmu," kata Ara. Dia sendiri tak tahu apa yang terjadi.


^^^"Syukurlah. Aku pikir telah salah orang. Eum ... aku hanya ingin memastikan tak salah orang. Bagaimana kabarmu?"^^^


Ara kembali tersenyum mendengarnya. Hatinya langsung berbunga-bunga ketika Noah menanyakan kabarnya. Dia pikir perkenalan dengan Noah kemarin, tidak akan berlanjut sampai sekarang.


Sambil menunggu taksi sampai ke rumahnya. Ara terus berbicara dengan Noah di telepon. Obrolan mereka semakin dekat, Ara juga mengatakan kalau dia sudah menemukan kakaknya kepada Noah.


^^^"Jadi yang kamu maksud Aluna adalah Luna. Bukankah dia kakakmu dari dulu?"^^^


"Iya, dia adalah kakakku juga di dunia nyata."


Mendengar Ara mengatakannya, Noah begitu kaget. Antara percaya atau tidak. Ara berhasil membuat Noah bertanya-tanya dalam hati 'Mungkinkah yang dikatakan Ara benar? Kalau benar, berarti yang selama ini bersama Alvin, bukan istrinya melainkan Aluna dari dunia nyata? Aku harus bertemu Alvin dan menanyakannya langsung,' batin Noah di seberang telepon.

__ADS_1


...***...


Sekarang, Aluna sudah sampai di depan ruang rapat. Aluna berdiri di depan pintu melihat dari celah jendela, memastikan Alvin berada di ruangan itu.


Saat dia mengintip, tak sengaja Alvin yang sedang mengadakan rapat, memergokinya dari dalam. Saat itu juga dia berbisik kepada Sekretaris Sam untuk mengakhiri rapat lebih cepat.


"Rapat saya akhiri lebih cepat. Silahkan pertimbangan lagi saranku untuk perkembangan proyek ini. Untuk informasi selanjutnya kalian bisa tanyakan langsung kepada sekretaris Sam setelah ini," kata Alvin kepada seluruh anggota rapat.


Tak berselang lama satu persatu peserta rapat berdiri lalu meninggalkan ruangan.


"Nyonya, Presdir Alvin menyuruh Anda masuk," kata sekretaris Sam kepada Aluna yang sedang berdiri di luar.


Aluna mengangguk. Dengan langkah pelan dan takut dia berjalan memasuki ruang rapat. Dia yakin Alvin pasti sedang marah. Benar saja saat baru memasukinya, Pemandangan pertama yang dilihat, Alvin sedang menatap tajam ke arahnya.


"Maaf, aku telat." Aluna berkata sangat pelan.


Namun, Alvin tak menjawab.


"Walaupun aku telat, tapi aku datang kan. Tidak mempermainkanmu?" Aluna tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana.


Merasa tidak enak dengan kedua atasannya, sekretaris Sam buru-buru pamit dan meninggalkan mereka berdua. Saat itu juga dia menyela pembicaraan Aluna dengan menunjukkan hasil analisis yang sudah dicatatnya kepada Alvin.


"Presdir Alvin, ini adalah data analisis yang sudah saya kumpulkan. Dari volume transaksi yang aku lihat, data semua investor sampai sekarang masih aman. Saya juga mau melaporkan, ada satu perusahaan yang ingin bergabung lagi dan ingin membuat janji besok siang. Perusahaan itu juga tertarik ingin ikut berinvestasi." Sekretaris Sam menunjukkan hasil laporannya kepada Alvin.


"Segera buat agenda secepatnya. Besok saya hanya punya waktu senggang jam satu siang. Bilang pada perwakilan perusahan itu, saya tidak menerima klien yang datang terlambat. Kalau itu dilakukan, sudah aku pastikan tidak ingin berkerja sama dengannya lagi." Alvin berkata kepada Sekretaris Sam sengaja menyindir Aluna.


"Baik, Tuan. Secepatnya aku akan mengirim email kepada perusahaan itu," jawab sekretaris Sam. Tak ingin berlama-lama di situ, dia lalu meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan.


Setelah Sekretaris Sam pergi, Aluna berjalan pelan mendekati Alvin. "Aku ...."


"Aku tahu aku, salah. Aku minta maaf. Aku janji ini pertama dan terakhir kalinya aku terlam--"

__ADS_1


Belum sempat Aluna meneruskan kata-katanya tiba-tiba Alvin menarik tubuhnya.


__ADS_2