
Di Rumah Sakit.
Beberapa dokter dan tim medis lainnya kembali mendatangi ruang inap Helen, memeriksa kembali kondisi Helen yang pingsan untuk ke dua kali berturut-turut. Sementara, Mona yang semakin ketakutan, berkali-kali menelepon Hideon agar menemaninya di rumah sakit.
Tak menunggu berjam-jam, Hideon pun langsung menuju rumah sakit. Walaupun Helen hanya anak tirinya, tetapi lelaki itu begitu menyayangi. Dia sudah menganggap Helen seperti anak kandungnya sama seperti Luna.
"Apa yang terjadi dengan Helen?" Hideon bertanya langsung kepada Mona yang tengah duduk menyendiri di depan ruang inap.
Ekspresi Mona sangat sedih, terlihat dari matanya yang sembab dan penampilannya yang acak-acakan. Mona sedang tidak memperdulikan penampilannya, dia terlihat frustrasi takut akan kehilangan anak satu-satunya. Mona kembali teringat bagaimana susahnya dia mendapatkan seorang anak. Suatu keberuntungan baginya ketika dokter mendiagnosa sulit memiliki keturunan, beberapa tahun setelah Mona berkali-kali gagal mengikuti program kehamilan, Mona dinyatakan hamil.
Mona bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau tidak ada Helen, mungkin dia akan gila atau berniat mengakhiri hidupnya, pikiran itu sedang memenuhi otaknya.
Hideon duduk di sebelah menenangkan Mona yang terus menangis. Beberapa kali bertanya, Mona masih terus diam. Akhirnya setelah beberapa menit menunggu, Dokter yang memeriksa Helen keluar dan menjelaskan apa yang terjadi kepada Mona dan Hideon di ruangannya.
"Bagaimana keadaan Helen, Dok?" tanya Hideon ikut panik.
"Kondisinya sudah kembali pulih. Pasien sudah dalam keadaan sadar sekarang," jawab Dokter.
"Apa benar Helen mengalami koma dan pingsan selama dua kali, Dok? Apa yang menyebabkan anakku seperti itu? Apa ada penyakit serius yang dideritanya?" Hideon melontarkan beberapa pertanyaan.
"Kami belum menemukan satu penyakit apa pun pada tubuh pasien. Tubuhnya sangat sehat, tekanan darah dan bagian tubuh lainnya masih bekerja dengan normal. Kami menduga sinkop yang dialami pasien berulang kali diakibatkan karena pikirannya yang terlalu stress. Cobalah tanyakan dari hati ke hati apa yang sedang menjadi beban pikiran anak Anda, agar stresnya berkurang." Dokter menjelaskan keadaan Helen kepada sepasang suami istri itu.
Setelah kembali dari ruang dokter, Mona yang didampingi Hideon, langsung mendatangi Helen yang sudah sadarkan diri. Kali ini Helen sangat tenang, tatapan matanya pun kembali seperti Helen yang asli. Dia tidak asing lagi melihat ibunya, sebaliknya Mona begitu takut mendekati Helen, takut anaknya tidak mengenalnya lagi.
__ADS_1
"Mommy," ucap Helen ketika Mona memasuki ruangannya.
"Apa kamu sudah mengingatku?" Mona berjalan sangat pelan.
Pertanyaan Mona langsung dijawab anggukan oleh Helen. "Tentu saja, memangnya aku pernah tidak mengingatmu, Mommy?"
Mendengar Helen kembali memanggilnya 'mommy'. Mona begitu lega, dia langsung memeluk anaknya. Mona sangat bersyukur dan tidak khawatir lagi, karena Helen telah normal dan kembali mengingatnya.
"Suamiku, kamu harus segera mengambil tindakan. Aku tahu akhir-akhir ini anak kita sedang berselisih. Sepertinya karena Luna lah, Helen begitu stress dan mengalami koma. Apa salahnya kalau kamu menasehati Luna agar dia sedikit mengalah untuk adiknya." Mona terus mengeluh kepada Hideon.
Mona tidak tahu kalau setiap kali Helen tidak sadarkan diri akan berganti jiwa.
***
"Sekretaris Fang." Alvin berkata di dekat telinga asistennya itu.
"Ya, Tuan." Sekretaris Fang menjawab.
"Besok, aku akan memberikanmu surat peringatan ke dua, akan menurunkan jabatanmu karena kamu tidak kompeten dan sudah dua kali melakukan kesalahan. Sekarang pulanglah! Kamu bukan asisten pribadiku lagi. Aku dan istriku yang akan menanganinya sendiri." Alvin lalu berjalan meninggalkan Sekretaris Fang yang terbengong, bahkan Alvin menyuruh penerjemah pengganti juga pulang karena tidak datang tepat waktu saat dibutuhkan.
Aluna mendekati suaminya. "Apa kamu yakin akan menurunkan jabatan sekretaris Fang. Kamu tidak akan mengangkat Helen lagi kan sebagai asisten pribadimu?"
Alvin menggeleng. "Tidak! Besok aku akan mencari asisten baru sebagai penggantinya."
__ADS_1
Kini, tinggal mereka berempat. Alvin bersama Luna, sedangkan Tuan Dae Jung di dampingi asistennya berjalan saling beriringan. Aluna banyak menjelaskan kalau di negaranya masakan Korea sangat disukai. Sambil terus bercengkrama mereka memilih bahan makanan apa saja yang akan Aluna masak.
Tuan Dae Jung sangat menyukai makanan tradisional Korea. Meskipun sedang berada di negara lain, dia akan lebih memilih makanan daerahnya sendiri. Kebetulan karena hawa sedang dingin, Tuan Dae Jung meminta agar Aluna memasak sup Hot pot Korea, yang cara penyajian dan metode memasaknya tidak jauh dengan makanan khas negaranya.
Aluna pun setuju, dia memilih langsung bahan makanan segar seperti daging, jamur, dan beberapa sayuran hijau sebagai pelengkapnya. Mendengar Aluna akan memasak langsung untuknya, Tuan Dae Jung sangat tersanjung, dia benar-benar merasa dihormati karena istri presdir langsung yang akan memasak hidangan makan malam untuknya.
Di saat itu juga Tuan Dae Jung yang semula hanya akan bekerja sama selama setahun, berubah pikiran. Dia langsung menyetujui kerjasama dengan perusahaan Alvin selama tiga tahun.
"Terima kasih, Luna. Berkat kamu Tuan Dae Jung mau bekerja sama denganku selama tiga tahun. Dia sangat berpengaruh di Korea. Aku sangat beruntung karena dia memilih perusahaanku dibanding dengan perusahaan besar lainnya. Aku yakin kalau bukan karena kamu, Tuan Dae Jung pasti tidak akan menyetujuinya." Alvin berkata kepada Aluna saat berjalan berdua menuju mobil. Sementara Tuan Dae Jung sudah berada di mobil lainnya menuju vila yang dipesan Alvin.
"Sama-sama, aku sangat senang membantumu," balas Aluna.
Aku harus menanyakan perkembangan sidik jari kepada Noah. Luna banyak membantuku, kini giliranku membantunya. Batin Alvin.
Saat itu juga Alvin yang sedang berjalan bersebelahan dengan Aluna menelepon Noah.
"Halo, Noah. Apa kamu sudah mendapatkan sidik jari Luna dan Helen di pecahan botol itu?" Alvin bertanya kepada Noah di telepon.
^^^"Maaf, Alvin. Sejauh ini kami belum menemukan sidik jari di pecahan botol. Tetapi, tenanglah kami akan menyelidikinya sekali lagi. Kamu jangan khawatir, aku pasti akan membantumu," jawab Noah.^^^
Mendengar belum ada hasil dari penyelidikan Noah, wajah Alvin kembali masam, dia sangat kesal pada dirinya sendiri karena belum bisa menolong Luna.
"Kalau kamu tidak bisa menyelidikinya dengan cepat, aku akan serahkan ke tempat lain. Jangan mengulur waktuku, Noah!" Alvin mendadak emosi.
__ADS_1