
"Sepertinya ada keributan di sini?"
Seorang pria berperawakan tinggi menghampiri mereka bertiga. Yuze, nama pria itu. Ya, lelaki yang kerap disapa tuan muda Yu, merupakan salah satu cucu nenek Alma. Lelaki tinggi tegak itu datang selang sepuluh menit ketika Lily baru sampai.
"Yu, akhirnya kamu datang juga." Lily langsung mendekati Yuze kemudian berbisik di telinganya pelan, "lihatlah Yu, Luna sudah berani melanggar aturan keluarga kita. Sepertinya Alvin menggunakan Luna untuk mendekati nenek."
Siapa lagi dia, pikir Aluna lagi.
Keempat orang itu saling berdiri berhadapan. Aluna berdiri di samping nenek Alma, sementara Lily bersama Yuze berdiri di depannya, mengatupkan bibir sembari menatapnya sinis.
...Ketika mereka sedang bersama-sama terdiam, waktu terhenti sesaat bersamaan dengan munculnya suara sistem....
...[Wanita berambut bergelombang ini adalah, nona Lily anak dari paman Hans, sementara lelaki dengan rambut pirang ini adalah Yuze, salah satu sepupu lelaki Alvin. Mereka tidak menyukai Alvin, Anda harus berhati-hati dengan mereka berdua.]...
Jadi mereka adalah musuh aku sekarang! Pantas dari sorot matanya seperti tidak suka kepadaku! Batin Aluna memandangi mereka satu persatu.
Waktu kembali berputar.
"Kami sedang tidak meributkan apa pun di sini. Benarkan, Nek?" tanya Aluna kepada nenek Alma.
Nenek Alma langsung tersenyum menanggapi, "Benar, sepertinya kalian berdua terlalu mengkhawatirkan keadaan nenek. Lihatlah, sekarang nenek sudah tidak bersedih lagi ketika bermain catur. Luna berhasil mengalihkan perhatian nenek dari kakekmu." Nenek Alma tak henti-hentinya memuji Aluna.
Sejenak, Aluna menatap sinis ke arah mereka. Ingin rasanya ia membawa nenek pergi dari ruangan itu. Tetapi, mengingat posisinya sekarang adalah istri dari Alvin, mau tak mau ia harus menanggapi mereka berdua.
"Kedatangan kalian terlalu mendadak. Maaf aku tidak bisa menyambut tamu yang tidak menyenangkan seperti kalian berdua," ucap Aluna.
Apa? Sudah berani kau rupanya wanita jala*ng! Batin Lily.
"Jangan terlalu kebawa perasaan, Luna. Maaf, kami sudah mengganggu. Bolehkah aku tahu di mana Alvin sekarang? Sepertinya, dari tadi aku tidak melihatnya." Yuze mencoba mencari perhatian dari Aluna agar tidak dicurigai kalau dia sebenarnya membencinya.
Aluna terdiam sesaat, jelas ia tidak tahu di mana Alvin sekarang. Yang ia tahu Alvin meninggalkannya tadi malam untuk bekerja.
"Yu, kenapa kamu bertanya seperti itu? Jelas Alvin pasti sedang sibuk mengurus perusahaannya," sahut Lily.
"Ah' aku lupa. Aku dengar kemarin malam ada acara makan malam juga. Maaf, kemarin keluarga kami tak bisa menghadirinya. Aku bersyukur kalian tidak jadi bercerai," ucap Yuze memanasi.
__ADS_1
Aluna mengepalkan tangannya tidak suka.
Lancang sekali kalian! Batin Aluna.
"Ehm!" Nenek Alma berdehem mencoba mencairkan suasana.
Sejak orang tua mereka memutuskan pergi dari rumah, nenek Alma tidak terlalu dekat lagi dengan kedua cucunya itu. Sekarang, nenek Alma sangat dekat dengan Alvin, membuat mereka iri merasa tidak dianggap. Terlebih Anming, ayahnya Alvin adalah anak pertama, mereka takut kekuasaan akan dilimpahkan kepada Alvin sepenuhnya.
"Sebaiknya kalian beristirahat dahulu untuk acara nanti malam, karena kami masih ingin bermain lagi. Atau ... kalian ingin bermain denganku juga?" tanya nenek Alma menengahi.
Lily langsung menjawab, "Ah' tidak, Nek. Aku tidak bisa bermain catur. Kami hanya ingin melepas kerinduan dengan Luna sebentar. Sudah lama kami tidak pernah bertemu dengannya." Lily tersenyum ke arah Aluna.
"Tidak hanya dengan Luna. Kami juga sangat rindu dengan nenek. Bagaimana kabarmu, Nek?" Yuze lalu memeluk nenek Alma diikuti oleh Lily di belakangnya.
Meskipun ada perasaan tidak nyaman, nenek Alma menerima pelukan kedua cucunya itu. "Kabarku baik-baik saja. Kalau begitu, duduklah! Kita meminum teh sebentar. Tetapi sebelumnya nenek akan merapihkan bidak catur dulu," ucapnya.
Sebelum wanita tua itu mengemasi caturnya, tangan mereka dengan cekatan membantu. "Tidak usah, Nek. Biar kami saja yang merapihkan." Lily dan Yuze berlomba mencari perhatian neneknya.
Sementara Aluna masih berdiri mematung, ia sedang berusaha menilai mereka dari gerak-geriknya. Dari ucapan mereka, sepertinya Aluna sudah mulai paham alasan mereka membenci Alvin.
"Terima kasih, Nek. Luna nanti malam seusai dinner, kami ingin mengajakmu ke bar. Sudah lama kita tak datang ke tempat itu, kebetulan nanti malam Yuze ada acara khusus di sana. Bagaimana? Apa kamu mau menghadirinya, Luna?"
Glek.
Aluna menelan kasar teh di cangkirnya. Belum sempat menjawabnya, nenek Alma sudah menyelanya. "Apa acaranya tidak bisa digabung dinner nanti?" tanyanya.
Yuze membalas pertanyaan neneknya, "Tidak bisa, Nek. Karena ini adalah acara khusus untuk kaum muda."
"Kalau begitu datang saja, Luna. Aku juga ingin kalian kembali akrab lagi seperti dahulu," kata nenek Alma.
Aluna yang sedang menikmati teh mendadak diam dengan ucapan nenek barusan, tadinya ia ingin menolak. Namun, nenek Alma keburu memintanya untuk datang.
"Akan aku pikirkan nanti ..., maaf sepertinya aku harus kebelakang dulu, Nek." Aluna meminta izin ke belakang karena ingin bertanya langsung kepada sistem.
Setelah nenek mengangguk, dengan langkah cepat Aluna ke belakang ruangan yang tidak dilewati siapa pun.
__ADS_1
Aluna menepuk kalung sistem. "Miss K."
Kalung sistem berkedip.
"Apa aku harus datang ke bar malam ini?" tanya Aluna kepada sistem.
...Sistem menjawab, [Sesuai Alur asli, Luna akan ikut dengan Lily dan Yuze ke bar malam ini. Saat malam nanti mereka akan memaksa Luna agar mabuk. Tidak hanya itu, mereka juga akan melecehkan Luna dengan mengirimkan foto terbukanya kepada Alvin]...
Aluna terperanjat mendengar Alur yang diberitahukan sistem. "Apa? Kenapa alurnya sangat menyeramkan?" tanyanya kepada sistem.
...[Nona Aluna, itu adalah alur asli dari novel ini. Mau tak mau Anda harus melaluinya.]...
Kalau itu bukan misi untuk apa aku melaluinya? Asalkan aku tidak pergi ke bar semuanya akan aman, batin Aluna.
***
Makan Malam Keluarga Wiratama.
"Selamat malam, Nek." Alvin mengecup punggung tangan neneknya.
Karena kesibukannya di perusahaan, malam ini Alvin baru bisa menyelesaikannya. Ya, Alvin memang jarang pulang ke rumah, dia adalah lelaki pekerja keras yang tidak akan pulang sebelum pekerjaannya terselesaikan, terkadang Alvin harus tidur di kamar yang dia sediakan sendiri di perusahaan.
"Cucu nenek yang tampan, dari tadi kami sudah menunggumu." Nenek Alma mencium pipi Alvin.
Alvin mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang tengah, mencari keberadaan Luna, istrinya.
"Di mana sekarang Luna? Kenapa dia belum siap, Nek?" tanya Alvin kepada neneknya.
Nenek membalas dengan senyuman, "Luna masih di kamar. Cepat jemput istrimu, Alvin."
Alvin tersenyum simpul, wajahnya sangat berseri-seri. "Nenek, aku akan menjemput Luna sekarang. Alvin tidak sabar nenek segera mengumumkan rencana kami untuk memiliki anak. Aku akan mengikuti saran nenek untuk mempercepat persiapkan kehamilan Luna."
###
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentarnya.
__ADS_1
Terima kasih.