
Dengan gerakan pasti tanpa keragu-raguan, Alvin berjalan menuju pintu kamar tamu yang di tempati Aluna. Pria itu ingin segera menemui Aluna membawanya ke tengah pesta.
Kenapa pintunya tak terkunci? batin Alvin sembari memegang handle pintu.
Rupanya malam itu pelayan sedang membersihkan kamar Aluna, ada satu pelayan wanita di dalam sedang merapihkan kasur.
"Di mana istriku?" tanya Alvin mengagetkan pelayan yang sedang fokus membersihkan dengan alat penyedot debu.
Pelayan yang mendengar itu langsung menghentikan aktivitasnya dan langsung memberi hormat membungkukkan sedikit punggungnya kearah Alvin.
"Nona muda sedang di kamar mandi, Tuan," kata pelayan itu.
"Kalau sudah menyelesaikan tugasmu, segera keluar dari sini, aku ingin berbicara dengan istriku." Alvin masih berdiri menunggu pelayan itu keluar.
"Baik, Tuan!" seru pelayan.
Langkahnya tergopoh-gopoh, tangan kanannya segera meraih alat pembersih debu agar cepat pergi dari ruangan.
Srek.
Saat pelayan tadi hendak meninggalkan ruangan, tanpa sengaja alat pembersih debu yang ia pegang mengenai baju Alvin, membuat Alvin langsung terkaget mendapatinya. Lelaki yang mengidap mysophobia itu mengangkat dagu sembari mengepalkan tangannya marah.
"Beraninya kamu menempelkan benda penuh bakteri itu ke jas yang aku pakai!" ketus Alvin marah.
"Maaf, Tuan! Aku tidak sengaja." Mengetahui ia telah melakukan kesalahan, pelayan itu langsung berlutut ketakutan, meminta maaf di depan Alvin. Ya, ia tahu tuan mudanya sangat gila kebersihan, jangankan tidak sengaja menempelkan alat pembersih debu, pelayan yang memberikan alat makan tanpa menggunakan sarung tangan pun, Alvin tak akan mau memakai alat makan itu. Apalagi sampai alat pembersih debu itu menempel di jas miliknya, jelas Alvin sangat marah.
"Kenapa sangat ceroboh sekali sampai mengenai bajuku?" Alvin lalu melepas jas yang dipakainya melemparnya ke arah pelayan itu. "Segera urus gaji terakhirmu!"
"Apa? Tuan! Aku tidak sengaja melakukannya, tolong berikan kesempatan sekali lagi, aku tidak akan mengulangi kecerobohan lagi." Tangan pelayan gemetar ia menunduk ketakutan.
"Ada apa ini?" tanya Aluna tiba-tiba.
Mendengar suara keributan, Aluna yang sedang berganti baju di kamar mandi langsung keluar. Ya, Aluna sudah siap memakai dress panjang untuk acara makan malam kali ini.
"Luna!" Mata Alvin langsung berbinar takjub melihat Aluna.
"Tuan ... dari kapan Anda ada di kamar ini?" Aluna begitu kebingungan terlebih melihat pelayan yang sedang menangis. "Kenapa kamu menangis?"
tanyanya kepada pelayan itu.
__ADS_1
Pelayan mendekat meminta bantuan kepada Aluna. "Nona! Beri aku kesempatan sekali lagi. Aku masih ingin bekerja di sini," ujarnya.
Melihat pelayan yang memohon kepadanya, Aluna langsung menyuruhnya berdiri. "Memangnya kenapa?" tanyanya.
Pelayan diam tak berani memberitahu masalahnya, dia sangat takut dengan Alvin. Karena tak ada jawaban, Aluna langsung beralih melihat ke arah Alvin, seakan meminta penjelasan kepada lelaki itu.
Saat Aluna menatap tajam ke arahnya, Alvin yang moodnya sedang baik malam ini, akhirnya menarik kembali ucapannya, "Karena malam ini suasana hatiku sedang baik, aku tidak jadi memecatmu. Tetapi ingat! Lain kali kalau kamu bertindak ceroboh lagi, aku tidak segan memberhentikanmu! Sekarang keluarlah dari kamar ini."
Aluna yang tidak mengetahui masalahnya hanya bisa menyipitkan matanya. Ya, Aluna belum terlalu mengenal kepribadian Alvin sebenarnya.
Setelah mengucapkan Terima kasih, pelayan buru-buru pergi sebelum tuan mudanya berubah pikiran. Sementara Aluna hanya bisa menerka-nerka sendiri.
"Luna, nenek sedang menunggu kita, aku ke sini ingin menjemputmu." Aluna melihat perubahan wajah Alvin, semula ketika menghadapi pelayan terlihat marah. Namun, sekarang Alvin terlihat sangat manis di depan Aluna.
"Kenapa dengan pelayan tadi?" tanya Aluna masih penasaran.
Alvin lalu mendekatinya. "Tidak perlu membahas pelayan lagi, tadi aku hanya menghentaknya agar tak melakukan kesalahan lagi. Sekarang kita harus cepat turun ke bawah." Alvin menyodorkan lengannya .
Masih sedikit bingung, mau tak mau Aluna menautkan tangannya ke lengan Alvin.
***
"Yu, apa tadi kamu tidak mendengar kalau Alvin akan segera mempersiapkan kehamilan bersama Luna?" bisik Lily di telinga Yuze, mereka sedang duduk di meja yang sama dengan nenek dan nyonya Clara.
"Kita harus merusak hubungan mereka, kalau tidak posisi kita akan terancam," bisik Yuze menanggapi.
Begitu mendengar Alvin akan mempersiapkan mempunyai keturunan, wajah mereka mendadak sinis. Ya, mereka tidak mau kalau sampai Alvin memiliki anak, kedudukan mereka pasti akan terpengaruhi.
"Selamat malam, Nek!" ujar Alvin dan Luna bersamaan.
Aluna bersama Alvin sudah datang ke tengah pesta, kemudian duduk saling bersebelahan.
Perubahan sikap Alvin kepada Luna, terlihat jelas di mata Clara. Ia yang duduk bersebelahan dengan nenek Alma, tersenyum membalas sapaan mereka berdua.
"Kami sudah tidak sabar menunggu kalian berdua," kata Clara.
"Lihatlah Clara, Luna sangat cantik bukan? Bibit yang unggul untuk keluarga kita." Nenek Alma memuji Aluna di depan mereka semua.
"Ternyata, ayah mertua tidak salah memilih Luna sebagai istri Alvin," sahut Clara.
__ADS_1
"Ibu mertua, Nenek, Terima kasih. Aku sangat tersanjung mendengarnya," sahut Aluna menanggapi.
Melihat kedekatan mereka berempat, timbul perasan iri di hati Lily dan Yuze, sebelumya mereka tak pernah melihat adegan seharmonis itu.
Lewat sepersekian menit, empat orang memasuki ruangan.
"Maaf, kami datang sedikit telat." Seorang pria mengenakan kemeja putih berbicara.
"Duduklah, nenek akan memulai acara makan malam ini," jawab nenek mempersilahkan duduk.
Waktu berhenti seketika bersamaan dengan suara sistem yang terdengar di telinga Aluna.
...[Lelaki dengan kemeja putih itu adalah paman Hans dan istrinya yang bergaun hijau. Sementara wanita bergaun keemasan itu adalah bibi Jia dan suaminya yang mengenakan dasi berwarna senada dengannya ]...
Aluna memandangi satu persatu ke empat orang itu.
Waktu berjalan kembali setelah suara sistem menghilang.
Mereka berempat lalu duduk saling berhadapan di depan meja yang berbentuk persegi panjang itu.
"Baiklah, karena sudah terkumpul semua, aku akan memulai acara makan malam keluarga kita." Nenek Alma berdiri di tengah mereka.
"Selamat atas kemajuan industri keluarga kita. Berkat kerja keras kita semuanya, terutama Alvin. Wt Corporation bisa berkembang semakin besar sepesat ini. Nenek berharap dengan adanya makan malam ini, hubungan kekeluargaan kita semakin erat. Sebelum memulai pembicaraan, silahkan nikmati dulu hidangannya." Nenek Alma berkata sekali lagi menyuruh anak cucunya segera memulai makan malamnya.
Seusai nenek Alma berbicara, semua yang ada di tengah ruangan larut dalam pikiran masing-masing. Terutama Hans, pria itu tak senang ketika nama Alvin dipuji ibunya. Jelas, posisinya sebagai lelaki tertua di situ merasa tidak di hargai.
"Kita mulai acara makan malam ini dengan meminum wine," ucap paman Hans sembari mengangkat gelas berisi wine di tangannya.
Bibi Jia yang duduk berdekatan dengan Aluna, menuangkan wine di gelas Aluna sambil tersenyum penuh arti.
Nenek Alma dan Alvin tidak menyukai Alkohol
Tetapi, mereka tak melarang kalau makan malam kali ini menyediakan minuman itu.
Aluna meraih gelas berisi cairan pekat itu menuju bibirnya. Namun, sebelum Aluna berhasil menenggaknya, Alvin keburu meraih gelas itu dari tangannya.
"Jangan meminum alkohol, tidak baik untukmu. Apalagi sebentar lagi kamu akan mempersiapkan kehamilan untuk anakku," ucap Alvin tegas.
"Uhuk ... uhuk ...."
__ADS_1
Mendengar Alvin mengatakan itu, Aluna yang belum sempat meminumnya langsung terbatuk. Ya, ia sangat kaget ketika Alvin kembali mengatakan menginginkan anak darinya.