TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
224


__ADS_3

"Anak manis, kami adalah orang tua asuh Zero. Dia tak bisa tinggal di sini. Karena sudah menjadi tanggung jawab kami, Zero harus kami bawa pulang," kata Bu Han menenangkan Sindi.


Alis Sindi terlihat mengkerut, aura wajahnya jelas menunjukkan ketidaksukaan terhadap Bu Han. Sindi tak peduli dengan ucapan mereka, dia terus membujuk Sinta agar tidak membiarkan Zero pulang.


"Maaf, anak ini barusan hendak meninggal di tempat karena kebakaran, itu akibat kecerobohan kalian. Kalau kami mengembalikan Zero kepada Anda lagi, sama saja dengan membahayakan nyawanya." Sinta pun berusaha menahan Zero.


"Lagipula kalian tak pantas menjadi orang tua asuh Zero. Memberi makan Zero pun kalian tak layak. Lihat tubuhnya saja sangat kurus. Aku yakin Zero sangat kekurangan gizi. Jangan mengiming-imingi Zero dengan telurmu saja, anak sekecil ini harus banyak makan sayuran dan buah-buahan," ucap Sinta sambil melirik telur yang dibawa Bu Han.


"Yah, aku janji akan memberikannya makan yang layak. Kemarin kami tak punya cukup uang. Tapi lihat, sekarang kami sudah punya uang lebih. Jadi kembalikan anak ini kepada kami," kata Bu Han.


Bu Han sangat licik dan pintar. Dia melakukan berbagai cara agar Zero bisa dibawa pulang. Termasuk mengancam Sinta. "Kami memang bersalah. Tapi tidak salah kami seutuhnya. Miwa lah yang paling bersalah di sini karena telah meninggalkan Zero sendirian di rumah. Padahal kita sudah memberikannya uang sebagai ongkos mengasuh Zero. Kalau kalian ingin menuntun, kita bisa bicarakan nanti dengan Miwa. Aku harus membawa Zero pulang sekarang," ucap Bu Han.


Sinta dan Bu Han terus berdebat. Sinta berusaha agar Zero tak dibawa pulang. Namun, karena dia tak memiliki hak asuh atas Zero. Akhirnya mau tak mau Zero dia kembalikan, dengan syarat dia akan mengambilnya lagi kalau mereka menyengsarakan Zero.


"Tidak apa, Bibi. Aku akan baik-baik saja. Terima kasih sudah menolong dan menyembuhkan lukaku," kata Zero sebelum dia pergi.


Sindi memeluk ibunya, dia sangat sedih karena Zero akan pergi. Karena itu berarti dia tak akan ketemu dan bermain dengan Zero lagi.


"Jangan sedih, aku berjanji aku akan menemuimu dan bermain denganmu lagi nanti. Aku harus pulang Sindi, tempatku bukan di sini," kata Zero berusaha menenangkan Sindi.


Bukannya menjawab Sindi malah bersembunyi di belakang punggung ibunya. Matanya sudah mulai berkaca-kaca, dia berusaha menahan tangis saat teman yang baru dikenalnya itu akan pergi.

__ADS_1


Sesaat sebelum Zero pergi, Sinta sempat berbisik di telinga Zero dan menuliskan nomor telepon di bagian dalam bajunya. Sinta juga berpesan kepada Zero agar cepat menghubungi mereka kalau ada apa-apa dengan dirinya nanti.


"Hati-hati Zero, mereka berdua bukan orang baik. Cepat kabur dan hubungi nomor ini saat dalam kondisi darurat," kata Sinta berpesan.


Zero mengangguk. Setelah berpamitan dengan Sindi, Zero dituntun Bu Han keluar dari rumah.


"Aku masih belum dipecat sebagai pengawal Sindi, jadi aku berjanji akan datang ke sini lagi, Bibi. Lihat, tubuhku sangat kuat, jadi jangan khawatirkan aku," kata Zero menautkan jari kelingkingnya ke tangan Sinta.


"Anak pintar. Jaga dirimu baik-kaik."


Wanita berumur tiga puluh tahun itu tersenyum sambil mengelus pucuk kepala Zero. Sinta terus merayu putrinya agar berhenti menangis saat Zero sudah berjalan menjauh bersama Bu Han.


Sementara di tempat lain, Yuze masih mencari informasi keberadaan Zero. Dia masih berdiri di depan rumah Miwa menunggu kedatangan Pak dan Bu Han. Berulang kali dia menelepon Sembo menanyakan di mana kini suami istri itu pergi, tetapi Sembo malah menjawab tidak tahu.


Yuze tak kehabisan akal, dia bertanya kepada tetangga. Saat itu Yuze bertanya kepada orang yang menggotong Zero ke rumah Sindi tadi. Dia mengatakan kalau Zero hampir saja menjadi korban kebakaran karena kecerobohan Miwa.


"Jadi anak itu hampir mati? Di mana anak itu? Dia bukan anak Miwa atau pun saudaranya. Kami adalah kerabat asli dari anak itu. Tolong beritahukan aku, di mana rumah orang yang menyelamatkan Zero? Bisakah kamu mengantarkan aku ke sana?" tanya Yuze.


Tetangga itu diam dan melirik penampilan Yuze. Dia tahu Yuze adalah orang kaya, dia tak mau memberikan informasi secara percuma.


Yuze tahu apa yang tetangga itu inginkan. Tak mau basa-basi, Yuze langsung menyodorkan beberapa lembar uang untuk tetangga itu. Pada akhirnya, Yuze pun diantar menuju rumah Sindi.

__ADS_1


"Sial, mau ke mana lelaki itu?" tanya Bu Han pada suaminya, mereka terpaksa menahan diri agar tak keluar dari dalam gang, takut bertemu Yuze.


"Sepertinya dia hendak menuju rumah Sinta. Mereka pikir pasti anak ini masih berada di rumahnya. Kita harus cepat membawa Zero pergi, sebelum lelaki itu melihat kita," ucap Bu Han memegang erat pergelangan tangan Zero.


Zero telah mendengar obrolan keduanya. Zero mulai sadar kalau mereka bukan orang tua asuhnya, melainkan dia telah diculik. Yang Zero pikir, Yuze adalah orang baik yang akan mengantarkan pada keluarga aslinya.


"Paman, siapa lelaki itu? Kenapa dia mencariku?" tanya Zero dengan polosnya.


"Dia sepertinya orang jahat dan sepertinya lagi akan menculikmu," kata Bu Han memprovokasi Zero.


Akan tetapi, Zero tak semudah itu dibohoongi. Zero tetap berpikiran, kalau dia harus menemui lelaki itu walaupun hatinya sempat ragu.


"Sepertinya bukan dia yang ingin menculik, tapi paman dan bibilah yang telah menculikku," ucap Zero dengan nada ketus.


"Zero! Apa maksudmu? Jaga ucapanmu! Kalau aku menculikmu, tidak mungkin menitipkanmu kapada Miwa."


"Aku tidak percaya! Aku mendengarnya sendiri tadi kalau Bibi akan menjualku dan memeras uang lelaki tadi."


Tiba-tiba saja Zero menggigit tangan Bu Han dan langsung kabur berlari menjauh.


"Zero, jangan pergi!" teriak Bu Han.

__ADS_1


__ADS_2