
Tidak puas dengan penjelasan Hideon dan Clara, teman-temannya masih dibuat penasaran, pasalnya mereka tak melihatnya secara langsung. Masih berbisik pelan, salah satu wanita berbaju kuning berkata kepada Clara, "Kita masih tak yakin. Bagaimana kalau kita membuktikannya sendiri."
Memang benar, Clara juga masih menyimpan sedikit keraguan pada Aluna kalau menantunya tidak memiliki tahi lalat di tulang selangkanya.
"Jadi kalian masih tidak percaya dengan Luna?" tanya Clara pada teman-temannya.
Salah satu temannya mengangguk menjawab, "Kami masih ragu."
Clara lalu mengambil dompetnya dan berdiri. "Ikut aku! Kita akan membuktikannya langsung!"
***
Sementara di Lorong Kafe.
Aluna langsung melepaskan pelukan Alvin. Dia baru sadar kalau sudah melewatkan kesempatannya untuk membuktikan kalau Luna tidak bersalah.
"Lepaskan aku, Tuan!"
Aluna bersandar di tembok sembari mengaitkan kancing bajunya yang sedikit terbuka.
"Kenapa Anda membawaku kemari? Bagaimana mungkin aku bisa membuktikan tidak bersalah, kalau kita kabur dari acara!" seru Aluna mendengus kesal.
Alvin tersenyum tipis ke arah istrinya seraya menatap manik mata wanita di depannya. Hal yang paling Alvin sukai dari Aluna adalah saat melihatnya marah. Menurut Alvin, istrinya terlihat sangat seksi ketika merajuk padanya.
Kenapa kamu terlihat menggemaskan setiap kali marah. Kalau seperti ini terus, aku ingin sekali memakanmu sekarang, batin Alvin.
"Apa kamu tidak dengar tadi aku sendiri yang mengatakan kalau kamu tidak memiliki tahi lalat, sudah pasti mereka lebih percaya karena aku suamimu," ucap Alvin sangat lembut. Alvin mendekatkan wajahnya tepat di depan Aluna yang hanya menyisakan jarak beberapa inci.
Melihat Alvin yang terus menatapnya, Aluna berusaha mengalihkan pandangannya. Tentu saja Aluna sangat takut terbawa perasaan kepada Alvin, wanita itu sangat takut akan jatuh cinta kepada pria di depannya.
"Tidak! Aku harus kembali, Devan dan Helen pasti sudah menyangka mereka menang. Kalau begini caranya taruhanku akan kalah." Aluna masih ingin kembali ke acara.
Alvin memegang tangan Aluna, mengajak wanita itu kembali ke kamar hotel yang dipesannya. "Sebaiknya kita istirahat. Taruhan itu sudah tidak penting! Yang lebih penting sekarang adalah aku sudah mempercayaimu, wanitaku!" Tangan kanannya mengaitkan anak rambut Aluna ke telinganya yang dari tadi mengganggu pandangan mata Aluna.
Aluna sempat tertegun dengan perlakuan Alvin.
Berhentilah memanggilku dengan kata "Wanitaku" karena itu sangat menakutkan bagiku, batin Aluna.
Ah tidak! Aku tidak boleh terbawa penasaran, aku tidak boleh jatuh cinta padanya, batin Aluna lagi.
Menghembuskan napasnya pelan, Aluna menatap sekilas Alvin, lalu melepas genggaman tangan lelaki itu pelan.
"Tidak! Aku harus kembali ke dalam, Tuan! Aku tidak puas kalau sampai mereka menang. Aku juga ingin memberi pelajaran kepada mereka agar tak menggangguku lagi," ucap Aluna.
__ADS_1
"Tapi tidak dengan-" Kata-kata Alvin keburu dipotong Aluna.
"Aku akan menggunakan cara yang lain," sahut Aluna mencoba menenangkan Alvin. Aluna tahu lelaki itu tidak akan setuju apabila dia membuka kancing bajunya lagi di depan lelaki lain.
Belum mendapat persetujuan dari Alvin, Aluna membalikkan badannya lagi, hendak kembali ke dalam. Yah, dia Ingin menuntaskan taruhannya yang belum selesai.
Namun, sebelum Aluna memasuki ambang pintu, tiba-tiba Clara dan teman-temannya keluar dari dalam lalu menahannya. Rupanya Clara sudah mendengar pembicaraan Alvin dan Aluna barusan.
"Kamu tak perlu masuk ke dalam lagi. Buktikan di depan teman-temanku kalau kamu tak memiliki tahi lalat di tulang selangkamu." Clara menahan langkah Aluna, mereka lalu mendorongnya pelan.
"Apa?" Aluna begitu terperanjat.
Melihat ibu dan teman-temannya mengerubungi Aluna, Alvin yang masih berada di lorong langsung mendekat. Alvin sangat kaget ketika ibunya meminta Aluna untuk membuka kancing kemejanya.
"Tidak, ibu!" seru Alvin mencoba melarang.
Namun, ucapan Alvin barusan tak kalah cepat dari gerakan tangan Aluna yang sudah membuka beberapa kancing kemejanya. Memperlihatkan dengan jelas tulang selangkanya secara utuh.
"Waaah!"
Mata Clara dan teman-temannya membulat sempurna ketika melihat bagian atas dada Aluna. Yah, di sana tidak ada tahi lalat satu pun yang digemborkan Devan kepada mereka. Tentu saja Aluna sudah lebih dulu menghapusnya, tahi lalat itu hanyalah sebagai daya tarik Aluna agar Devan salah berucap dan masuk ke perangkap tipuannya.
Melihat Aluna membuka kancing bajunya, Alvin buru-buru menutupnya. Untung saja yang melihat itu adalah perempuan, kalau tidak Alvin bisa marah besar kepada Aluna setelah ini berakhir.
Alvin yang mendengar Aluna mengatakan itu, langsung menggenggam erat telapak tangannya lagi.
Terima kasih Luna, sudah menyelamatkan pernikahan kita, batin Alvin.
Kenapa dia memegang tanganku lagi.. oh.. tidak! Aluna berusaha melepasnya tetapi tak bisa.
"Ternyata Devan telah berdusta kalau Luna memiliki tahi lalat. Lihatlah, tak ada tahi lalat satu pun di bagian atas dadanya," ucap teman Clara berbaju kuning.
"Benarkan kata aku juga, Luna lah yang benar di sini. Clara, ternyata menantumu sengaja difitnah," sahut teman berbaju kuning menimpali.
Clara tersenyum puas dengan bukti yang dilihatnya. "Aku sudah percaya sekarang. Maafkan aku Luna karena sempat menuduhmu! Sekarang ikutlah denganku, aku akan menghabisi mereka sekarang!"
***
Di Dalam Kafe.
Ketika Hideon sedang pergi ke kamar kecil, Devan bersama Mona dan Helen, merayakan kemenangannya dengan berpesta di satu meja yang sama bekas makan malamnya bersama Luna. Mereka sangat puas dan senang karena bisa mengalahkan Luna.
"Bodoh! Alvin adalah pria yang bodoh! Aku tahu dia sangat takut kehilangan Luna, lelaki itu sengaja menutup tubuh istrinya karena dia tahu Luna memiliki tahi lalat di tulang selangkanya. Alvin adalah lelaki yang payah dan takut dengan kenyataan. Kalau aku jadi dia, melihat istriku terbukti berselingkuh, aku akan menceraikannya di depan umum." Devan berkata sangat lantang.
__ADS_1
Para tamu yang tersisa di kafe, menoleh ke arah Devan yang menjadi pusat perhatian.
"Luna benar-benar perayu ulung, bisa-bisanya mengambil dua hati pria sekaligus. Tidak heran kalau dia dicap wanita murahan!" seru Mona.
Glek. Helen menyesap wine di gelas yang dipegangnya dengan kasar. Sebenarnya Helen sangat cemburu ketika Alvin memeluk Luna di depan umum. Berkali-kali dia hilang konsentrasi karena selalu memikirkan adegan itu. Tak sengaja tangannya menyenggol dompet miliknya sehingga terjatuh di bawah meja.
Saat tangannya hendak meraih dompet miliknya, netra Helen beralih pada kapas kecil dengan noda hitam yang ada di lantai bekas Luna duduk. Yah, Helen sedang duduk di kursi bekas Luna makan malam.
Kapas? Bukankah ini adalah kapas untuk menghapus make up? Kenapa ada di sini? Kenapa ada noda hitam di kapasnya? Jangan-jangan... pikir Helen.
Helen meraih kapas itu, lalu menelitinya sambil berpikir.
Mungkinkah tahi lalat yang ada pada Luna adalah tipuannya? Jadi selama ini dia telah menipu kami? Batin Helen lagi.
Melihat anaknya mendadak diam saja, Mona yang dari tadi tertawa dengan Devan langsung berhenti dan bertanya langsung pada anaknya, "Kenapa denganmu, Nak? Benda apa itu?"
Brak.
Helen mengepalkan tangannya dengan keras setelah menggebrak meja. Kali ini dia sangat marah. "Ternyata kita telah ditipu. Luna sengaja membuat tahi lalat di tulang selangkanya agar kita terjebak dalam perangkapnya. Lihatlah, sekarang wanita itu sudah menghapusnya dengan kapas ini." Helen menunjukkan kapas hapus itu di depan Devan dan ibunya.
Devan terperangah, dia yang barusan berpesta karena kemenangannya menjadi diam membisu. Begitupula Mona, wanita itu kembali gusar. Mereka bertiga saling melihat satu sama lain larut dalam pikiran masing-masing.
"Jadi, sebenarnya Luna..."
"Luna tak memiliki tahi lalat!" Teriak Clara dari ambang pintu.
Ucapan Devan langsung terpotong oleh Clara yang kembali masuk ke dalam Kafe bersama teman-temannya.
Beberapa tamu yang mendengar teriakan Clara, semuanya berdiri, terlebih saat Clara dan teman-temannya berjalan sangat cepat mendekati meja Helen. Terlihat dari raut muka Clara, wanita itu sangat marah.
Plak!
Plak!
Plak!
"Wanita murahan! Berani-beraninya kamu memfitnah menantuku!" Bentak Clara sambil menampar pipi Helen beberapa kali disaksikan semua tamu dan teman-temannya.
###
Sudah mau hari senin guys.
Kalau berkenan, berikan vote untuk novel ini.
__ADS_1
Terima kasih.