TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Mencari di Tempat Sampah


__ADS_3

...[Pecahan botol yang Anda cari ada di sudut barat daya, tepatnya di gunungan sampah ke dua dari arah jalan setapak.]...


Sistem kemudian memberitahukan lebih spesifik di gunungan mana keberadaan pecahan botol. Tak menunggu waktu lama, Aluna bergerak, mengamati setiap gunungan dan arah mata angin yang sistem beritahukan. Benar, tepat di dekat gunungan ada jalan setapak. 'Sepertinya gunungan ini yang Miss K maksud' Aluna membatin ketika melihat satu gunungan sampah paling tinggi diantara tumpukan sampah lainnya.


...[Anda hanya punya waktu sebentar dan sisa beberapa jam untuk menyelesaikan misi.]...


Sistem terus memperingatkan Aluna agar tidak membuang waktu.


"Sebentar, aku harus mencari penutup tangan dahulu, agar tanganku tidak terlalu kotor," ucap Aluna.


Aluna lalu mencari sebuah benda untuk melindungi tangannya, beruntung kakinya sudah mengenakan sepatu yang tertutup membuatnya tak ragu menginjak gundukan sampah yang rata-rata adalah barang-barang bekas yang tidak terpakai seperti alat elektronik dan berbagai perlengkapan kantor lainnya. Gunungan sampah itu sudah terpisah antara sampah organik dan sampah anorganik. Gunungan sampah yang dimaksud sistem adalah tumpukan sampah anorganik.


"Sepertinya plastik ini bisa digunakan untuk menutup kedua telapak tanganku."


Aluna meraih dua buah plastik bening yang tidak terlalu kotor untuk membungkus tangannya. Setelah dirasa cukup aman, Aluna mulai maju ke depan berjalan menaiki gunungan sampah.


"Ah' kenapa bau sekali?" teriak Aluna. Walaupun sudah menutup hidungnya dengan kain, tetap saja bau sampah tetap tercium di indera penciumannya.

__ADS_1


Tahan Aluna, bukankah dulu saat kecil kamu juga pernah mengais beberapa botol rongsok untuk dijual? Anggap saja sekarang kamu sedang bernostalgia.


Sial! Kenapa aku bisa sebodoh ini! Harusnya aku lebih berhati-hati dengan wanita licik seperti Helen. Aluna terus menggerutu sembari melempar satu-persatu sampah yang dipegangnya.


"Harusnya waktu itu aku mengumpulkan botol itu sendiri. Tidak meladeni perdebatan dengan Helen. Lain kali aku harus bisa mengendalikan emosi untuk menyelesaikan masalah apa pun. Kalau begini aku yang merugi, banyak waktu ku yang terbuang akibat emosiku. Harusnya lagi aku tidak meladeni Helen sialan itu. Aku benar-benar menyesal," kata Aluna untuk dirinya sendiri.


Aluna memang terkadang emosional saat menyelesaikan masalah, bahkan di dunia nyata pun begitu. Dia lebih mengandalkan otot daripada otak, terburu-buru dan tak bersikap tenang.


Satu persatu sampah dipilahnya, beberapa kali Aluna sempat menahan napasnya karena bau bangkai yang menusuk hidungnya. Mau gimana lagi, hanya itu cara satu-satunya untuk menyelesaikan misi.


Saat Aluna sedang sibuk mencari pecahan botol, sorang paman petugas sampah diam-diam memperahatikannya. Awalnya dia berpikir yang sedang mengais adalah seorang pemulung yang biasa memunguti barang-barang bekas, nyatanya bukan. Dia sempat kaget ketika ada wanita cantik mengubrak-abrik sampah di saat malam sekarang.


Mendengar ada seorang memanggilnya, Aluna langsung menoleh. "Paman, aku sedang mencari barang milikku yang terbuang di sini. Aku harus mencarinya karena sangat penting," jawab Aluna.


Petugas sampah melihat Aluna tampak iba, karena sepertinya barang yang dicari memang sangat penting, kalau tidak tak mungkin ada wanita cantik yang mau memegang sampah dan berdiri di tengah-tengah gundukan sampah.


"Hari sudah mulai malam, apa tidak sebaiknya dilanjut esok hari saja, Nona? Apalagi sebentar lagi akan turun hujan." Petugas sampah kembali bertanya.

__ADS_1


"Aku harus mencarinya saat ini juga, karena yang aku dengar, sebentar lagi truk pengangkut sampah akan datang beberapa jam lagi. Aku tidak ingin barang yang aku cari diangkut bersama dan akan semakin sulit lagi aku menemukannya." Aluna menjawab tanpa menoleh, dia sibuk meneliti satu persatu sampah di depannya.


Melihat kegigihan Aluna, paman petugas sampah begitu kasihan. Dia lalu mengambil garpu penggaruk sampah agar mempermudah Aluna dalam mencari barang miliknya.


"Nona, pakailah penggaruk sampah ini, agar dapat menemukannya dengan mudah," ujar paman petugas sampah.


Aluna tersenyum lalu meraih besi panjang dengan ujung seperti garpu dari tangan paman petugas sampah. "Terima kasih, Paman. Setelah selesai aku akan mengembalikan lagi di mana?" tanya Aluna.


"Taruh saja di pos sana." Tunjuk paman petugas sampah pada pos kecil di ujung jalan.


Di saat bersamaan, hujan turun dengan lebatnya. Paman petugas sampah yang tidak mau basah kuyup, berpamitan lalu berlari meninggalkan Aluna sendirian. Tetapi tidak dengan Aluna, meskipun hujan sangat deras tidak menyurutkannya dalam mencari pecahan botol. Sudah kepalang tanggung, menurut Aluna.


Di tengah guyuran hujan, Aluna dengan cekatan mencari satu persatu, menyingkirkan sampah-sampah yang mengganggunya dengan besi penggaruk. Berulang kali dia membuka satu persatu bungkus kantong hitam yang ia temukan. Namun, sampai dua puluh menit berlalu tetap saja dia belum menemukannya.


Keringat bercampur air hujan sudah membasahi tubuhnya. Aluna tidak peduli, dia terus mencari dan mencari. Bahkan Aluna sampai tak mendengar bunyi dering panggilan di handphone yang ia taruh di tempat teduh di dekatnya.


Sepertinya hujan telah berhenti, gumam Aluna.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Aluna sudah tidak merasakan lagi air hujan mengenai tubuhnya. Aluna berpikir mungkin hujan telah berhenti. Namun, saat melihat ke depan, Aluna sempat bingung pasalnya hujan masih sangat deras. Aluna baru sadar ada benda di atas kepalanya, dia pun langsung mendongak ke atas. Rupanya ada sebuah payung yang melindunginya dari air hujan.


Sontak, Aluna berpikir mungkin paman petugas sampah lah yang membantunya memegang payung. Tetapi, nyatanya bukan. Aluna tidak tahu kalau dugaannya ternyata salah.


__ADS_2