
Aku harus mencium Alvin sebanyak sembilan kali? Argh! Bagaimana ini? Aluna membatin sembari teus berjalan mondar-mandir di depan pintu.
"Bolehkah aku mencicilnya satu kali sehari sampai sembilan kali?" tanya Aluna, dia terus bernegosiasi dengan sistem.
Namun, sistem terus menolak dan mengatakan tidak.
...[Tidak bisa, Nona. Ketrampilan Anda harus aktif hari ini. Sebelum pulang nanti, Alvin juga harus mengesahkan nona sebagai sekretarisnya agar misi esok hari bisa terus berlanjut.]...
Saat Aluna sedang berdiri di depan pintu sembari berbicara dengan sistem, tiba-tiba Alvin membuka pintu. Membuat Aluna tak sengaja membentur dada Alvin ketika lelaki itu baru memasuki ruangan.
"Luna! Dari kapan kamu ada di sini? Ada perlu apa ke mari?" tanya Alvin terkaget.
"Aku ... eum ...." Aluna masih enggan mengatakan tujuannya.
Karena tak mendapatkan jawaban pasti, Alvin terus berjalan diikuti sekretaris Fang di belakangnya. "Aku sedang sangat sibuk. Tunggulah aku dan duduk dengan tenang di sofa itu sampai aku selesai." Tunjuknya pada sebuah sofa.
Alvin mendudukkan pantatnya di kursi pribadinya, dia lalu memencet tombol telepon hendak menelepon manajer personalia.
"Suruh beberapa pelamar itu masuk. Persiapkan diri mereka karena sebentar lagi aku sendiri yang akan menjadi interviewernya." Alvin berbicara lewat sambungan telepon.
Setelah sambungan telepon terputus, Alvin menyuruh sekretaris Fang meninggalkan ruangannya dan memberikan beberapa berkas untuk diberikan kepada manajer personalia. Tanpa menunggu lama lelaki itu pun mengiyakan dan segera melangkahkan kakinya keluar ruangan.
"Ada perlu apa kamu datang ke kantorku, Luna?" tanya Alvin untuk ke dua kalinya.
Kini tinggal mereka berdua di dalam ruangan. Aluna yang merasa terpanggil langsung memindahkan posisi duduknya dan memilih duduk berhadapan dengan Alvin langsung.
Aluna memberikan senyum termanisnya ketika lelaki itu terus mengamati gerak-geriknya. "Alvin, izinkan aku agar ikut berpartisipasi dalam interview kali ini," ucap Aluna. Rupanya dari tadi dia mendengar Alvin akan memilih kandidat untuk menjadi sekretaris barunya, membuatnya tak ingin melewati kesempatan baru ini untuk ikut mencalonkan diri.
__ADS_1
Alvin yang mendengarnya terlihat mengernyit. Dia lalu menghentikan aktifitasnya sejenak dan memandang ke arah Aluna. "Apa maksudmu, Luna?"
"Aku ingin menjadi sekretarismu. Aku ingin menjadi asisten pribadimu ketika bekerja." Aluna menegaskan tujuannya.
Kata-kata Aluna barusan membuat Alvin ternganga. Dia menggelengkan kepala pelan, menurutnya istrinya itu sedang ingin bercanda dengannya. "Jangan bermain-main, Luna. Aku sedang bekerja dan sedang tidak ingin bercanda. Bukan itu kan tujuanmu kemari? Katakan cepat aku sedang sangat sibuk sekali." Alvin hanya melihat beberapa detik lalu kembali fokus dengan pekerjaannya. Pria yang sedang mengenakan kacamata itu terlihat sangat sibuk menandatangani setumpuk berkas.
"Oh iya, hasil laporan kejahatan Helen sudah keluar. Apa kamu sudah melihatnya?" Alvin berbicara sambil terus sibuk membaca mencoba mengalihkan pembicaraan.
Aluna mengembuskan napasnya kasar, Aluna merasa Alvin telah mengacuhkannya. Dia yang tak ingin menyia-nyiakan waktu lalu berjalan lebih dekat lagi ke tempat Alvin duduk.
Baiklah aku terpaksa menggunakan cara ini! Gumam Aluna.
Aluna menarik bolpoin di tangan Alvin dan menyingkirkan beberapa berkas yang mengganggunya. Dia dengan sengaja duduk di atas meja berhadapan langsung dengan Alvin. Menunjukkan senyum termanisnya sambil terus menggodanya menggunakan gerakan bi birnya yang sen sual.
"Aku serius, izinkan aku menjadi sekretarismu dan menjadi asisten pribadimu di sini." Bisik Aluna di telinga Alvin.
Karena pekerjaannya masih menumpuk, Alvin berusaha merebut bolpoin di tangan Aluna. Namun, wanita itu malah menepis dan melemparnya jauh ke sofa. "Aku ke sini karena ingin menjadi sekretarismu."
Wajah mereka kini sangat dekat hanya berjarak setengah meter saling berhadapan. "Aku bisa mendapatkan keahlian menjadi sekretaris dengan mudah. Asal--" Aluna memotong ucapannya, dia menggigit bi bir bawahnya sembari terus menatap lekat wajah Alvin.
Tiba-tiba saja Aluna melingkarkan tangannya di leher Alvin, membuat lelaki itu sedikit tersentak dan bertanya-tanya dalam hati 'kenapa Luna sangat aneh hari ini?'
"Asal apa, Luna?" tanya Alvin memecah keheningan.
Aluna mendekatkan bibirnya ke telinga Alvin dan kembali berbisik dengan pelan. "Asal kamu menciumku sebanyak sembilan kali sekarang."
"Apa? Menciummu sembilan kali?!" Ucapan Aluna berhasil membuat Alvin terkaget. Wajahnya pun mendadak merah.
__ADS_1
"Yah! Bukankah dulu kamu pernah mengatakan kalau aku harus bilang dahulu ketika ingin menciummu?" Aluna tanpa ragu beralih duduk di pangkuan Alvin dan merangkulnya dengan manja.
"Ta-tapi Luna. Itu mustahil! Aku tidak percaya kalau hanya karena ciuman kamu akan memiliki ketrampilan menjadi sekretaris begitu saja. Apa kamu sedang berhalusinasi?" Alvin mengecek kening Aluna yang dia kira sedang sakit.
Dia sedang tidak sakit, batin Alvin.
Alvin berusaha menstabilkan napasnya karena gerakan tubuh Aluna yang sen sual terus menggodanya. Di tambah lagi posisi Aluna sedang berada di pang kuannya membuatnya tak bisa berpikir jernih. Sebenarnya Alvin sendiri tak menolak kalau harus mencium Aluna berulang kali sampai wanita itu bosan. Namun, karena suasana sedang tidak mendukung dan permintaan Aluna yang sedikit konyol dan terlihat main-main membuatnya enggan tetapi ingin melakukannya.
"Kalau tak percaya kita lakukan sekarang!"
Aluna tak ingin terlalu banyak membuang waktu. Sekejap, bahkan sebelum Alvin membalas ucapannya, tiba-tiba Aluna bergerak cepat. Menarik tengkuk lelaki di depannya lalu memberanikan diri mendaratkan satu ciuman mulus di bi birnya.
Alvin yang tak siap, tak bisa menolak. Dia hanya diam sambil menikmati perlahan setiap se ntuhan yang dibuat Aluna. Mereka terdiam beberapa detik, saling bertatapan.
Tiba-tiba.
"Argh!" Sekretaris Fang yang sudah memasuki ruangan, tak sengaja melihat mereka bermesraan. Membuatnya merasa bersalah dan membalikkan langkahnya berjalan cepat menuju pintu keluar. Dia berpura-pura seperti tak melihat.
Mendengar ada yang datang, mereka berdua terkaget dan saling melepaskan diri. Aluna kembali berdiri dan merapihkan rambutnya yang berantakan sementara Alvin terlihat canggung kembali sibuk dan pura-pura tak terjadi apa pun.
"Ma-maafkan aku, Tuan. Sebaiknya aku keluar saja!" Sekretaris Fang terus menunduk tak berani melihat ke depan, dia merasa bersalah karena telah mengganggu kemesraan atasannya.
Alvin berdehem, menstabilkan emosinya dan kembali memakai lagi kacamatanya. "Katakan, apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Alvin berusaha tenang.
"Maaf, Tuan. Aku hanya ingin memberikan berkas ini dan memberitahukan kalau departemen personalia sudah menyaring tiga kandidat yang layak untuk mengikuti proses interview selanjutnya. Mereka bertiga sudah siap dan berada di ruang konferensi." Sekretaris Fang masih terus menunduk.
Alvin lalu mengambil berkas itu lalu membaca satu persatu biodata calon sekretarisnya. Sementara Aluna terus meliriknya membuat Alvin tak bisa berkonsentrasi.
__ADS_1
Kita lanjutkan setelah ini, Alvin.