
Bersama salah satu tetangga, Yuze berjalan menuju rumah Sinta. Kerena saking gelapnya, Yuze bahkan tak melihat Bu Han yang sedang mengejar Zero.
"Zero berhenti. Jangan berlari jauh, jalan ini sangat gelap dan kakimu bisa tergelincir," ucap Bu Han.
Akan tetapi, Zero tak peduli masih terus berlari dan berlari menghindari Bu Han yang mengejarnya. Dia terus berlari, bahkan tak sekalipun menengok ke belakang. Membawanya semakin jauh melewati semak-semak yang tinggi melebihi tinggi badannya.
"Bibi sudah tak terlihat, di mana paman itu?" tanya Zero dalam kondisi masih berlari.
Setelah beberapa jauh melangkah, Zero baru sadar kalau dia ternyata salah jalan. Desa itu sangat terpencil, dan banyak pohon besar yang mengelilingi di setiap jalan. Zero berputar beberapa kali mencoba mengingat jalan menuju rumah Sindi, namun tetap saja mereka buntu bahkan membawanya sampai memasuki sebuah hutan.
"Di mana aku sekarang? Bukankah ini jalan yang aku lalui tadi?"
Zero terlihat kebingungan mencari jalan keluar. Di umurnya yang belum genap enam tahun, daya ingatnya masih terlalu rendah. Zero tak bergeming, dia terus berjalan ke depan berharap ada jalan diujung yang menghubungkan ke rumah Sindi.
"Kenapa tak ada rumah sama sekali? Di mana aku sekarang?"
Napas Zero terdengar menggebu. Hanya dibantu cahaya bulan, Zero terus berjalan ke depan. Tangannya sibuk mengusir beberapa tanaman yang menggangu jalannya. Zero tidak sadar kalau dia sudah masuk terlalu jauh ke tengah hutan. Dia tak tahu kalau hutan itu sangat berbahaya karena banyak binatang buas yang sedang mengintainya dari jauh.
***
Di kediaman Sinta.
Yuze telah sampai rumah Sindi, tak mau berbasa-basi setelah pintu dibuka, Yuze langsung memperkenalkan dirinya kepada Sinta kalau dia adalah kerabat asli Zero. Yuze terang-terangan mengatakan kalau Bu Han adalah seorang penculik.
"Di mana kedua suami istri itu? Mereka bukan orang tua asuh Zero. Mereka adalah penggila judi yang sengaja menculik Zero untuk mendapatkan yang tebusan," kata Yuze.
"Apa?!" Mata Sinta terbelalak, "jadi benar Bu Han adalah seorang penculik? Aku tidak percaya! Bahkan bisa saja kamu sendiri justru penculiknya. Dari mana aku tahu kalau kamu adalah kerabat asli Zero?"
"Ini adalah identitasku, Nyonya. Anda pasti mengenal keluarga Wiratama? Kami tak kekurangan uang apalagi sampai menculik seorang anak."
Yuze langsung memperlihatkan kartu identitasnya. Dia juga mengatakan kalau ibu dari anak itu adalah sepupunya. Yuze berkata lagi kalau dia ingin menjemput Zero dan ingin membawanya pulang.
"Ternyata benar," kata Sinta masih melihat saksama wajah Yuze dengan kartu identitasnya.
"Kalau Anda tak percaya, aku juga akan mengajak kalian ke rumah kami. Di mana Zero? Aku harus membawanya pulang sekarang," kata Yuze lagi.
"Zero tak ada di sini," kata Sinta.
"Kalau tak ada, lalu di mana anak itu? Jangan bercanda, kami sedang tak main-main. Jangan sembunyikan anak itu," kata Yuze.
Sementara di dalam, Sindi langsung keluar begitu mendengar pembicaraan ibunya dan Yuze. Sindi diam dan terus menyimak pembicaraan kedua orang dewasa itu. Yang Sindi tangkap, Zero kini dalam bahaya.
Kata-kata Yuze membuat Sinta sedikit geram. "Tidak ada Zero di rumah ini. Mereka baru saja pergi dari sini, yah belum ada setengah jam tepatnya. Kalau Anda tidak percaya, periksa saja rumah kami."
Yuze menarik napasnya kasar, dia begitu kecewa karena tak mendapatkan Zero. Yuze yakin Sinta tak berbohong. Dia juga mengatakan kalau tak berpapasan dengan Bu Han di jalan tadi.
__ADS_1
Sinta langsung berpikir cepat, dia yakin kalau Bu Han belum jauh dari desa itu. "Sepertinya mereka masih tidak jauh dari sini."
"Terima kasih informasinya Nyonya Sinta. Sebaiknya aku cepat mencari Bu Han sebelum mereka kabur membawa keponakanku," kata Yuze berpamitan.
Setelah kepergian Yuze, Sindi terlihat murung. Dia tak dapat menahan tangisnya begitu mengetahui kalau Zero telah diculik Bu Han. Tak mau melihat anaknya sedih, Nyonya Sinta langsung menggendongnya, menenangkan Sindi dan berjanji akan ikut mencari Zero.
"Ibu, aku yakin Zero belum keluar dari desa ini," kata Sindi sambil menangis.
"Dari mana kamu tahu, Sindi? Tenang saja, Zero akan baik-baik saja."
"Zero sudah berjanji akan ke sini lagi, jadi dia tak akan jauh dari desa ini."
Sinta memeluk anak perempuan berusia enam tahun itu. Meminta Sindi agar tak perlu khawatir.
"Ibu, jalan desa ini sangat gelap. Kalau Bu Han tak bertemu dengan Paman tadi, berarti mereka lewat jalan belakang dekat dengan hutan. Ayo kita ke sana dan menolong Zero, aku yakin Zero belum jauh." Berulang kali Sindi merengek kepada ibunya agar ikut mencari Zero. Namun karena keadaan sudah malam, Sinta tak menyetujuinya.
***
Di pertigaan jalan, Yuze terlihat kebingungan menemukan jalan utama. Tempat itu memiliki jalan curam dan berkelok. Untuk kembali ke rumah Miwa saja dia harus mengingatnya berulang kali.
"Kita harus berpencar. Cepat cari dua orang dewasa dan satu orang anak kecil yang berjalan malam ini. Berhentikan mereka dan cepat kabari aku kalau bertemu," kata Yuze memberi perintah kepada pengawalnya untuk ikut mencari.
"Baik, Tuan muda."
Yuze yakin hanya mereka bertiga yang berjalan di saat malam seperti sekarang. Pedesaan itu sangat sepi dan hanya ada beberapa rumah yang berjarak berjauhan. Ditambah lagi cuaca sangat dingin, tak ada yang keluar rumah selain dalam keadaan darurat.
"Akhirnya ketemu juga dengan kalian. Di mana anak itu?" Tiba-tiba saja anak buah Yuze berhasil menangkap Bu Han. Tak ingin mereka kabur, anak buah Yuze mencengkeram ke dua suami istri itu membawanya kepada Yuze.
"Lepaskan kami," ucap Bu Han mencoba melepaskan tangannya.
"Jangan kabur! Di mana anak itu?" tanya anak buah Yuze.
"Justru itu lepaskan, kami sedang mencarinya karena anak itu tiba-tiba kabur," kata Bu Han ketakutan. Dia tahu lelaki yang menahan tangannya adalah anak buah Yuze yang dia lihat di rumah Miwa tadi.
"Jangan bohong! Aku bisa saja membunuh kalian sekarang," kata anak buah Yuze mengancam.
"Benar, kami tidak bohong, Tuan. Anak itu tak bersama kami sekarang. Kami juga sedang mencarinya," kata Pak Han memohon.
"Tidak! Aku tidak akan melepaskan kalian sebelum anak itu ditemukan. Ayo ikut aku!"
...***...
Sementara di tempat lain di tengah jalan. Mobil Alvin telah memasuki perbatasan desa. Alvin masih fokus melajukan mobilnya, sementara Aluna dari tadi terlihat gamang, hatinya tidak tenang sehingga pikirannya pun tak fokus.
"Kita sudah memasuki perbatasan. Apa lokasinya sudah mulai dekat?" tanya Alvin.
__ADS_1
Aluna tak mendengar, dia masih fokus dengan pikirannya. Aluna berulang kali mengetuk kalung sistem, berharap mendapatkan petunjuk keberadaan Zero yang akurat.
"Luna," panggil Alvin lagi.
Akan tetapi, Aluna kembali tak menjawab. Dia malah fokus memperhatikan ketiga orang yang sadang bertengkar di pinggir jalan.
"Luna!" Alvin menaikkan nada bicaranya memanggil Aluna kembali.
"Iyah, maaf ... kau tadi bertanya apa?" Aluna kaget, dia malah balik bertanya.
Alvin tahu mereka sangat lelah karena belum menemukan keberadaan Zero. Alvin juga merasa Aluna sedang kelelahan karena belum beristirahat. Berkali-kali Alvin melihat Aluna menahan kantuknya di mobil. Alvin tahu kalau Aluna paling tak bisa menahan rasa kantuk.
"Luna, kalau kau lelah. Tidur saja, biar aku yang akan mencari Zero," kata Alvin.
"Tidak, aku masih kuat dan belum mengantuk. Tunggu, kita sebaiknya turun. Salah satu dari mereka ada yang berpakaian formal. Mustahil di pedalaman desa seperti ini ada lelaki yang berpakaian formal malam-malam begini. Aku yakin orang itu bukanlah penduduk asli sini. Ayo kita turun dan temui mereka," kata Aluna menunjuk anak buah Yuze dari dalam mobil.
Alvin mengerutkan keningnya. Melihat saksama anak buah Yuze dari dalam mobil. Yah, dia pun merasa tak asing dengan wajah lelaki berpakaian formal itu. Menurut Alvin, dia seperti pernah bertemu dengannya di kota.
"Bukankah dia adalah karyawan Yuze?"
"Benarkah? Kalau iya, berarti Yuze sudah lebih dulu sampai sini. Ayo kita turun," kata Aluna mengajak.
Keduanya turun berbarengan, berjalan cepat menghampiri anak buah Yuze yang sedang bertengkar dengan Pak dan Bu Han.
"Kau, bukankah kau adalah asisten pribadi Yuze? Kenapa ada di sini? Di mana Yuze?" Alvin langsung mencecar banyak pertanyaan kepada anak buah Yuze.
Mendengar suara Alvin, anak buah langsung melepaskan tangan Pak dan Bu Han. Dia sangat kaget dengan kedatangan Alvin di desa itu. Sementara Bu Han, dia tampak tercengang ketika melihat wajah Alvin.
Siapa lelaki ini? Kenapa wajahnya sangat mirip sekali dengan Zero? Batin Bu Han.
Bu Han menutup mulutnya dengan telapak tangan. Awalnya dia kaget ketika dia melihat Alvin, yang dia kira adalah Zero dalam wujud lelaki dewasa. Begitupula Pak Han, lelaki itu bahkan mulai gemetar ketakutan.
Matilah kita! Jangan-jangan dia adalah ayah kandung Zero. Wajah lelaki itu hampir seratus persen mirip dengan Zero, batin Pak Han. Hampir saja dia tak bisa bernapas karena saking takjubnya.
"Kenapa kau diam saja? Di mana Yuze?" bentak Alvin.
"Tu-tuan muda Yuze ada di ...." Anak buah Yuze tak berani berkata-kata. Dia hanya bisa menelan ludah, sedang memikirkan alasan untuk berkelit. Dia sudah melihat Yuze ada di belakang Alvin.
"Aku yakin Yuze sedang mencari Zero ke mari. Kenapa kamu bertengkar di dekat jalan? Siapa ke dua orang ini?" tanya Aluna, dia mendekati anak buah Yuze, melotot ke arahnya agar mau menjawab dengan jujur.
"Ha,ha, jadi kalian juga datang ke mari?" Tiba-tiba saja dari arah belakang, mereka mendengar tawa Yuze yang keras.
Semua orang menoleh ke arah Yuze, begitu pula Aluna dan Alvin. Melihat kedatangan Alvin, Yuze tertawa puas dan langsung mendekati Alvin berniat menghinanya.
"Jangan mau dibodohi karena cinta. Anak yang kamu cari adalah anak wanita ini dan selingkuhannya, kenapa kakak mau saja melakukan hal yang sia-sia dengan bersusah payah mencari anak haram itu?" ucap Yuze dengan pongahnya, "Luna adalah wanita murahan. Tinggalkan saja dia!"
__ADS_1
Buk! Ucapan Yuze membuat Alvin geram. Alvin langsung mengayunkan tangannya, mendaratkan bogem mentah tepat mengenai wajah Yuze.
"Jaga ucapanmu, Keparat!"