TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Bertemu Lagi


__ADS_3

Setelah berbicara dengan Aluna di telepon, hati Alvin kembali mencair. Mata Alvin berkilat penuh kepuasan dengan sudut bibir terangkat ke atas. Alvin mengetuk-ngetukan jari-jarinya di sisi kursi, seakan sedang menenangkan hatinya yang masih berdebar.


Aku harus melupakan masa laluku dan hanya fokus dengan Luna.


Ah' Kenapa aku selalu merindukannya sekarang. Bayangan wajahnya selalu muncul di otakku, batin Alvin tersenyum sendiri.


Melihat perubahan ekspresi Alvin, manager bar yang semula takut kini terlihat tenang memberanikan diri mendekati Alvin lagi. Dia ingin menyerahkan pecahan botol kepadanya.


"Tuan, sepertinya ini adalah botol yang Anda cari. Pelayanku bilang ini adalah pecahan botol yang dipecahkan kemarin malam," ucap manager bar menyodorkan plastik berwarna hitam kepada Alvin.


Alvin melirik sebentar, dia terlihat jijik melihat kantung plastik yang kotor dan kumal disodorkan kepadanya. Dia lalu menyuruh asistennya untuk membawa. "Asisten Jo, bawa kantong plastik ini ke bagasi. Kita akan serahkan ke laboratorium Noah sekarang juga," ucapnya pada asisten Jo yang duduk tidak jauh darinya.


"Baik, Tuan!" sahut Asisten Jo berjalan mendekat.


"Apa kamu yakin botol yang kamu berikan tak salah lagi?" tanya Alvin memastikan.


"Betul, Tuan. Aku yakin ini botol yang Anda cari." jawab manager bar.


"Kali ini aku maafkan. Tetapi tidak untuk kesalahan yang kedua kalinya." Ucapan Alvin mampu membuat takut manager bar.


Asisten Jo lalu mengambil kantong hitam dari tangan manager bar. Tanpa menunggu aba-aba dari tuannya, dia segera membawanya keluar akan memasukkannya ke bagasi mobil.


Manager bar terus menunduk, sebenarnya dia sendiri tidak yakin benar atau tidak. Apalagi melihat perilaku pelayan yang menurutnya tidak meyakinkan. "Terima kasih, Tuan." ucapnya.


Karena suasana hati Alvin cukup baik kali ini. Dia tak mengecek dulu isi di dalamnya, pikirannya sudah terkontaminasi bayangan Aluna. Emosi Alvin pun perlahan mereda tak mempermasalahkan lagi kesalahan manager bar.

__ADS_1


"Apa ada yang bisa aku bantu lagi, Tuan?" tanya manager bar lagi.


"Cukup!" jawab Alvin singkat.


Setelah dirasa cukup beres, Alvin memutuskan untuk pulang dan kembali ke dalam mobil. Dia tak sabar menyerahkannya kepada Noah. Namun, sebelum dia berdiri, mata Alvin tak sengaja melihat Helen berjalan dari pintu masuk bar.


Kenapa wanita itu datang ke mari lagi? Batin Alvin penuh selidik.


Walaupun Alvin sudah pura-pura tak melihatnya, tetap saja Helen sudah lebih dulu tahu. Ia malah tersenyum dan berjalan mendekati meja Alvin. "Halo Tuan Alvin, kebetulan sekali kita bisa bertemu lagi di sini," sapanya kepada Alvin.


Alvin terlihat sangat acuh, dia hanya melirik tak membalas sapaan Helen. Kemudian Alvin berdiri dan berjalan melewati Helen yang masih menunjukan keramahan kepadanya.


"Tunggu, Tuan!" Tangan Helen menahan tubuh Alvin.


"Aku terburu-buru! Ada hal penting yang aku selesaikan sekarang!" seru Alvin menurunkan tangan Helen dari dadanya.


Alvin menghela napas pelan, dia melihat jam di tangannya seolah menunjukan kepada Helen kalau sedang diburu waktu. "Apa yang ingin kamu bicarakan? Waktuku tidak banyak!" tegasnya.


"Aku ingin bekerja lagi bersamamu," ucap Helen penuh penekanan.


Alvin menyipitkan mata, perkataan Helen barusan sepertinya telah membuat Alvin sedikit malas menanggapi, mereka mendudukkan pantatnya lagi di sofa.


"Pikirkan lagi Tuan! Aku sudah bekerja lama dengan Anda, banyak hal yang sudah aku dedikasikan di sana. Aku bisa saja bekerja lagi di perusahaan lain, tapi tidak aku lakukan karena aku terlalu nyaman bekerja dengan Anda. Bahkan aku sudah menganggap perusahaan W group menjadi rumah kedua bagiku." Helen berusaha merayu Alvin.


Alvin terdiam sesaat. Ya, memang benar kinerja Helen sangat bisa diandalkan. Alvin pun tak meragukannya. Beberapa tahun bersamanya, Helen sangat membantunya dalam menangani klien khususnya. Helen terkenal dengan keramahan dan sangat pandai mengambil hati para klien.

__ADS_1


"Apa ada kesalahan yang aku perbuat di perusahaan? Tidak ada bukan! Pikirkan lagi, apalagi perusahaan Anda sudah memasuki pasar internasional. Tuan, kita sedang menjalankan proyek besar seperti lotus yang harus banyak bekerja sama dengan banyak investor. Kalau Anda memperkerjakanku lagi, Aku berjanji akan mengambil hati Tuan Dae Jung dari perusahaan Hyun Korea selatan agar mau berkerja sama dengan Anda selama tiga tahun." Helen berusaha merayu Alvin.


Mendengar itu Alvin terdiam seraya berpikir. Sepintas perkataan Helen barusan berhasil membuatnya berpikir ulang, agar tidak memecat wanita itu, mengingat Alvin sendiri masih sangat membutuhkannya. Namun, pikiran itu segera ditepisnya berganti menjadi bayangan kekecewaan Aluna kalau sampai dia menerimanya lagi.


Tidak! Aku sudah berjanji dengan istriku, lagi pula dia sudah banyak berbuat jahat kepada Luna. batin Alvin


Sebagus apa pun kinerja Helen, tetap saja Alvin tidak suka karena akhir-akhir ini ia sering ikut campur urusan pribadinya terutama menyangkut masalah rumah tangganya. Membuat Alvin harus waspada karena Helen sendiri sudah berkali-kali memfitnah Luna.


"Berhentilah memohon, karena itu percuma! Mulai sekarang lebih baik carilah perusahan lain yang mau menampungmu. Aku tidak mau bekerja lagi dengan wanita yang berani mencampuri urusan rumah tanggaku!" seru Alvin melihat jam di tangannya. " Dan sepertinya kita sudah berbicara lebih dari lima menit. Aku sudah tidak ada waktu untuk berbicara denganmu lagi. Permisi!"


"Tu--"


Tanpa menunggu jawaban dari Helen, Alvin langsung berdiri, tak menoleh sedikit pun dia lalu berjalan cepat mendekati pintu keluar. Sementara, Helen yang ditinggalkannya terlihat duduk menatapi punggung Alvin yang semakin menjauh, sudut bibirnya menurun tanda kecewa, tangannya mengepal kuat.


Bertahun-tahun mengenalmu, baru kali ini aku melihatmu berubah. Ada apa dengan Luna? Padahal sebelumnya kamu sangat membencinya, kenapa akhir-akhir ini mereka malah semakin dekat? Tidak bisa dibiarkan! Aku yang bertahun-tahun bersamamu hanya dianggap sebagai angin lalu saja.


Helen terus bergumam di dalam hatinya, dia merasa sudah sangat optimal dalam mengambil hati Alvin. Namun sayang, batu yang ia lempar untuk merusak rumah tangga kakak tirinya itu malah berbalik ke arahnya. Kini, Alvin malah semakin menyayangi Luna dan menjauhinya.


Sesaat setelah kepergian Alvin, Helen kembali teringat tujuan dia datang ke bar lagi. Helen berjalan mendekati manager bar yang tengah duduk di meja kerjanya.


"Selamat siang, Nona. Ada yang bisa aku bantu?" tanya manager mendongakkan kepalanya.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Helen.


Manager bar yang masih duduk membalas dengan senyuman. "Tentu saja, Nona. Aku akan menjawab selama aku tahu."

__ADS_1


Helen tersenyum miring penuh kelicikan. Dia melirik wajah manager bar, menatapnya ramah. "Apa tujuan Tuan Alvin datang ke mari?"


###


__ADS_2