TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Menuju Rumah


__ADS_3

Helen yang merasa panas melihat kemesraan Alvin, akhirnya memberanikan diri menghampiri mereka berdua.


Perasaan iri dan dengki yang mendominasi hati Helen pada Luna semakin membakarnya agar terus mengganggunya. Kecemasan akan kebahagiaan Luna yang tidak ingin dilihatnya. Kecemasan akan kekalahannya dari Luna, selalu menghantuinya. Yah, intinya Helen tidak ingin melihat Luna bahagia.


Helen meninggalkan mona sendirian, lalu berjalan menghampiri Alvin. "Tuan, aku merasa kasihan dengan Anda, sepertinya kak Luna belum bisa memuaskan Anda malam ini."


Aluna yang sedang bernegosiasi dengan Alvin langsung menoleh ke arah sumber suara. Aluna langsung menangkap sosok Helen yang berjalan mendekat ke arahnya.


"Apa maksudmu?" tanya Alvin ketus.


"Padahal baru saja minggu kemarin aku mendapati Kak Luna sedang datang bulan." Helen sengaja memanasi hubungan mereka.


"Apa? Benarkah itu Luna?" Alvin menaikkan nada bicaranya.


Aluna mengatupkan bibirnya, merasa kesal dengan ucapan Helen barusan. Buru-buru Aluna menjawab pertanyaan Alvin, "Tidak benar suamiku, baru hari ini aku mendapati tamu bulanan. Mungkin, Helen melihatnya pas bulan kemarin," katanya berkelit.


Kebetulan kamu datang, aku harus memanfaatkan kesempatan ini agar bisa menghindar dari Alvin. Batin Aluna.


Aluna memincingkan matanya ke arah Helen, lalu menarik lengannya agar pergi menjauh dari Alvin.


"Suamiku, aku ingin berbicara dengan Helen sebentar," kata Aluna memohon.


Alvin tahu kalau Aluna sengaja mencari alasan melarikan diri darinya.


Bilang saja kamu ingin menghindar dariku! Batin Alvin.


Pria itu lalu mengangguk mengiyakan istrinya. "Baiklah!"


Tak menunggu waktu lama, dengan cepat Aluna menarik tangan Helen menjauh dari Alvin. Membawanya ke parkiran yang ada di basement.


***


Aluna tersenyum setengah, menyipitkan matanya ke arah Helen sembari memarahinya setelah sampai basement. "Apa maumu?" Aluna lalu mendorong kasar Helen, membuatnya terhuyung jatuh.


Dengan gerakan pasti tanpa keragu-raguan, Helen langsung berdiri kembali menantang Aluna. "Tentu saja ingin mengganggumu," ucapnya.


"Jangan macam-macam kamu denganku! Apa kamu belum puas sudah aku permalukan?" Aluna menarik dagu Helen mencengkeram dengan kukunya lalu menghempaskan kasar.


Terlihat sisa cakaran Aluna yang membekas di pipinya. Helen yang merasakan sakit di pipinya lalu mengusapnya.


"Kamu pikir aku sudah kalah? Tidak!" Helen melebarkan matanya menyeringai.


Mendengar Helen berkata seperti itu Aluna langsung menarik kasar rambut Helen.


"Ah!" teriak Helen.


Sayangnya mukamu sangat mirip dengan adikku. Kalau tidak aku sudah merusaknya sekarang, batin Helen.

__ADS_1


Jelas dia tak bisa memukuli Helen kali ini. Perasaan kasian Aluna dengan adiknya, masih mendominasi setiap kali melihat Helen. Kesal dan marah sudah pasti, berkali-kali ia harus berurusan dengan ular macam Helen.


Aluna melihat lagi ke tempat ia dan Alvin tadi, dilihatnya ternyata sudah tidak ada Alvin yang menunggunya. Yah, Aluna sengaja menarik Helen mengajaknya berbicara empat mata agar terhindar dari Alvin. Sekarang pria itu sudah tidak ada, Aluna yang merasa lelah, sangat malas berseteru lagi dengan Helen.


Aku harus cepat pergi dari sini, sebelum Alvin kembali dari dalam dan menarikku lagi. Batin Aluna.


Ditariknya rambut Helen lalu menggulungnya dengan kasar berulang kali. "Rasakan kamu!"


"Aaaahhh! Sakit! Lepaskan aku!" teriak Helen, ia merasa perih dan pedas di kulit kepalanya. Kedua tangannya mencoba melepaskan tangan Aluna dari rambutnya. Tentu saja tidak berhasil, Aluna sudah membuat rambutnya seperti sarang burung yang sudah tak karuan bentuknya.


"Kali ini aku melepaskanmu. Tapi lain kali kamu mencampuri urusanku lagi. Aku tidak segan memberimu perhitungan lebih dari ini." Aluna melepas tangannya di rambut Helen yang sudah berantakan dan rontok.


Helen mengepalkan tangannya dan rahangnya mengeras karena tidak bisa membalas perlakuan Aluna. Ia hanya bisa memandangi punggung Aluna yang berjalan menjauh darinya.


Aku akan membalasmu, Luna. Batin Helen.


***


Karena sudah tidak ada Alvin, Aluna buru-buru berjalan menuju mobil Nenek Alma yang terparkir tidak jauh darinya.


"Akhirnya aku bisa menjauh dari Alvin," gumam Aluna sembari membuka pintu mobil di depannya.


Aluna mendudukkan pantatnya di kursi mobil sebelah sopir, sembari mengatur napasnya, membiarkan udara masuk ke rongga hidungnya lalu menghembuskan pelan.


Fiuh.


Merasa lega, Aluna lalu menyandarkan kepalanya ke kursi sembari memasang sabuk pengaman di tubuhnya.


"Antar aku ke rumah sakit Sopir Jo!" seru Aluna kepada sopir pribadi Alvin.


"Baik, Nyonya." Sopir Jo hendak menyalakan mesin mobilnya.


Tiba-tiba.


"Antar kami pulang ke rumah." Suara Alvin terdengar sangat tegas di telinga Aluna, membuat wanita itu terkesiap. Matanya terbelalak sempurna menoleh ke arah belakang kemudi. Ternyata sudah ada Alvin di kursi belakang sedang duduk sambil menyilangkan tangannya di depan dada.


Dengan refleks Aluna menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut. "Tu-tuan! Kenapa Anda ada di sini?"


Alvin tersenyum tipis ke arah Aluna. "Tentu saja karena ingin mengajakmu pulang!" serunya.


Aluna kembali melihat ke depan, dalam hatinya ia baru tahu ternyata Alvin sudah ada di dalam mobil.


"Baiklah suamiku, aku tidak tahu Anda sudah ada di mobil. Sopir Jo, tolong antar aku ke rumah sakit sekarang!" serunya kepada sopir yang dari tadi hanya diam.


"Baik, Nyonya."


"Pindah!" seru Alvin ketika sopir hendak menyalakan mesin mobilnya lagi.

__ADS_1


Aluna kembali terkejut. Apa?


"Kenapa kamu malah duduk di sebelah sopir? Pindah ke belakang! Atau jangan-jangan kamu ingin berdekatan dengan Sopir Jo!" Alvin kembali menunjukan sifat paranoidnya.


Glek.


Sopir Jo menelan ludahnya ketika majikannya menuduh nyonya mudanya ingin mendekatinya. Sopir Jo melihat ke arah Aluna yang sama-sama terkaget dengan ucapan Alvin barusan.


"Kenapa kalian saling melihat? Kenapa kamu tak cepat pindah Luna?" Nada bicara Alvin mulai meninggi.


Aluna yang bingung dengan sikap Alvin, melihat ke arah sopir Jo yang sama bingung. Aluna belum sadar betul kalau Alvin memiliki sifat paranoid kepada pasangannya.


"Pindah! Atau aku akan memecat Sopir Jo sekarang!" Ketus Alvin.


Sopir Jo yang ketakutan menyuruh Aluna agar segera pindah sebelum pria di belakangnya semakin marah. "Aku mohon, sebaiknya Nyonya turuti kemauan tuan muda," ujarnya pelan tanpa melihat ke arah Aluna.


"Baiklah! Ak-" Belum sempat Alvin meneruskan kata-katanya Aluna sudah membuka pintu segera pindah posisi ke belakang.


Dengan perasaan kesal Aluna membuka pintu mobil lalu masuk ke dalam duduk di sebelah Alvin.


Apa dia seperti ini terhadap Luna sebelumnya? pikir Aluna dalam hati melirik Alvin.


"Sekarang aku sudah ada di belakang. Antar aku ke rumah sakit Sopir Jo," kata Aluna.


Alvin lebih mendekatkan tubuhnya ke arah Aluna. "Nenek sudah tidak ada di rumah sakit. Sebaiknya antar kami pulang ke rumah." Alvin menepuk bahu Sopir Jo agar cepat melajukan mobilnya.


"Maksud Anda, Nenek sudah sembuh?" tanya Aluna.


"Yah, Nenek sudah ada di rumah."


Mau tak mau terpaksa Aluna menuruti permintaan Alvin agar pulang ke rumahnya. Tidak ada alasan baginya menghindari Alvin kali ini.


Sambil terus menguap Aluna duduk bersebelahan dengan Alvin, wanita itu sangat kelelahan setelah seharian mencari barang bukti.


"Kalau kamu mengantuk tidur saja di bahuku atau kamu ingin tidur di pangkuanku?" Alvin menyodorkan pahanya menepuk pelan dengan tangannya.


Namun, Aluna menggeleng.


"Tidak suamiku.. hoaeem!" Aluna kembali menguap.


Alvin menarik lembut kepala Aluna menyuruhnya tidur di bahunya. "Jangan bohong! Matamu sudah sangat berat. Tidurlah! Aku tidak akan macam-macam denganmu."


Alvin, batinnya dalam hati.


Sekarang kepala Aluna sudah menempel di bahu Alvin, pria itu lalu membelai pelan rambut Aluna, berusaha membuat wanita disebelahnya agar tenang.


Aku sangat menyukai bau tubuhmu, Vin. Batin Aluna.

__ADS_1


Aluna yang merasa lelah seakan terbius oleh belaian rambut Alvin dan bau tubuhnya. Yah, pria itu berhasil menenangkan Aluna saat ini. Aluna begitu terhanyut oleh rasa kantuknya yang sangat berat. Perlahan mata Aluna menutup pelan saat Sopir Jo sudah melajukan mobilnya.


__ADS_2