
"Ini surat apa, Luna?" tanya Alvin sambil memegang setumpuk surat.
Aluna melihat sekilas, ternyata dugaannya benar kalau Alvin telah memegang surat dari pemilik tubuh yang asli. Sudah waktunya Alvin tahu, pikir Aluna.
"Kamu benar tak mengenal tulisan itu?" Aluna balik bertanya. Harusnya Alvin familier dengan tulisan tangan Luna, karena selama dia di luar negeri Luna selalu mengirimkannya surat dengan tulisan tangan.
"Tulisan di kertas pink ini milik kekasihku Ana. Dan yang biru adalah tulisanku yang kukirim dari Prancis ... kenapa kamu memilikinya, Aluna?"
Alvin tak pernah melupakan tulisan tangan Ana. Dia yakin itu tulisan kekasihnya dulu yang menghilang sebelum mereka bertemu.
Aluna meraih dan membacanya satu persatu. Sangat puitis dan romantis, membuktikan kalau mereka saling menyayangi.
"Tulisan ini Luna istrimu yang buat. Dia adalah Ana, kekasihmu yang menghilang enam tahun yang lalu. Yang selalu menyemangati dan mendukungmu dari jauh ketika kamu di luar negeri. Diia menceritakan kisahnya sendiri di dalam buku harian ini."
Aluna menyerahkan buku harian berikut potongan-potongan kertasnya yang dia temui di kamar Luna dan Helen. Meskipun berantakan dan tidak serapi awal, Aluna sudah menempelkan dengan rapih sesuai tanggal yang Luna buat. Dari Luna awal bertemu dengan Alvin, malam di mana mereka tak saling bertemu dan ketika Luna menikah dengan Alvin.
"Luna adalah kekasihku Ana?" Alvin terus membaca pelan. Satu huruf pun tak pernah dia lewati. Dia baru sadar kalau istrinya itu benar-benar sangat menyayanginya dari dulu dan mereka sudah saling menyayangi. Sayang Alvin baru tahu sekarang dan terlambat menyadarinya.
"Kenapa Luna tak mengatakannya dari awal kalau dia adalah Ana?"
__ADS_1
Alvin merasa sakit di bagian dadanya. Dia tak habis pikir kenapa Luna sampai berbohong. Andai saja dia tak menutupinya, semua mungkin akan baik-baik saja.
"Karena dia sangat takut. Seumur hidupnya Luna selalu merasa takut dan khawatir. Dia takut kamu tidak akan menerimanya begitu tahu dia sudah tidur dengan lelaki lain," kata Aluna membela Luna.
"Dan lelaki lain itu adalah aku. Harusnya dia terbuka, agar aku tak selalu menyakitinya terus menerus," kata Alvin penuh dengan kesedihan.
"Jadi benar kamu menyiksanya dulu?" Nada dari ucapan Aluna sedikit meninggi. Dia sudah membaca buku harian, kalau dulu Alvin sering menyakiti batin Luna. "Apa karena Helen?"
Alvin menggeleng cepat. Jelas bukan karena Helen saja. Tapi banyak faktor lain sehingga dia sangat membenci Luna kala itu. Keluarga, sepupunya bahkan Helen terus menerus memfitnah Luna dengan konflik berat. Yang terakhir adalah mengenai video mesum, saat itulah Aluna datang dan mulai merubah pandangan buruknya tentang Luna.
"Jadi benar kamu tak mencintai Luna? Kamu lelaki yang bodoh!"
"Yah, benar aku hanya mengasihaninya, Aluna. Tapi aku berjanji kalau Luna kembali nanti, aku akan berusaha mencintainya."
"Terlambat!" sela Aluna.
Alvin mendongakkan wajahnya melihat Aluna yang masih berdiri. "Beritahu aku informasi dari sistem yang kamu miliki?"
Aluna merapihkan lagi buku harian Luna, membaca potongan terakhir tulisannya, 'TOLONG AKU, ALVIN. DIA AKAN MEMBUNUHKU!'
__ADS_1
"Apa kamu punya potongan terakhir kertas dari buku ini?" tanya Aluna.
Alvin terdiam sambil mengingat dengan keras. "Aku tidak tahu. Tapi ...."
Aluna duduk sejajar dengan Alvin. "Tapi apa? Katakan!"
"Aku pernah melihat Helen membawa buku ini."
Aluna mengembuskan napas berat. Kemungkinan dugaannya selama ini benar kalau yang membunuh Luna adalah Helen. Bisa saja motifnya karena dia ingin merebut Alvin dari Luna.
"Kenapa kamu membiarkan buku harian istrimu berada pada tangan wanita lain? Lihat dia meminta bantuan padamu? Tapi saat itu kamu tak peduli!" Aluna menunjukkan tulisan Luna di kertas terakhir.
Alvin pun tak tahu kenapa saat itu dia bisa takluk kepada Helen. Alvin merasa, seperti ada sesuatu yang mengatur kehidupannya. Dia sangat arogan dulu kepada Luna. "Aku tidak tahu, Luna. Saat itu pikiranku sedang sangat kacau. Maafkan aku!"
"Kenapa harus meminta maaf padaku? Kamu sangat tidak peduli dengan Luna dari dulu. Jadi, jangan salahkan aku kalau dia tak akan pernah kembali lagi," kata Aluna dengan tatapan mata serius.
"Apa maksudmu Luna?"
"Kamu akan tahu jawabannya nanti."
__ADS_1