
"Siapa perempuan itu? Sejak kapan Paman menduakanku?" tanya Lisa begitu marah.
Lisa sangat frustrasi dan marah. Terlihat dari matanya yang berkilat, membuatnya harus mengembuskan kasar napasnya berulang kali. Lisa kembali menangis sembari memegang dadanya. Dia merasa seolah beban berat sedang menekan dadanya dan membuatnya kesulitan bernapas.
"Lain waktu aku akan memberitahukannya. Lisa, maafkan aku. Aku hanya bisa menjadikanmu sebagai adik, tidak lebih!" Noah berkata sambil terus menenangkan perempuan di depannya agar berhenti menangis.
"Hiks ... aku tidak mau! Sudah aku bilang, aku tidak mau hanya menjadi adikmu. Siapa perempuan itu? Aku akan memberi perhitungan kepadanya sekarang!"
Lisa yang tak tahan mengambil paksa handphone Noah. Dengan gerakan cepat jari tangannya menggulir deretan semua pesan, khususnya dari perempuan di aplikasi berwarna hijau.
"Lisa! Apa yang kamu lakukan? Berikan handphoneku!" Noah berusaha meraih handphone miliknya. Namun, Lisa semakin menjauhi, dia membuka satu persatu semua pesan di handphonya.
"Aku tidak percaya, Paman!"
Sayangnya Lisa tak menemukan satu pesan yang mencurigakan pun dari perempuan. Membuatnya menduga kalau Noah hanya mencari alasan untuk putus dengannya. Dia lalu memberikan handphonenya lagi kepada Noah.
"Kalau kamu tidak percaya! Aku akan memperkenalkannya besok!" seru Noah, "pulanglah! Ibumu pasti sedang mengkhawatirkanmu. Aku sedang bekerja dan tak bisa diganggu," tambahnya sambil mengusap air mata Lisa di pipinya.
Setelah mendapatkan handphone, Noah membalikkan badan lalu meninggalkan Lisa yang sedang menangis tersedu-sedu. 'Maafkan aku, Lisa. Mulai sekarang kamu harus bisa melupakanku' Batin Noah.
Sebenarnya dalam hati Noah, dia begitu tertekan. Ya, jauh dalam lubuk hatinya yang dalam, Noah masih menyayangi Lisa. Sayangnya Noah tak sanggup menghadapi ke dua orang tuanya. Dia tak mau harga diri keluarganya diinjak-injak lagi.
***
Di Perusahan Alvin.
Satu kandidat sudah dipilih Alvin sebagai sekretarisnya. Meskipun begitu, sebelum dia mulai bekerja besok, Alvin ingin mengetesnya dulu dengan memberinya tugas membuat satu dokumen untuk agenda meeting esok hari. Alvin menyuruhnya mengatur jadwal klien agar tidak bentrok.
__ADS_1
"Sebelum aku menerimamu, selesaikan ini cepat! Saya beri waktu sepuluh menit dari sekarang." Alvin menyerahkan setumpuk kertas data-data klien yang akan bertemu dengannya besok.
"Baik, Tuan!" jawab Sam, nama sekretaris baru Alvin.
Dengan gerakan cepat, lelaki itu langsung membuka komputer, langsung membuat file laporan yang dipinta Alvin detik itu juga.
Sementara di luar ruangan. Sebelum Aluna masuk ke dalam ruang interview, Aluna sempat berbicara dengan sistem. Berulang kali sistem mengingatkannya untuk menyelesaikan tugasnya cepat sebelum mereka pulang nanti.
...[Nona, harus menciyum paksa Alvin. Karena lelaki itu tidak mau melakukannya di dalam kantor. Dia sosok pimpinan yang tidak suka mengumbar masalah pribadi apalagi sampai bermesraan di dalam kantor.]...
"Apa aku harus mengikat tangannya dulu agar lelaki itu mau, hah? Itukan lucu, seakan-akan aku berniat ingin .... Aku tidak mau terlihat agresif dan murahan di mata Alvin!" Aluna mendengus kesal.
...[Tidak masalah, Nona. Karena pemilik tubuh asli yang Anda tempati adalah istri Alvin yang sah. Anda tidak akan dinilai murahan. Jangankan menciyumnya, berhubungan ba dan pun harusnya kalian lakukan!]...
"Apa! A-aku tidak bisa membayangkannya Miss K. Kalau yang itu aku belum siap." Aluna menutup matanya dengan kedua tangan. Dia tak mau membayangkan hal-hal yang belum dia inginkan.
Kerena merasa risih, Aluna memutuskan obrolannya dengan sistem. Dia membuka pintu ruang interview hendak menemui Alvin.
Kenapa masih ada orang! Gerutu Aluna.
Dengan gerakan pelan, Aluna berjalan menuju meja Alvin. Semetara Alvin sendiri tengah sibuk dengan komputernya. "Kamu belum pulang, Luna?" tanya Alvin.
Aluna menggeleng pelan. Diliriknya sekilas seorang lelaki yang tampak sibuk. Tadinya Aluna ingin cepat menyelesaikan tugas hari ini. Namun, karena ada orang selain mereka, Aluna pun terpaksa menundanya.
"Apa dia sekretaris barumu?" tanya Aluna.
Alvin yang masih sibuk hanya mengangguk tak mengeluarkan kata satu pun.
__ADS_1
"Jadi kamu tak mau menerimaku sebagai sekretarismu?" Aluna mengerucutkan bibirnya dan menaikkan nada bicaranya. Dia merasa kesal karena Alvin tak bisa diajak kompromi.
"Luna, lihatlah tugas sekretaris baru itu, sangat banyak bukan? Aku tidak ingin memberatkanmu, Luna. Sebaiknya kamu pulang dan duduk manis di rumah," kata Alvin.
Tiba-tiba sebuah notifikasi pesan masuk di emailnya. 'Rapat besar akan dilaksanakan sepuluh menit lagi' Alvin membaca isi pesan itu.
Kali ini Alvin akan menghadiri rapat besar bersama ayahnya, Anming. Alvin pun segera mengakhiri pekerjaannya dan bersiap-siap.
Karena hasil kerja Sam bagus, Alvin yang tidak memiliki asisten, memintanya agar mulai bekerja mulai hari ini dan menemaninya rapat. "Sam, apa kamu sudah menyelesaikannya? Bisakah kalau kamu bekerja mulai hari ini. Aku membutuhkan asisten untuk rapat sekarang."
Sebelum Sam menjawab, Aluna sudah lebih dahulu menyelanya. "Bolehkah aku saja yang menemanimu rapat?"
"Tidak bisa Luna, aku sedang tidak main-main. Rapat kali ini tidak hanya menghadirkan satu perusahaan, tetapi lima perusahaan. Kalau tidak mau pulang, tunggu saja di ruangan."
Alvin merapihkan seluruh berkas berniat menghadiri rapat secepatnya. Tiba-tiba di saat bersamaan, datanglah Anming dari arah pintu.
"Alvin, apa kamu sudah siapkan semuanya?" tanya Anming.
Anming berdiri di depan pintu. Begitu selesai bertanya, Anming sangat kaget ketika melihat Aluna ada di kantor.
"Luna! kenapa kamu ada di sini?" ketus Anming dengan nada tinggi.
...###...
Sambil nunggu cerita ini update, yuk mampir di novel temen aku. Semoga suka ya😊
__ADS_1