
Sudah hampir seharian Helen menghabiskan waktu mengurung diri di dalam kamar. Ia sedang merasa sangat terpukul karena kehilangan pekerjaan. Malam tadi ia tak bisa tidur, satu-satunya yang dilakukan di dalam kamar adalah mencari cara agar bisa membalas Luna, membuat wanita itu jatuh dan dipermalukan seperti dirinya semalam.
Sampai siang ini, Helen masih mengurung diri di kamar. Bahkan hanya pembantu yang berani masuk ke dalam kamarnya. Jelas, Helen tidak ingin keluar karena takut bertemu dengan Hideon, ayah tirinya. Semalam wanita itu mendengar ibunya bertengkar hebat dengan Hideon.
"Buka pintunya, Len. Sekarang sudah siang, ayah kamu sudah berangkat bekerja." Mona mengetuk pintu kamar Helen.
Helen lalu membuka pintu kamar mempersilahkan ibunya masuk ke kamar.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Mona.
"Tentu saja," sahutnya begitu bersemangat.
Rupanya, Helen terlihat berpura-pura bertobat di depan Hideon. Siang ini ia malah terlihat bersemangat tidak seperti semalam yang menangis menyesal di depan ayah tirinya.
***
Setengah jam Aluna berada di dalam toilet, sekarang Aluna sudah kembali ke ruang tengah menemani nenek yang sedang duduk santai.
Aluna begitu penasaran ketika melihat wanita tua itu tersenyum-senyum sembari melihat ke layar handphone. Rupanya, Nenek Alma sedang bercengkrama di grup chat sesama gamer.
"Maaf, Nek. Tadi Luna tinggal lama. Nenek sepertinya sangat senang, apa Nenek memenangkan game lagi?" tanya Aluna mengintip layar handphone yang dipegang Nenek Alma.
"Tidak Luna. Nenek sedang mengobrol di GC, Orang-orang di grup chat sangat perhatian kepada nenek, berbeda jauh dengan keluarga nenek lainnya yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya." Nenek Alma menunjukan chat teman-temannya.
Aluna langsung memeluk wanita tua itu dengan manja sambil mengelus punggungnya. "Tenanglah, Nek. Mulai sekarang Aluna akan mendengarkan keluh kesah Nenek. Tidak usah khawatir, aku akan siap menemani, kalau Nenek membutuhkan," ucapnya.
"Aluna?" Nenek Alma sempat bingung ketika Aluna kelepasan menyebut namanya.
__ADS_1
"Ah' maksud aku Luna, Nek. Sebenarnya aku lebih senang dipanggil seperti itu."
Hampir saja Aluna ketahuan, untung saja nama mereka tidak beda jauh. Aluna langsung mengalihkan perhatian Nenek Alma dengan mengambil dimsum yang ada di meja depannya.
"Sepertinya dimsum ini sangat enak. Bolehkah aku menyuapi Nenek?" Aluna lalu meraih sumpit, menempelkannya ke dimsum.
Nenek Alma langsung mengangguk, sudah lama dia tidak sedekat itu dengan keluarganya. Clara yang sudah lama menjadi menantunya pun tak pernah seperhatian itu seperti Aluna.
Nenek Alma membuka mulutnya menerima suapan dari Aluna sesendok demi sesendok sampai dimsum itu habis tak bersisa.
"Luna, Nenek ingin bermain lagi. Tapi nenek tidak ingin bermain game di handphone. Bagaimana kalau kita bermain catur? Permainan ini sangat nenek sukai saat kecil. Apa kamu bisa memainkannya, Luna?" tanya Nenek Alma.
Aluna tersenyum mengangguk. "Tentu saja bisa, Nek. Aku juga menyukai permainan catur," ucapnya.
Senyum merekah terlukis di bibir keriput Nenek Alma, wanita tua itu sangat gembira ketika Aluna menanggapi ajakannya. Ia lalu mengambil papan catur yang disimpan di peti yang ada di bawah meja.
"Aku harus menyimpannya di sini, karena kalau ketahuan Clara, wanita itu akan menyembunyikannya di gudang. Kamu tidak tahu bagaimana kesepiannya aku setelah kematian Tama suamiku, biasanya kita menghabiskan waktu berdua bermain catur setiap akhir pekan," ucap Nenek Alma, matanya mulai berkaca-kaca.
Ya, Clara tidak menyukai wanita tua itu bermain catur lagi. Tidak hanya ia, keluarga lainnya pun melarang wanita tua itu memainkan permainan dengan papan hitam putih itu. Kalau sampai terjadi, setelah bermain, Nenek Alma akan menangis seharian, ia akan mengingat kembali kenangan bersama mendiang suaminya. Nenek Alma biasanya secara sembunyi-sembunyi mengurung diri dan bermain di kamar agar tidak ketahuan.
Nenek Alma lalu menyusun bidak catur di tempatnya, terlihat pancaran kebahagiaan di wajah keriputnya, jelas ia sangat bersemangat.
"Kalau tidak ada aku, lalu nenek bermain dengan siapa?" tanya Aluna sembari meletakkan bidak berwarna hitam di kotak tempatnya.
Nenek kembali tersenyum. "Nenek akan memainkannya sendiri secara bergantian," serunya.
Sepertinya nenek sangat kesepian sampai tidak ada yang menemaninya bermain catur. Nenek, aku pasti sangat merindukanmu kalau sudah tidak ada di sini lagi, batin Aluna.
__ADS_1
"Apa tidak ada yang mengajak Nenek bermain?" tanya Aluna lagi.
Nenek Alma kembali menggeleng. "Sekarang Nenek tidak akan bermain sendiri lagi, karena sudah ada kamu, Luna!" serunya.
Mereka lalu memulai permainan, Nenek Alma memajukan pion berwarna putihnya bergantian dengan Aluna. Sepertinya Nenek Alma sudah sangat ahli dalam strategi bermain catur, terbukti dalam hitungan menit saja, sudah beberapa pion hitam milik Aluna didapatkannya.
"Sekarang giliran kamu, Luna!" seru Nenek Alma memajukan bidak catur yang berbentuk kuda.
"Ah' Nenek sangat hebat! Baru beberapa menit Nenek sudah menguasai permainan. Lihatlah Rajaku sudah dihadang kuda dan benteng." Aluna lalu memindahkan bidak rajanya mendekati bidak kuda milik Nenek Alma.
"Kamu juga pintar, Luna." Senyum Nenek Alma kembali merekah.
Ketika wanita tua itu hendak memajukan bidaknya. Tiba-tiba dari ambang pintu terdengar sebuah suara yang mengagetkan mereka berdua.
"Luna! Kenapa kamu mengajak Nenek bermain catur?" bentak seorang wanita mendekati mereka.
Aluna langsung menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita muda berambut pendek, berjalan mendekati mereka.
Siapa dia, batin Aluna memandangi wanita itu dari atas sampai ke bawah.
Wanita yang mendekati mereka bernama Lily, sepupu Alvin, anak dari Paman Hans. Usianya sama dengan Luna yaitu menginjak 22 tahun. Lily berhubungan dekat dengan Helen, dia mendekati Helen karena ingin mencuri informasi tentang Alvin.
"Kenapa kamu datang-datang memarahi Luna? Apa salahnya kalau aku bermain catur dengannya? Lagian aku sendiri yang memintanya." Nenek Alma langsung berdiri memarahi Lily.
"Bukan begitu, Nek. Kami tidak ingin nenek akan menangis lagi seharian setelah ini. Kami semua sangat menyayangimu, Nek." Lily berusaha merayu.
"Melihat Anda yang tiba-tiba menghentak kami. Aku tidak yakin Anda benar-benar menyayangi nenek! Apa kamu tidak lihat ekspresi kebahagiaan nenek sekarang? Kalaupun nenek harus menangis setelah ini, aku akan menemaninya!" seru Aluna menenangkan emosi Nenek Alma.
__ADS_1