
"Lepaskan aku... " Aluna masih berteriak meronta-ronta sambil memukul keras punggung Alvin.
"Pelankan suaramu! Jangan membuat orang berpikiran negatif padaku." Alvin masih menggendong Aluna di pundaknya, dengan posisi kepalanya menghadap ke belakang. Alvin terus berjalan melewati beberapa orang yang terlihat marah ke arahnya.
Beberapa orang yang ada di koridor tampak geram ketika Aluna berteriak histeris, mereka berpikiran Aluna adalah korban dari pria yang menggendongnya, hendak memperkosa Aluna. Salah satu dari mereka malah berani menghentikan langkah Alvin.
"Berhenti, Tuan!" Salah satu pria menyetop Alvin.
Alvin balas menatap sinis, menepis tangan pria di depannya. "Minggir! Jangan ganggu jalanku." Bentaknya.
"Aku akan menelepon polisi kalau Anda terus membawa wanita ini ke kamar, jangan-jangan Anda akan memperkosa wanita ini?" Pria itu masih menahan tubuh Alvin.
"Turunkan wanita itu!" seru mereka lagi.
Tentu saja Alvin tak mau, ia tidak ingin menurunkan istrinya, membiarkan mereka menikmati lekuk tubuh Luna.
Alvin yang masih menggendong Aluna, tidak bisa mendorong pria di depannya, terlebih lagi Aluna tak mau diam hendak melepaskan diri, membuatnya harus mengeluarkan tenaga ekstra.
"Apa salahnya kalau aku memperkosa istri sendiri?" ucap Alvin penuh intimidasi, "betulkan sayang kamu adalah istriku?" tambahnya sambil menyenggol tubuh Aluna.
Beberapa orang itu masih tidak percaya, meminta Aluna sendiri yang mengatakannya. Setelah di desak, akhirnya Aluna mengiyakan kalau ia istrinya.
"Betul! Tapi tu--"
Belum sempat Aluna menyelesaikan kalimatnya, Alvin buru-buru membawa Aluna masuk ke kamar hotel yang dipesannya.
"Kalian membuang waktuku" ketus Alvin sembari berjalan cepat.
***
Sekarang mereka telah memasuki kamar hotel tipe presidential suite, Alvin sengaja memesan kamar super mewah itu untuk bermalam setelah acara selesai.
"Lepaskan! Kita sudah sampai kamar," ucap Aluna.
Kamu benar-benar mengambil kesempatan dalam kesempitan, batin Aluna.
__ADS_1
Alvin lalu menurunkan wanita yang dari tadi tak berhenti memukul pundaknya itu.
"Ternyata tubuhmu lebih berat dari yang kubayangkan!" serunya sembari melemaskan otot tangannya yang sedikit pegal.
"Lagipula siapa suruh menggendongku? Lagian aku bisa berjalan sendiri kalau aku mau," cibir Aluna.
Alvin masih saja tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari tubuh Aluna. Ya, wanita itu benar-benar membuat si Joni miliknya kembali menegang. Sayangnya Alvin tahu sekarang bukan saat yang tepat untuk melepaskan hasratnya.
"Tentu saja karena kamu wanitaku. Aku tidak rela ada pria lain yang mengagumi tubuhmu selain aku!" Alvin memajukan langkahnya mendekati Aluna yang basah kuyup.
Glek,
Aluna menelan ludahnya ketika Alvin mengatakan kalau dia adalah wanitanya, seumur-umur baru kali ini ada pria yang berani mengakuinya.
Berulang kali Alvin harus menahan hasratnya saat melihat dua buah benda empuk yang menyembul di dada Aluna. Gaun Aluna yang berwarna coklat muda menempel pas di tubuh putih mulusnya, merekat karena basah dan hampir tak bisa membedakan mana warna kulit dan gaun yang dikenakannya.
Argh! Aku benar-benar ingin...
"Jangan berpikiran mesum! Kenapa Anda membawaku kemari?" Aluna memundurkan langkahnya menjauhi Alvin.
Ini semua gara-gara Helen yang membuat basah bajuku, batin Aluna lagi.
"Tentu saja aku ingin... " Alvin menghentikan ucapannya, "Ah sudahlah selesaikan dulu acaranya."
Aluna menghembuskan napas kasar saat Alvin mengatakan sesuatu yang membuatnya kurang nyaman. Aluna bisa bernapas lega saat Alvin menyuruhnya menyelesaikan masalahnya, itu berarti tanda Alvin mendukungnya.
"Cepat ganti baju dan keringkan rambutmu!" seru Alvin lagi.
Mendapati dirinya yang basah kuyup, membuatnya sadar akan tahi lalat yang ia buat. Sudah pasti terhapus, pikirnya. Aluna lalu berlari menuju kamar mandi mencari cermin untuk melihatnya.
Ternyata hilang lagi, gerutu Aluna mendengus kesal. Aku harus membuatnya lagi. Tapi bagaimana caranya? Bahkan tak ada spidol di sini.
Aluna sedang berdiri di cermin mengamati tulang selangkanya.
"Apa yang sedang kamu amati, Luna!" Suara Alvin mengagetkan Aluna yang sedang bercermin. Melihat wanita itu sembari berdiri di depan pintu toilet.
__ADS_1
"Ah! Kenapa Anda mengikutiku ke kamar mandi?" teriak Aluna histeris.
"Bahkan aku berhak mengikutimu ke manapun!" sahut Alvin.
Aluna melotot saat Alvin hendak mendekatinya lagi. "Stop! sebaiknya tunggu di situ saja," ucapnya.
Alvin tersenyum, ia sangat senang menggoda Aluna. Apalagi membuat wanita itu ketakutan, itu membuat Alvin ingin mendekatinya terus.
"Aku hanya ingin memberikanmu baju ganti untukmu, pakai saja, ini bajuku. Tapi Ingat! Jangan pernah memakai baju itu lagi, baju itu tak pantas dikenakan olehmu di luar." Alvin lalu melemparkan pakaian miliknya kepada Aluna.
Sekali lagi Aluna bisa bernapas lega, sebelum ia mengganti baju, Aluna mengeringkan rambutnya dahulu. Tentu saja masih ada Alvin yang mengamatinya dari pintu, ia ingin memastikan Aluna cepat-cepat mengganti bajunya agar tak kedinginan.
Dengan bokong padat dan lingkar payudara yang terlihat berisi dan seimbang. Pinggangnya yang ramping dengan ukuran bahu memiliki sudut yang membulat lembut, sejajar dengan area bokong. Sementara bagian kaki dan lengan yang terlihat proposional dengan bagian tubuh lainnya. Itulah menggambarkan lekuk tubuh Aluna.
Alvin tak berhenti melihat ke arah Aluna saat wanita itu mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Tadinya Aluna akan mengeringkan bajunya juga, namun sayangnya Alvin melarangnya keras, tetap menyuruhnya berganti baju.
Aluna mengibaskan rambutnya yang panjang, menyisir sehelai demi helai, membiarkan rambutnya jatuh tergerai. Ketika Aluna hendak membuka bajunya, ia sadar Alvin masih ada di pintu sembari terbengong. Melihat itu Aluna langsung mengurungkannya.
Kenapa aku lupa kalau dia masih di sana, batin Aluna.
Alvin mendekus, menegakkan tubuhnya dan mengusap rambutnya karena frustrasi. Tatapannya tak berhenti memandang Aluna di depannya. Karena tak kuat Alvin akhirnya membalikkan badan. Dipaksanya kakinya bergerak, hingga ia berhasil melangkah keluar dari kamar mandi.
Dia bahkan lebih menarik dari yang kubayangkan, batin Alvin.
Kenapa pikiranku mendadak kacau? Ah' ini semua gara-gara benda empuk itu..
Setelah Alvin keluar, Aluna memeriksa kembali pria itu tak mengintipnya. Setelah dirasa aman, Aluna lalu memeriksa handphone miliknya. Ya, Helen berhasil merusak barang bukti yang ia kumpulkan.
Dia benar-benar merusaknya!
Aluna lalu meletakkan handphone itu kemudian melepas gaun yang dipakainya.
"Wanita licik. Bisa-bisanya menarik aku ke kolam hanya untuk merusak barang bukti ini. Pintar juga rupanya kau Helen," gerutu Aluna.
"Sudah kuduga, pasti kamu memiliki siasat baru untuk menjatuhkanku. Untungnya aku sudah memikirkan hal ini sebelumnya," ucap Aluna pelan sembari tersenyum.
__ADS_1