
"Selamat siang, Nek. Bagaimana kabarmu?" Seperti biasa Aluna selalu menyapa nenek Alma dan mencium pipinya dengan manja setiap baru bertemu.
"Kabar nenek baik-baik saja, Lunaku. Duduklah! Ada yang ingin kami bicarakan." Nenek Alma balas mencium kening Aluna.
Aluna mendudukkan pantatnya di sebelah Nenek Alma. Dia melihat Clara sudah duduk manis sembari melontarkan senyum kearahnya. Aluna pun membalas tersenyum menundukkan kepala memberi hormat. "Selamat siang, ibu mertua."
Selain mereka bertiga, di ujung sebelah kanan ada dua orang sedang menunduk dan menekuk wajahnya. Ya, mereka berdua adalah Lily dan Yuze. Nenek sengaja mengundang mereka untuk dihakimi.
Tiba-tiba Lily dan Yuze mendekati Aluna. "Kak Luna, maafkan kami. Aku mengaku bersalah telah memfitnahmu!"
Aluna yang kebingungan, menengok ke arah Nenek Alma dan ibu mertuanya bergantian. Dalam hatinya bertanya, kenapa tiba-tiba mereka meminta maaf kepadanya?
"Luna, bacalah laporan ini! Pagi tadi Alvin mengirimkannya kepada nenek. Sudah kuduga, dari awal aku sudah yakin kalau si licik Helen lah yang melukai tangannya sendiri." Clara menyodorkan sebuah kertas hasil laporan kepada Aluna.
Di menit itu juga Aluna membacanya. Senyum mengembang terlukis di wajah cantiknya usai membaca hasil laporan. Akhirnya kerja kerasnya selama ini tak sia-sia, pikir Aluna. Dirinya tampak puas dan berkali-kali berterima kasih di dalam hati kepada Alvin.
"Sebagai hukuman untuk kalian berdua, aku tidak akan memberi uang saku bulanan selama setahun. Dan yang terakhir, selama Aluna belum memaafkan, Nenek juga akan menarik mobil dan apartemen yang kalian gunakan!" ketus Nenek Alma penuh amarah kepada Lily dan Yuze.
Sontak mereka berdua pun langsung terduduk lemas di lantai. "Kak Luna, tolong maafkan kami! Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi!" seru Lily dan Yuze bergantian.
"Tidak mengulangi lagi katamu! Tidak, aku tidak percaya!" Aluna menaikkan dagunya, "tentu saja aku tidak akan memaafkan kalian berdua. Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Bahkan menurutku hukuman yang nenek berikan terlalu ringan." Aluna mendorong tubuh Lily sampai terjengkang.
"Argh!" Lily menjerit. 'Kurang ajar! Sombong sekali kamu, Luna. Kalau bukan karena uang aku tidak mau mengemis seperti tadi' Lily terus membatin.
"Nenek, tolong pertimbangkan lagi hukumannya. Kami sudah mengaku bersalah dan meminta maaf kepada kak Luna. Kami sadar sudah termakan hasutan Helen waktu itu. Ringankan hukumannya, Nek. Aku mohon!" Yuze berlutut di kaki Nenek Alma.
__ADS_1
"Sudah aku bilang, hanya Luna lah yang bisa meringankan hukuman kalian." Nenek Alma membuang mukanya. "Pelayan, An! Cepat hubungi kembali Mona dan Helen. Mereka berdua harus mempertanggungjawabkan perbuatannya!"
Mendengar ketegasan Nenek Alma, Clara yang dari tadi menyimak tertawa dalam hati. Dia sangat senang karena dapat membalas perbuatan rivalnya itu melalui Aluna. Sudah lama Clara pun dibuat geram oleh kelakuan mereka yang selalu merendahkan Alvin.
"Maaf, Nyonya. Nona Helen kabur dari rumah. Nyonya Mona sedang berusaha mencarinya. Setelah ditemukan nanti, Nyonya Mona berjanji akan datang ke mari secepatnya," ucap Pelayan An sambil menunduk.
"Mereka berdua selalu mencari alasan untuk menghindar. Luna, apa kamu menerima permintaan maaf Lily dan Yuze?" tanya Nenek Alma.
"Tidak! Aku tetap tidak mau memaafkan mereka berdua!" seru Aluna, keputusannya benar-benar tidak bisa diganggu gugat. "Mereka adalah musuh dalam selimut dan harus menerima hukuman yang setimpal. Mereka masih bersyukur, beruntung aku tidak melaporkan atas tuduhan pencemaran nama baik kepada polisi!"
Mendengar itu Lily dan Yuze melihat geram ke arah Aluna. Mereka mengepalkan tangannya penuh amarah. Bukannya kapok, kebencian mereka malah menjadi-jadi. Karena sudah yakin permintaan maafnya sia-sia. Lily dan Yuze kembali ke tempat duduknya, menatap sinis ke arah Aluna.
Dari ekspresi wajahnya saja tidak ada rasa penyesalan! Setelah ini aku yakin kalian akan berulah lagi! Aluna mencibir di dalam hati.
Sekarang kamu menang! Tetapi tidak untuk ke depannya. Setelah orang suruhanku mendapatkan info yang akurat aku akan mengumumkannya cepat. Bersiaplah untuk malu, Luna! Karena aku sudah tahu kartu merahmu. Batin Lily menatap sinis penuh amarah.
Di restoran dekat jalan tol, dua orang sedang duduk saling berhadapan. Ya, mereka adalah Ara dan Noah yang sedang menikmati makan siang. Noah terus memperhatikan gerakan mulut Ara yang penuh dengan makanan, terlihat kalau Ara sangat bernafsu menghabisi semua makanan di meja itu.
Makannya sangat lahap sekali? Seperti orang kelaparan tidak makan seminggu! Batin Noah.
Ara memesan banyak sekali makanan, hampir sepuluh jenis makanan berbeda dilahapnya. Di dunia nyata dia sudah tidak bisa menikmati lezatnya makanan dengan lidahnya sendiri semenjak sakit. Ara yang mendapati dirinya berada dalam tubuh manusia sehat, tidak ingin melewati kesempatan itu untuk merasakan makanan kesukaannya lagi.
"Bolehkah aku memesan makanan ini lagi?" tanya Ara sambil mengunyah makanan.
Sementara Noah yang baru memasukkan beberapa suap makanan ke mulutnya masih terbengong hanya bisa menelan ludahnya. Untuk kesekian kalinya, Noah pun menyuruh pelayan untuk mengantarkan pesanan yang dipinta Ara.
__ADS_1
"Padahal tubuhmu kurus, kenapa makanmu sangat banyak sekali?" Noah akhirnya memberanikan diri bertanya.
Mendengar pertanyaan itu, Ara langsung menghentikan makannya. Ara langsung teringat bahwa sebenarnya dia sedang sakit. Terakhir dia bisa makan enak tiga tahun yang lalu. Ara menaruh kembali ayam goreng di piringnya.
"Maafkan aku, karena telah menghabiskan uangmu ... huwa ...." Ara kembali menangis lagi, "harusnya aku tidak makan sebanyak ini."
Melihat Ara menangis lagi, Noah pun tak tega. "Bukan itu maksudku, Nona. Justru aku sangat senang kalau ada wanita yang memakan apa pun tanpa ada pantangan. Katakan saja, makanan apa lagi yang ingin kamu inginkan pasti aku pesan lagi untukmu."
"Benarkah! Kalau begitu aku ingin pes--" Belum sempat Ara meneruskan kata-katanya handphone Noah berdering.
Kring ... kring ...
Noah menengok sejenak. Rupanya Lisa lah yang menghubunginya. Noah tak peduli, dimasukkan lagi benda berbentuk pipih itu ke sakunya.
Maaf, Lisa! Kamu sudah keterlaluan! Batin Noah.
"Oppa, sebenarnya aku ingin jujur," ucap Ara.
"Haish, kenapa kamu memanggilku seperti itu? Aku bukan orang Korea." Noah menggelengkan kepalanya merasa risih, "ceritalah kepadaku, Nona Helen. Aku siap mendengarkannya," tambahnya lagi.
Mendengarnya, Ara tertawa. Setiap kali melihat Noah dia selalu mengingat pemain Drakor idolanya. "Apa kamu tahu istilah isekai?"
"Isekai? Maksudmu dunia lain?"
Ara mengangguk. "Apa kamu percaya kalau seseorang bisa berpindah dimensi ke dunia lain?"
__ADS_1
Noah yang sedang minum hampir tersedak mendengar pertanyaan Ara. Dia lalu menaruh gelas di tangannya lagi ke meja. Sontak, Noah pun menggeleng. "Aku tidak percaya, karena aku belum pernah melihatnya."
Ara menghentikan makannya, dia menatap lekat wajah Noah. "Sebenarnya aku bukan berasal dari sini. Aku berasal dari dimensi lain. Namaku, Arabella."