TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Bab 246. Rencana Lily dan Yuze


__ADS_3

Ditemani sebotol wine, Yuze dan Lily berdiskusi membicarakan Zero. Sudah ada rencana yang dirancang di otak mereka untuk menjebak Aluna.


"Sekarang Alvin semakin berkuasa, apalagi dia sudah memiliki seorang anak. Sulit bagi kita untuk melengserkannya, kecuali menghilangkan anak itu lagi," ucap Yuze.


"Benar, anak itu adalah ancaman besar bagi kita. Kalau begini caranya, ahli waris pasti jatuh ke tangan Alvin karena dia telah memiliki seorang putera."


Sudah banyak rencana busuk mereka untuk menjatuhkan Alvin dari dulu. Salah satunya dengan menjebak Alvin sekamar dengan Helen, membuat video panas Luna dengan Devan dulu, bahkan berencana menghabisi Luna. Semua mereka lakukan agar Alvin hancur, dan nenek akan melengserkannya sebagai ahli waris utama.


"Harusnya Luna sudah mati semenjak kecelakaan mobil bersama Devan dua bulan yang lalu," kata Lily berusaha mengingat lagi peristiwa yang lalu. Tepatnya peristiwa sebelum video panas itu tersebar.


"Yah, aku juga bingung kenapa dia masih hidup sampai sekarang. Padahal Alvin juga sudah mengurungnya berhari-hari di kamar pasca kecelakaan," sahut Yuze.


"Tapi semirip apa pun Zero, seharusnya nenek tetap melakukan tes DNA," kata Lily lagi sambil mengamati foto Zero, "bukankah aku pernah mendengar darimu mereka hanya mengenal lewat surat? Aku juga sudah membuat mereka batal bertemu enam tahun yang lalu. Kenapa sampai bisa mereka memiliki anak? Ini benar-benar diluar dugaanku."


Yuze pun menjelaskan awal adanya Zero kepada Lily. Tentunya dia sudah menyelidiki semua sampai ke akar-akarnya. Yuze sudah tahu siapa yang berkirim surat dengan Alvin bertahun-tahun dan malam di mana mereka bercinta enam tahun yang lalu.


"Jadi seperti itu kronologisnya? Ha, ha, aku tidak menyangka wanita yang selama ini dicari adalah istrinya sendiri yang dulu pernah dia sakiti. Alvin memang bodoh dari dulu dan tidak pernah peka."


"Tapi semenjak Luna sembuh dari kecelakaan itu, kenapa dia menjadi berubah? Aku merasa dia bukanlah Luna? Sulit dicerna logika kalau ada orang yang berubah hanya dalam hitungan jam," ucap Yuze.

__ADS_1


Kejanggalan sikap Luna sudah Yuze rasakan beberapa pekan ini. Yuze sudah mengenal Luna, karena dia dan Luna sempat satu sekolah saat menengah pertama. Luna seorang gadis yang penyendiri, pemalu dan jarang sekali berbicara. Saat kakeknya menyuruh Alvin menikah dengannya pun, sifatnya masih masih belum berubah.


"Kamu bukannya dulu sempat menyukai dan sempat mendekatinya?" tanya Lily meledek Yuze.


"Ha, ha, memang benar. Tapi itu hanya sandiwara. Aku mendekatinya karena aku tahu kakek akan menjodohkan salah satu cucunya dengan cucu Tuan Gideon. Aku pikir Luna akan memilihku, nyatanya dia tetap memilih lelaki payah itu lagi. Padahal aku tetap menggagalkan pertemuan mereka enam tahun yang lalu, tapi tetap saja mereka berjodoh. Memang Luna sialan!"


Kemudian Lily berbisik di telinga Yuze untuk rencana mereka selanjutnya. "Aku sudah merencanakan hal yang besar untuk mereka. Tenang saja kita tunggu waktunya. Kita ajak Helen untuk bekerja sama. Bukankah dia sedang dekat dengan Luna sekarang? Kesempatan bagus untuk kita," kata Lily dengan raut wajah kebencian.


"Jangan lupa kita juga harus mengurus Nenek," balas Yuze sambil tersenyum licik.


***


Pagi hari di mansion. Baru saja terdengar ayam berkokok, Nenek Alma mendatangi kamar Zero. Dari pelayan An, Nenek Alma tahu kalau Zero sudah bangun. Dia ingin mengajak Zero jalan pagi dengan Zero di depan halaman.


Zero terbiasa bangun pagi, melihat nenek Alma datang dan mengajaknya keluar. Membuat Zero diam sambil berpikir. Dia ingat pesan Aluna agar tidak keluar dari dalam rumah kecuali dengannya.


"Nenek, aku ingin membangunkan mama dulu. Kita bisa jalan bertiga dengan Milki dan Joni," balas Zero sambil mengambil Si Joni kucing kampung yang dibawa Aluna dari rumahnya.


"Nama kucingmu, Joni? Kita jalan pagi berempat saja," ucap Nenek Alma.

__ADS_1


Zero diam sejenak sambil menggeleng pelan. Zero tak mau mengecewakan Aluna. Dia akan menurut dan tetap menolak ajakan Nenek Alma.


"Yah, Nenek. Nama kucingku Joni. Sangat lucu, bukan? Pasti Joni akan senang bermain dengan Milki," tutur Zero. Dia menurunkan kucingnya agar bermain dengan Milki kucing yang sangat lucu, gemuk dan memiliki bulu yang indah. Sementara Joni, hanyalah kucing kampung yang kurus.


Kalau bukan demi cucunya, Nenek Alma tak mungkin mempertemukan Milki dengan Joni. Kucing kesayangannya itu sangat terawat bahkan Nenek Alma sangat pemilih memilihkan jantan untuk Milky.


"Nenek lihat, Joni sangat menyukai Milki. Sambil menemani mereka bermain, Nenek tunggu di sini sebentar ya? Aku akan membangunkan Mama dulu," ucap Zero.


Nenek Alma terpaksa mengangguk, padahal dalam hatinya dia hanya ingin berjalan kaki dengan Zero saja. Nenek Alma duduk di sofa kamar Zero sambil menemani kucingnya bermain.


"Sepertinya Milky kamu juga menyukainya? Kalau iya aku akan membuatkan kamar pengantin untuk kalian berdua," ucap Nenek Alma tersenyum sambil mengusap kepala Milky.


Baru saja menunggu beberapa menit, pelayan An datang dan menemui Nenek Alma. "Maaf Nyonya besar, aku sudah mengganggu Anda."


Nenek Alma mengangguk pelan, menyuruh pelayan tersebut memberitahukan maksudnya.


"Saya hanya mengingatkan akan ada pertemuan Anda dengan pengacara keluarga siang nanti," ucap Pelayan An sambil menunduk berkata pelan.


Nenek Alma mengangguk. Yah, dia kembali ingat akan ada pertemuan dengan pengacara keluarga yang memegang wasiat suaminya siang ini. Nenek Alma sengaja mempercepat pertemuan dengan pengacara tersebut untuk membahas masalah ahli waris utama. Nenek Alma takut umurnya sudah tak panjang dan terlambat.

__ADS_1


Aku harus mengurus semuanya sekarang sebelum meninggal, gumam Nenek Alma.


"Terima kasih, Pelayan An."


__ADS_2