TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Pisau Cukur


__ADS_3

"Aku tidak akan membiarkan wanita berperilaku buruk seperti dia dekat dengan suamiku. Levelnya jauh di bawahku, Kepribadiannya sangat jelek, bermuka dua dan memiliki niatan yang busuk. Jangankan menjadi sekretarisnya, dia ketahuan mendekati suamiku sedikit saja, aku sendiri yang akan mengusirnya detik itu juga!" Aluna terang-terangan menghina Helen.


Kurang ajar! Batin Helen muak.


Aluna berhasil membuat Helen geram, terlihat dari wajahnya yang berubah merah padam. Wanita yang sedang terluka di bagian lengannya itu, tampak mengepalkan telapak tangannya kuat. Dia langsung berdiri menatap sinis ke arah Aluna. "Jaga bicaramu! Apa yang sudah aku dedikasikan di perusahaan Tuan Alvin sangat banyak, prestasiku sudah tidak ada yang meragukan lagi. Apa perlu aku tunjukan satu persatu? Nyonya Clara, Anda pasti menyesal telah mengeluarkanku secara sepihak," sindir Helen.


Aku tidak peduli, kecoa bunting! Batin Clara berpura-pura tidak tahu.


Aluna menaikkan dagunya, membusungkan dada seraya tersenyum miring. "Jadi kamu ingin menjadi sekretaris suamiku lagi? Langkahi dulu mayatku, baru kamu bisa mendekatinya lagi!"


Bagus Luna! Batin Nenek Alma tersenyum puas.


Ketika mereka berdua sedang berseteru disaksikan beberapa orang, dari arah pintu muncul Lily dan Yuze berjalan sangat cepat, beberapa menit yang lalu Mona menghubunginya agar datang. Aluna mendengus kesal, batinnya sangat yakin kedatangan dua orang itu pasti akan memperkeruh suasana.

__ADS_1


"Tunggu! Aku punya bukti kalau memang Luna yang bersalah di sini!" Lily berjalan ke tengah mereka dengan penuh percaya diri.


Semua pasang mata menoleh, terutama Anming. Matanya membulat sempurna ketika Yuze mengeluarkan sebuah pisau cukur dengan posisi mengarah ke tubuhnya.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Anming terkejut. Cara Yuze mengeluarkan pisau cukur seperti sedang mengancamnya.


"Seperti ini Paman, Luna mengancam Helen," ujar Yuze mendramatisir.


"Jadi begini, Tuan. Luna sudah melukai lengan anakku dengan pecahan botol kemarin di bar. Tidak hanya itu, Mereka berdua lah saksinya ketika Luna mengancam akan membunuh Helen dengan pisau itu!" seru Mona.


Yuze mulai menurunkan pisau di tangannya. "Betul, Paman! Kami berdua adalah saksinya. Dari yang aku lihat kemarin, sepertinya Kak Luna memiliki masalah kejiwaan. Kesimpulannya, ternyata kakak ipar juga memiliki kepribadian ganda yang semua orang belum mengetahui. Mungkin sekarang nenek dan semua orang di rumah ini tidak akan percaya. Tetapi, kami berdua melihatnya langsung perilaku Kak Luna yang abnormal. Kami melihat dia mengeluarkan pisau ini di depan muka Helen. Bagaimana kalau tidak ada kami waktu itu, kemungkinan Kak Luna akan menghabisinya di menit yang sama," tambah Lily makin menambah argumen yang dilontarkan Helen.


Mona memajukan tubuhnya, lalu meraih pisau cukur di tangan Yuze, dia tampak syok, berpikiran yang dikatakan mereka berdua adalah benar. "Tuan Anming, Nenek Alma dan Nyonya Clara, tolong kami. Lihat kedua keluarga kalian sediri yang menjadi saksi nyata di sini. Beruntung anakku masih bisa diselamatkan, kalau tidak sudah pasti aku akan kehilangan Helen selamanya," ucap Mona tersedu.

__ADS_1


Anming terdiam, masih mencerna kata-kata mereka bertiga. Lelaki itu mulai melihat wajah mereka berlima bergantian, dari analisis mimik wajahnya, hanya Aluna yang bersikap tenang. Ya, bagaimanapun juga dia adalah lelaki dewasa tertua di keluarga ini, tentunya dia harus bersikap adil, tidak boleh menilai hanya mengandalkan perasaan pribadinya saja.


Helen merasa akan menang sebentar lagi, wajahnya menunduk seolah sedang menunjukan kesedihannya yang mendalam di depan Anming. Di saat yang sama, Mona mendekat mengelus punggungnya pelan. "Tenanglah, aku yakin Tuan Anming adalah orang yang bijaksana, akan mengembalikan posisimu lagi di perusahaan. Tidak mungkin Tuan Anming akan membuang sekretaris handal sepertimu, Nak!" ucapnya.


Aluna yang masih berdiri membuka mulutnya hendak mengatakan ketidaksetujuannya. Pernyataan Yuze dan Lily yang mengatakan dia mengancam Helen dengan pisau di depan mereka itu tidak benar. "Kedua pengacau ini datang ketika Helen sudah melukai tangannya. Memang benar, pisau cukur ini adalah milik suamiku dan aku sengaja membawanya sebagai senjata perlindungan," ucap Aluna.


Aluna menghentikan ucapannya pelan, menatap satu persatu orang yang ada di ruangan itu. Sesaat kemudian Aluna tak bisa menahan tawanya. Kali ini Aluna benar-benar terkekeh, ia mendengar ucapan Lily dan Yuze seperti sebuah lelucon. "Ha ...ha ... dari pernyataan mereka saja tidak logis. Ayah, apa Anda yakin pisau ini bisa digunakan untuk menghabisi orang?" tanyanya kepada Anming.



Anming terdiam sambil terus berpikir. Tidak juga! batinnya.


"Ini adalah pisau cukur biasa, bahkan ujungnya pun tumpul. Pisau ini hanya bisa menggores sedikit kulit tapi tidak bisa digunakan untuk menusuk apalagi untuk membunuh. Apa yakin omongan mereka semua benar? Berpikirlah yang logis, kalau aku ingin berniat menyakiti, sudah aku bawa senjata lebih tajam dari ini. Jadi kesimpulannya ... mereka hanya ingin menjebakku! Dari sandiwara yang mereka buat sudah bisa membuktikan kalau Helen sendiri yang melukai tangannya!" Aluna berkata dengan lantang seakan membungkam mulut ayah mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2