
"Alvin! Apa kamu yakin masih memaafkan wanita seperti itu? Lihatlah bahkan di depanmu dan di depan semua orang, Luna malah mendekati Devan. Sadar, Vin! Luna tak pantas dijadikan istri lagi, ceraikan wanita itu secepatnya! Dia benar-benar menginjak harga diri keluarga kita!" ketus Clara berapi-api.
Alvin yang duduk di dekat ibunya hanya bisa mendengarkan ocehannya, tentunya sambil memperhatikan Luna. Alvin sangat yakin Luna mendekati Devan bukan tanpa alasan.
"Alvin apa kamu tidak mendengar perintahku?" ketus Clara sekali lagi.
Namun, tetap saja Alvin hanya diam. Dia tak mengiyakan atau menolak seruan ibunya. Ya, Alvin sedang fokus memperhatikan istrinya, sedikit demi sedikit pria itu mulai mengerti apa dan maksud tujuan istrinya mengundang Devan makan malam.
Aku akan memberimu kesempatan, Luna. Batin Alvin dalam hati.
Karena tidak ada sahutan dari anaknya, Clara yang mulai lelah berucap, akhirnya diam. Ia membiarkan anaknya berpikir dan menilai siapa Luna sebenarnya. Clara yang duduk bersama ke empat temannya, mengarahkan mata mereka ke meja di mana Luna akan memulai makan malamnya bersama Devan. Teman-teman Clara pun sangat menyayangkan kenapa Alvin hanya diam saja.
"Clara, kami turut prihatin!" ucap salah satu teman Clara.
***
Di meja makan Aluna.
"Selamat malam Luna, Terima kasih kamu sudah mengundangku malam ini. Dari awal aku sangat yakin kamu pasti lebih memilih duduk denganku dibandingkan dengan Alvin." Devan mulai menyapa Aluna.
Aluna hanya tersenyum menanggapi sambil menyibakkan rambutnya ke belakang, berusaha memperlihatkan tahi lalat di tulang selangkanya. Tentu saja ia lakukan agar perhatian Devan beralih padanya.
Baru duduk beberapa detik, dua orang pelayan mendatangi meja mereka, membawakan beberapa menu makanan yang dipesan Aluna menggunakan troli khusus.
Belum sempat pelayan menaruh beberapa makanan pembuka, Aluna melarang pelayan mengeluarkan semuanya di atas meja. "Sebaiknya kami memulai makan malam dengan sajian biskuit dulu. Menurutku biskuit sangat cocok sebagai appetizer dinner sekarang. Benarkan, Dev?"
"Tentu, apa yang kamu sukai, pasti aku akan mengikutinya." Devan mengiyakan apa yang Aluna mau.
"Satu biskuit cukup sebagai menu pembuka," perintah Aluna lagi.
Pelayan lalu menaruh dua piring kecil berisi masing-masing satu biskuit di depan Aluna dan Devan. Ya, hanya mereka yang memilih menu itu.
"Habiskan biskuit itu, Dev. Setelah ini ada hal penting yang ingin aku bicarakan!" seru Aluna memandu Devan agar cepat memakannya.
__ADS_1
Tanpa menunggu waktu lama, Devan dengan cepat menghabiskan biskuit yang sudah masuk ke mulutnya. Ia sangat penasaran hal penting apa yang ingin Luna katakan.
Sementara Aluna, ketika Devan sedang mengunyah. Dengan gerakan cepat ia mengambil biskuit yang ada di piring, lalu melahapnya. Satu biskuit memenuhi mulutnya lalu menghaluskan habis dengan giginya sampai tak tersisa.
...Dink.. Dink.. Dink.. ...
...Selamat Nona Aluna. Anda telah berhasil menyelesaikan misi hari ke dua. Silahkan melanjutkan lagi misi hari berikutnya....
"Uhuk.. huk.. huk." Aluna hampir tersedak ketika suara sistem laki-laki terdengar, memberitahukan kalau misi hari ke duanya telah berhasil terselesaikan.
Akhirnya selesai juga misi hari ini, batin Aluna.
"Minum ini, Luna." Devan menyodorkan segelas air kepada Aluna.
Aluna yang sangat kaget, mendadak shock kegirangan. Hampir saja air yang ia minum muncrat ke arah Devan.
Sementara itu, Alvin yang melihat Luna tersedak, langsung berdiri lalu berjalan menghampiri istrinya.
"Apa kamu baik-baik saja, Luna?" tanya Devan lagi sembari memberikan sapu tangan kepada Luna hendak mengusapkan ke mulut Aluna dengan tangannya.
"Terima kasih, Dev. Tapi maaf aku tak membutuhkan ini! Aku hanya ingin kamu duduk santai sambil melihat apa yang akan aku tunjukan kepada kalian." Aluna menepis sapu tangan pemberian Devan, ia lalu berdiri. Rona manis yang dari awal ia tunjukan kepada Devan kini berubah menjadi sinis.
"Apa maksudmu, Luna? Bukankah kamu akan membicarakan hubungan kita?" Devan nampak tertegun sejenak, dia sedikit marah ketika Luna menepis tangannya.
"Hubungan seperti apa maksudmu?" Bentak Alvin mendekati meja Aluna.
Melihat Alvin mendekatinya, Devan lalu berdiri menentang pria di hadapannya. Sekarang mereka sama-sama berdiri saling berhadapan, menatap buas satu sama lain.
"Apa kamu masih belum puas melihat video kami?" Devan tersenyum mengejek.
Mendengar ucapan Devan, Alvin mulai tersulut emosi. Hampir saja pria itu menghajar Devan di depan semua tamunya. Untungnya ia langsung menghentikan ketika melihat Aluna memegang mikrofon.
Ya, Aluna dengan sigap berlari mengambil mikrofon yang sudah ia persiapkan di depan meja pelayan.
__ADS_1
"Terima kasih kepada semua yang hadir di sini. Malam ini aku akan menunjukan kepada kalian kejelasan dari video yang selama ini sangat meresahkan dan mencoreng nama baikku. Aku persilahkan para tamu agar mendekati layar LED sebagai media untuk melihat kebenarannya," ucap Aluna menggunakan mikrofon.
Tidak hanya Alvin, para tamu begitu tercengang saat Aluna menyuruh mereka berkumpul mendekati layar LED yang sudah tersedia di kafe. Mereka saling berbisik, karena penasaran dengan tindakan Aluna selanjutnya, akhirnya serentak mereka semua berkumpul mendekati Aluna.
Alvin yang tadinya ingin menghajar Devan menurunkan tangannya dari kerah baju Devan. Ia pun ikut berkumpul melihat hal apa yang akan ditunjukan istrinya.
"Helen, apa yang akan luna lakukan?" Mona yang sedikit gelisah mendekati anaknya, sayangnya belum sempat menjawab, Helen berjalan tergesa-gesa menghampiri Devan. Ya, dia mulai takut dengan ultimatum Aluna.
"Tenangkan dirimu, duduklah di sini." Hideon mulai menenangkan istrinya Mona, agar tak terlihat gelisah. Kebetulan kursi yang ia duduki sangat dekat dengan layar LED.
Jelas Mona berusaha menutupi kegelisahannya, ia lalu menuruti Hideon agar duduk tenang di sebelahnya.
Semua orang terlihat penasaran dengan apa yang Aluna tunjukan, tetapi tidak dengan Devan. Pria itu masih saja bersikap tenang, seolah-olah tidak pernah melakukan kesalahan sama sekali. Dengan sangat percaya dirinya, Devan mendekati Aluna.
"Apa yang akan kamu tunjukan, Luna? Apa kamu akan memperlihatkan video kemesraan kita di atas tempat tidur di hadapan para tamu?" Ucapan Devan mengalihkan perhatian para tamu.
Melihat sikap narsis Devan, Aluna sempat terkekeh. Bisa-bisanya ada pria yang begitu percaya diri, mengatakan hal kotor di depan khalayak umum. Kalau hanya mereka yang berada di ruangan itu, sudah pasti Aluna menghajar habis Devan malam ini.
Sayangnya, untuk sekarang dia harus mengandalkan otaknya untuk menjatuhkan Devan, bukan dengan cara berkelahi atau perlakuan kasar lainnya seperti yang ia lakukan di dunia nyata. Sebelum menyalakan layar LED, Aluna berjalan mendekati Devan.
"Bagaimana kalau kita taruhan malam ini!" seru Aluna menatap tajam.
"Apa? bahkan aku sangat menyukai taruhan," sahut Devan tersenyum tipis.
"Baiklah! Taruhan malam ini adalah, Anda harus keluar dari lingkungan bisnis suamiku. Kalau aku berhasil membuktikan wanita dalam video ini bukanlah aku!" Dengan sedikit gertakan Aluna berbicara kepada Devan.
Tentu saja semua yang memperhatikan mereka begitu tercengang, terutama Alvin.
"Apa Anda setuju Tuan Devan Affandra?"
###
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya, Terima kasih.
__ADS_1