
"Kamu harus menelepon Luna sekarang. Anak itu benar-benar menakutkan. Bukankah kamu sendiri tahu kalau Helen tak pernah mengalami pingsan apalagi sampai koma! Aku yakin anak kesayanganmu itu penyebabnya. Kamu harus bertindak cepat, kalau tidak Luna akan terus semena-mena kepada Helen." Mona terus membujuk Hideon.
Sementara Hideon yang semakin tersudut mencoba menghubungi Luna berkali-kali. Namun, sayangnya Luna sendiri tak tahu dan tak mengangkat telepon, karena handphonenya dalam mode sunyi.
"Sabar, aku sudah menghubungi anakku, tapi tetap saja dia tak mengangkatnya. Aku akan membicarakan baik-baik agar mereka berdamai. Mungkin saat ini Luna sedang sibuk. Sebaiknya kamu fokus kepada Helen saja dulu, biar Luna aku yang urusi." Hideon berkata mencoba menenangkan istrinya.
"Dia sedang tak sibuk apa pun. Sepertinya Luna sengaja tidak mengangkat telepon agar tidak disalahkan. Ada staf kantor sebagai saksinya, kalau sebelum pingsan Luna sempat bertemu dengan Helen di toilet. Aku yakin ada sesuatu yang terjadi, tidak mungkin Helen koma begitu saja. Harusnya kamu lebih keras lagi mendidiknya, luarnya saja dia pendiam tetapi sebenarnya menghanyutkan. Luna benar-benar seperti ibu kandungnya! Diam tapi menyakitkan!" Mona terus mengintimidasi.
"Jaga bicaramu Mona. Jangan bawa-bawa Marsya! Aku yakin kamu salah paham terhadap anakku. Kamu tahu sendiri penyebab koma Helen adalah karena stres berlebihan." Hideon terus membela Anaknya.
"Diam!" Teriak Helen tiba-tiba.
Ya, mereka berdua berdebat tepat di hadapan Helen, membuat gadis itu sangat terganggu dan tidak dapat beristirahat. Helen melihat bergantian ayah dan ibunya, "Biarkan aku tenang. Aku ingin beristirahat!" seru Helen lagi.
"Kalau begitu, sebaiknya kita berkonsultasi lagi dengan dokter. Biarkan Helen beristirahat dulu," kata Hideon mengajak istrinya keluar.
Karena tak ingin kesehatan anaknya terganggu lagi, Mona terpaksa menuruti Hideon agar keluar menemui dokter. Setelah mereka keluar pun, bukan berarti langsung berhenti bertengkar, melainkan Mona terus saja menyalahi Luna habis-habisan.
Setelah kedua orang tuanya keluar, Helen mengambil ponsel hendak menghubungi sekretaris Fang, dia sangat penasaran bagaimana hasil manipulasinya. Helen sangat yakin kalau dia berhasil mempermalukan Aluna dengan mengganti restoran mewah dengan restoran pinggir jalan.
"Halo sekretaris Fang," ucap Helen di telepon.
^^^"Ya, Nona. Argh ... kebetulan sekali Anda telepon. Aku ingin menanyakan saran Anda mengenai restoran Namelix," jawab sekretaris di telepon.^^^
__ADS_1
Mendengar ucapan sekretaris Fang, Helen mulai sadar, bukannya merasa bersalah, malah dia bersikap tenang seolah tak terjadi apa pun.
"Ah' iya aku baru ingat sekarang. Bagaimana kelanjutannya, apa mereka sedang makan malam di restoran Namelik?" Helen bertanya lagi menanyakan situasi.
..."Nona, apa Anda salah mencarikan restoran? Gara-gara aku menuruti saran Anda, hampir saja Tuan Alvin memecatku. Bukankah Anda sendiri mengatakan akan memberitahukan Nona Luna kalau sudah merubah restorannya? Kenapa malah Nana Luna sendiri tidak mengetahuinya?"...
'Tentu saja, tidak mungkin aku beritahu, bodoh!' Helen membatin di dalam hati. Senyum liciknya kembai terlukis di wajahnya.
"Kamu kan lihat sendiri aku pingsan! Mana sempat aku memberitahukan kepada Kak Luna tentang perubahannya." Helen terus menyangkal.
^^^"Ah' kenapa aku tidak berpikiran jauh kalau Anda tak sempat memberitahu karena pingsan." Sekretaris Fang langsung menepuk jidatnya.^^^
"Sekretaris Fang, harusnya ketika aku pingsan, Anda juga memberitahukan kepada Kak Luna! Sekarang beritahu aku, apa mereka tetap melakukan dinner dengan Tuan Dae Jung?"
..."Barusan, aku menelepon Asisten Tuan Dae Jung, katanya Nona Luna tidak jadi makan malam di restoran. Melainkan, mereka akan makan malam di vila milik Tuan Alvin. Katanya lagi, kalau Nona Luna sendiri yang akan memasak hidangan Korea untuk Tuan Dae Jung langsung," jawab Sekretaris Fang....
Helen terus memikirkan apa yang akan dilakukan Aluna, dia pikir bisa saja Luna menyebutkan kalau dia sendiri yang memasaknya, padahal masakan Korea itu adalah buatan Koki Vila.
Luna benar-benar tidak bisa diragukan! Ternyata strategi yang aku buat malah menjadi keuntungan bagi dia. Wanita sialan itu pasti sedang mencari muka, batin Helen.
***
Sementara di vila Alvin, Aluna tengah sibuk membantu koki Vila yang sedang membuatkan beberapa makanan Korea. Tentu saja hasilnya akan memuaskan melihat koki Vila yang ditunjuk adalah ahli dalam memasak makanan Korea. Sementara, Aluna sendiri pun turun tangan langsung secara pribadi membuat masakan Hot pot Korea. Dia merasa tak sia-sia karena pernah bekerja di restoran Korea di dunia nyata.
__ADS_1
Tak sampai setengah jam, Koki Vila berhasil menyajikan banyak makanan khas Korea yang dibawa ke meja makan. Tetapi, dari sebegitu banyaknya makanan, perhatian Tuan Dae Jung malah berpusat pada Hot Pot yang dibuat Aluna. Dari beberapa banyak makanan, hanya masakan yang dibuat Aluna lah yang membuatnya tergiur.
Klien Korea benar-benar terpuaskan malam ini. Dia sendiri memuji langsung kalau masakan yang Aluna buat sangat enak sama persis yang ada di negaranya. Tuan Dae Jung masih tak menyangka akan diperlakukan istimewa oleh istri presdir.
"Apa yang dia katakan, Luna?" tanya Alvin berbisik.
"Dia bilang masakan aku sangat enak. Mereka tak menyangka kalau aku bisa membuat sup Hot pot yang sama persis dengan negaranya," balas Aluna.
Mendengar itu Alvin sangat senang. Apalagi saat mereka bersenda gurau di meja makan, membuat Alvin begitu puas. Ya, walaupun Alvin tak mengerti bahasanya namun dia yakin kalau Tuan Dae Jung sangat menikmati makan malam kali ini.
^^^"이거 맛있어요 잘 먹었습니다"^^^
"Igeo masisseoyo jal meokgessseumnida," ucap Tuan Dae Jung.
(Ini sangat enak, aku akan menikmatinya)
Pujian Tuan Dae Jung membuat Alvin bermuka. Tanpa harus mengerti bahasanya pun, Alvin melihat kepuasan di wajah Tuan Dae Jung apalagi saat kliennya itu minta porsi tambahan. Selain berhasil membuat lidah Tuan Dae Jung puas, dia juga sengat memuji karena Aluna telah berhasil menerjemahkan dengan baik dan sopan.
Setelah makan malam berakhir, Alvin mengajak jalan-jalan Tuan Dae Jung bersama asistennya keluar. Sementara karena merasa lelah, Aluna tak ikut bersama mereka, dia memilih kembali ke kamar bertanya perkembangan misi hari ini kepada sistem.
"Miss K, apa misi hari ini sudah diselesaikan?" tanya Aluna ketika kalung sistem menyala.
...[Anda belum berhasil menyelesaikan misi hari ini, Nona. Segera selesaikan karena waktunya sebentar lagi berakhir.]...
__ADS_1
Mendengar jawaban sistem, lutut Aluna kembali melemas. Ya, dia tak tahu apa yang akan dilakukan setelahnya.
"Aku harus cepat menyelesaikan misi hari ini!"