TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Bab 272


__ADS_3

"Tunggu Pak Kepala Sekolah, saya ingin menanyakan dulu kepada muridku," kata Guru San.


Kepala sekolah dengan berat hati mengizinkan Guru San keluar sebentar menemui Zero. Meskipun Lily dan Yuze terlihat tidak senang, mereka pun akhirnya menyetujui.


"Zero katakan padaku, apa kamu mengenal ke dua orang itu?" tanya Guru San kepada Zero menunjuk Lily dan Yuze dari luar.


"Yah, Guru San mereka adalah paman dan bibiku," jawab Zero.


"Apa ibumu memberikan pesan, kalau kamu akan pulang dengan mereka?"


Zero menggeleng cepat. Dari luar dia melihat Lily dan Yuze yang sedang tersenyum sangat manis.


"Tidak, Guru San. Mama tak pernah mengatakannya."


Guru San akhirnya masuk kembali dan menemui Lily dan yuze. Guru San langsung berbicara kepada keduanya. "Maaf Tuan dan Nyonya, bisakah Anda berdua menghubungi Nyonya Luna dahulu. Kata Zero, ibunya tidak menitipkan pesan kalau dijemput kalian."


Lily terlihat tersinggung. Kalau harus menghubungi Aluna itu adalah hal yang tidak mungkin. Sudah jelas Aluna akan melarang mereka. Jangankan menjemput, mendekati Zero pun Aluna melarangnya.


"Aku tidak bisa menghubungi mereka, Guru San. Pekerjaan Kak Alvin dan Kak Luna sangat sibuk dan tak bisa diganggu. Barusan saja panggilan telepon kami tertolak," kata Yuze beralasan.


Guru San tetap tidak percaya. Dia meminta Zero agar memasuki ruangan. Menanyakan apa dia mau ikut pulang bersama paman dan bibinya.


"Guru San ibuku hanya berpesan akan menjemputnya nanti setelah sore hari. Mama juga akan membawaku menemui Sindi. Jadi tidak mungkin paman dan bibiku yang menjemput," kata Zero bersembunyi di belakang rok guru San.


Lily tak mau usahanya sia-sia. Kemudian mendekati Zero. Kebetulan dia membawa dua buah coklat dan menyodorkannya kepada Zero.


"Anak yang pintar, bibi punya dua coklat untukmu. Mamamu bilang hari ini sedang banyak kerjaan. Jadi dia tak bisa menjemputmu. Bibi juga akan mengantakanmu menemui Sindi. Benarkan, Paman Yuze?" kata Lily sambil menyenggol Yuze.


Yuze pun mengangguk cepat sambil berjongkok sejajar dengan tubuh Zero. Yuze bertingkah sangat manis seakan sangat dekat dengannya.


"Paman juga akan membelikanmu mainan. Bahkan untuk sindi juga. Kamu belum punya kado untuknya 'kan? Bagaimana kalau kita mampir ke toko mainan dulu?" tanya Yuze.


Zero kembali menolak cepat. "Lihat, Paman. Aku sudah membuat sepuluh burung bangau dari kertas origami. Ini adalah kadonya yang akan aku berikan kepada Sindi nanti," jawab Zero sambil menunjukkan hasil karyanya.


Yuze tidak kehabisan akal. Merayu Zero dengan berbagai cara. "Perempuan sangat suka boneka yang cantik. Kalau kamu berikan sebagai kado, boneka itu akan menjadi teman tidurnya nanti, dipeluk setiap malam bahkan dibawa ke mana pun. Tenang saja, Paman yang akan mentraktirnya. Kamu boleh beli mainan apa saja sesukamu."

__ADS_1


"Tidak, Paman. Terima kasih," jawab Zero tegas.


Karena Zero tetap tidak mau, Guru San pun membawa Zero kembali ke kelasnya. LIly dan Yuze tetap tidak menyerah. Dirayunya kepala sekolah agar dia setuju. Dengan atau tanpa izin Zero sekali pun.


"Maaf, Tuan. Kami sudah berupaya dan Zero tetap tidak mau. Kami tidak bisa memaksa murid kami," kata kepala sekolah dengan canggung.


Lily dan Yuze berkompromi di belakang. Tak ada cara lain kecuali mengancam dan menghadirkan Clara ke tempat itu. Tidak ada yang tidak mengenal Clara dan Anming apalagi Nenek Alma. Mereka adalah pengusaha terkenal. Saham mereka ada di mana-mana termasuk menanamnya di yayasan yang menaungi sekolah Zero.


"Bibi ke marilah. Kami tidak bisa menjemput Zero. Kalau tidak bisa menjemputnya sekarang, Luna pasti membawanya kepada gadis kecil kampung itu," kata Yuze di telepon.


Clara yang mendengar itu mendadak marah. Dia pun berinisiatif untuk menelepon Alvin. Keadaan Alvin di kantornya sedang sangat sibuk karena sedang mengadakan rapat penting.


Namun, sebelum rapat dimulai Alvin menyempatkan diri mengangkat telepon ibunya. Itu pun hanya bisa berbicara kurang dari lima menit.


"Alvin, berikanlah izin untuk Lily dan Yuze untuk menjemput anakmu hari ini. Lagipula mereka juga paman dan bibinya, kenapa harus dipersulit?" tanya Clara di telepon.


Alvin di tempat lain langsung menolak tegas. Di telepon Clara terlihat marah-marah menceramahi Alvin agar tidak mempertemukan Zero dengan Sindi. Clara beranggapan tidak baik menjodohkan anak sedari kecil. Apalagi menjodohkan dengan keluarga yang tidak sepadan dengan mereka.


"Ibu, kami tidak menjodohkannya hanya mempertemukan saja. Zero masih terlalu kecil, kalau kami membahas pernikahan."


"Alvin, ibu tetap tidak setuju. Cepat beritahu guru Zero agar membolehkan Zero pulang sekarang. Lily dan Yuze sudah ada di sekolahnya," kata Clara.


"Zero akan tetap dijemput Luna. Untuk masalah Zero kami bisa tangani sendiri tak perlu minta bantuan Yuze dan Lily. Maaf, Bu, aku harus akhiri teleponnya. Rapat sudah akan dimulai," kata Alvin. Kemudian lelaki itu memutuskan teleponnya sepihak.


***


Di tempat lainnya di hotel tempat Sindi menginap. Clara pun kembali menelepon ayah Sindi. Clara berkata kalau keluarga mereka tidak sebanding. Tidak bisa disandingkan dengan Zero. Clara berkata kalau dia hanya akan menjodohkan Zero dengan keluarga berstatus bangsawan sama seperti keluarganya. Jadi, keluarga Sindi tidak boleh percaya diri dulu.


"Pulang dan batalkan saja pertemuan, maka kami akan memberikan kompensasinya. Akan tambah buruk nantinya kalau diteruskan meskipun mereka masih terlalu kecil," kata Clara lewat telepon.


"Maaf, Nyonya. Kami tidak sepercaya diri itu. Pikiran Anda terlalu kolot dan sudah takut duluan dengan masa depan. Bisa jadi putri kami nanti akan membawa kesuksesan dan akan menjadi orang besar tidak kalah dengan kalian yang hanya bisa menakutkan hal-hal yang belum terjadi. Kedepannya kami tidak akan memaksa siapa pun untuk menjadi menantu kami, termasuk dengan cucu Anda sendiri," jawab Ayah Sindi.


"Kalau begitu jauhi cucu kami dan pulang saja ke daerah asal kalian."


Ayah Sindi sangat marah. Baru sekali ini keluarga mereka dihina seperti tadi. Meskipun mereka bukan dari keluarga bangsawan. Setidaknya dia tidak kekurangan uang dan cukup kaya di desanya. Ayah Sindi merasa sangat tak terima meminta aga mereka pulang saja.

__ADS_1


"Sebaiknya kita pulang saja, Sinta. Masih banyak anak di desa yang mau berteman dengan anak kita. Neneknya sangat angkuh dan sepertinya tidak menyukai Sindi. Anak kita terlalu berharga untuk diinjak harga dirinya," kata ayah Sindi.


"Tapi, aku sudah berjanji dengan Nyonya Luna. Mereka sangat baik, abaikan saja neneknya yang kaya mak lampir," sahut Sinta. Dia tak setuju sama sekali kalau harus pulang, "lagipula kita tak menemui mereka."


"Tidak! Kita pulang saja. Kalau ingin bertemu mereka saja yang mendatangi kita," kata ayah Sindi dengan nada marah.


Rupanya kemarahan ayahnya didengar langsung oleh Sindi. Bocah berumur enam tahun tersebut mendatangi ayahnya dan menangis agar tidak pulang.


"Ayah, bisakah kita tunggu Bibi Luna dan Zero dulu? Aku sudah berjanji dan pantang tak menapatinya. Bukankah itu adalah ajaran ayah untuk menepati janji?"


Sindi terus memohon sambil menangis. Bukan tanpa sebab, dia merasa ada hal buruk yang akan menimpa Zero. Untuk yang kesekian kalinya dia yakin feelingnya tidak pernah salah.


...***...


Karena tak ada tanggapan dari Alvin, Clara memutuskan untuk bertindak langsung dan mendatangi TK tempat Zero bersekolah. Dia langsung mendatangi kantor kepala sekolah setelah sampai.


"Anda pasti tahu siapa aku 'kan?" tanya Clara dengan nada angkuh.


Kepala sekolah langsung menunduk hormat. Dia sedikit gemetar saat Clara mengancamnya akan menghubungi yayasan agar menutup sekolah tersebut. Sontak, kepala sekolah ketakutan dan memaksa Guru San untuk menyuruh Zero pulang saja sekarang dengan mereka.


"Maaf, Nyonya. Kami tidak tahu kalau Zero adalah cucu Anda. Di identitas yang Nyonya Luna berikan tidak ada nama keluarga Wiratama. Kami mengira Zero adalah anak pindahan dari desa. Maaf atas ketidaktahuan kami, Nyonya," kata kepala sekolah.


Clara tersenyum puas. Apalagi saat melihat Zero dan diizinkan pulang. Sayangnya karena dia sedang diberi hukuman untuk tidak bertemu dengan Zero selama seminggu, dia serahkan Zero kepada Lily dan Yuze untuk diantar pulang.


"Antar Zero ke rumah. Aku sudah mengubungi keluarga gadis kampung itu agar pulang saja," bisik Clara di telinga Yuze.


"Baiklah, Bibi, jangan khawatir! Biar kami saja yang mengantarnya. Kalau bibi tak percaya, Bibi bisa mengikuti mobil kami dari belakang," kata Yuze sembari membukakan pintu untuk Clara.


"Terima kasih, Yuze."


Lily tersenyum dan dia pun menyuruh Zero masuk ke mobilnya. Tentunya dengan sedikit pemaksaan karena Zero tetap tidak mau pulang.


"Zero, apa aku terlihat akan menyakitimu?" tanya Lily.


Zero menunduk tak menjawab. Sebelum masuk ke mobil, Zero menemui gurunya dulu untuk berpamitan. Guru San terpaksa membolehkan Zero pulang setelah sebelumnya mencoba mengubungi Aluna. Sayang wanita itu sedang mengadakan rapat penting sehingga teleponnya pun tak bisa dihubungi.

__ADS_1


"Zero, cepat hubungi ibumu melalui telepon smartwatchmu. Beritahukan segera, kalau kamu pulang dengan paman dan bibimu," kata Guru San sambil berbisik di telinga Zero.


__ADS_2