
Malam itu juga di rumah Hideon. Begitu pesta berakhir, Lily dan Yuze tak ketinggalan memberikan info yang penting itu kepada Helen. Awalnya Lily mendesak Helen agar memberikan kebenaran tentang Luna, namun bukannya menjawab, Helen yang terkejut malah balik bertanya.
Tentu saja Helen tidak tahu sama sekali, Helen dulu terlalu sibuk dengan karirnya sampai dia tak mengetahui perubahan pada tubuh Luna. Setelah mendengarkan berita tentang anak yang dilahirkan Luna. Helen terburu-buru mendatangi Mona. Saat itu Hideon masih di kantor bersama Luna.
"Mommy, Mom." Helen berteriak di luar kamar ibunya, agar menyuruhnya cepat keluar.
"Mom, keluarlah sebentar!" teriak Helen sekali lagi.
Mendengar teriakan anaknya berulang kali di luar kamar, Mona yang masih terjaga langsung keluar. Dia pikir terjadi sesuatu dengan Helen.
"Helen, kenapa denganmu? Kenapa kamu berteriak malam-malam begini?" tanya Mona begitu pintu terbuka.
Belum menstabilkan napasnya, Helen menuntun ibunya agar kembali masuk ke kamar.
"Kebetulan Daddy belum pulang. Aku ingin bertanya sesuatu yang penting, Mom."
Terlihat Mona mengernyitkan keningnya, sepenting apa sampai napas Helen tersengal-sengal saat menghampirinya? Pikir Mona dalam hati.
"Hal penting apa? Apa penyakitmu kambuh lagi? Sebentar, mommy punya mantra baru pengusir roh jahat. Aku akan mengambilnya dulu di lemari," kata Mona hendak mengambil sesuatu dari dalam lemari pribadinya.
Namun sebelum Mona benar-benar beranjak, Helen menahannya kembali. "Mom, bukan itu masalahnya, dengarkan dulu."
"Baiklah, ayo kita duduk di sofa agar lebih santai," kata Mona tak ingin mereka mengobrol sambil berdiri.
Kemudian kedua perempuan itu mendudukkan dirinya di sofa bersebelahan. "Mom, apa Luna memiliki anak?" Karena saking penasaran Helen langsung bertanya ke intinya.
Kata-kata Helen membuat Mona tercengang. "Anak? Apa maksudmu?"
__ADS_1
Pertanyaan Mona barusan membuat Helen yakin kalau ibunya memang tidak tahu. "Jadi Mommy juga tidak tahu kalau selama ini Luna memiliki anak dan menyembunyikannya di sebuah desa terpencil?"
Mona terkejut dan langsung menggeleng cepat. "Tidak! Aku tidak pernah mendengarnya. Dari mana kamu mendengar berita itu, apa ini adalah rencana kamu selanjutnya untuk memfitnah Helen?"
"Ini bukan rumor, berita ini fakta. Lily dan Yuze barusan memberitahukan kalau Luna pernah melahirkan seorang anak lelaki lima tahun yang lalu. Barusan Lily mengirimkan sebuah foto Luna dengan perut besarnya. Saat itu Luna berusia tujuh belas tahun, waktu Luna cuti sekolah dulu," ucap Helen.
"Apa? Jadi dulu Hideon bukan mengirim Luna untuk mengobati penyakit lambung anaknya, melainkan karena Luna mau melahirkan?" Mona menggelengkan kepalanya masih tak percaya.
"Iya, sepertinya memang benar. Pantas saja dulu Luna banyak menyendiri di kamar, saat itu dia juga jarang masuk sekolah. Ini berita yang besar, kalau sampai Alvin tahu, aku yakin mereka akan bercerai."
Mona mengingat lagi peristiwa enam tahun yang lalu, di mana saat itu Luna sering muntah-muntah. Mona saat itu tak peduli, karena sibuk di dunia perfilman. Waktu itu ia ingat hanya Hideon yang mengantarkannya, Hideo mengatakan kalau Luna sering muntah-muntah karena memiliki penyakit lambung dan harus disembuhkan di luar negeri.
"Ini kesempatan yang bagus untukmu, Helen. Dekati terus Alvin karena sebentar lagi mereka bercerai. Aku sangat penasaran dengan siapa Luna berbuat, ternyata dibalik wajah polosnya dia begitu murahan lebih terhina dari seorang ja lang. Bisa-bisanya dia mempermalukan keluarga kita. Setelah berita ini tersebar, aku yakin keluarga Wiratama akan menyesal menikahkan pewaris keluarga mereka dengan Luna." Mona terlihat berpikir sambil tersenyum penuh kemenangan.
Tidak hanya Mona, Helen pun ikut berpikir. Dia ingat peristiwa enam tahun yang lalu di mana mereka bertukar posisi melayani lelaki. Kalau mengingat itu, Helen merasa muak karena gara-gara keteledoran, dirinya terpaksa melayani lelaki botak tua itu.
Dia juga ingat kalau dulu Alvin dan Luna pernah melakukan hubungan intim. Sekelebat Helen meyakini kalau anak itu adalah anak Alvin, namun beberapa detik kemudian dia langsung menepis pikiran tersebut. Kalau itu anak Alvin tak mungkin Luna menyembunyikannya, pasti anak itu anak lelaki lain? Atau mungkin itu adalah anak Devan mantan pacarnya? Helen terus membatin di dalam hati.
...***...
Hideon langsung membuka buku agenda pribadinya, dia langsung membuka dan mencari nomor penting telepon utama keluarga yang membesarkan cucunya.
Karena terlalu sering keluarga tersebut mengganti nomor telepon, membuat Hideon sampai bingung mencari satu persatu nomor yang aktif. Dan akhirnya terhubung setelah sepuluh menit mencari.
"Bisakah aku berbicara dengan cucuku sekarang, Nyonya Dori?" tanya Hideon tak ingin berbasa-basi.
Di tempat lain, Tuan dan Nyonya Dori bertambah terkejut karena sebelum Hideon menelepon, Yuze sudah menghubunginya terlebih dahulu. Mereka malah sudah dijanjikan uang yang banyak dari Lily agar memberikan alamat anak tersebut.
__ADS_1
^^^"Tuan Hideon, maafkan kami. Zero sudah tidak bersama kami," jawab Nyonya Dori di telepon.^^^
Mendengar jawaban Nyonya Dori, raut wajah Hideon mendadak merah padam. Pembicaraan mereka bahkan didengarkan Luna disebelahnya. "Apa kamu bilang? Aku sudah memberimu uang yang banyak. Jumlahnya lebih dari cukup untuk menghidupi ketiga anakmu dan cucuku yang masih kecil. Kalau tidak bersama kalian, di mana cucuku sekarang?"
^^^"Zero terpaksa aku serahkan kepada kerabat kami yang berada di luar pulau. Biaya hidup kami semakin tinggi. Kami terlilit hutang beberapa bulan belakangan. Jangankan untuk menghidupi Zero, ketiga anakku yang lainnya saja aku serahkan kepada orang lain. Maafkan kami, Tuan Hideon. Aku yakin Zero lebih aman bersama kerabat kami," kata Nyonya Dori membela.^^^
Tuan dan Nyonya Dori adalah keluarga yang hobi berjudi, mereka terlalu berambisi akan mendapatkan kekayaan dengan cara instan. Awalnya mereka menang sekali dua kali, sampai bisa mendirikan satu rumah lainnya. Akan tetapi, setelah beberapa bulan ini mereka mengalami kekalahan. Uang yang diberikan Hideon setiap enam bulan sekali kini sudah habis tak bersisa, bahkan mereka sampai menjual barang-barang mereka.
Termasuk Zero, nama anak Luna yang mereka asuh. Mereka bahkan sengaja menjual Zero karena saking miskinnya. Anak-anak mereka yang berusia remaja pun banyak menghabiskan uang yang banyak. Dua diantara anaknya sama seperti orang tuanya hanya bisa menghabiskan uang dan memanfaatkan Zero. Anak tersebut bahkan hidup tak layak selama diadopsi.
"Katakan di mana rumah kerabat kalian? Kami ingin menjemput Zero sekarang!" seru Hideon penuh intimidasi.
^^^"Tapi, Tuan. Bukankah anak itu bukan cucu dari keluarga Wiratama. Kalau sampai menantu Tuan tahu, akan membahayakan pada diri Zero. Kenapa Anda tiba-tiba memintanya kembali?"^^^
Nyonya Dori di sana terlihat gugup, pasalnya Zero adalah pohon uang bagi keluarganya. Kalau sampai Hideon memintanya balik. Usai lah sudah sumber pendapatan utama keluarga mereka. Bahkan diam-diam mereka akan bersekongkol dengan Yuze, karena Lily akan mentransferkan uang yang banyak setelah anak itu mereka dapatkan.
"Kalian tak perlu tahu. Jangan bermain-main dengan kami. Sampai sekarang Zero masih aku nafkahi, kapan pun aku bisa mengambilnya lagi. Miliaran uang sudah aku habiskan untuk memperkerjakan kalian!" Hideon memarahi Nyonya Dori.
^^^Tuan Dori di sebelahnya berbisik pelan di telinga istrinya, "Ambil saja uang keduanya, berikan saja alamat keluarga Sembo. Biarkan mereka mencari anak itu sendiri, yang penting kita mendapatkan uang dari mereka semua."^^^
Terlalu lama menjawab membuat Hideon semakin geram, kali ini telepon diambil alih Luna, "Katakan berapa uang yang kalian inginkan? Beritahukan alamat keluarga yang mengadopsi anakku sekarang. Aku akan memberi uang lebih kalau aku sudah menemukannya."
Nyonya Dori tercengang karena baru kali ini mendengar suara ibu dari anak yang telah diadopsinya dari bayi. "Baik, Nyonya. Tapi, aku benar tidak tahu alamat jelasnya, karena keluarga Sembo baru pindah rumah seminggu yang lalu. Alamat tepatnya Zero ada di pulau X dekat pegunungan Amber. Meskipun perkotaan tapi tak seramai di tempat Anda. Semua orang di pemukiman tersebut tidak ada yang tak mengenal keluarga Sembo."
Mencari alamat di tempat yang luas tak terperinci pastinya memang sangat sulit. Dari tadi Alvin mendengar pembicaraan Luna dan Hideon, rupanya Alvin sudah menyusul Aluna di perusahaan Hideon. Mendengar anaknya, dipindah alihkan ke keluarga lain, dia langsung memutuskan untuk mencari anak itu langsung sekarang.
Saat telepon ditutup Alvin langsung mendekati mereka berdua. "Aku akan mencari anak itu sekarang malam ini. Tida peduli di mana tempatnya, aku tak akan kembali sampai Zero ditemukan."
__ADS_1
Aluna tersenyum mendengar ucapan Alvin. "Aku juga ikut, aku akan menemanimu mencarinya sekarang. karena bagaimana pun, Zero juga anakku."
Alvin langsung menyuruh asistennya untuk mempersiapkan armada dan keperluan lainnya. "Asisten Jo. Segera persiapkan helikopte r menuju ke pulau X sekarang. Kita pergi malam ini juga."