TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Menuju Lokasi


__ADS_3

Pemberitahuan sistem membuat Aluna terdiam, begitu mengejutkan hingga beberapa saat. Dia sempat membayangkan akan mengais pecahan botol di tumpukan sampah yang kotor. Namun, bayangan itu segera ditepisnya. Aluna melihat lagi jam di handphonenya sudah menunjukan pukul sembilan malam. Lebih cepat lebih baik itu menurut Aluna.


Aku harus melewati pagar ini lagi agar bisa keluar, batin Aluna.


Aluna yang tidak diperbolehkan keluar, seperti biasa harus menaiki dan melompati pagar. Dia harus segera bertindak sendiri, kalau tidak misi hari ini akan gagal, dia juga tidak akan mendapatkan apa pun.


Pagar sudah dilewati, kini Aluna berjalan seorang diri sambil memegangi handphone dan melihat ke arah map. Meskipun sudah menggunakan jaket, dia masih tetap merasa kedinginan. Aluna mengarahkan sejenak pandangannya ke langit. 'Sepertinya akan turun hujan' gumamnya dalam hati ketika melihat awan sudah berkumpul di langit.


Karena alamat yang ditunjukan sistem lumayan jauh. Aluna menggunakan taksi untuk sampai ke tempat tujuan. Beruntungnya lagi dia masih mengantongi beberapa lembar uang untuk membayar ongkos taksi.


"Antar aku ke alamat ini," ucap Aluna kepada sopir taksi, menunjukkan alamat di handphonenya.


***


Di Kediaman Hideon.


Setelah berulang kali dokter melakukan pemeriksaan kepada Helen, dan hasilnya pun tetap sama, Helen koma dikarena stres yang berlebihan. Dokter yang tidak menemukan penyakit apa pun akhirnya memperbolehkan Helen pulang ke rumah.


Lima belas menit kemudian, mereka telah sampai rumah. Hideon menyarankan agar Helen banyak beristirahat dan menyuruh Mona menemani anaknya malam ini sebelum tidur.


"Terima kasih, sayang." Mona berkata kepada suaminya.


"Temani anakmu dulu, sampai dia benar-benar tidur," balas Hideon.


Akibat Helen mengalami koma, mereka mulai akur kembali. Hideon sudah melupakan masalah kedua anaknya tempo hari. Meskipun begitu, dia selalu berdoa agar keluarganya selalu harmonis, dia juga yakin suatu saat nanti Luna dan Helen akan akur.


Lelaki berkacamata itu lalu meninggalkan Mona di depan kamar anaknya.


Kriet.

__ADS_1


Pintu kamar Helen dibuka. Tanpa keragu-raguan, Mona memasuki kamar Helen lalu duduk di tepi ranjang. Kebetulan anaknya itu masih terjaga.


"Apa kondisimu sudah membaik sekarang?" tanya Mona.


Helen mengangguk seraya tersenyum. "Aku agak lebih baik dibandingkan saat bangun tidur tadi," jawabnya.


Mona masih mengamati ekspresi raut muka anaknya. Dia kembali teringat saat Helen terbangun dari pingsan pertama, Mona sempat berpikir 'apa mungkin saat itu Helen berpura-pura tidak mengenalnya?' tetapi sepertinya tidak menurut Mona, dia melihat anaknya yang ketakutan waktu itu seperti sedang tidak bersandiwara tidak mengenalnya.


"Helen," ucap Mona pelan.


Helen yang masih bersandar di tepi ranjang sembari bermain media sosial kembali menoleh. "Ya, Mom."


"Apa kamu punya masalah yang berat sampai kamu tidak mengenalku saat terbangun dari pingsan pertama?" Mona mulai menyelidik.


"Pingsan pertama? Memangnya berapa kali aku pingsan?" Helen balik bertanya, dia sendiri tak tahu pastinya.


"Dua kali kamu pingsan. Saat bangun pertama, kamu seperti tidak mengenali ibumu, Nak. Bahkan kamu sangat ketakutan saat aku mendekatimu. Apa kamu tidak mengingatnya? Makanya mommy bertanya, apa mungkin kamu memiliki masalah dengan Mommy? Lalu aku juga sempat kaget, saat pertama kali bangun, kamu memanggil nama Luna berulang kali dengan menyebutnya kakak. Apa kamu juga tidak menyadarinya, Helen?" Mona melontarkan berbagai pertanyaan kepada anaknya.


Tidak mengenal ibuku? Memanggil Luna dengan sebutan 'kakak'? Ah' itu tidak mungkin! Helen membatin di dalam hati.


Helen tersenyum datar sembari menggelengkan kepala pelan. "Itu hal yang tidak mungkin, Mommy! Jangan berkata yang mustahil!"


Mendengar perkataan Helen, Mona lebih mendekatkan lagi tubuhnya. Dia melihat saksama kejujuran di mata anaknya. Menurut Mona, kali ini Helen berkata sangat jujur, dia sangat tahu sikap anaknya kalau sedang berbohong.


"Apa akibat dari koma ... kamu ... sekarang memiliki kepribadian ganda?" Mona memberitahukan isi hatinya.


"Kepribadian ganda? Maksud Mommy? Itu juga tidak mungkin!" Helen yang tadinya santai, lalu menegakkan punggungnya, mulai antusias dengan obrolan ibunya. "Apa aku terlihat bukan seperti aku saat terbangun? Yang aku ingat, aku hanya pingsan sekali. Saat aku mulai sadar, aku merasa sedang berbaring di atas tempat tidur, rasanya Ingin segera bangun ... tetapi saat itu mataku sulit sekali dibuka. Bahkan aku merasakan sakit semua di sekujur tubuhku."


Mona terus mendengarkan apa yang diucapkan Helen. Sedikit aneh bagi seorang Mona, dia hanya bisa ternganga seperti orang berpikir menunjukan reaksi kebingungan.

__ADS_1


"Jadi kamu tidak sadar perilaku kamu saat tidak mengenalku?" Mona kembali bertanya dan Helen membalas dengan anggukan.


Apa mungkin anakku akan berubah lagi? batin Mona terus berpikir keras.


"Helen, sebaiknya kamu beristirahat dulu. Jangan terlalu banyak berpikir. Mungkin benar kata dokter mungkin karena stres berlebihan." Mona lalu menutup selimut di tubuh Helen, menyuruh anaknya agar tidur.


Helen yang tidak merasa, menganggap omongan ibunya hanya kekhawatiran saja. Dia pun menurut untuk segera tidur, lagi pula matanya sudah sangat berat ditambah lagi rasa lelah menghinggapi tubuhnya.


"Selamat tidur, Nak." Mona lalu mematikan lampu meninggalkan Helen di kamar sendirian.


Aku harus terus mengamati perilaku anakku! Batin Mona.


***


Di Pembuangan Sampah.


"Haish, kenapa sampahnya banyak sekali?" kata Aluna pelan.


Aluna berdiri mematung melihat beberapa gunungan sampah di depannya. Sangat banyak, bahkan Aluna kebingungan harus memulai mencari di mana lebih dulu, ada enam gunungan sampah yang sangat tinggi melebihi tinggi badannya.


"Miss K, apa kamu sudah gila menyuruhku mencari satu persatu sampah di sini?" gerutu Aluna kepada sistem.


Aluna mulai membuka jaket, menyingsing lengan baju dan melipat celananya. Walaupun Aluna bukan wanita yang terlalu gila kebersihan, baginya merupakan perkara yang sulit menemukan pecahan botol di gunung sampah yang kebanyakan adalah barang-barang yang tidak terpakai.


...[Diantara keenam gunung sampah di depan, ada satu gunungan yang terdapat pecahan botol.]...


Saran yang tak membantu dan lokasi yang tidak akurat menurut Aluna. Dia pun terus menawar mendesak sistem agar memberitahu gunungan sampah yang pasti.


"Beritahu aku di mana letak pecahan botol yang lebih akurat? Kalau begini caranya percuma saja aku menukarnya dengan tas saran!" ketus Aluna.

__ADS_1


__ADS_2