
"Lisa jaga ucapanmu!"
Dengan gerakan refleks, Noah meraih tubuh Ara yang hampir terjatuh, menopang dengan lengan kanannya. "Maafkan aku, Nona. Apa kamu baik-baik saja?"
"Oh, Tidak. Paman!" seru Lisa.
Melihat mereka berdua yang hampir berpelukan, emosi Lisa semakin menjadi. Di detik itu juga Lisa menarik lengan kiri Noah, dan langsung memeluknya. Kejadian itu membuat Ara kembali terhuyung, untungnya wanita itu tak sampai terjatuh.
"Argh!"
"Paman." Lisa bergelayut manja menempelkan kepalanya di dada Noah. "Ayo kita pulang, aku ingin mengajakmu menonton film. Kebetulan aku sudah membeli dua tiket." Lisa menunjukan dua karcis di tangan kanannya. Dia menunjukkan sikap manjanya di depan Ara, membuat wanita itu hanya diam dan tercengang.
Sebenarnya Noah tak tega melihat Lisa. Noah tahu kalau dari tadi Lisa sedang berusaha mencarinya. Noah tahu betul siapa Lisa, dia akan melakukan apa pun untuk mencari keberadaannya. Buktinya dia tak sulit menemukan Noah yang sedang bersembunyi di ruangan khusus perokok.
Sayangnya Noah kembali memikirkan lagi kelakuan keluarga Lisa. Dia tak mau harga dirinya diinjak-injak lagi. Saat itu juga, Noah langsung melepas tangan Lisa dan menyuruhnya agar pergi. "Pergilah, Lisa. Selamat tinggal! Mulai sekarang kita tak punya hubungan apa pun lagi!"
"Pa ... man ...." Mata Lisa mulai berkaca-kaca. Dia kembali memegang tangan Noah. Masih yakin kalau Noah hanya berkata main-main.
"Aku sudah tak mencintaimu! Aku sudah muak dengan sifat kekanakanmu! Kamu mau jadi sok jagoan, hah! Lihat, kamu belum mengenalnya saja sudah mengatai dia dengan kasar! Aku tidak menyukaimu. Sekarang pergilah!" Bentak Noah.
Melihat ada kegaduhan, semua orang melihat ke arah mereka. Noah terus membentak-bentak Lisa dengan kata-kata kasar. Noah tak tahu lagi harus dengan cara apa, agar wanita itu tak mengejarnya lagi.
"Pergilah dan cari taipan kaya seperti yang orang tuamu idamkan. Sadarlah, Lisa! Kita sudah berbeda level. Kamu adalah berlian di keluarga kaya, sedangkan aku hanya sebutir batu kerikil. Aku tidak suka kamu, aku tidak suka orang tuamu. Pergilah!" Noah berkata dengan penuh penekanan dan nada tinggi.
Di saat itu juga Lisa langsung melepaskan tangannya dari lengan Noah. Gadis itu menutup sebagian mukanya dengan telapak tangan lalu menangis histeris. "Huwa ... hiks ...."
Sementara Ara yang dari tadi menonton drama mereka, hanya bisa diam. Ara menelaah ekspresi di wajah Noah ketika memarahi Lisa. Ara tahu kalau Noah sedang berbohong.
"Jangan kasar terhadap wanita, Tuan! Kenapa kamu malah memarahi gadis semanis ini, apa kalian ketahuan berselingkuh. Sudahlah diam, Nona. Masih banyak lelaki di luar sana yang lebih tampan dibandingkan lelaki bajingan ini," ucap seorang wanita yang berusaha menenangkan Lisa. Semua orang tampak iba melihat Lisa yang dimarahi.
"Sombong sekali kamu sebagai lelaki! Mentang-mentang kamu tampan bisa menduakan wanita dengan mudahnya. Lihat gadis ini begitu tertekan, apa dia selingkuhannya?" ucap salah seorang lagi sambil menunjuk muka Ara.
__ADS_1
"Apa? Aku!?"
Mendengar mereka semua menuduhnya, Ara langsung tersentak. Lisa yang awalnya sudah emosi, melihat muka Ara malah bertambah emosi. Matanya yang penuh dengan air mata, begitu menyeringai.
"Jadi wanita ini yang kamu maksud adalah pacar barumu!" pekik Lisa.
"Dia bukan pacarku. Jadi tolong jangan salahkan dia." Noah berusaha menjelaskan agar Ara tak kena amukan Lisa.
Namun, Lisa tak menggubris. Di detik itu juga dia langsung mendekati Ara. Tangannya mengepal keras hendak memukul Ara. "Kurang ajar!" umpatnya. Satu tangannya sudah menarik baju Ara dengan kencang. "Lepaskan pacarku, Ja lang! Kami sudah berniat menikah!"
Bug!
Salah sasaran. Bogem mentah malah mendarat mulus di wajah Noah. Ya, pukulan itu sebenarnya dilayangkan Lisa untuk Ara. Sayangnya, secepat kilat Noah langsung menutupi tubuh Ara.
"Minggir, Paman! Aku harus memberi pelajaran wanita ja lang ini." Lisa berusaha mendorong tubuh Noah. Amarahnya masih memuncak masih ingin memu kul Ara, tangannya dengan bringas menarik-narik baju Ara. "Jangan harap kamu lepas, Ja lang!"
"Apa-apaan ini! Lepaskan, aku!" Karena kancing bajunya banyak yang lepas. Ara berusaha melepaskan tangan Lisa dari bajunya. Sayangnya cengkraman gadis itu sangat kencang, membuat Ara sampai mendorong muka Ara dengan keras.
...***...
Di Perusahan Alvin.
Rapat telah usai. Semangat Aluna mendadak kendor, tubuhnya melemas. Ya, wanita itu begitu putus asa keluar dari ruang rapat. Dia sangat frustrasi karena Alvin belum menyetujuinya menjadi asisten pribadi.
Melihat Aluna dari kejauhan, Alvin menghentikan pembicaraannya dengan Anming. Dia memasukkan kembali handphone di sakunya, meninggalkan Anming, lalu berjalan cepat mendekati Aluna.
"Ehm!" Alvin berdehem.
Aluna hanya melirik sekilas dan tak peduli. Wanita itu berjalan pelan sambil mengerucutkan bibirnya, dia sangat malas melihat Alvin.
"Luna!"
__ADS_1
Aluna masih pura-pura tak mendengar.
"Heum ... apa kamu marah padaku?" tanya Alvin.
Bodoh amat! batin Aluna.
Alvin yang tidak peka terus berjalan pelan di samping Aluna. Dia tak merasa bersalah sedikit pun kalau Aluna sedang marah dengannya. Dia malah tersenyum melihat wajah cemberut istrinya.
"Luna, aku masih penasaran. Dari mana kamu mendapatkan informasi produk baru dari perusahan Axel? Yang aku tahu penanggung jawab perusahan itu belum memberitahukan kepada siapa pun mengenai informasinya," kata Alvin.
Mendengar pertanyaan Alvin, ekspresi wajah Aluna langsung berubah. Menurutnya, tidak ada salahnya kalau Alvin mengetahui semua rahasianya daripada dia menyusahkan diri dengan menutupinya.
Aluna tersenyum manis, dia lalu mendekatkan mulutnya di telinga Alvin. "Aku akan memberitahukan rahasianya. Asal ... kamu menjadikanku asisten pribadimu di kantor selama sebulan," bisik Aluna pelan.
"Apa? Ha ... ha ...." Alvin tertawa dingin.
Semua orang yang mendengar tawa Alvin, langsung menghentikan aktivitasnya. Semua pasang mata beralih melihat ke arah mereka berdua. Termasuk beberapa klien yang belum pulang.
Alvin dan Luna berdiri saling berhadapan, menatap satu sama lain. Pemandangan itu membuat seluruh orang begitu iri dan terkesima. Aluna sengaja menunjukan kemesraannya di depan umum, berpikir kalau dia akan mendapatkan tas saran.
"Kenapa kamu tertawa, Tuan Alvin Wiratama? Aku benar-benar ingin dekat denganmu. Apa kamu tak menyadarinya?" Aluna mengelus lembut jas yang dipakai Alvin. Berusaha menggoda lelaki itu.
"Jadi kamu ingin menjadi asisten pribadiku, Nyonya Luna?" Alvin terus menatap lekat. Dia tak membiarkan mata Aluna beralih dari tatapannya.
"Heum ... tentu saja! Aku bisa melakukan semuanya."
"Benarkah? Kalau begitu apa kamu sudah menyelesaikan laporan yang aku pinta?" tanya Alvin.
Laporan? Ah' bahkan aku lupa kalau kamu menyuruhku. Batin Aluna. Dia teringat kalau Alvin menyuruhnya membuat satu laporan dan membuatnya kembali pusing.
"Aku akan menyelesaikannya setelah ini, Tuan Alvin!" ucap Aluna seraya membenarkan ikatan dasi Alvin. "Aku bahkan bisa melakukan apa pun lebih dari laporan itu," bisik Aluna lagi, mengedipkan satu matanya.
__ADS_1