
"Aku sangat mengantuk. Aku ingin kembali ke kamar dulu." Setelah pelukan dari Alvin melonggar, Aluna segera berlari menuju kamarnya. Wajah wanita itu merah padam, ia tak menyangka Alvin akan menc*umnya dengan buas barusan.
Ah kenapa aku bisa kecolongan seperti tadi! Gerutu Aluna.
Masih memegangi bibirnya, Aluna bergegas masuk kamar lalu menguncinya. Detak jantungnya masih berdebar tak karuan, tentu saja barusan adalah pengalaman pertamanya. Di dunia nyata tak ada pria yang berani mendekati Aluna, apalagi sampai lancang menci*umnya.
Aluna terdiam membeku duduk di tepi ranjang, ia masih membayangkan bagaimana tindakan Alvin tadi. Tangannya menyentuh bibir tipisnya, masih sangat terasa sensasi yang diberikan Alvin.
Memang tubuhnya yang sekarang adalah milik Luna. Tapi, entah mengapa sejak Alvin mengatakan dia sudah mencintai Luna, ia merasa cemburu. Ya, Aluna merasa Alvin mengatakan itu hanya kepada Luna, bukan terhadap dirinya.
Andaikan kamu tahu aku bukan istrimu, mungkin kamu tak akan berkata seperti itu, Alvin.
Belum menstabilkan jantungnya, tiba-tiba terdengar suara pintu akan dibuka.
krek.
Gawat! Jangan-jangan itu Alvin? Kenapa dia malah masuk ke kamar ini!
Benar apa yang ada dipikiran Aluna, lewat sepersekian detik, terdengar suara langkah kaki memasuki kamarnya. Menurut Aluna, siapa lagi kalau bukan Alvin, pasti hanya lelaki itu yang berani masuk ke kamarnya.
Alvin yang baru masuk langsung mendekati Aluna lalu duduk di tepi ranjang. Lelaki itu memandangi tubuh Aluna yang tengah berbaring dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Tentu saja, pikiran kotor sudah memenuhi otaknya. Alvin menelan ludah berulang kali saat melihat kaki jenjang yang mulus itu di depan matanya.
"Kenapa kamu malah tidur di sini? Kembali ke kamar kita sekarang!" serunya sembari menyentuh bahu Aluna.
Aku tahu kamu pura-pura tidur agar bisa menghindariku, Luna. Batinnya tersenyum.
Karena tak ada sahutan, akhirnya Alvin membaringkan tubuhnya di sebelah Aluna lalu memeluk erat tubuhnya dari belakang. "Jangan berpura-pura tidur! Baiklah kalau kamu tidak mau pindah, aku akan melakukannya di sini!" seru Alvin.
Apa?
__ADS_1
Aluna langsung terperanjat, dilepaskannya kasar tangan Alvin yang melingkar di pinggangnya, "Jangan menyentuhku dulu! Aku sedang tidak ingin diganggu, pergilah ke kamarmu sekarang!" ketus Aluna.
Penolakan Aluna membuat lelaki itu tersenyum tipis lalu membalikkan badan Aluna agar menghadap ke arahnya. Sekarang posisi mereka saling berbaring berhadapan.
Kenapa aku selalu suka kalau kamu sedang marah seperti itu. Batin Alvin.
"Kamu istriku tentu saja aku berhak menyentuhmu. Sekarang katakan padaku! Kamu ingin melakukannya di sini atau pindah ke kamar kita?" bisik Alvin mesra.
Mata Aluna langsung membulat melihat wajah Alvin yang terus menggodanya, buru-buru ia langsung berdiri takut Alvin akan segera menerkamnya. Jelas apa pun alasannya wanita itu sangat tidak siap. Walaupun yang ditempati tubuhnya adalah milik Luna, tetap saja dia juga yang akan merasakan sensasinya. Aluna tidak ingin melakukan hal itu apalagi tanpa ada perasan cinta.
"Aku bilang aku tidak mau! Aku belum siap memiliki anak!" Aluna terlihat geram memarahi Alvin.
"Apa? Kamu tidak ingin melakukannya? Kenapa? Atau jangan-jangan kamu memiliki lelaki idaman lain?" Alvin ikut bangun dan kembali mengintimidasi.
"Aku bilang aku belum siap! Tolong jangan memaksaku!" seru Aluna masih status waspada.
Mendengar Alvin akan menceraikan Luna, gadis itu langsung kaget, berpikir dengan cepat agar Alvin menarik kata-katanya. Ia tidak mau usahanya sia-sia selama ini. Aluna mendekati Alvin kembali, lalu duduk di sebelahnya.
"Suamiku, maksudku ... aku sedang datang bulan. Bukankah kemarin aku sudah mengatakannya. Tentu saja aku belum siap melakukannya sekarang," rayu Aluna.
Ah' kenapa aku lupa! Batin Alvin.
Alvin baru mengingat kalau kemarin Aluna juga mengatakan dia sedang datang bulan.
Terlihat aura kekecewaan di raut wajah Alvin. Terutama, sekarang dia sedang menahan beban berat di bawahnya.
Mungkin belum saatnya kamu menikmatinya, batin Alvin berusaha menstabilkan beban beratnya yang sedang dalam mode on.
"Aku tidak peduli. Aku ingin tetap tidur di sini!" seru Alvin lagi.
__ADS_1
"Jangan suamiku! Bukankah aku sedang datang bulan. Kalau Anda tidur di sini aku takut Anda malah tidak bisa menahannya." Aluna sibuk mencari alasan yang pas agar Alvin tidak jadi tidur bersamanya.
Alvin menghembuskan napasnya kasar.
Bukankah Kamu selalu membuatku menahannya, Luna. Kalau begini caranya lebih baik aku pergi bekerja.
"Apa kamu sedang tidak berbohong?" ketus Alvin. Dia sendiri tidak mau membuktikannya langsung, Alvin adalah seorang mysophobia, merasa geli kalau harus melihat darah menstruasi secara langsung.
Aluna mengangguk pelan. "Tentu saja, suamiku."
"Baiklah, aku akan menunggumu selama tujuh hari. Setelah itu kembali lah ke kamar kita. Untuk selanjutnya, kamu tidak boleh ada alasan lagi menolakku, Luna." Dengan berat hati, Alvin akhirnya berdiri, lalu berjalan pergi menuju pintu keluar.
Sekarang kamu bisa lepas Luna! Tapi lihat lah aku akan menyelidiki sendiri apa kamu beneran datang bulan atau hanya berpura-pura. Batin Alvin.
Aluna tersenyum puas, akhirnya sekarang dia bisa lepas dari Alvin. Setelah punggung Alvin menghilang di balik pintu. Buru-buru Aluna menguncinya, tidak hanya mengunci, bahkan Aluna menutupi pintu itu dengan kursi takut Alvin akan berubah pikiran lalu mendatanginya lagi.
Setelah dirasa cukup tenang, Aluna kembali duduk di tepi ranjang. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara masuk ke rongga dadanya lalu menghembuskan berulang kali. Ya, Aluna sedang berusaha menstabilkan jantungnya.
"Fiuh ... akhirnya aku bisa lepas darimu selama tujuh hari, Alvin. Setelah itu aku harus memikirkan lagi cara yang lain agar bisa menghindarimu," gumam Aluna.
Sekarang Aluna membaringkan tubuhnya di kasur. Seperti biasa setiap hari Aluna akan menulis kegiatan sehari-harinya di buku harian milik Luna. Ia ingin wanita itu membacanya kalau tubuhnya nanti sudah kembali ke dunia nyata. Aluna juga menulis hal apa saja yang harus Luna pelajari agar tidak diremehkan keluarganya lagi.
Setelah itu, Aluna melihat waktu di handphone, tinggal dua jam lagi menuju pukul 12 malam. Di waktu senggangnya itu, Aluna lalu mengecek handphone milik Luna, ingin mencari informasi tentang Alvin. Aluna menggulir satu persatu aplikasi yang ada di handphone milik Luna.
Kenapa tidak ada Whatsapp milik Alvin di handphone Luna?
Aluna bertanya kepada sistem, "Miss K, kenapa tidak ada whatsapp Alvin di handphone Luna?" tanyanya kepada kalung sistem.
...Sistem menjawab, [Alvin tidak memiliki whatsapp sama sekali.]...
__ADS_1