TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Merubah Pandangan Buruk


__ADS_3

Sambil berbincang mereka berjalan menuju ruang pribadi Alvin. Tanpa Aluna sadari, terang-terangan pandangan mata Alvin tak beralih melihat ke arahnya. Dia terus memperhatikan gerakan bibir Aluna ketika berbicara.


"Alvin jam sebelas nanti, perwakilan Perusahaan Young ingin mengadakan pertemuan denganmu. Dia ingin menawarkan investasi di bidang properti." Aluna membaca file agenda sambil berjalan.


"Atur saja," kata Alvin.


"Tetapi saranku, sebaiknya batalkan saja investasi dengannya. Prospek perusahaan itu cukup buruk di beberapa bulan mendatang. Ditambah lagi ada beberapa oknum yang terlibat korupsi di perusahaan itu. Akan berpengaruh buruk nantinya pada perusahaan kita."


Mereka berdua telah sampai di depan ruangan Alvin.


"Perusahaan Young sudah bekerja sama lama dengan ayahku. Tidak mudah untuk memutuskan kerja sama dengan mereka tahun ini. Tetapi, terima kasih. Aku akan mempertimbangkan lagi saranmu, Luna." Lelaki berkacamata itu mengambil file di tangan Aluna, "sebaiknya, jangan bicarakan ini dulu. Kamu adalah asisten yang mengurus keperluan pribadiku, sekarang temani aku makan. Aku belum sarapan dari pagi."


"Baiklah! Tetapi, izinkan aku ke toilet sebentar," kata Aluna.


"Lima belas menit tidak lebih." Alvin membuka pintu ruangannya, "kalau lebih dari itu, aku akan menyusulmu langsung ke dalam toilet."


"Apa?!" Mulut Aluna ternganga.


...***...


Setelah selesai buang air kecil, Aluna menyempatkan diri berbicara dengan sistem di depan cermin toilet.


"Miss K, terima kasih sudah memberikanku informasi. Tumben kamu tidak pelit padaku."


...[Informasi yang diberikan tidak cuma-cuma, Nona.]...


Aluna terperanjat, "Apa maksudmu?"


...[Sistem memberikan informasi karena posisi Anda sedang terdesak. Hitungannya, Anda berhutang satu tas saran kepada sistem.]...


"Jadi maksudmu aku berhutang padamu?"


...[Iya, Nona. Hutang Anda akan lunas setelah mendapatkan satu tas saran.]...

__ADS_1


"Ternyata kamu masih pelit seperti biasanya," kata Aluna mendengkus kesal.


...[Tidak juga, Nona. Setelah misi ini berhasil Anda akan mendapatkan banyak uang dan bisa membawanya ke dunia nyata. Berapa banyaknya, Anda akan tahu nanti. Sistem sedang bernegosiasi dengan editor.]...


"Kenapa aku baru tahu sekarang? Aku akan pegang ucapanmu, Miss K. Awas kalau peraturannya kau ubah seenaknya. Aku akan melempar kalung ini ke mulut buaya," kata Aluna.


Karena ucapan Aluna, sensor di kalung Aluna langsung mati.


Ternyata kau takut juga, Miss K.


Setelah berbicara dengan sistem. Aluna menelepon adiknya lagi yang sudah sampai rumah Hideon. Dia ingin memastikan agar Ara tetap terjaga jangan sampai tertidur.


"Ara, ingat jangan sampai kamu tidur. Tunggu kakak pulang, kakak ingin bercerita banyak denganmu tentang Alvin hari ini," kata Aluna di telepon.


^^^"Iya, Kak. Aku akan usahakan agar menahan kantukku. Emang ada apa dengan Alvin, Kak? Apa dia sudah mengetahui rahasia kita?" tanya Ara di telepon.^^^


"Iya, kakak sangat kaget begitu mendengar ada lelaki bernama Noah, yang memberitahukan kalau aku bukan Luna. Kakak tidak terlalu mengenal siapa lelaki itu, dan yang kakak pertanyakan, tahu dari mana dia kalau kami bertukar jiwa?"


^^^"Aku juga ingin bercerita banyak kepada kakak. Aku akan menjelaskan siapa Noah yang Kakak maksud."^^^


"Jadi kamu sudah mengenalnya? Siapa dia Ara? Kenapa dia mengenal Alvin?"


^^^"Kakak, akan tahu nanti di rumah," kata Ara tersipu malu.^^^


"Baiklah, jaga dirimu baik-baik Ara. Kakak akan pulang secepatnya," kata Aluna sebelum menutup teleponnya.


Setelah mereka berbincang santai di telepon. Aluna melihat jam, ternyata sudah lebih dari sepuluh menit dia berada di toilet. Aluna yang tidak mau Alvin menyusulnya ke dalam, segera keluar dari toilet.


Namun, baru saja Aluna keluar dari pintu toilet. Telinganya mendengar dua orang di sebelah toilet, sedang membicarakan keburukan istri presiden direktur Wiratama. Tentu saja yang mereka bicarakan adalah Luna. Dua orang reporter itu sangat kesal karena Alvin menolak diwawancarai dan menjelekkan semua keburukannya.


Aluna menyempatkan diri menguping pembicaraan kedua reporter televisi itu.


"Aku dengar istri Presdir Wiratama sangat malas dan bodoh. Bahkan katanya, istri Presdir tak sampai lulus SMA. Kabarnya lagi, dulu istrinya itu sering kali membolos sekolah. Aku heran dengan Presdir Alvin, kenapa dia mau menikahi wanita payah seperti Luna. Padahal sudah jelas Nona Helen, asisten pribadinya sangat serasi dengannya. Dulu aku pikir Nona Helen lah yang akan menikah dengannya." Salah seorang reporter berbaju merah berbisik kepada teman reporternya yang berbaju hitam.

__ADS_1


"Memangnya kamu tahu dari mana kalau dia sangat malas? Tetapi memang benar, beritanya sudah santer terdengar di media kalau istri Presdir Alvin sangat bodoh."


"Aku tahu karena sepupuku teman sekelasnya dulu saat SMA. Iya banyak media yang menjelekkan istri Tuan Alvin, kabarnya juga Presdir Alvin tak mencintainya berniat akan bercerai," ucap lelaki berbaju merah menambahi.


"Sayang sekali, padahal Nona Helen lebih cocok dengan Alvin. Selain cantik, dia juga sangat pintar. Sangat pas disandingkan dengannya. Presdir Alvin pintar dalam berbisnis, tetapi tidak pintar dalam mencari istri. Dia menikahi wanita yang payah," balas reporter berbaju hitam.


Mendengar namanya dijelekkan, Aluna yang mengintip di samping tembok. Langsung berjalan mendekati ke dua reporter itu. "Siapa yang kalian maksud payah?" kata Aluna dengan nada tinggi.


Melihat Aluna mendengar pembicaraannya. Sontak, mereka begitu kaget. Secara bersamaan mereka menyapa Aluna dengan gagap. "Se-selamat siang, Nyonya Luna."


Aluna melirik tajam ke arah kedua reporter itu. "Siapa yang kalian bilang payah?"


"Maafkan kami, Nyonya. Aku tidak bermaksud menjelekkan Anda," kata kedua reporter yang berjenis kela min lelaki dan perempuan itu ketakutan.


"Tidak bermaksud menjelekkanku? Aku bahkan sudah menyimpan bukti percakapan kalian di handphone. Nomer ID card OO7 atas nama Bara dan Nomer ID card OO8 atas nama Saras. Aku sudah menghapal ID card kalian berdua, dan tak segan-segan akan melaporkannya kepada direktur kalian sekarang juga. Atas tuduhan tidak menyenangkan." Aluna menunjukkan handphone di tangannya. Tentu saja, dia tidak merekamnya, itu hanya akal-akalan Aluna saja untuk menakuti ke dua reporter itu.


"Maafkan kami, Nyonya. Tolong jangan laporkan kami kepada atasan. Aku akan melakukan apa pun asal Nyonya tidak melaporkannya," kata mereka berdua berbarengan.


Aluna tersenyum kecut. "Hati-hati dengan ucapanmu. Lidah memang tidak bertulang tetapi cukup kuat untuk menghancurkan hati seseorang. Apa kalian mau, lidah kalian aku patahkan seperti kayu ini?"


Tak!


Aluna mengambil kayu lalu mematahkannya dengan mudah di depan kedua reporter itu. Membuat keduanya bertambah takut. "Maaf, Nyonya. Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi."


"Tadi kalian bilang istri Presdir sangat payah, bodoh dan pemalas bukan? Bahkan suaminya tak mencintainya?" tanya Aluna.


"Kami hanya tahu dari media, Nyonya," kata reporter berbaju merah.


"Kalian tak ingin aku laporkan kepada atasan, bukan?"


"Iya, Nyonya. Maafkan kami. Jangan laporkan."


"Kalau begitu aku akan memberi kesempatan untuk menebus kesalahan kalian. Segera lakukan pemotretan pada kami berdua. Beritahukan kebenaran yang sesungguhnya kepada media. Kami siap diwawancarai secara eksklusif siang ini." Aluna berkata dengan tegas.

__ADS_1


__ADS_2