TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
205


__ADS_3

Tetangga tersebut menceritakan banyak tentang Zero, kalau keluarga Sembo banyak memperlakukan Zero bukan seperti anak, tetapi layaknya orang dewasa. Setiap hari Zero disuruh mencari kayu bakar dan memasak makanan untuk mereka tiap kali pulang bekerja.


Para tetangga pernah protes tetapi kelakuan Nyonya Sembo lebih mengerikan, membuat mereka akhirnya pura-pura tak melihat apa pun.


"Aku tidak yakin anak itu anak mereka. Masih kecil saja wajahnya sangat tampan dan penuh kharisma seperti berasal dari keluarga bangsawan," ucap tetangga melirik Alvin. Menurut dia, Zero sangat mirip dengan lelaki di depannya.


"Di mana Zero bersekolah?" tanya Alvin.


"Taman kanak-kanak Kasih Ibu," jawab tetangga.


"Di mana tempatnya bisakah kamu beritahukan kepada kami?"


Tetangga lalu memberitahukan rute menuju taman kanak-kanak Kasih Ibu kepada Aluna, dia enggan bertanya kenapa mereka ingin mencari Zero. Dalam hati mereka, Zero akan lebih baik tak bersama keluarga Sembo.


"Tapi, beberapa hari ini Keluarga Sembo tak ada di rumah. Terakhir mereka bilang sedang mengambil cuti bekerja. Kabarnya mereka akan pergi berpiknik bersama Zero. Sudah pasti anak itu pun sudah beberapa hari tidak berangkat ke sekolah." Tetangga menghela napas pelan.


Aluna terdiam sesaat, sebelum dia menuju mobilnya, Aluna pergi sebentar ke samping mobil ingi bertanya kepada Sistem di mana tempat spesifik keberadaan Zero. Sayangnya untuk kali ini sistem tak bisa memberitahukan karena itu adalah misi tersembunyi yang harus Aluna selesaikan sendiri.


"Jadi aku harus menyelesaikan sendiri misi ini?" tanya Aluna.


[Yah, Nona. Hadiah misi ini adalah uang yang akan Anda bawa ke dunia nyata nanti. Sistem telah selesai diperbaiki, Nona juga bisa menukarnya dengan jiwa Ara.]


Aluna sangat kecewa dengan sistem karena tak bisa membantunya sama sekali. Kalau tak melihat wajah Alvin dan kasihan dengan Zero, dia pasti sudah mengabaikan misi ini.


"Asisten Jo meneliti dari luar hotel, kalau Sembo tak membawa anak kecil satu pun di dalam kamar. Di tempat itu juga masih ada pengawal Lily yang masih memantau mereka di luar kamar. Kita dobrak saja rumah Sembo, siapa tahu kita mendapatkan bukti dari sana," kata Alvin.


Karena otak Aluna sedang buntu, dia menerima saran dari Alvin dan langsung menuju rumah Sembo.


Rumah kecil dan kumuh milik Sembo mereka datangi. Tak ada kesulitan memasuki rumah yang lebih mirip gubuk itu, pintunya sudah rapuh dan tak dikunci. Hal pertama yang mereka lakukan adalah memeriksa kamar.

__ADS_1


Sayangnya tak ada apa pun yang mereka temukan sebagai bahan bukti. Mereka hanya menemukan setelan baju penuh lobang yang sepertinya milik Zero. Corak warna birunya pun sudah luntur dan kini cenderung berwarna putih.


"Mereka benar-benar keterlaluan memberikan baju yang lebih mirip lap ini kepada anakku," kata Alvin geram.


"Tak ada satu pun foto di sini," kata Aluna. Dia malah menemukan seekor kucing yang terkurung di dalam rumah. "Kita bawa kucing ini. Kemungkinan ini milik anak kita," imbuhnya.


"Aku tak habis pikir kenapa Hideon berpikir sesempit itu dengan mengirim cucu kandungnya kepada orang seperti Dori, harusnya mereka serahkan kepada kerabat lain yang lebih menyayangi anak kecil."


"Sudahlah, lupakan masa lalu. Lebih baik kita fokus mencari Zero. Apa lebih baik kita lapor saja ke polisi?" tanya Aluna.


"Polisi tidak akan melayani kasus yang tidak jelas bukti dan identitasnya. Kecuali Nyonya Dori sendiri yang melaporkannya," jawab Alvin, dia lalu memasukkan pakaian tersebut ke dalam saku mantel.


Mereka tak mungkin melaporkan Sembo ke polisi, pasalnya identitas Zero bukanlah anak mereka. Mereka putuskan untuk mencarinya ke tempat lain.


"Kita ke taman kanak-kanak sekarang. Kita cari buktinya di sana," kata Aluna memberi saran.


Dua puluh menit berlalu, kini mereka sudah berada di depan gerbang taman kanak-kanak Kasih Ibu. Karena hari ini adalah hari libur, gerbang TK tersebut terlihat tertutup tak ada celah sedikit pun agar tubuh mereka bisa masuk.


Aluna mengintip lewat lubang kecil, TK itu sangat sepi tak ada satu pun orang bahkan sepertinya tak ada penjaga di dalam.


Aluna mendongakkan kepalanya ke atas, gerbang pintu itu cukup tinggi hampir dua meter lebih. Tak ada cara lain kecuali dia harus memanjat agar bisa masuk ke dalam.


"Kita harus memanjat tembok ini," kata Aluna tersenyum tipis.


"Apa? Memanjat? Memangnya tak ada cara lain?" Alvin terlihat ragu membayangkannya.


"Iya, gerbang ini tak terlalu tinggi. Kamu bisa melakukannya, kan?" tanya Aluna.


Tak ingin disepelekan, tentu saja Alvin menjawab dengan tegas kalau dia bisa melakukannya. Saat itu juga dia menarik lengan bajunya mulai melakukan ancang-ancang untuk memanjat.

__ADS_1


"Naik ke punggungku sekarang," kata Alvin menyuruh Aluna naik ke punggungnya, dia pikir Aluna akan kesusahan saat menaikinya.


Aluna tersenyum tipis. Sebenarnya bukan hal sulit bagi dirinya. Menaklukkan ketinggian lima meter saja dia sanggup menaikinya apalagi ketinggian gerbang di depannya hanya setengahnya.


"Terima kasih, Alvin."


Aluna sudah berada di atas. Kini giliran Alvin yang menaikinya. Terlihat kesusahan memang, namun Aluna membiarkan lelaki itu berusaha sendirian dan akhirnya pun mereka sama-sama bisa melewatinya.


"Huft! Ternyata sangat menyenangkan menyelinap seperti ini," kata Alvin tersenyum puas saat berhasil turun.


Ini sangat seru! Baru kali ini aku merasakan menaiki tembok setinggi ini. Aku janji setelah anak kita ditemukan nanti, aku akan mengajakmu berjalan-jalan dan berpetualang lagi.


Sementara di tempat lain di perusahaan Alvin. Semua pekerjaan sudah Helen selesaikan dengan cepat. Pekerjaan yang harusnya dikerjakan Aluna pun dia selesaikan. Jam kerja masih lama berakhir, Helen sudah mulai bosan karena seluruh rekan kerja mengacuhkannya.


Helen duduk di meja kerja. Tak lama matanya diserang rasa kantung yang sangat hebat. Helen mengambil posisi ternyaman mungkin dan akhirnya terlelap, kepalanya bersandar di atas meja.


Dua jam berlalu, jam kerjanya telah habis. Seorang karyawan membangunkannya saat tidur. "Nona Helen, bangun! Apa kamu tak ingin pulang?" katanya sambil menggoyangkan bahu Helen.


Helen langsung terkaget, membuka matanya pelan dan mengucek sedikit. Samar-samar dia melihat seorang yang tidak dikenalinya menggoyangkan bahu sambil memanggil-manggil nama Helen.


Aku sedang di mana lagi ini? Sepertinya aku sedang berada di sebuah kantor? Batinnya sambil mengingat-ingat lagi saat dirinya akan tidur tadi.


"Nona sudah jam pulang, sebentar lagi ruangan akan ditutup," ujar pegawai itu lagi. Dari sapu yang dipegangnya sudah pasti dia adalah petugas kebersihan.


"Ah, maaf aku ketiduran."


Ara mulai yakin kalau kini dia telah bertransmigrasi kembali ke dunia novel.


Aku yakin ini adalah perusahaan Alvin, aku harus menghubungi Kak Aluna sekarang.

__ADS_1


Yah, sistem telah berhasil menukar tas saran dengan pertukaran jiwa Ara.


__ADS_2