
Sesaat setelah menantang Aluna, Mona bersama Helen kembali duduk dengan tenang sebagai penonton. Sambil menyesap wine, Helen menikmati cairan berwarna pekat itu sembari melemaskan tubuhnya yang sempat tegang. Mereka merasa cukup puas dengan tindakan Devan barusan.
Berbeda dengan Hideon, sekarang dia cukup khawatir dengan Aluna. Walaupun Hideon tahu jelas keadaan anaknya, dia merasa takut kalau nanti memang Luna terbukti bersalah.
"Baiklah, aku akan memperlihatkan kalau aku tidak bersalah!" seru Aluna.
Aluna merasa cukup percaya diri kali ini, menurutnya dengan memperlihatkan sebentar tulang selangkanya bukanlah tindakan yang vulgar. Tangannya mulai membuka satu kancing bajunya dengan pelan...kemudian menuju kancing yang kedua.
Melihat Aluna melepas satu kancing bajunya, Alvin benar-benar dibuat kalut. Punggungnya menegang, Alvin menatap tajam ke arah Aluna tepat di tangannya yang akan membuka kancing keduanya. Yah, walaupun demi mengungkap kebenarannya, Alvin sama sekali tidak rela istrinya membuka beberapa kancing bajunya di depan umum.
Ketika Aluna hendak membuka kancing ketiga, Alvin dengan cepat melepas jasnya dan berlari menghampiri Aluna, dia tidak mau sampai istrinya membuka kancing yang ketiga.
Melihat Alvin mendekat, Aluna langsung terdiam menghentikan tangannya, seakan melihat dengan gerakan slow motion Alvin berlari ke arahnya.
"Jangan buka, Luna!" Alvin langsung menutup tubuh Aluna dengan jas yang barusan dilepasnya.
Tidak hanya menutup tubuhnya dengan jas, tetapi Alvin juga memeluknya, membuat wanita itu tersentak kaget, tidak memiliki pikiran sedikitpun kalau Alvin akan mendekap tubuhnya.
Terdiam sesaat beberapa detik. Aluna merasakan kehangatan tubuh Alvin yang tiba-tiba memeluknya. Bau tubuhnya yang sangat disukai Aluna, membuat wanita itu terasa sangat nyaman di pelukan Alvin.
"Apa yang kamu lakukan?" Aluna dibuat terhenyak sesaat.
Kenapa bau tubuhmu selalu membuatku merasa tenang. Sebenarnya parfum apa yang kamu gunakan? Batin Aluna.
Sementara Alvin tampak membeku, memeluk sangat kencang tubuh istrinya seakan tak ingin membuka cela sedikit pun bagian dada Aluna yang sudah mulai sedikit terbuka.
"Kau hanya boleh membukanya untukku, wanitaku!" bisik Alvin di telinga Aluna.
Deg.
__ADS_1
Kata-kata Alvin barusan membuat Aluna seakan lupa tujuannya sebenarnya. Yah, strategi yang sudah dirancang di otaknya buyar seketika ketika Alvin memeluk tubuhnya.
"Luna tak memiliki tahi lalat di tubuhnya. Wanita di dalam video itu bukan istriku!" Tegas Alvin di depan para tamu masih memeluk Aluna.
Beberapa pasang mata tampak terperangah dengan pemandangan di depannya. Terutama Helen dan Devan, walaupun sedikit cemburu mereka sangat puas karena dengan Alvin menutupinya itu berarti Aluna tidak bisa membuktikan dirinya tidak bersalah.
"Kalau Luna tidak menunjukannya bagaimana kita tahu kebenarannya!" seru Devan menantang lagi.
Mendengar ucapan Devan, Aluna kembali ingat kalau sebentar lagi dia akan menang. Seharusnya sekarang dia memperlihatkan tahi lalatnya, bukan terdiam di pelukan pria yang tidak mencintainya itu.
"Alvin lepaskan aku! Sebentar lagi semuanya terbongkar! Kenapa kamu malah memelukku?" Aluna berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan Alvin.
Namun, semakin ia ingin melepaskan diri, semakin kencang pula Alvin memeluk tubuhnya. Aluna juga sempat heran, kenapa kekuatannya tiba-tiba melemah setiap berkontak fisik dengan Alvin.
Kenapa aku malah sangat lemah kali ini, batin Aluna masih mencoba melepaskan diri.
"Diam! Aku berhak melindunginya, karena dia istriku!" Bentak Alvin pada Devan.
Deg.
Bersamaan dengan terdiamnya Aluna, sebuah suara dari sistem tiba-tiba didengarnya.
...Selamat Nona Aluna, Misi kali ini Anda mendapatkan tas saran. ...
Kali ini Aluna tidak peduli dengan suara apa pun yang ia dengar termasuk suara sistem. Aluna hanya fokus dengan Alvin, dia lalu mendongakkan kepalanya ke wajah pria yang memeluknya. Menatap sekilas mata Alvin yang sangat tajam yang sedang membidik Devan. Ternyata, di balik wajah angkuhnya, Alvin mulai peduli kepada Luna. Dia baru menyadari kalau Alvin masih menyayangi istrinya.
Sadar Aluna, dia hanya suami Luna! Dia hanya menyayangi...Entahlah! Batin Aluna.
Aluna mulai membenamkan wajahnya di dada Alvin. Indra penciumannya mulai dipertajam, dia mulai membiasakan aroma bau tubuh Alvin yang maskulin masuk ke rongga hidungnya. Merasakannya perlahan sembari menutup matanya sesaat. Bagi Aluna, bau tubuh Alvin sangat berbeda, belum pernah dia rasakan di dunia nyata. Baru kali ini juga Aluna membiarkan ada lelaki yang memeluknya selama itu.
Melihat keadaan ini, Devan mulai mengambil kesempatan mengejek Alvin. Jelas dia tidak mau kalah, kalau tidak dia akan keluar dari lingkaran bisnis Alvin yang menjadi musuh kelas kakapnya.
__ADS_1
"Apa aku percaya! Tidak! Bilang saja kalian tidak berani. Apa kamu takut menghadapi kenyataan?" Devan menatap balik Alvin.
Terlihat geram sudah pasti, sebenarnya Alvin ingin sekali memberi pelajaran Devan di tempat umum. Sayangnya tangannya sedang memeluk Aluna. Dia tidak bisa melepaskan istrinya begitu saja.
"Aku bisa membuktikan istriku tidak bersalah. Tetapi tidak dengan mempermalukan istriku di depan umum! Aku suaminya, aku lebih tahu tubuh wanitaku." Tegas Alvin.
Tidak mau Aluna terlalu lama menjadi bahan taruhan. Masih dengan memeluknya, Alvin membawa Aluna keluar dari dalam kafe. Menurutnya dengan mengatakan kalau istrinya tidak memiliki tahi lalat, itu sudah jelas membuktikan kalau Luna tidak bersalah.
Devan tersenyum tipis ketika Alvin dan Aluna menghilang di balik pintu. Tidak hanya Devan, Helen pun ikut tersenyum puas.
Helen yang duduk bersebelahan dengan ibunya, tampak sedang mengipas-ngipasi wajahnya karena merasa lega, akhirnya acara selesai dengan kemenangan ada di pihaknya.
Seakan terhanyut dengan drama yang di tonton di depannya, para tamu yang penasaran buru-buru mendekati Clara yang dari tadi diam membisu. Tentu saja dia melihat jelas bagaimana anaknya menyayangi istrinya. Clara baru menyadari kalau perbuatanya selama ini salah karena berusaha memisahkan Luna dari Alvin.
"Nyonya Clara, menurut Anda apa benar ucapan Alvin barusan?"
Clara tersenyum menanggapi, "Alvin suaminya, dia lebih tahu bagaimana detail tubuh istrinya. Tentu saja benar kalau Luna tidak memiliki tahi lalat."
Kali ini Clara sangat yakin harus mendukung Luna, dia yakin anaknya akan bahagia bersama Luna.
Beberapa tamu juga mendekati Hideon yang tampak berpikir tenang. Dalam pikirannya, dia begitu terharu dengan tindakan Alvin barusan. Baru kali ini Hideon sangat tenang memberikan anaknya kepada Alvin. Sebagai ayahnya, pria paruh baya itu jelas tahu kalau anaknya tidak memiliki tahi lalat di tubuhnya.
"Tuan Hideon, apa benar yang dikatakan Alvin kalau Luna tidak memiliki tahi lalat? Bukankah Anda ayahnya, pasti lebih tahu dan sudah melihatnya." Salah satu tamu bertanya langsung kepada Hideon.
"Aku ayahnya, aku sudah melihat tubuh anakku dari bayi. Luna tidak memiliki tahi lalat di tulang selangkanya. Bukan anakku yang ada di dalam video itu." Hideon menjawab dengan tenang.
###
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.
Terima kasih.
__ADS_1