
Cara dia memandangku pun sangat berbeda, apa mungkin benar dia bukan Luna? Pemikiran Alvin di hatinya semakin berkecamuk.
Tetapi kalau dia bukan Luna, kenapa wajahnya bahkan tubuhnya sama persis dengan istriku. Sifat! Ya, hanya sifatnya yang berubah. Apa mungkin ...
Alvin terus menatap mata Aluna, melihat kejujuran dari sorot mata wanita itu. "Katakan padaku! Kalau kamu benar Luna, kapan kamu belajar mengemudi? Setahu aku, dari kecil kamu tak bisa mengendarai mobil." Alvin kembali mengintimidasi.
Satu tangan Aluna berusaha menahan dada Alvin yang terus maju menyudutkan tubuhnya di tembok. "Aku belajar secara otodidak, selain itu aku juga pernah belajar dari sopir ayahku!" Aluna kembali berbohong.
"Belajar dari sopir? Sejak kapan?" tanya Alvin lagi. Lelaki itu kembali melirik bahu putih Aluna yang sedikit terbuka, membuat naluri lelakinya kembali bergelora.
Hembusan napas Alvin begitu terasa di wajah Aluna. "Sejak ... sejak aku belum menikah denganmu," sahut Aluna.
Tangan Alvin menyentuh pengait gaun Aluna, lalu menaikkannya perlahan agar menutupi bahunya. Lelaki itu kembali melontarkan pertanyaan, dia masih belum puas dengan jawaban Aluna, "Lalu kenapa kamu sampai berani berbohong telah memiliki saham. Tidak biasanya kamu seperti itu!"
Tentu saja agar kamu bangga dan tidak menceraikan Luna lagi.
"Apa?" bentak Alvin.
Mata Aluna terbelalak ketika Alvin tiba-tiba membentaknya, seakan lelaki itu tahu apa yang sedang diucapkannya di dalam hati.
"Aku hanya ingin mereka tak meremehkan aku lagi. Bukankah itu hal yang bagus untukku kedepannya," sahut Aluna.
Selama menikah yang Alvin tahu, Luna istrinya tak berani melawan keluarganya. Setiap ada acara makan malam keluarga, ia hanya bisa diam ketika mereka mengolok-oloknya. Alvin mengenal Luna adalah wanita yang pendiam, hanya akan bicara ketika orang lain bertanya. Ia tidak berani menyela pembicaraan apalagi berani berbohong demi membalas cemohan keluarganya.
Aku tetap tidak yakin kamu adalah Luna, istriku tidak punya kemampuan beralasan yang baik.
__ADS_1
"Luna yang aku kenal tidak berani beradu argumen. Mendengar tadi kamu sangat berani dan berhasil membungkam mulut keluargaku. Aku semakin tak percaya kalau kamu adalah Luna istriku!"
Aluna menatap Alvin dengan mata melebar dan alis terangkat.
"Aku akan memberikan pertanyaan terakhir padamu. Kalau kamu adalah Luna, kamu pasti bisa menjawabnya. Tanggal dan bulan berapa kita menikah? Lalu, b erapa ukuran sepatuku dan apa warna kesukaanmu?" Alvin kembali memberi pertanyaan yang sangat sulit untuk Aluna.
Menghadapi rasa penindasan yang tiba-tiba dari Alvin. Aluna kembali terkejut. Pusing, sudah pasti. Serangkaian pertanyaan yang dilontarkan Alvin membuatnya sakit kepala.
Tentu saja Aluna tidak mungkin mengatakan kalau dia sedang bertransmigrasi. Diingatnya lagi, tanggal berapa pernikahan mereka yang pernah ia baca di buku harian Luna. Ya, untungnya Aluna pernah membaca beberapa lembar kisah hidup Luna di buku hariannya.
"29 ... ya, 29 februari, betulkan itu tanggal pernikahan kita?" Aluna menjawab sembari sedikit berpikir.
Kemudian Aluna melihat sepatu Alvin. "Ukuran sepatumu 43 ... betulkan! Lalu ... aku menyukai warna merah muda. Ya, aku sangat suka warna itu karena membuatku terlihat manis dan feminim." Aluna menjawab satu persatu pertanyaan Alvin dengan kemampuan nalarnya.
"Merah muda? Bukankah dulu kamu bercerita menyukai warna biru, seminggu yang lalu pelayan rumah ini sampai mengecat ulang warna kamar kita gara-gara kamu tidak menyukai warna itu. Kenapa sekarang kamu cepat sekali berubahnya?" tanya Alvin. Dua pertanyaan berhasil dijawab Aluna.
"Ya, aku memang berubah. Aku merasa lelah di remehkan orang lain, termasuk keluarga Anda. Tidak ada salahnya bukan kalau aku merubah kepribadianku agar aku tidak dianggap sampah oleh mereka. Tuan! Sekarang sebaiknya Anda lupakan hubungan kita sebelumnya. Bagaimana kalau kita mulai lagi dari awal. Anggap kita mulai mengenal lagi satu sama lain dari nol. Lupakan semua kepribadian aku yang dulu. Karena pemikiran aku yang sekarang sudah berubah, bukan lagi wanita yang lemah dan mudah ditindas," ucap Aluna dengan penuh percaya diri.
Mendengar penjelasan Aluna secara detail, Alvin begitu tercengang, dilihatnya lagi wajah istrinya yang menurutnya semakin cantik ketika sedang serius. Ya, dari tadi Alvin asik melihat pergerakan bibir Aluna.
"Kalau begitu aku pun berubah sekarang," ucap Alvin tersenyum tipis ke arah Luna. Lelaki itu mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan pangkal hidung Aluna.
Kenapa Anda malah semakin mendekat Alvin?
Aluna memalingkan muka, tubuhnya gemetaran ketika menyadari lelaki di depannya hanya berjarak beberapa inci. Wajah Alvin bergerak semakin dekat, hingga uap panas dari hembusan napasnya begitu terasa di kulitnya, ditambah lagi aroma tubuh Alvin begitu menusuk di hidungnya. Ya, bau tubuh yang sangat Aluna sukai, membuatnya begitu nyaman berada di dekat lelaki itu.
__ADS_1
"Apa maksud Anda, Tuan?" tanya Aluna semakin gugup.
"Sekarang aku sudah mencintaimu, Luna. Jadi aku mohon berikanlah aku anak tahun ini."
Cup.
Alvin mengecup kening Aluna dengan sangat lembut. "Aku tidak peduli siapa kamu dan seperti apa perubahanmu. Sekarang aku sudah mencintaimu. Jadi jangan kecewakan aku, Luna."
Deg.
Ucapan Alvin barusan membuat jantung Aluna berdetak sangat kencang. Kali ini ia tidak bisa berkata-kata lagi di depan Alvin. Terlebih saat bibir lelaki itu mendarat di keningnya. Membuat Aluna sempat terdiam beberapa detik seakan terbius.
Kemudian, dengan gerakan lembut, Alvin memutar tubuh Aluna. "Diamlah! Lepaskan tanganmu. Aku akan membantu memperbaiki resleting gaunmu!" Tangan Alvin mulai bergerak merapihkan sehelai demi helai rambut Aluna yang tersangkut. Entah mengapa Aluna membiarkan Alvin membantunya.
Sebenarnya Alvin sudah tak tahan dengan bahu putih Aluna yang begitu menggoda. Namun, dia sadar posisinya sekarang sedang ada di kamar mandi. Terlebih, acara makan malamnya masih belum berakhir, dia harus segera kembali.
"Aku sudah memperbaikinya, jadi cepatlah kembali ke ruang makan. Jangan lama-lama, karena aku akan menunggumu." Setelah Alvin berhasil meresleting gaun istrinya, lelaki itu bergerak keluar dari kamar mandi, hendak kembali ke ruang tengah.
Masih berdiri mematung, Aluna masih melihat punggung Alvin yang semakin menjauhinya. Aluna sangat lega karena Alvin masih bisa menahan naluri lelakinya.
Aluna menarik napas panjang, membiarkan udara masuk perlahan ke rongga hidungnya, lalu menghembuskan pelan. Wanita itu berusaha menstabilkan jantungnya yang masih berdegup tak beraturan.
"Miss K," Aluna menepuk kalung sistem ketika Alvin sudah menghilang di balik pintu.
Sistem berkedip.
__ADS_1
"Miss K, apa aku sudah berhasil merubah perasaan Alvin kepada Luna?" tanya Aluna lagi kepada sistem.
Sistem menjawab, [Anda berhasil membuat Alvin jatuh cinta. Ingat setting karakter Alvin adalah pecinta paranoid. Jadi, sekarang Anda harus berhati-hati, Nona!]